Legenda Maharaja

Legenda Maharaja
Benteng Selatan (2)


__ADS_3

[Benteng Selatan]


Leon masih tercengan melihat pemandangan dari atas benteng.


"Tidak aku sangka, mereka sangat kuat. Aku terlalu meremehkan kekuatan Paradicone. Apakah pemandangan ini seperti di Castle Nation dulu.?" Kata Leon dalam hati.


"Apa kau sedang memikirkan sesuatu Leon.?" Tanya Kibo dengan penasaran.


"Ah, kau tidak perlu khawatir Kibo." Kata Leon yang masih melihat kebawah benteng dengan tatapan yang tajam.


"Bagaimana Tuan. Apa kau masih ingin disini.?" Kata Cena kepada Leon.


"Komandan, biarkan aku disini sebentar, aku sedang melihat kondisi ini." Kata Leon dengan serius.


"Baiklah. Aku akan kembali kebawah dulu. Joken, jaga para Tuan-tuan ini." Kata Cena yang berjalan turun dari benteng.


"Ah, serahkan padaku." Kata Joken dengan santai.


....


"Kondisi benteng yang hancur, dan tanah berwarna merah. Ini akan menjadi pekerjaan yang panjang. Apa jadinya jika Louktus datang kesini lagi. Sebaiknya aku mengirimkan pekerja kontruksi untuk membangun ulang benteng ini." Kata Leon dalam hati sambil berfikir.


"Komandan, apa aku boleh minta tolong.?" Kata Leon kepada Joken.


"Aah, apa itu.?" Tanya Joken dengan santai.


"Bisakah kuburan itu di berikan batas, dan tanda di atasnya. Sepertinya keluarga mereka sedang menunggu kepulangan mereka. Dan jika mereka tau kalau prajurit itu sudah meninggal. Mereka bisa berkunjung kesini." Kata Leon dengan serius.


"Aah, ituu. Sepertinya tidak bisa kami lakukan. Kami di perintahkan untuk menyembunyikan mayat-mayat itu." Kata Joken dengan santai.


Leon hanya terdiam dengan tatapan tajam. Tangannya mengepal begitu keras. Bahkan ia merasakan kesedihan dari keluarga yang di tinggalkan oleh prajurit yang terkubur.


"Siapa yang menyuruh untuk melakukan itu.?" Kata Leon dengan tatapan tajam.


"Aa, aah. Orang ini sangat menakutkan." Kata Joken dalam hati sambil melihat Leon.


"Tuan, itu perintah langsung dari Dewi Kematian." Kata Joken dengan serius.


Namun, Leon hanya terdiam dan berfikir. "Apa ini yang di lakukan oleh Kibo di benteng barat. Tapi mereka langsung bergerak setelah aku menyuruh mereka memberikan tanda. Tapi disini situasinya berbeda. Mungkin aku akan menyuruh Aries setelah ini." Kata Leon dalam hati.


"Baiklah komandan. Apa kalian masih tau tempat terkuburnya.?" tanya Leon dengan serius.


"Tempat itu, apa Anda bisa melihat, ada beberapa gundukan tanah. Itu adalah kuburan dari ratusan ribu prajurit musuh." Kata Joken sambil menunjuk ke arah gundukan itu.


"Emm, baiklah. Setidaknya masih ada petunjuk tempat terkuburnya." Kata Leon dengan serius sambil berjalan turun benteng.


"Ah, Tuan Anda mau kemana.?" Tanya Joken dengan terkejut.


"Aku hanya berkunjung kesana komandan." Kata Leon sambil berjalan.


"Apa yang kau lakukan. Itu melanggar perintah militer Tuan." Kata Joken yang mengejar Leon.


"Anda tidak bisa melakukan itu. Apa Anda ingin membunuh kami.?" Kata Joken kepada Leon yang sedang berjalan keluar benteng.


"Tolong ijinkan aku kesana komandan. Aku hanya berkunjung kesana. Aku tidak akan melakukan apapun." Kata Leon dengan tatapan yang tajam.


"Aa, aaah. Kami tidak bisa menjaga Anda jika Anda sudah keluar benteng." Kata Joken dengan serius.


"Anda tidak perlu mengkhawatirkan itu komandan. Kita pergi kesana Kibo." kata Leon dengan raut wajah kesal.

__ADS_1


"Aah, Tuan." Kata Joken yang berhenti berjalan di depan gerbang melihat Leon dan Kibo berjalan keluar benteng.


....


"Apa tidak apa-apa Leon. Kau terlihat memaksakan diri." Kata Kibo yang berjalan di belakang Leon.


Namun, Leon hanya terdiam sambil berjalan kearah gundukan tanah itu. Bau darah masih menyengat disana. Dan masih banyak burung gagak di sekitar gundukan itu.


"Dia mulai sedih. Apa dia akan marah.?" Kata Kibo dalam hati dengan perasaan was-was.


.....


"Ini, mayat prajurit yang di bunuh Aries. Aku tau mereka adalah musuh. Tapi perasaanku sangat sakit. Ini sangat sakit. Semakin aku mendekat, aku merasakan penderitaan mereka." Kata Leon dalam hati dengan sedih.


"Leoon. Apa kau baik-baik saja." Kata Kibo yang khawatir.


"Kibo, kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku hanya ingin bertemu mereka." Kata Leon sambil berjalan.


"Ah, baiklah." Kata Kibo yang pasrah.


....


"Emm. Memang benar, aku harus bertanggung jawab disini. Gundukan ini tidak sempurna. Bahkan mereka menguburnya terlalu buru-buru. Ini harus di perbaiki." Kata Leon dalam hati.


Leon dan Kibo berjalan jauh dari benteng. Bahkan hampir memasuki wilayah Porsa. Namun, disana ia melihat banyak warga yang menangis histeris.


Bahkan ada ibu-ibu yang mengendong bayinya sambil menjerit, mereka menangisi keluarganya yang meninggal.


"Ah, ituu." Kata Leon yang melihat beberapa warga yang masih berada di wilayah Kerajaan Porsa.


"Mereka semua menangis." Kata Leon yang tercengang dengan sedih melihat mereka semua.


Namun, Leon masih berdiri disana. Ia hanya terdiam melihat warga disana. Ia mengepalkan tangannya. Dan air matanya menetes perlahan.


"Haa, Leon. Apa kau baik-baik saja.?" Tanya Kibo yang melihat Leon menangis.


....


"Haaaa." Huaaaahh." AAAAHHH." HAAA." Hiks." HuaAAA." Suara tangisan para warga Porsa.


"Heh, heh, ituu orang Majaren." Kata salah satu warga yang melihat Leon.


"HAAA. PERGILAH DARI SINI HUAAAH." Teriakan salah satu warga yang menangis histeri.


"HUAAAAHH." PERGILAH. HAAAA." Suara warga yang menangis.


"Itu, Itu. MEREKA YANG MEMBUNUH. HAAA." Teriakan warga yang menangis sambil melempari batu kepada Leon.


Orang-orang itu melempari batu kepada Leon dan Kibo bertubi-tubi. Kebencian mereka tidak bisa di bayar dengan apapun.


Kebencian yang sudah melekat dalam hati, mereka merasakan dendam yang sangat dalam.


Namun, Leon hanya terdiam dan menerima lemparan batu itu. Bahkan kepalanya sampai berdarah. Tapi Ia tetap diam sambil menangis disana.


"Leoon, apa kau baik-baik saja. Sebaiknya kita pergi dari sini." Kata Kibo yang Khawatir.


"Kenapa kau tidak mengunakan sihirmu Leon. Kepalamu berdarah." Kata Kibo yang panik.


"Akuu, Akuuu. Hikss. Kibo. ini sakitt. Sakiit sekali hiks. Huhu. Ini, sakit sekali." Kata Leon yang menangis sampai ia bertekuk lutut melihat penderitaan orang-orang didepannya.

__ADS_1


"Leoon. Kau. Kau." Kata Kibo yang tercengang sambil melihat Leon menderita.


"Hikss. Hikks. Kenapa aku seperti ini. Hik aku, aku tidak bisa menahannya. Rasa ini, hiik. Kiboo. Aku tidak kuaat. Hiiks." Kata Leon yang sangat menderita. Lalu, ia pun tak sadarkan diri.


"Tidaak. LEOOOON." Teriakan Kibo melihat Leon pinsan dengan darah di kepalanya.


....


"Apa yang mereka lakukan, sudah aku peringatkan. Jangan pergi kesana. Mereka benar-benar bodoh. Haah, sudahlah. Aku tidak bertanggung jawab atas masalah ini." Kata Joken yang melihat Leon dan Kibo dari atas benteng.


....


Leon pun di bawa oleh Kibo ke dalam benteng. Leon di baringkan di tanah. dan Kibo sangat panik.


"Bagaimana ini, Leon sadarlah. Leoon." Kata Kibo yang sangat panik.


"Aah, Tuan. Aku sudah memperingatkanmu. Apa temanmu itu baik-baik saja.?" Kata Joken yang melihat Leon dan Kibo dengan kesal.


"Pergilah dari sini." Kata Kibo dengan tatapan tajam.


"Haaa. apa Tuan tidak membutuhkan tenda untuk teman Anda.?" Kata Joken dengan kesal


"Jangan memerintah disini Tuan. Aku sudah melarang Anda. Tapi teman Anda masih kesana. Ini sudah bukan tanggung jawab kami." Kata Joken dengan kesal.


"Apa yang kau bilang." Kata Kibo. Ia mulai mengeluarkan auranya dan menekan Joken.


"Aaarrrgj ini. Ini. Sangat kuat. siapa mereka. Uhuook. Arrgk" Kata Joken yang kesakitan sampai berketuk lutut.


Lalu, Leon memegang tangan Kibo. ia mulai membuka matanya. Namun ia masih merasakan kesedihan yang mendalam.


"Jangan Kibo. Berhentilah." Kata Leon dengan suara pelan.


"Ah, Leoon. apa kau baik-baik saja. Aku sangat panik Leoon." Kata Kibo yang sangat Khawatir.


"Uhuook. Hah, hah. Siapa mereka. auranya sangat kuat. Sebaiknya aku pergi dari sini." Kata Joken yang merangkak pergi menjauh.


.....


"Kau tidak perlu melakukan itu Kibo. Aku hanya sedih. Sebaiknya kita bergegas pergi ke kerajaan Porsa. Kita selesaikan penderitaan ini." Kata Leon dengan serius. Sambil terbaring di tanah.


"Leoon, kau. kau. Aku akan melakukan apapun untukmu Leon. Jadi bertahanlah." Kata Kibo sangat panik.


Tiba-tiba portal terbentuk di kawasan Camp. Semua orang disana sangat terkejut.


"Ituu, ituuu. Par par PARADICONE DATAAANG." Kata salah satu prajurit dengan berteriak.


"Apaaa.?" Kata Cena yang berdiri melihat portal itu.


"CEPAAT . BERSUJUDLAH KALIAN SEMUA." Teriakan Cena dengan ketakutan.


Semua orang pun bersujud. Tidak ada yang berani bergerak. Bahkan tubuh mereka gemetar ketakutan.


"Sepertinya ini sangat gawat." Kata Leon yang masih terbaring di tanah.


"Ah, ini gawat." Kata Kibo yang melihat portal itu dengan terkejut.


.


.

__ADS_1


__ADS_2