Legenda Maharaja

Legenda Maharaja
Uang Suap


__ADS_3

[Kerajaan wilayah selatan Forlsa]


DONG DUNG DONG DUNG. Suara gendang peperangan di benteng selatan. Pasukan yang dipimpin oleh Jendral Cena dengan pasukan berjumlah 135rb prajurit sedang berbaris di luar benteng.


"CEPAAT AMBIL POSISI KALIAN." Teriak Jendral musuh.


Pasukan musuh bergerak dengan cepat untuk menempati posisinya masing-masing, mereka membagi 3 garis untuk mempertahankan benteng.


Garis depan, dengan jumlah pasukan sekitar 70rb prajurit, lalu baris tengah yang ada di atas benteng dengan jumlah pasukan sekitar 30rb. Lalu, pasukan garis belakang, yang ada di dalam benteng berjumlah sekitar 40rb prajurit.


Jumlah itu masih sebanding dengan pasukan yang dibawa Cena. Namun, kekuatannya jauh berbeda.


.....


"Aku tidak melihat pasukan Louktus disini. Apa informasi yang kami terima salah.?" Kata Cena dalam hati.


Tiba-tiba komandannya Cena datang. "Lapor Jendral. Garis belakang dan sayap kiri kanan melihat pasukan yang bergerak kesini."


"Apaa.? Pasukan siapa itu komandan.?" Tanya Cena terkejut.


"Jendral. Pasukan yang kami lihat adalah pasukan Louktus yang tiba-tiba datang." Kata Komanda itu.


"Herr. Sepertinya kita di kepung. Bariskan pasukan ke semua arah." Kata Cena dengan kesal.


"Ha. Laksanakan" Kata Komandannya.


.....


"Tidak aku sangka mereka melakukan itu, sepertinya mereka sengaja menjebak kita disini." Kata Cena dalam hati. Lalu, Cena pun menghampiri komandannya.


"Berapa banyak pasukan yang datang kesini.?" Tanya Cena kepada komandannya.


"Jendral. kami masih belum bisa memastikan jumlah mereka. Mungkin sekitar 50rb prajurit di masing-masing sisi." Jawab Komandan itu.


"Hemm. Ini akan menjadi pertempuran yang besar komandan." Kata Cena.


.....


Pasukan Louktus yang bergerak mengepung pasukan Cena sudah mengetahui akan penyerangan ini. Mereka mengerakkan beberapa batalion untuk mengepung pasukan Cena.


"Tidak semudah itu kalian mengambil wilayah milik Louktus." Kata Jendral dari Louktus sambil menungangi kuda yang mengepung pasukan Cena.


"Komandan, pimpin pasukan untuk melawan pasukan Louktus. Aku dan beberapa prajurit akan menerobos ke benteng itu." Perintah Cena.


"Ha. Laksanakan." Kata Komandan itu, lalu ia langsung mengerakkan prajuritnya kesemua sisi untuk menghalangi pergerakkan pasukan Louktus.


"Hem, mereka sudah terkepung disini." Kata Jendral musuh dalam hati. Sambil melihat pasukan Cena yang bergerak.


Cena mengerakkan pasukannya mejadi 4 bagian. Dan 3 bagian pasukannya bergerak dan menjauh dari benteng.


Lalu, Cena dengan sisa prajuritnya berjumlah sekitar 20rb orang akan menyerang ke benteng secara langsung. Dan hanya beberapa menit saja, semua pasukannya sudah bersiap di semua sisi.


"Apa mereka sudah menyerah.? Kenapa hanya ada puluhan rubu prajurit di sini." Kata Jendral musuh yang menjaga benteng.


....


"Aku tidak mau beralama-lama disini. Kita serang benteng itu sekarang juga." Kata Cena dengan tatapan tajam sambil mengeluarkan auranya.


Lalu. "SERAAAAAAANG." Teriak Cena kepada prajuritnya.


"HOOOOOOA." suara teriakan dari semua prajurit Cena yang berlari ke arah benteng, bahkan ada juga yang terbang.


.....

__ADS_1


"Haa. Mereka masih berani menyerang. CEPAT SERAAAAAAANG." Teriak Jendral musuh.


Pertempuran pun terjadi. Mereka semua pun langsung menyerang dengan kekuatan petir dan api. Dan Cena langsung bergerak ke arah Jendral Musuh. Swooosh.


"Haa" Suara Jendral musuh terkejut.


"Aku tidak mau membuang waktu disini dan Matilah." Kata Cena yang tiba-tiba muncul di depan Jendral Musuh.


SLASSH TRET TRET. Suara pedang Cena yang memenggal kepala Jendral musuh dengan aura petir di pedangnya.


"BUNUH MEREKA SEMUAAAA." Teriak Cena sambil mengarahkan pedangnya kedepan.


"HOOAAAAAA." Suara teriakan pasukan Cena yang menerobos langsung ke arah benteng dan membunuh semua prajurit musuh dengan ganas.


[Dibenteng perbatasan Cimoren]


Leon sedang berjalan kearah tenda komando bersama Kibo.


"Kita butuh informasi untuk sampai ke istana Kibo." Kata Leon sambil masuk kedalam tenda.


"Kita bisa langsung bergerak kesana Leon." Kata Kibo yang mengikuti Leon dari belakang.


"Heeee. Apa kau tau jalan untuk kesana.?" Tanya Leon.


"Kita hanya perlu terbang dan mencari tempat istana kerajaan." Jawab Kibo.


"Heemm. Kau bodoh sekali Kibo. Bagimana kita bisa sampai disana kalau kita tidak tau arahnya kemana." Kata Leon sambil mencari beberapa berkas disana.


"Apa perlu kita mengikuti prajurit yang berlari itu, sepertinya mereka pergi kearah istana." Kata Kibo.


"Sebaiknya kau bantu aku mencari informasi disini Kibo." Kata Leon sambil mengambil beberapa berkas.


"Ah. Baiklah. Sepertinya ideku kurang bagus." Jata Kibo sambil berjalan ke arah rak dokumen.


.....


"Ini." Kata Leon terkejut sambil memegang surat yang dikirimkan Louktus.


"Leon, disini ada surat perintah dari Louktus." Kata Kibo yang menemukan beberapa surat perintah dari Louktus.


"Ah, aku juga menemukannya disini." Kata Leon sambil duduk dikursi.


"Apa ada informasi yang penting Leon.?" Tanya Kibo.


"Surat perintah ini, mereka menyuruh pasukan kerajaan ini untuk bergerak ke Neverley." Kata Leon sambil membaca.


"Leon, disini tertulis. Pasukan yang dikirim untuk menjaga benteng ini bukan prajurit asli dari kerajaan. Mereka semua yang menjaga disini adalah orang yang tidak terbangkitkan. Pantas saja kekuatan mereka sangat lemah." Kata Kibo sambil memberikan surat perintah kepada Leon.


"Kau benar Kibo, mereka memaksa para penduduk untuk mempertahankan benteng ini. Tidak kusangkan, mereka melakukan hal yang sekeji ini." Kata Leon dengan kesal.


"Lalu, dimana pasukan kerajaan ini Leon.?" Tanya Kibo.


"Mungkin mereka sudah bergerak ke Neverlay. Kita harus cepat pergi ke istana Kibo." Kata Leon serius.


"Baiklah, sebaiknya aku menculik seseorang disini." Kata Kibo, lalu ia pun menghilang.


"Sepertinya idemu itu hanya kau sendiri yang tau caranya." Kata Leon kepada dirinya sendiri.


.....


Hanya beberapa detik saja. Kibo muncul di dalam tenda komando dengan membawa satu prajurit yang ketakutan.


"Ma, maafkan aku Tuan. Maafkan aku." Kata Prajurit itu dengan sangat ketakutan.

__ADS_1


"Kau cepat sekali Kibo. Mungkin kita akan sampai kesana dengan cepat." Kata Leon sambil berdiri dan menghampiri prajurit itu.


"Prajurit. Apa kau tau jalan menuju istana.? Katakan yang sebenarnya, dan aku akan memberikan imbalan untukmu." Kata Leon sambil mengeluarkan beberapa koin emas.


"Ha, haaaa. Glegg." Suara prajurit itu yang melihat beberapa koin emas didepannya.


"Apa ini cukup untuk membeli informasi darimu.?" Tanya Leon.


"Maa. Maafkan aku Tuan. Aku tidak bisa menjual kerajaan ini kepada orang lain." Kata prajurit itu sambil berlutut.


"Emm, jadi masih kurang. Baiklah." Kata Leon sambil mengeluarkan beberapa koin emas lagi.


Prajurit itu hanya tercengang melihat koin emas itu. "Glegg. Uang ini, aku bisa hidup selama 50 tahun tanpa bekerja." Kata Prajurit itu dalam hati.


"Bagimana prajurit. Apa kau bisa memberitahuku.?" Tanya Leon serius.


" Baiklah Tuan. Aku akan memberikan peta kerajaan kepada Anda. ini, silahkan Tuan." Kata Prajurit itu sambil memberikan peta kepada Leon.


"Hem. Ini gambar petanya tidak jelas. Bisakah kau jelaskan.?" Tanya Leon sambil melampirkan peta itu.


"Kita ada disini Tuan. Lalu, ini adalah istana kerajaan. Semua prajurit yang ada disini sedang berlari menuju ke kota terdekat" Kata Prajurit itu sambil menunjuk peta.


"Emm. Jadi disitu tempatnya. Baiklah, kita berangkat sekarang Kibo." Kata Leon sambil keluar tenda.


"Aa, aaa. Terimakasih atas koinnya Tuan." Kata Prajurit itu sambil mengambil semua koin dibawah tanah.


Namun Leon hanya terdiam dan berjalan keluar tenda bersama Kibo.


"Kenapa kau tidak mengancamnya saja Leon.?" Tanya Kibo.


"Kau tau Kibo, dia lebih memilih uang dari pada kerajaannya. Ini lah yang di masuk dengan keserakahan. Dunia ini sedang rusak Kibo, bahkan penguasa mereka, hanya dibutakan dengan uang." Kata Leon.


"Emm, lalu dari mana kau dapatkan uang itu.?" Tanya Kibo.


"Eeeh. Ituu. Aku mengambilnya dari Rachel. Hehe." Kata Leon tersenyum malu.


"Heemm. Bahkan kau sendiri sudah dibutakan dengan uang." Kata Kibo sambil memejamkan matanya.


"Kibo. Prajurit itu berbeda denganku, aku mengunakan uang ini untuk keperluan kita semua. Kau harus tau itu Kiboo." Kata Leon yang mengeles.


"Kita masih punya persediaan makanan dan baju untuk berperang. Lalu untuk apa uang itu.? jangan-jangan kau akan mengunakannya untuk membeli arak." Kata Kibo curiga.


"Eeeeeh. Kibo. Jangan bilang itu pada Rachel, aku akan membunuhmu. Aku tidak bisa minum arak semenjak aku bertemu dengan Rachel. Heeeh (mengehela nafas) aku sangat ingin meminumnya, Rachel selalu memarahiku kalau dia tau aku minum arak." Kata Leon dengan cemberut.


.......


"Kau jangan sekali-kali minum arak Leon. Aku akan memarahimu jika kau meminumnya." Ingatan Leon dari ucapan Rachel kepadanya.


.......


"Hem. Itu juga demi kesehatanmu Leon. Apa ini salah satu alasanmu pergi meninggalkan Rachel, supaya kau bisa bebas melakukan apapun tanpa sepengetahuannya.?" Tanya Kibo curiga.


"Kibo, berhentilah memojokkanku. Kau sendiri sudah tau, aku tidak bisa apa-apa jika Rachel mamarahiku. Bahkan dia pernah mematahkan lenganku. Heeeh(mengehala nafas)" Kata Leon cemberut.


"Hem, kau yang tidak tau Leon. Rachel seperti itu karena dia khawatir denganmu." Kata Kibo.


"Ah, aku tau Kibo. Dia benar-benar merawatku dengan baik. Sebaiknya kita langsung terbang saja ke istana." Kata Leon yang tiba-tiba menghilang.


"Heeeh(menghela nafas)" Suara Kibo. Dan ia pun menghilang mengikuti Leon


Mereka berdua pun terbang dengan cepat menuju istana.


.

__ADS_1


.


__ADS_2