
[Wilayah Utara Majaren]
4 hari berlalu, sesuai estimasi yang di perdiksi Leon. Panglima Vera beserta satu Jendral sampai di wilayah utara.
Mereka hanya kebingungan sampai disana. Hanya ada hutan yang ujungnya adalah tebing laut. Sebelah kiri adalah gunung. Dan sebelah kanan adalah pantai yang panjang.
"Panglima, dimana kita harus membangun Camp.?" Kata Jendral Mona.
"Sebentar Mona. Aku masih melihat area sekitar." Kata Vera sambil melihat-lihat area di atas tebing.
....
"Tempat ini sangat luas. ini seperti melihat tempat peperangan. Pantai yang panjang dan luas, hutan yang sangat luas, dan tebing yang luas juga." Kata Vera dalam hati.
....
"Mona, suruh tiga komandanmu membuat Camp di hutan. Lalu, dua komandan di pantai itu. Dan sisanya ada ditebing ini bersama tenda Panglima." Perintah Vera.
"Ha. Laksanakan perintah." Kata Mona tegas.
....
Vera terus melihat lihat area sekitar. "Sepertinya ada peperangan besar setelah ini. Aku sudah menyiapkan pasukan di laut. Juroo bersama puluhan kapal pasti sudah sampai di titik itu. Kita lihat saja kelanjutannya." Kata Vera dalam hati.
Tenda prajurit di bangun dengan sangat banyak. Pasukan Panglima Vera hanya membawa satu Jendral dan 6 komandan dengan pasukan total sekitar 300rb pasukan di wilayah utara.
Lalu, armada laut, pasukan Jendral Juroo membawa 250rb prajurit dengan 72 kapal perang besar yang ada di pingiran laut, sedang menunggu perintah.
"Apa yang sedang terjadi disini. Kenapa kita di tugaskan disini. Apa Louktus akan menyerang tempat itu." Kata Juroo dalam hati.
"Jendral, apa kita tidak berlabuh.?" Tanya salah satu komandannya.
"Tunggu saja disini. Ini adalah perintah. Kita tidak bisa melanggar perintah itu. Sebaiknya kita bersiap-siap, Sepertinya akan terjadi peperangan disini." Kata Juroo dengan tegas.
....
[Perbatasan Kerajaan Forlsa]
1 minggu berlalu. Pasukan Xerone dan Dion sampai di perbatasan Forlsa. Namun, pasukan mereka yang ada di perbatasan, di pimpin oleh para Jendral. Xerone dan Dion pergi ke istana Kerjaan Forlsa.
"Selamat datang di istana kerajaan Forlsa Panglima." Kata Raja Briken
"Terimakasih atas sambutannya Yang Mulia. Kami kesini ada beberapa hal yang ingin kami bahas." Kata Xerone kepada Briken.
"Silahkan sebelah sini Panglima." Kata Menteri kerajaan.
"Em." Suara Xerone sambil berjalan ke ruangan.
....
__ADS_1
Mereka pun berkumpul dan duduk di kursinya masing-masing.
"Yang Mulia. Apa situasi yang ada di perbatasan masih berperang.?" Tanya Xerone.
"Panglima. Sudah tiga hari ini Louktus menyerang di dua perbatasan. Prajurit kami sudah kualahan. Bahkan benteng selatan sudah di kuasi Loktus." Kata Raja Briken.
"Baiklah Yang Mulia. Pasukanku sudah bergerak kesana. Mungkin setelah ini mereka mengambil alih benteng itu." Kata Xerone dengan serius.
"Kami Kesini ada beberapa hal yang ingin kami bicarakan Yang Mulia." Kata Dion.
"Ah, Silahkan Panglima." Kata Raja Briken.
"Baiklah. Pertama, jalur supaly makanan beserta makanannya. Kedua, perlengkapan perang. Apa yang mulia sudah menerima surat itu.?" Kata Dion tegas.
Menteri kerjaan pun menjelaskan. "Kami sudah menerimanya Panglima. Jalur suplay ke beberapa kerajaan sudah di petakan. Dan stok makanan sudah cukup untuk 2jt pranjurit selama 1 tahun. Lalu, puluhan ribu kuda dan alat transportasi sudah kami siapkan." Kata Menteri kerajaan.
"Emm, baiklah Tuan. Kita sedang menunggu perintah selanjutnya. Bantuan ini akan kami terima. Tugas kami saat ini hanya mempertahankan perbatasan. kami masih belum diperintahkan untuk menyerang. Jadi simpan persediaan itu dengan baik. Sepertinya akan terjadi perang besar setelah ini." Kata Xerone.
"Ah, baik Panglima. Ini adalah dokumen dari persediaan perang." Kata Menteri sambil memberikan beberapa dokumen.
"Baik. Aku terima dokumen ini." Kata Xerone sambil mengambil dokumen itu.
Lalu, tiba-tiba sebuah kertas muncul di depan Xerone. Isinya adalah laporan penyerangan.
"Ah, mereka sudah mengirim laporan." Kata Xerone.
"Apa ada penyerangan disana Senior.?" Tanya Dion.
"Yang Mulia. Benteng selatan sudah di ambil alih dari pasukan Louktus. Sekarang pasukanku sedang membereskan mayat-mayat mereka." Kata Xerone serius.
"Haaa. Tidak mungkin. Bagaimana bisa Panglima. Apa mereka sudah sampai disana dari kemarin.?" Tanya Briken yang terkejut.
"Tidak Yang Mulia. Mereka baru sampai 30menit yang lalu. Jumlah pasukan yang kami bawa tidak sedikit Yang Mulia. Sekitar 800rb prajurit di benteng selatan, dan 800rb prajurit di benteng barat. Total semuanya ada 1.6jt prajurit." Kata Xerone serius.
"Haaa. Ituu. Ituu jumlah yang sangat banyak." Kata Briken terkejut.
"Kami membaginya menjadi tiga bagian Yang Mulia. Pasukan garis belakang, yang masih ada di dalam wilayah kerajaan. Lalu, Pasukan garis tengah, yang masih menunggu didekat benteng. Dan Pasukan garis depan, yang sekarang sekarang menempati benteng." Kata Dion serius.
"Haa. Sepertinya pasokan makanan persediaan lainnya harus di kirim Panglima." Kata Menteri kerajaan.
"Ah, itu tidak perlu. Kami akan menyimpannya dulu, sampai perintah dari pemimpin di turunkan." Kata Xerone.
"Baiklah panglima. Kalau boleh tau, kalian pasukan dari mana.? Apa dari Kerajaan Majaren atau kerajaan lain, saya tidak pernah melihat seragam kalian sebelumnya." Tanya Raja Briken.
"Ah, perkenalkan kami dari pasukan Gionova. Pasukan khusus yang di bentuk oleh Paradicone." Kata Xerone.
"Haaaa." Suara terkejut Briken.
"Kami semua adalah prajurit pilihan dari seluruh tiga benua. Dan kami berdua adalah salah satu dari 12 Panglima perang Gionova." Kata Dion.
__ADS_1
"Haaa. Aku tidak percaya itu, Paradicone membentuk pasukan untuk melawan Louktus." Kata Briken.
"Itu sudah perintah dari Paradicone Yang Mulia. Kami hanya menjalankan perintah. Misi Gionova adalah mengambil wilayah Paradicone yang sudah di ambil Louktus." Kata Xerone.
"Glegg. Aku sangat terkejut Panglima." Kata Briken.
"Jadi, mohon kerja samanya. Kami semua membutuhkan bantuan kalian untuk memenangkan perang ini." Kata Xerone serius.
"Ah, kami akan membantu sebaik mungkin Panglima. Terimakasih sudah datang." Kata Briken.
"Baik Yang Mulia. Kami undur diri dari sini. Kami akan mengirimkan surat kepada Anda, jika kami membutuhkan persedian itu. Kita kembali Dion." Kata Xerone sambil berdiri.
"Baiklah." Kata Dion.
"HA HORMAT KAMI GIONOVA." Kata semua orang sambil berdiri.
"Ah, mereka melakukannya." Kata Dion.
"Hahaha. Sampai jumpa lagi Yang Mulia." Kata Xerone sambil menundukkan badannya.
....
[Castle Taman Surga]
Leon sedang menganalisa medan peperangan lewat peta.
"Rachel, apa masih belum ada laporan dari panglima.?" Tanya Leon.
"Ah, ini Leon." Kata Rachel sambil memberikan laporan.
"Emm. Laporan dari benua Wisdom, dan Xerone." Kata Leon.
"Mereka sudah menguasai benteng Leon. Tinggal menunggu perintah selanjutnya. Lalu, di perjalanan laut benua Wisdom. Terjadi peperangan. Namun Panglima disana berhasil memukul mundur mereka." Kata Rachel.
"Bagus. Mereka pasti sedang berfikir keras. Berapa lama perjalanan ke benua Lories Rachel.?" Tanya Leon.
"Jika mereka mengunakan kapal. Mungkin sekitar 1 bulan Leon. Lalu untuk sampai di benua Wisdom dari jalur laut, membutuhkan waktu 2 minggu. Itu masih belum perjalanan mereka ke beberapa titik." Kata Rachel.
"Emm, ternyata lama sekali. Tapi dibeberapa titik sudah ada prajurit Gionova disana. Mungkin mereka sedang menunggu Panglima mereka." Kata Leon sambil berfikir.
"Aku ada ide Leon. Bagaimana jika kita membuat gerbang portal teleportasi di setiap benua.?" Kata Rachel.
"Hoo. Itu ide bagus Rachel. Tapi sepertinya belum saatnya. Kita sudah bergerak sekarang, sudah terlambat menyiapkan itu. Sepertinya kita harus menguasai tiga benua terlebih dulu. Itu akan menjadi alat transportasi bagi para penduduk di tiga benua ini." Kata Leon serius
"Hoo. Kau memikirkannya sampai kesana Leon." Kata Rachel.
"Kita harus cepat menyelesaikan ini." Kata Leon serius.
.
__ADS_1
.