
[Castel Taman Surga]
Pada malam hari. Rachel masih terbaring di tempat tidurnya dengan merenung.
"Kau kemana Leon.? Kenapa kau belum kambali.?" Kata Rachel dalam hati sambil terbaring.
Tiba-tiba Aries masuk kedalam kamar Rachel. "Rachel ini makananmu. Makan lah, dari siang kau belum makan." Kata Aries.
"Aku ingin menunggu Leon Aries. Aku akan makan bersamanya." Kata Rachel dengan sedih.
"Heem. Leon masih sibuk Rachel. Kau tau sendiri, kita dalam situasi perang sekarang. Mungkin dia sedang berfikir keras bersama pakusan Gionova." Kata Aries.
"Kenapa dia tidak mengajakmu Aries.?" Tanya Rachel curiga.
"Aku disini merawatmu Rachel. Kau sudah pinsan selama 10 hari. Apa jadinya jika aku tidak merawatmu. Leon bisa membunuhku." Kata Aries.
"Apaaa. 10 Hari.? Ternyata selama itu aku pinsan. Apa Leon baik-baik saja Aries.?" Tanya Rachel khawatir.
"Dia menangis seharian disini sambil memegang tanganmu. Dia sepertimu Rachel, Leon sangat takut kehilanganmu." Kata Aries dengan tersenyum.
"Aaaah. Leon, cepatlah kembali padaku." Kata Rachel dengan sedih.
"Makanlah. Kau akan kurus jika tidak makan. Bagaimana jika Leon melihatmu Kurus.? Kau sudah tau sendiri." Kata Aries yang membujuk.
"Eem. Baiklah, aku akan makan Aries." Kata Rachel sambil duduk.
.....
[Dihutan perjalanan ke kerajaan Forlsa]
Terlihat para prajurit sedang beristirahat. Ada yang memangang makanan, ada juga yang bercanda, dan ada yang tertidur.
"Sampai kapan kita disini.?" Tanya Dion mulai bosan.
"Kita tunggu saja. Sepertinya lahitan itu belum selesai. Dan berhentilah mengeluh. Ikuti saja perintahnya." Kata Xerone.
"Heem, baiklah. Aku akan tidur sebentar Xerone. Bangunkan aku jika kita mulai bergerak." Kata Dion sambil tiduran.
"Ah. Tidurlah." Kata Xerone sambil menoleh ke tempat Leon berada.
....
Ditempat Leon. Terlihat Kibo mulai sadarkan diri.
"Aaaaah. Ini masih terasa sakit." Kata Kibo sambil duduk.
"Kau sudah sadar Kibo.? Kau pinsan cukup lama." Kata Leon yang duduk di depan Kibo.
"Leon. Apa yang sebenarnya terjadi padaku.?" Tanya Kibo.
"Apa kau masih bisa mendengarkan jeritan itu Kibo.?" Tanya Leon kembali.
__ADS_1
"Ah. Aku masih bisa mendengarnya. Namun perasaanku sudah tenang." Kata Kibo yang masih takut.
"Aku menekan perasaanmu itu Kibo. Kau tidak kuat menekannya sendiri. Dan kau hampir gila di dalam sana." Kata Leon.
"Suara itu sangat menyakitkan hati Leon. Dan perasaanku bercampur aduk melihat mereka semua." Kata Kibo yang masih tercengang.
"Heem. Itu adalah jiwa orang yang sudah kau bunuh Kibo. Jika kau ingin merasakan energi alam ini, kau juga bisa mendengarkan penderitaan mereka. Apa kau siap dengan itu Kibo.? Kau akan lebih kuat setelah ini, namun jiwamu akan tersakiti." Kata Leon.
"Glegg. Apa aku akan baik-baik saja Leon.?" Kata Kibo yang ragu.
"Jika kau ragu, kita hentikan saja latihan ini. Dan gunakan kekuatanmu seperti biasanya." Kata Leon.
"Aku sebenarnya ingin lebih kuat lagi Leon. Tapi perasaan ini menekanku." Kata Kibo.
"Sudahlah, kita hentikan saja. Aku tau perasaanmu." Kata Leon sambil memejamkan mata.
"Apa kau bisa mendengarkan mereka Leon.?" Tanya Kibo sambil melihat Leon duduk membelakanginya.
Namun, Leon hanya diam saja sambil memejamkan matanya.
Lalu. "Haa." Kibo terkejut. Ia ingat saat Leon menangis di benteng selatan.
"Kau bisa mendengarnya Leon." Kata Kibo dengan tercengang melihat Leon.
"Aku tidak hanya bisa mendengarkannya saja Kibo. Aku juga bisa merasakan perasaan mereka, perasaan orang yang menderita, dari orang yang sudah mati, dan orang yang masih hidup." Kata Leon sambil memejamkan matanya.
"Apaaa.?" Kata Kibo terkejut.
"Aku bisa merasakannya saat aku bertarung di pelabuhan Ame. Kekuatanku memberontak dan aku tidak bisa mengendalikannya. Aku mendengar dan merasakan penderitan orang-orang di pelabuhan Ame, dari orang yang sudah mati maupun orang yang masih hidup." Kata Leon.
Tangisan orang-orang di pelabuhan Ame, Gadis kecil bernama Tina, penindasan prajurit Pantiko, melihat mayat-mayat yang dibunuh oleh Aries dan Kibo, warga Porsa yang menangis di benteng selatang, lalu peperangan di perbatasan Forlsa.
Dan Leon juga melihat Rachel hampir mati. Lalu, Leon membunuh ratusan ribu prajurit Louktus. Itu benar-benar menyiksa Leon dari dalam. Tidak ada yang tau tentang perasaanya. Dan Leon hanya memendam itu sendirian. Bahkan ia meninggalkan orang yang dicintainya.
Lalu sekarang ia pergi berperang, justru ia malah menjemput penderitaan itu, dan ia akan menyaksikan jutaan orang yang akan mati di medan perang.
"Glegg. Aaaah." Suara Kibo menelan ludah sambil melihat Leon dengan tercengang.
"Kita akhiri disini Kibo. Kita tidak bisa berlama-lama disini." Kata Leon sambil berdiri.
"Leoon. Orang yang paling menderita didunia ini adalah kamu." Kata Kibo dengan tercengang sambil melihat wajah Leon.
Namun Leon hanya terdiam berdiri di depan Kibo sambil melihat raut wajah Kibo yang ketakutan.
"Kita kembali saja Leon. Aku tidak mau kau melihat jutaan orang terbunuh setelah ini." Kata Kibo ketakutan.
"Apa yang kau bilang. Jika kau mau kembali, kembalilah, aku akan tetap pergi berperang." Kata Leon serius.
"Glegg. Kalau begitu, bagilah penderitaan itu padaku. Aku akan melakukannya Leon. Bukalah tekananmu yang menekan perasaanku ini. Aku akan kembali kedalam sana dan mendengarkan jeritan orang-orang yang sudah ku bunuh." Kata Kibo.
"Apa kau yakin Kibo.? Kau bahkan hampir gila mendengarnya. Apalagi setelah ini kau akan melihat jutaan orang yang terbunuh." Kata Leon.
__ADS_1
"Aku siap melakukan apapun denganmu Leon. Bagilah penderitaan itu padaku." Kata Kibo serius.
"Heem. Baiklah. Aku akan membuka tekanan yang ada didalam tubuhmu." Kata Leon sambil menyentuh kepala Kibo.
"Apa kau siap Kibo.? Setelah Ini akan sangat menyakitkan." Kata Leon.
"Aku sudah siap Leon." Kata Kibo serius.
Lalu, cahaya yang cukup terang keluar dari tangan Leon. Dan Kibo berkonsentrasi didalam alam bawah sadarnya.
"Uhuuook." Suara Kibo memuntahkan darah.
"Aaarrgh. Aku harus menahannya. Terimalah perasaan ini Kibo, lalu tekan jiwamu." Kata Kibo dalam hati.
"Uhouk. Uhoouk. Uuuh." Suara Kibo yang memuntahkan darah berkali-kali.
Leon hanya terdiam melihat Kibo yang mendengarkan jeritan dari jiwa orang-orang yang sudah mati. Lalu, beberapa menit setelahnya. Tubuh Kibo bersinar cukup terang beberapa detik.
Dan ia pun membuka matanya. "Aaaaarrh. Haah, haah. Ini sangat menyakitkan Leon. Tapi aku sudah bisa menekannya." Kata Kibo kepada Leon.
"Bagus Kibo. Kau berhasil. Apa sekarang kau bisa merasakan energi alam.?" Tanya Leon.
"Ah. Kau benar Leon. Aku sekarang bisa merasakan mereka. Mereka ada dimana-dimana dan sangat banyak, tapi yang aku rasakan hanya energi alam bersifat petir. Apa ini adalah energi alamiah milikku Leon.?" Tanya Kibo.
"Ah, itu adalah energi alamiah milikmu Kibo. Sudah aku jelaskan dari awal, jenis energi milikmu adalah petir. Apa kau mau mencobanya.?" Kata Leon dengan tersenyum.
"Aku akan mencoba dengan senjata suciku Leon." Kata Kibo. Sambil mengeluarkan senjata sucinya.
"Ah. Cobalah. Dan rasakan energi yang ada di dalam senjata itu." Kata Leon.
Kibo pun memegang senjatanya, dan melihat seluruh senjatanya itu, dari ujung ke ujung.
"Kau benar Leon. Energi alam didalamnya sangat banyak sekali, dan sifatnya sama dengan yang ada didalam jantungku." Kata Kibo tersenyum sambil melihat senjata sucinya.
"Aku akan mencobanya seperti yang kau lakukan tadi siang." Kata Kibo. Ia pun mengarahkan pedang besarnya itu ke lembah gunung.
Lalu, senjata suci itu bersinar berwarna biru, dan mengeluarkan sinar petir yang bergerak menghantam lembah gunung.
BREDOOOM. Suara hantaman dari senjata suci milik Kibo.
"Wah. Ini berhasil Leon. Kekuatan ini sangat kuat sekali." Kata Kibo tersenyum.
"Ah.. Hahahaha." Kata Leon tertawa.
....
Ditempat peristirahatan prajurit.
"Para pemimpin masih belum selesai latihan Xerone. Mungkin kita akan berangkat besok pagi." Kata Dion dengan memejamkan mata. Sebenarnya dia tertidur dan terbangun karena suara hantaman itu.
"Ah. Sepertinya begitu." Kata Xerone yang sudah mulai terbiasa sambil membuat secangkir kopi.
__ADS_1
.
.