Legenda Maharaja

Legenda Maharaja
Ruang Latihan Sihir


__ADS_3

[Akademi Rousen]


Terlihat, Leon dan anggota paradicone berjalan ke tempat latihan sihir. Rachel, Aries Dan Kibo menunggu di ruangan tertutup. Karena jika ada orang lain yang melihat mereka, akan terjadi masalah nantinya.


Karena semua orang tau, kalau Dewi adalah anggota Paradicone. Jadi lebih baik mereka menunggu di ruang tertutup untuk sementara.


"Hiks, Aries kenapa kita harus menunggu disini, aku harus ikut dengan Leon. Dia pasti melakukan hal yang aneh disana. Apa lagi wanita yang didekat Rewin itu, ia pergi bersama Leon. Ayolah Aries, hiks." Kata Rachel yang sedang merayu Aries, dan ia sangat cemburu.


"Kau harus menjaga sikapmu Rachel, yang membuat keributan diluar itu bukan Leon. Tapi kau sendiri. Wajah cantikmu itu membuat semua orang pinsan. Biarkan saja Leon pergi sendirian, pasti ia ingin melakukan sesuatu disana." Kata Aries yang melihat pintu.


Di tempat Leon. Ia sedang dalam perjalanan menuju ke tempat pelatihan.


"Apa yang Anda cari disana Tuan.? " Tanya Rewin kepada Leon.


"Aku hanya ingin memastikan kekuatan energi ini untuk para murid yang sedang belajar sihir disana." Kata Leon dengan tersenyum.


"Apa mereka semua sudah dibangkitkan Rewin?." Tanya Leon kepada Rewin dengan penasaran.


"Tuan, semua murid yang ada di tempat pelatihan, tidak ada yang di bangkitkan. Murid yang sudah di bangkitkan, mereka ada di ruang pengendalian, untuk belajar mengendalikan sihir." Kata Rewin dengan serius.


"Hooo, ini sangat kebetulan." Kata Leon sambil melihat punggung Lisa.


"Tubuh wanita ini seperti Rachel. Tapi masih bagus tubuh Rachel, bahkan Wajahnya juga. Kenapa dia diam saja dari tadi, sepertinya ia menahan sesuatu. Apa Kibo melakukan sesuatu padanya. Tubuhnya sampai gemetar begitu." Kata Leon dalam hati sambil berfikir.


"Huh, huh, huh, huh, Semakin lama aku berjalan di depan Tuan Leon, tubuhku jadi gemetar. Aku benar-benar sudah tak tahan." Kata Lisa dalam hati dengan terengah-engah. Lalu, tiba-tiba Leon menepuk punggungnya.


"Oe, Nona". Kata Leon sambil menepuk punggung Lisa.


"HIiiiiii." Suara Lisa yang terkejut. Lalu ia pun berhenti seketika, dan tangannya bersandar di tembok yang ada disebelahnya. Seluruh tubuhnya gemetar cukup kencang. " Huh, huh, huh." Suara Lisa yang terengah-engah sedang menahan sesuatu, dan seluruh tubuhnya gemetar.


"Apa yang terjadi." Kata Leon dalam hati sambil melihat tangannya sendiri. Ia mengira kekuatannya tidak bisa di kontrol olehnya, dan keluar dengan sendirinya untuk menyerang Lisa


"Lisa, jaga sikapmu itu." Kata Rewin yang panik.


"Apa kau tidak apa-apa Nona." Kata Leon sambil memegang tangan Lisa, bermaksud membantunya.


"Huh, huh, huh, aku sudah tidak tahan Tuan. Huh, huh, AAAAAaaaaiiih" Suara Lisa dengan wajah yang merah, seakan ia sedang menikmati sesuatu. Lalu, ada sesuatu keluar dari tubuhnya.


"Aah, dia kencing di roknya. Kenapa ia tidak ke toilet. Apa selama ini ia menahan air kencingnya itu.?" Kata Leon dengan bingung sambil menahan hidungnya. Ia tidak tau, air apa yang keluar dari sana. Dan Leon pun melepaskan tangannya dari Lisa.

__ADS_1


"LISAAA." Teriak Rewin yang sangat kesal.


"Huh, huh, huh, aku sudah melepaskannya Tuan Rewin. Rasanya sangat lega." Kata Lisa dengan penuh gairah, lalu ia pun pinsan.


"HAAAAA." Teriak Leon yang terkejut. "Rewin, bawa dia ke ruangan kesehatan. Aku akan menunggu disini." Kata Leon yang kebingungan.


"Maafkan Lisa Tuan. Aku akan segera kembali." Kata Rewin yang bergegas membawa Lisa yang pinsan.


"Apa yang sebenarnya terjadi, aku sangat yakin, aku bisa mengendalikan kekuatanku. Kenapa dia pinsan saat aku menyentuhnya. Ini sangat aneh. Ada apa dengannya." Kata Leon dalam Hati.


....


Lalu, di ruang tertutup. "Ariees aku mohon, bawa aku ke tempat Leoon, hiks hiks." Kata Rachel dengan manja sambil mengoyang-goyangkan tubuh Aries.


"Huh, apa kau tidak bisa menahannya Rachel, hanya sebentar saja?" Kata Aries sangat kesal.


"Hiks Hiks. Huaaah". Kata Rachel dan ia pun menangis.


....


Ditempat Leon, ia sedang bersandar di tembok. Rewin pun berlari ke arah Leon. "Oh, kau sudah selesai Rewin. Apa yang sudah terjadi padanya.?" Tanya Leon yang penasaran.


"Huh, sudahlah, ayo kita bergegas ke tempat latihan." Kata Leon dengan santai sambil berjalan.


...


Di ruang latihan, terlihat beberapa siswa sedang berlatih mengeluarkan sihir element. Lalu Inspektur disana melihat Rewin yang datang. Ia pun bergegas menghadap Rewin.


"Tuan Rewin, apa yang membuat Anda kemari. Apa ada sesuatu disini Tuan.?" Kata Inspektur itu dengan hormat kepada Rewin.


"Siapa disebelah anda Tuan.? apa ia murid pindahan yang ingin mengikuti pelatihan.?" Kata Inspektur itu dengan santai.


"GROOOYY, jaga perkataanmu itu. Aku sangat marah." Kata Rewin yang marah. Ia juga sangat panik.


"Maaf Tuan Leon. Inspektur Groy tidak tau siapa Anda." Kata Rewin sambil berlutut depan Leon. Inspektur Groy pun terkejut. Dan ia lansung berlutut di depan Leon.


"Maaf saya Tuan, saya tidak tau siapa Anda." Kata Inspektur Groy.


"Aaaah, sudahlah. aku hanya ingin melihat para murid latihan disini." Leon pun berjalan menuju tempat duduk yang ada disana.

__ADS_1


"Hmmm, ini benar-benar aneh. Mereka yang tidak mempunyai wadah, kenapa bisa mengunakan sihir.? Dari mana energi itu.?" Kata Leon dalam hati dengan wajah yang serius sambil berfikir.


"Ah Tuan Leon, maafkan Inspektur Groy. Jika Anda ingin aku menghukumnya, aku akan menghukumnya sekarang." Kata Rewin yang panik.


Namun, Leon pun hanya terdiam sambil melihat anak-anak latihan disana. Ia berfokus melihat jantung anak-anak itu, dan Leon melihat ada energi yang mengelilingi jantung.


"Ini seperti yang terjadi pada Rachel. Kalau energi itu habis. Mereka akan kesakitan, karena itu bisa mempengaruhi jantung mereka." Kata Leon dalam hati sambil berfikir.


Rewin dan Groy pun hanya terdiam melihat Leon, bahkan mereka sampai menelan ludah. Mereka pikir Leon akan marah setelah ini. Karena raut wajah Leon sangat serius.


"Ah, Rewin." Kata Leon. "SIAP TUAN". Kata Rewin dengan terkejut dan bersiap-siap menghukum Groy.


"Apa yang kau lakukan pak tua." Kata Leon sangat kebingungan. "Akademi ini tidak normal, semua orang disini sangat aneh." Kata Leon dalam hati dengan kesal sambil melihat Rewin.


"Aku akan menghukumnya Tuan." Kata Rewin dengan sangat panik.


"Hentikan itu Rewin. Jangan menghukumnya, biarkan saja dia situ." Kata Leon dengan sangat kesal.


"Baik Tuan." Kata Rewin yang melepaskan tangannya dari Groy. " Aaa, aaaaah" Suara Groy yang terkejut dan takut.


"Rewin, siapa yang memasukkan sihir kedalam tubuh anak-anak itu.?" Tanya Leon kepada Rewin.


"Ah, itu saya sendiri Tuan. Mereka akan di bawa ke medan perang setelah tumbuh dewasa nanti." Kata Rewin dengan serius, namun ia sebenarnya sedang gugup.


"Haaaa. Mereka masih berumur 8 tahun. Kenapa kau menentukan masa depan untuk anak-anak itu.?" Kata Leon yang sangat kesal.


"Tuan, itu adalah permintaan dari Raja James sendiri, untuk menambah pasukan militer berkekuatan sihir." Kata Rewin yang gugup.


"Huuh, kalian benar-benar sangat kacau. Kau tau Rewin, aku sangat kesal disini. Mau mengambil Hak mereka untuk hidup. Mereka masih anak-anak, biarkan mereka sendiri yang memilihnya." Kata Leon sangat serius dengan tatapan yang tajam.


"Lalu, bagaimana Tuan, apa aku akan mengambil energi itu, dan memulangkan mereka.?" Kata Rewin yang benar-benar sangat gugup. Bahkan air keringatnya mulai keluar dari kepalanya.


"Kau benar-benar bodoh Rewin." Aura kegelapan keluar dari tubuh Leon dan menekan jiwa Rewin. Namun itu hanya beberapa detik saja.


"Maa, Maa, Maafkan saya Tuan. Saya tidak bisa berfikir." Kata Rewin yang ketakutan dan tubuhnya mulai gemetar.


.


.

__ADS_1


__ADS_2