Legenda Maharaja

Legenda Maharaja
Berakhirnya Perang


__ADS_3

[Ditempat pelabuhan Ame.]


Setelah Seril melihat tubuh Rin, ia terus berjalan ke arah pelabuhan sampai ia pun tiba disana.


Seril melihat seseorang yang sedang duduk sendirian. Seperti sedang menunggu seseorang. Dan mereka pun menghampiri orang itu.


"Siapa kamu, dari batalion mana kau di tempatkan.?" Tanya Ito pada orang itu.


"Aku Leon, aku sedang menunggu pemimpin pasukan Honzu. Kau kah pemimpin pasukan ini.?" tanya Leon.


"Siapa dia,? Seekor tikus yang aku lihat dari teropong" Kata Seril dalam hati dengan tercengang.


Ito pun bicara kepada Leon. "Apa ini semua adalah ulahmu.?". Teriak Ito dengan sangat marah dan mulai mengeluarkan aura merah dari tubuhnya.


"Ternyata benar, kalian lah yang membawa orang-orang ini untuk mati." Kata Leon.


Leon pun menghilang dari tempat duduknya, dan tiba-tiba berada tepat didepan Ito. Ito pun kaget dan ia langsung meloncat kebelakang.


"Orang ini sangat kuat" kata Seril dalam hati sambil terkejut.


Ito pun mengeluarkan pedang terkuatnya, salah satu 75 pedang kuno. Dengan ayunan pedang yang sangat cepat dan di selimuti aura merah yang kuat. Ia pun mengarahkan pedangnya ke leher Leon.


Sekali lagi, Leon dengan sangat mudah menghentikan serangan itu, dia memegang ujung pedang ito dengan tangan kirinya.


Kaki Ito pun bergerak dan mulai menendang tubuh Leon, tapi Leon menangkisnya dengan mudahnya.


Leon pun membenturkan kepala Ito dengan kepalanya sendiri, dan Ito pun Langsung tak sadarkan diri ditempat.


Seril pun terkejut dan mulai bicara kepada Leon. "Hei Nak, sudah cukup". Leon pun menoleh dan memandang Seril dengan tatapan penuh ancaman.


"Bisakah kau melepaskan kami, kekuatan kita sudah sangat lemah, dan kami sudah tidak punya gairah untuk bertarung". Kata Seril kepada Leon dengan sangat ketakutan. Ia tidak menyangka, kalau orang itu, benar-benar sangat kuat. Ini di luar perkiraannya. Bahkan saat ini, Seril mencoba menghindari pertempuran dengan Leon.


Namun, Leon semakin emosi dengan perkataan itu, dan ia tidak memperdulikannya. Leon pun langsung melancarkan serangannya kepada Seril dengan tangan kosong.


Leon memukul wajah Seril, sampai tulang hidungnya patah dan berdarah, dan Seril terpental ke udara.


Seril sudah tidak berdaya melawan orang seperti Leon. Kekuatannya melebihi batas kemampuan manusia pada umumnya.


"Ah jadi ini lah kekuatan dari sang Paradicone. Seseorang yang memiliki kekuatan tak terbatas. Benarkan ayah, kau sudah membuat kesalahan besar". Kata Seril dalam hati yang sedang menunggu kematiannya.


Leon pun mengeluarkan pedangnya yang masih tertutup sarung karena tersegel, iya langsung bergerak ke arah Seril dan memukul perut Seril dengan ujung pedangnya. Seril pun terpental jatuh ke tanah.


Suara keras dari jatuhnya jendral ke tanah, membuat semua pasukannya terdiam seribu bahasa. Tidak ada yang berani kesana, apalagi ikut campur dalam pertempuran itu. Hanya mematung melihat Jendralnya di hajar habis-habisan.


Seril pun tercengang melihat Leon di atas tubuhnya yang berdiri melihatnya. Dan Leon yang berdiri tepat di atas Seril menatap tajam dengan aura kegelapan yang keluar dari matanya.


"Aku tidak membunuh pasukanmu, hanya melumpuhkan mereka saja. Mayat-mayat yang kau lihat itu, adalah hasil kerja keras pasukan Nizo yang terancam oleh kalian. Aku melakukan ini hanya karena aku sangat kesal". Kata Leon pada sang jendral.


"Pergilah dari sini secepatnya, dan bawa semua mayat-mayat itu juga. Jangan sampai kau datang ke wilayah ini lagi. Aku masih bisa memaafkanmu". Kata leon.


Sang jendral pun langsung berdiri ketakutan, dan berjalan ke arah Ito, Seril pun mengangkat badan ito. Dan berteriak kepada semua pasukannya, untuk mengevakuasi semua pasukan yang masih hidup ataupun yang sudah mati ke dalam kapal.


Leon pun pergi dari sana. Dan Seril melihatnya dari belakang dengan tatapan yang sangat takut.

__ADS_1


"Terimakasih, Paradicone" Kata Seril kepada Leon.


Leon pun berhenti seketika. Dan bilang "Siapa Paradicone?, aku bukan seorang Paradicone."


Seril pun kaget, sampai ia terbatuk dan memuntahkan darah.


....


[Ditempat Camp pasukan Nizo]


Terlihat semua orang sibuk dan berlarian mengangkat pasukan yang terluka secara bergantian.


Beberapa pasukan sedang membangun tenda, karena jumlah orang yang terluka sangat banyak,


Mayat-mayat pasukan Nizo, ditata dengan rapi, dan di tutupi kain berwarna putih. Sebagian pasukan sedang mengali tanah untuk pemakaman para pejuang yang telah gugur.


Di tenda komando, tempat Elis dan Silvi di rawat. Luka mereka sangat parah, bahkan para Healer kualahan untuk mengobatinya. Tapi untungnya, mereka masih terselamatkan.


Leon pun datang ketempat Camp itu. Para pasukan Nizo menyambutnya dengan gembira. Terlihat, seluruh tubuh Leon tidak ada luka satu pun yang tergores. Hanya percikan darah yang mengenai bajunya.


Leon pun melihat kesibukan para pasukan yang sedang mondar-mandir merawat prajurit terluka.


"Tuan, kau sudah datang, apa kau baik-baik saja. Apa perlu kami periksa dulu". Kata salah satu healer disana.


"Hei Orang asing, kau sangat hebat, bisa menahan pasukan Honzu seorang diri. Apa mereka sedang beristirahat.?" Kata prajurit lainnya.


"Ah. Tidak, aku sudah mengalahkan mereka semua, dan Jendral mereka membawa pasukannya mundur dari sana". Kata Leon.


Sontak semua prajurit kaget mendengarnya. "Apaaaaaaa". Kira-kira begitu kata-kata yang keluar dari mulut semua orang.


Semua prajurit pun mulai bergosip tentang Leon, ada yang mengira ia adalah salah satu Paradicone, yang terkenal sangat kuat itu. Namun Leon tetap bersikap cuek dengan gosip-gosip itu.


Leon pun menghampiri tenda komando. Iya melihat luka yang di alami Elis sangat serius. Wajah yang cantik berubah menjadi memar dan berdarah. Bahkan seluruh tubuhnya tergores dan lecet.


Silvi pun sama, memar yang ada di perutnya, membuat organ dalamnya bermasalah.


Para Healer disana sudah bekerja keras untuk merawat Elis dan Silvi. Tapi, masih ada sisa-sisa sihir yang kuat milik Rin, yang menghalangi proses penyembuhan.


"Kalian sudah bekerja sangat keras. Bisakah kalian menyerahkan sisanya padaku. Lalu, bisakah kalian keluar sebentar dari sini.?" Kata Leon kepada para healer disana. Mereka pun pergi keluar tenda meninggalkan Leon.


Lalu, Leon mengeluarkan sihir suci tingkat tinggi untuk meregenerasi tubuh yang terluka. Bedanya dengan para Healer pasukan Nizo adalah Mereka hanya menutup luka dan membantu sistem regenerasi dari pemilik tubuh yang terluka.


Tapi Leon, ia mampu meregenerasi luka-luka itu sampai benar-benar dalam keadaan semula. Kilatan cahaya dari tenda komando bersinar sangat terang, membuat semua prajurit yang ada di luar bertanya-tanya "Apa itu".


Setelah cahaya itu redup, Leon pun keluar dari tenda itu. Para Healer pun langsung masuk. Betapa terkejutnya mereka. Luka yang di derita oleh Elis dan Silvi, benar-benar sudah di sembuhkan.


"Biarkan mereka tidur, mereka butuh istirahat beberapa saat". Kata leon kepada para healer.


Leon pun menghampiri para prajurit yang terluka. Bahkan iya melihat ada healer yang pinsan karena kehabisan energi.


Satu persatu prajurit itu di sembuhkan oleh Leon. Mereka yang melihatnya sangat kagum dengannya. Dan Leon sangat senang bisa menolong mereka.


...

__ADS_1


Malam pun tiba. Elis yang terbaring di atas tempat ridur, mulai membuka matanya. Dan iya mendengarkan suara lagu yang sangat kencang di luar tenda.


"Apa aku masih hidup, kenapa ada api besar di luar sana, apa yang sedang terjadi.?" kata Elis yang bangun dari ranjangnya. Ia pun keluar melihat sekelilingnya.


Terlihat, api ungun yang cukup besar dan semua pasukan berpesta merayakan kemenangan mereka, Leon yang tertawa senang sambil meminum Bir, sedang duduk melihat salah satu prajurit bernyanyi.


Silvi yang sudah berada di tempat itu, mendekat kepada Elis. "Mereka sedang merayakan kemenangan". Kata Silvi kepada Elis.


"Apa perang sudah selesai.? Dan siapa yang mengalahkan pasukan Honzu.?" Tanya Elis.


"Lihatlah disana, dia yang mengalahkan pasukan Honzu seorang diri. 3 Komandan terkapar, dan sang Jendral mengaku kalah di depannya" Kata Silvi sambil melihat ke arah Leon.


"Apaa. ini tidak mungkin. Apa benar Leon mengalahkan mereka.?" Kata Elis yang terkejut.


"Jangan-jangan dugaanku benar silvi. Kekuatan Leon memang berbeda dari kebanyakan orang yang ada. Aura kegelapan yang di tunjukan padaku, benar-benar sangat kuat. Mungkin kah dia adalah salah satu anggota Paradicone?. Kita harus memberikan hormat kepadanya silvi". Kata Elis dengan panik.


Silvi pun terkejut, sampai air minum yang di bawanya jatuh ketanah.


"Hormat kami sang Paradicone". Kata Elis dengan kencang sambil menundukkan kepalanya.


Semua orang yang ada di sana pun terkejut, musik yang di nyanyikan pun berhenti seketika.


"Ternyata benar, Dia adalah sang Paradicone" kata salah satu prajurit disana. Sambil tercengang melihat ke arah Leon.


Semua pasukan yang ada disana, langsung sujud dan menundukkan kepala mereka kepada Leon.


"HORMAT KAMI SANG PARADICONE".


Leon pun kaget dengan sikap mereka semua yang tiba-tiba sujud padanya.


"oe Oe OEEE. Elisabeth, Kenapa kamu merusak kesenangan semua orang" Kata Leon kepada Elis.


"Sudah aku katakan, aku tidak tau apapun tentang Paradicone, dan aku bukan salah satu dari mereka". Teriak Leon.


Elis pun langsung mengangkat kepalanya, dan ia tersenyum palsu ke arah Leon.


"Ada apa dengan senyum yang barusan itu". Kata Leon dalam hati


"Cukup terima saja hormat kami, BODOOH" Kata Elis sambil memukul wajah Leon. "Aaaahhh" teriak Leon.


"huh, lagi-lagi" Kata silvi sambil menghela nafas.


Pesta pun di mulai lagi, suara kegembiraan dari Prajurit Nizo menyelimuti gelapnya malam.


....


Ditempat castle kerajaan Honzu. Sang jendral Seril menghadap Raja Honzu.


"Yang mulia Raja. Hampa menghadap kepadamu". Kata Seril yang sedang bersujud.


Dan terlihat sosok yang duduk di singgahsana seorang Raja, memiliki aura pembunuh yang sangat kuat. Sedang menatap ke arah Seril.


Raja Eden dari kerajaan Honzu.

__ADS_1


...


__ADS_2