
[Benteng Perbatasan Barat Majaren]
Xerone dan Vera bergerak dengan cepat menuju tenda komando. Mereka menunggu di luar sambil bersujud.
"Sebaiknya aku memanggil mereka. Tunggulah sebentar Leon." Kata Kibo sambil keluar Tenda.
"Ah, Kibo. Apa kau bisa meminta mereka untuk berhenti bersujud disana. Kita sudah ada di dalam tenda. Jadi biarkan mereka beraktifitas seperti biasanya." Kata Leon dengan serius.
"Aah, baiklah Leon." Kata Kibo dengan santai. Lalu ia pun keluar tenda, dan ia melihat Xerone dan Vera sedang bersujud di depannya.
....
"HORMAT KAMI KAISAR NAGA." Kata Xerone dan Vera secara bersamaan sambil bersujud.
"Vera, bisakah kau menyuruh pasukanmu berhenti bersujud. Lalu, masuklah kedalam tenda." Kata Kibo dengan tegas.
"Ha. Laksanakan Kaisar Naga." Kata Vera dengan tegas. Lalu, ia pun bergerak menghampiri para komandannya.
....
"Lalu, siapa prajurit ini.?" Kata Kibo yang bertanya kepada Xerone.
"Ha. Hamba meminta Ijin berbicara Kaisar Naga. Saya adalah Xerone Worgan, Jendral pasukan elit dari kerajaan Properose." Kata Xerone dengan tegas.
"Ah, jadi kau prajuritnya Aries. Kau juga ikutlah kedalam bersama Vera. Aku akan menunggu kalian didalam." Kata Kibo dengan santai. Lalu, ia pun pergi kedalam tenda.
"Ha, laksanakan Yang Mulia." Kata Xerone dengan tegas sambil bersujud.
....
Didalam tenda.
"Mereka sedang menyuruh prajuritnya bergerak Leon. Tunggulah sebentar." Kata Kibo dengan serius.
"Ah, baiklah. Terimakasih Kibo." Kata Leon dengan tersenyum.
....
"Rachel, berikan aku peta kerajaan." Kata Leon dengan serius.
"Haaaiiik. Ini Leon." Kata Rachel dengan manja.
"Emm, terimakasih Rachel." Kata Leon sambil membuka peta.
"Apa kau sedang memikirkan sesuatu Leon.?" Tanya Rachel dengan serius.
"Ah, Kerajaan yang berbatasan dengan Majaren bagian barat. Apa kau tau tentang mereka.?" Tanya Leon kepada Rachel.
"Itu adalah Kerajaan Forlsa. Kekuatan militer mereka tidak begitu kuat Leon. Ekonomi mereka bergantung pada Louktus. Mereka mengandalkan hasil perkebunan untuk di jual. Hasil panen mereka adalah yang terbesar dari seluruh kerajaan yang ada di Benua Trolin." Kata Rachel yang menjelaskan.
"Hoo, Lalu, apa yang mereka panen.?" Tanya Leon sangat penasaran.
"Semuanya ada disana Leon. Sayuran, buah-buahan, padi, gandum, bahkan semua jenis biji-bijian. Mereka sangat kaya dengan hasil alamnya." Kata Rachel yang menjelaskan.
"Ternyata kau tau banyak Rachel. Kau sangat membantuku." Kata Leon dengan tersenyum.
"Aku mencari tau semua tentang kerajaan di benua Trolin Leon. Aku pasti akan berusaha." Kata Rachel dengan tersenyum.
....
"Sepertinya kita akan bergerak kesana. Kita membutuhkan pasokan makanan yang berkepanjangan." Kata Leon dengan serius.
"Apa kau akan mengerakkan pasukan yang ada disini Leon.?" Tanya Aries dengan serius.
"Aku masih belum memikirkanya. Aku hanya ingin menyelesaikannya tanpa pertumpahan darah." Kata Leon dengan tersenyum.
__ADS_1
"Aku yang akan pergi kesana Leon. Aku akan bernegosiasi dengan mereka. Bagaimana menurutmu?." Kata Rachel dengan tersenyum.
"Apa kau bisa melakukannya Rachel. Aku masih membutuhkanmu nanti." Kata Leon dengan serius.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan Leon.?" Tanya Aries dengan penasaran.
"Sepertinya ini bisa dilakukan setelah aku pergi ke kerajaan Porsa." Kata Leon dengan serius.
....
Diluar tenda.
Vera memerintahkan komandan dan pasukannya untuk menjaga setiap wilayah yang ada di benteng.
Semua prajurit termasuk pasukan Xerone, langsung bergerak mengambil posisinya masing-masing. Dan Vera kembali ke tenda komando dengan cepat.
"Apa kau sudah selesai Vera.?" Tanya Xerone dengan gugup sambil bersujud.
"Ah, aku sudah memerintahkan mereka semua untuk menjaga semua sisi benteng." Kata Vera dengan serius, lalu ia langsung bersujud.
"Baiklah, apa kau sudah siap.?" Kata Xerone dengan serius. "Aah, aku sudah siap." Kata Vera dengan tegas.
.....
"HORMAT KAMI PARADICONE. KAMI IJIN MEMASUKI TENDA." Kata Xerone dan Vera secara kompak.
"Ah, sepertinya mereka sudah selesai." Kata Leon.
"Masuklah." Kata Kibo kepada Xerone dan Vera yang ada di luar tenda.
Xerone dan Vera pun, masuk kedalam tenda dengan menundukkan kepalanya. Lalu mereka bersujud lagi.
"Aaaah, mereka melakukannya lagi disini." kata Leon dalam hati.
Lalu, Aries pun menghampiri Xerone. "Xerone, kenapa kau ada disini.?" Tanya Aries dengan tatapan yang tajam.
"Hoo, jadi. Apa kalian sudah akrab.?" Tanya Aries dengan santai.
"Aa. Kita sedang membaur Yang Mulia." Kata Xerone yang sangat gugup.
"Apa kau meninggalkan tugasmu Xerone.?" Tanya Aries penuh dengan ancaman.
.....
"Ah, bagaimana ini. Aku sudah meninggalkan tempat tugasku. Kau akan mati Xerooone." Kata Xerone dalam hati dengan sangat ketakutan sambil memejamkan mata.
.....
"Ha, Saya sudah menyelesaikan perintah Yang Mulia." Kata Xerone dengan ketakutan.
"Hmm, Baiklah, aku akan memeriksanya besok." Kata Aries dengan serius.
"Apa yang kalian bicarakan.?" Kata Leon dengan serius.
Sontak, Aries pun terkejut. "Haa, aku lupa ada dia disini. gawat, apa dia akan marah kali ini.?" Kata Aries dalam hati dengan sangat panik.
"Haah, biarkan aku yang bertanya pada mereka Aries." Kata Leon dengan santai sambil menghampiri Xerone dan Vera.
....
"Tidak mungkin, Dewi Kematian sampai diam tak bicara." Kata Xerone dalam hati.
.....
"Apa kalian bisa berdiri.? Aku tidak nyaman dengan sikap kalian." Kata Leon kepada para Jendral.
__ADS_1
"Ha. Hamba tidak berani Tuan." Kata Xerone dengan ketakutan, sampai tubuhnya gemetar.
"Haaah. Aku hanya ingin mengobrol dengan kalian. Bisakah kalian duduk saja disini.?" Kata Leon sambil duduk di depan Xerone dan Vera.
Xerone dan Vera pun hanya terdiam, mereka tidak bergerak sama sekali. Mereka ketakutan sampai gemetar. Ini pertama kalinya mereka menghadap Paradicone dengan anggota yang lengkap.
"Aku tidak akan melakukan apapun pada kalian. Jadi kalian tidak perlu takut padaku." Kata Leon dengan tersenyum.
....
"Apa tidak apa-apa. Kenapa Kaisar Naga hanya diam. Siapa orang ini. Aku sangat penasaran." Kata Vera dalam hati dengan gugup. Namun ia juga sangat penasaran.
"Aku sangat takut. Bahkan tubuhku semakin gemetar, apa aku akan baik-baik saja." Kata Xerone dalam hati sambil gemetar.
.....
"Hmm, ini permintaanku. Kita tidak bisa bicara dengan posisi kalian yang seperti ini." Kata Leon dengan serius.
Lalu, Xerone dan Vera memberanikan diri mereka untuk mengangkat kepalanya. Dan mereka melihat Leon yang sedang duduk di depanya.
Namun, tiga orang yang ada di belakangnya, membuat mereka ketakutan.
"Ha. Hamba masih tidak berani Tuan." Kata Xerone dengan tegas. Ia benar-benar sangat ketakutan sambil menundukkan kepalanya lagi.
"Mungkin aku harus memperkenalkan diri pada kalian. Namaku Arjun Leon. Dan kalian pasti sudah tau, siapa mereka bertiga. Kalian tidak perlu takut disini, tidak akan ada yang menyentuh kalian." Kata Leon dengan tegas.
Xerone dan Vera benar-benar sangat terkejut.
"hmm, Sudahlah. Kita bicarakan saja disini. Bisakah kalian memberikan laporan padaku." Kata Leon dengan serius.
"Ha, Laksanakan perintah Tuan." Kata Xerone dan Vera secara kompak. Lalu, beberapa berkas keluar dari udara. Dan Leon pun mengambilnya.
"Aaa, aa. Apa ini tidak apa-apa.?" Kata Aries dalam hati sambil menoleh ke Rachel.
"Apa yang akan kalian jelaskan padanya Aries, Kibo. Sepertinya kalian sudah membohonginya." Kata Rachel dalam hati yang mulai panik.
"Sepertinya kali ini aku akan mati. Aku akan mati." Kata Kibo dalam hati dengan panik sambil menelan ludah.
Lalu, Leon pun membaca berkas laporan dari Xerone dan Vera. Laporan yang ditulis pada berkas itu, adalah kejadian yang sebenarnya.
Laporan itu berbeda dengan yang dilaporkan Aries dan Kibo kepada Leon. Leon pun terkejut saat membacanya.
Lalu, aura kegelapan keluar dari tubuh Leon. Tanah mulai bergetar cukup kencang. Dan mereka yang melihat Leon, sangat ketakutan.
Apa lagi Aries dan Kibo. Mereka bahkan tidak bisa bergerak. Seluruh tubuhnya gemetar ketakutan. Dan Rachel sangat panik.
"Aaaah. Mereka membohongiku. Laporan yang di tulis, berbeda dengan laporan Kibo dan Aries. Mungkin mereka menjaga perasaanku. Hm, aku memang tidak bisa marah kepada mereka." Kata Leon dalam hati dengan santai. Namun auranya masih keluar dengan kuat.
"Rachel, apa yang harus kita lakukan.?" Kata Aries dalam hati sambil menoleh kearah Rachel dengan ketakutan.
.....
"Aura ini, sangat kuat. Meskipun aku tidak terkena efeknya, tapi aku bisa merasakannya." Kata Vera dalam hati dengan takut.
"Siapa sebenarnya orang ini. Aku sangat penasaran." Kata Xerone yang ketakutan, namun ia juga penasaran.
.....
"Hmm, ini. Mereka mengubur mayat-mayat musuh. Apa mereka ingin menghapus jejak.? Atau mereka bertangung jawab atas pembunuhan massal itu. Tidak aku sangka, bahkan Kibo menipuku, ternyata benteng ini juga diserang. Mereka benar-benar menghapus jejak dengan cepat. Bahkan saat disini aku tidak menyadarinya. Mereka bergetak terlalu cepat." Kata Leon dalam hati. Namun auranya tetap keluar.
"Sebaiknya aku bertanya kepada pelakunya langsung. Tapi sepertinya mereka sedang ketakutan. Haaa. Ini membuatku pusing. Kau harus menerimanya Leoon, ini adalah perang. bahkan pasukan mereka juga banyak yang terbunuh. Mereka sudah berjuang dengan keras untuk melakukan tugas ini. Pasti para prajurit juga sedih melihat mayat teman-temannya yang terbunuh." Kata Leon dalam hati sambil merenung dengan auranya yang masih keluar.
"Leooon." Kata Rachel dalam hati dengan panik.
.
__ADS_1
.