
[Tenda Komando, Benteng Selatan]
Leon tiba-tiba berteriak. Ia menemukan sebuah rencana untuk memecahkan masalah.
"Aa, apa itu Leon.?" Tanya Rachel dengan senang.
"Kau sangat membantu Rachel, aku ingin menciummu. Hahahaha." Kata Leon dengan tertawa senang.
"HEEEEEEEE." Suara terkejut Rachel, Aries dan Kibo.
"Ah, tentu saja kau boleh. Apa kau mau melakukannya sekarang.?" Kata Rachel dengan manja.
"HENTIKAN RACHEL." Teriak Aries sambil memukul pungung Rachel.
"Ehehehe. Aku hanya senang Rachel. Terimakasih. Penjelasanmu tadi membantuku." Kata Leon dengan tersenyum.
"Aaaah. Jadi kau tidak menciumku sekarang.?" Tanya Rachel yang sedih.
"Hehe. Tenanglah Rachel. Aku akan menjelasakan rencanaku pada kalian. Ini akan sangat hebat hehehe." Kata Leon sambil tersenyum.
"Apa yang kau pikirkan Leon.?" Tanya Aries penasaran.
"Kibo, kau juga sangat membantuku." Kata Leon tersenyum.
"Ah, benarkah.?" Kata Kibo dengan senang.
"Baiklah, aku akan menjelaskannya. Kita akan membuat pasukan terkuat didunia. Mungkin hanya aku satu-satunya yang bisa melakukanya." Kata Leon sangat senang.
"Apa yang akan kau lakukan Leon, kau terus berputar-putar. Aku sangat penasaran." Kata Aries dengan kesal.
"Ah, Aku ingin membentuk pasukan dari tiga benua. Mungkin lebih dari setengah prajurit yang ada di tiga benua ini. Prajurit ini akan di masukkan kedalan satuan militer. Dan sisa pasukan, bisa di tugaskan untuk menjaga kerajaan masing-masing. Ini adalah idemu Kibo." Kata Leon dengan tersenyum.
"Lalu, apa setengah pasukan itu bisa melawan ratusan juta prajurit Louktus.?" Tanya Kibo dengan serius.
"Ah, tentu bisa. Aku akan mengembangkan wadah semua prajurit, seperti katamu Rachel, jika kemampuan sihir lebih tinggi, kita bisa menang. Aku hanya akan meningkatkat kekuatan semua prajurit. Itu akan menjadi pasukan yang hebat." Kata Leon dengan tersenyum.
"HAAAAAAAA." Teriak Paradicone sangat terkejut.
"Apa itu bisa di lakukan Leon.?" Tanya Rachel dengan terkejut.
"Aku sudah menjelaskan berkali-kali pada kalian. Jika kalian tidak mengerti, sebaiknya kalian siapkan seleksinya. Itu akan menjadi pekerjaan berat untuk kita. Tapi dengan kekuatanku sekarang aku pasti bisa." Kata Leon dengan serius.
"Aa, aaa." Suara Aries yang terkejut. Bahkan ia hampir pinsan.
"Ituu, ituu. Itu sangat hebat Leon." Kata Kibo yang terkagum-kagum.
"Aaaah. kau benar-benar jenius Leon." Kata Rachel sambil mengoyangkan tubuhnya.
"Hanya saja, dengan kekuatan seperti itu, apa mereka bisa mengunakannya hanya untuk peperangan.? Aku takut mereka mengunakannya untuk penindasan." Kata Leon yang berfikir lagi.
"Apa kau tidak bisa mengambil kekuatan itu kembali Leon.?" Tanya Aries serius.
"Tentu saja bisa. Tapi harus dengan jantungnya. Aku masih belum menemukan cara untuk menghilangkan kekuatan ini. Aku hanya tau cara memperkuatnya saja." Kata Leon serius.
"Em. Kau bisa mengunakan sihir ikatan Leon. Tato sihir yang ada disetiap prajurit, itu adalah sumpah pengabdian. Dan kau harus membuat aturan di situ. Mereka tidak akan melanggarnya, jika mereka melanggar, jantungnya akan berhenti." Kata Rachel serius.
"Ah, apa itu bisa di lakukan Rachel.?" Tanya Leon dengan terkejut.
__ADS_1
"Tentu saja bisa. Semua prajurit mempunyai sumpah mengabdian pada kerajaannya. Seperti prajurit Pantiko yang menindas penduduk pelabuhan, mereka bersumpah hanya untuk kerajaannya, jadi mereka bisa melakukan penindasan di luar kerajaan. Lalu, prajurit Majaren yang menindas desa, mereka belum di sumpah Leon, mereka hanya mengunakan identitas saja untuk masuk militer. Kau tau sendiri, Majaren membutuhkan banyak prajurit. Jadi itu dilakukan dengan buru-buru." Kata Rachel dengan semangat.
Leon hanya menelan ludah melihat Rachel yang sedang menjelaskan.
"Jadi kau bisa mengunakan itu Leon, aku akan mengajarinya nanti. Kau tidak perlu takut lagi dengan prajurit yang menindas. Mereka akan patuh dengan aturan." Kata Rachel dengan semangat sambil tersenyum.
Leon hanya tercengang melihat Rachel. "Rachel, kali ini aku benar-benar ingin menciummu." Kata Leon dengan tercengang.
"Haa, benarkah.? Kau boleh melakukannya Leon. Hihi." Kata Rachel sambil mendekatkan tubuhnya.
"HENTIKAN RACHEEEEEL." Teriak Aries sambil menarik Rachel.
"Aaaah, Aries. Kau mengangguku." Kata Rachel dengan sedih.
"Tenanglah Rachel. Lalu, apa yang akan kau lakukan jika sudah tau seperti ini Leon.?" Kata Aries dengan serius.
"Tentu saja kita akan membuka perekrutan. Pasukan kalian yang sudah berjuang disini, sudah pasti lulus. Aku akan memilih Jendral di bawah kepemimpinan Paradicone." Kata Leon dengan tersenyum.
"Berapa Jendral yang akan kau pilih Leon. Dan berapa banyak prajurit.?" Tanya Kibo penasaran.
"Sudah pasti aku membutuhkan 12 Panglima tempur di bawah kepemimpinan Paradicone. Dan 36 Komandan. Setiap Panglima membawahi 800rb prajurit. Itu sekitar setengah lebih dari semua prajurit yang kita punya." Kata Leon dengan semangat.
"Lalu, apa kita harus memilih Jendralnya dulu Leon.?" Tanya Rach dengan santai.
"Ah ,itu benar Rachel. Mereka pasti memiliki Rekomendasi para komandan. Dan biarkan mereka yang merekrut para prajuritnya." Kata Leon dengan serius.
"Lalu, kapan kita akan melakukannya.?" Tanya Rachel penasaran.
"Kita tunggu prajurit yang akan datang kesini. Sepertinya sudah ada dua panglima." Kata Leon dengan tersenyum.
"Apa kau punya nama untuk satuan militer ini Leon.?" Tanya Rachel yang penasaran.
"Ah, aku sudah memutuskannya. Gionova." Kata Leon sambil tersenyum.
"HAAAAAAA." Teriak semua Paradicone yang mendengarnya.
"Racheel, itu, hiks, ituu. Itu lebih bagus dari nama Paradicone. Huaaaah." Kata Aries yang menangis sambil memeluk Rachel.
"Aa, aaa, aaa." Suara Kibo yang gagap dan tubuhnya gemetar.
"Aa. Aaku juga hikss. Aku juga sangat terkejut. Huaaaaaah, Leooon." Kata Rachel yang tiba-tiba memeluk Leon.
"EEEEEEE. Ada apa dengan kalian.?" Kata Leon yang terkejut.
"Huhuhuhu. Leon. Kau tau, kami sering berdebat hanya karena masalah nama kelompok. Hiikks" Kata Rachel yang menangis terharu.
"Hiikss. Itu benar Leon, kita bertarung ratusan tahun hanya untuk memberi nama kelompok ." Kata Aries dengan menagis karena terharu.
"Pertarungan itu berhenti setelah Rachel memenangkannya. Dan dia membuat nama Paradicone." Kata Kibo tercengang dengan tubuhnya yang gemetar.
"HAAAAAAA." Teriak Leon yang terkejut.
"Aaa, aa. Apa kalian bodoh.?" Kata Leon dengan tercengang.
"DIAAAAM. HUH, HUH." Teriak Rachel sambil memukul kepala Leon.
"itteeeeh. Sepertinya aku di kelilingi orang-orang bodoh. Aak." Kata Leon dalam hati dengan terkejut sambil berpura-pura pinsan.
__ADS_1
"LEOOON." Teriak Racheel dengan mengoyangkan tubuh Leon.
.....
"Baiklah semua. Pasukan ini akan menjadi pasukan terkuat didunia. Gionova. Mari kita lakukan." Kata Leon dengan semangat sambil mengangkat satu tangannya, dan kepalanya masih bengkak.
"HAAAAA." Teriakan semangat Paradicone sambil mengangkat satu tangannya.
[Diluar Benteng selatan bagian dalam]
Pasukan yang di pimpin komandan Cena masih menunggu di luar. Lalu, pasukan Xerone dan Vera tiba disana dengan cepat.
"Cena, lihat, Jendral sudah datang." Kata Han kepada Cena.
"Haa, kenapa pasukan Pantiko juga kemari.?" Kata Cena terkejut.
"Hmm, aku juga ingin tau." Kata Han dengan penasaran.
.....
"Ha. Jendral, selamat datang kembali." Kata Cena dengan tegas.
"Ah, Komandan. Kenapa semua prajurit ada di luar.?" Tanya Xerone dengan terkejut.
"Ah, itu. Perintah langsung dari Paradicone Jendral." Kata Cena dengan gelisah.
"Haa. Apa semua Paradicone ada disini.?" Tanya Xerone dengan terkejut.
"Mereka berkumpul di tenda komando Jendral." Kata Cena.
"Sebaiknya kita menghadap langsung Xerone. Kita tidak punya waktu disini." Kata Vera dengan serius.
"Ah, sepertinya begitu. Sebaiknya semua prajurit menunggu disini." Kata Xerone serius.
"Jendral, siapa wanita cantik itu.?" Kata Cena dengan penasaran.
"HAAAA. Apa kau mau mati.?" Kata Vera sangat marah.
"Ahaha. Dia Jendral pasukan khusus kerajaan Pantiko." Kata Xerone tersenyum.
"APAAA.?, Ah, maafkan saya Jendral. Saya tidak tau." Kata Cena sambil membungkukkan kepalanya kepada Vera.
"Hm" Suara Vera dengan kesal dan terlihat wajahnya sangat marah, sambil berjalan kedalam benteng.
"Ahaha. Sepertinya dia wanita pemarah." Kata Xerone tersenyum sambil mengaruk-ngaruk kepalanya.
"Jendral, dia pemarah, apa kau akan menikahinya.?" Kata Cena yang berbisik kepada Xerone.
"Ah, aku sendiri tidak tau Cena. Sebaiknya aku menghadap Paradicone sekarang. Ada perintah langsung yang dikirim padaku dan Vera. Kalian tunggulah disini, aku akan kedalam." Kata Xerone dengan serius.
"Ha, laksanakan Jendral." Kata Cena dengan tegas.
Xerone dan Vera pun berjalan kedalam benteng menuju tenda komando.
.
.
__ADS_1