
[Castle Taman Surga]
Sudah 1 minggu lamanya Leon tinggal di Castle Rachel tanpa keluar kamanapun. Terlihat Leon sedang membaca buku di ruangan keluarga sambil tidur terlentang diatas sofa panjang.
"AAAAAAHH, Aku bisa mati jika seperti ini terus, kenapa aku membaca buku yang tulisannya tidak bisa aku baca". Teriak Leon sambil melempar buku.
"Leon, itu tidak baik melempar buku." Kata Rachel yang sedang berjalan ke arah Leon sambil membawa sekelas kopi untuk Leon.
"Apa kau tidak meresa bosan Rachel. Aku benar-benar bosan disini". Kata Leon kepada Rachel sambil berdiri. "Aries dan Kibo juga pergi dari sini saat rombongan Raja sudah pergi". Kata Leon dengan sangat kesal.
"Aku akan mengunjungi Akademi Rousen setelah ini, Apa kau mau ikut Leon.?". Kata Rachel kepada Leon.
Leon pun ingat kata-kata Elis tempo hari saat mereka pergi ke kota Ame. Tempat para murid belajar ilmu sihir. Dan Leon berfikir ini saatnya untuk belajar membaca dan menulis.
"Aku pernah mendengar dari Elis, kalau Sang Dewi lah yang membangun Akademi itu, apa kau yang membangunya Rachel.?" Tanya Leon kepada Rachel.
"Yups itu benar. Saat setelah Aku, Aries, dan Kibo bertempur melawan Neswara dan Nine Core lainnya. Kami berpisah di 3 benua yang berbeda. Aku pergi ke benua Trolin, Aries pergi Ke benua Lories, dan Kibo pergi ke benua Wisdom. Aku memilih ke benua Trolin, karena aku ingin menyendiri, kamu ingat Leon, tempat tinggal kita waktu kecil, itu ada di benua Wisdom, dan Kerajaan yang kau bangun, ada di benua Lories. Jadi aku ingin menghindari tempat itu, dan mencoba untuk melupakanmu disini. Tapi itu pun tetap saja tidak berhasil. Justru aku masih berkeliaran di sana, mencari petunjuk tentangmu." Kata Rachel.
"Apa hubungannya dengan Akademi." Kata Leon.
"Mungkin kamu sekarang tidak bisa membaca Leon, tapi kamu bisa mendengar dan berbicara dengan bahasa yang kau mengerti, apa kau tidak merasa aneh.?" Tanya Rachel kepada Leon.
Leon pun mulai berfikir, kenapa ia bisa mengerti bahasa orang-orang pada jaman sekarang. Dan ia merasa bahwa ia tidak mengeluarkan ilmu sihir apapun untuk mempelajari bahasa-bahasa itu.
"Ini aneh, kenapa bisa, kenapa aku bisa mengerti.?". Kata Leon dalam hati sambil berfikir keras.
"Hahaha. Itu bukan aneh Leon, memang tulisan yang sekarang sudah berubah, tapi cara membacanya sebenarnya sama. Nanti aku akan mengajarimu." Kata Rachel dengan tersenyum.
Rachel pun melanjutkan ceritanya. "Saat aku sampai di benua Trolin, hanya ada beberapa Kerajaan yang berdiri, mungkin sekitar 3 kerajaan saja yang ada. Namun Banyak sekali desa-desa kecil seperti tempat tinggal kita dulu, yang tidak terikat hukum kerajaan. Salah satunya adalah Kerajaan Majaren yang kita tinggali saat ini." Kata Rachel bercerita.
"Hooo, lalu bagaimana dengan desa itu.?"Tanya Leon.
"Dulu aku pergi ke desa itu, yang sekarang menjadi ibu kota Majaren. Disana aku membaur dengan warga desa selama kurang lebih 5 tahun, sampai desa itu menjadi Kerajaan kecil. Aku sering membantu warga disana. Aku yang mengajari mereka cara berkebun dan berburu. Sampai mereka bisa dengan sendirinya, banyak sekali yang ramah kepadaku disana." Lanjut Rachel bercerita.
__ADS_1
"Namun, aku melihat banyak sekali anak-anak yang dibangkitkan disana, kekuatan sihir menyelimuti mereka, bahkan ada orang tua yang di bunuh anaknya sendiri tanpa disengaja." Kata Rachel dengan serius.
"Apa mereka tidak bisa mengendalikannya.?" Tanya Leon penasaran.
"Mereka masih awam dengan kekuatan baru itu Leon. Lalu, aku pun mendirikan gubuk kecil untuk mereka yang dibangkitkan, dan aku mengajari mereka cara mengunakannya. Tapi ada beberapa anak yang tiba-tiba sakit dan kejang-kejang karena sihir mereka sendiri. Dan aku melihat dari tubuh itu dengan mengunakan sihir, ada semacam bola cristal kecil di jantungnya, dan warnanya pun berbeda-beda. Aku pun baru menyadari itu." Cerita Rachel.
Leon yang ada disana sangat serius mendengarkan cerita Rachel. Sambil memegang dadanya sendiri. Ia teringat saat Ia menemukan pedang di atas bukit, ia merasakan detak jantungnya sangat berbeda dari sebelumnya.
"Lalu, pada malam hari, aku mencoba melihat jantungku sendiri dengan sihir. Ada bola cristal yang menyatu didalam jantung, bahkan bisa di katakan cristal itu adalah jantungku sendiri. Namun hanya sebagian tengahnya saja, bola itu bersinar dan bentuknya melingkar. Disitulah aku membuat buku dengan teori yang berbeda-beda, dan aku membagi sihir ini menjadi beberapa tingkatan, agar mereka bisa mengerti batasan sihir yang ada pada tubuh mereka." Cerita panjang Rachel.
"Hoo, jadi ternyata kau yang sudah membagi-bagi tingkatan sihir itu. Aku sendiri binggung saat aku di tanya oleh Elis, tingkatan sihir apa yang ada pada tubuhku." Kata Leon sambil melihat ke tubuhnya.
"Apa kamu bisa merasakan sihirku Rachel, seberapa kuat menurut teorimu itu.?". Kata Leon yang sangat penasaran.
"Aku membaginya menjadi 3 tingkat, Yaitu. [AJI], [GAIA], dan [GOD]. Setiap tingkatan itu ada pembagiannya lagi. Seperti AJI ada 7 bintang dan puncak kekuatanya AWAKENING. Dan GAIA ada 4 tingkatan dan puncak AWAKENINGNYA. Lalu saat aku bertarung dengan Neswara, aku merasakan kekuatan yang ada padanya, sudah melebihi dari tingkatan manamun. Itulah yang aku sebut dengan tingkatan GOD. Aku hanya bisa membaginya sampai 3 tingkatan, dan aku belum pernah bertarung dengan orang yang memiliki tingkatan lebih kuat dari itu. Kecuali kau Leon, saat aku menangkis seranganmu, aku merasakan kekuatanmu itu melebihi kekuatanku." Kata Rachel.
"Lalu apa tingkatanmu Rachel.?" Tanya Leon
"Lalu bagaimana dengan diriku Rachel.?" Tanya Leon dengan sangat penasaran.
"Aku tidak tau pasti kekuatanmu sampai ke tingkat berapa Leon, yang jelas, kekuatanmu itu melebihi kekuatan semua orang yang ada di dunia ini. Bahkan jauh melebihi kekuatanku yang sekarang." Kata Rachel.
"Tapi, aku masih ingat saat kita di desa dulu, saat kau mengajakku berburu, kau bilang padaku kalau kau itu kuat seperti Alden. Dan aku tidak tau siapa itu Alden.?". Kata Rachel
"Hahahaha, kau masih ingat sampai sejauh itu Rachel. Itu bukanlah siapa-siapa, aku hanya mengarang saja, Karena nama Alden menurutku sangat keren." Kata Leon yang bercanda.
"Alden. Aku juga tidak tau, siapa dia sebenarnya, saat aku memegang pedang itu, ada suara yang keras dan ia memanggilku Alden." Kata Leon dalam hati.
"Lalu, tempat gubuk yang aku gunakan untuk mengajari anak-anak itu, sekarang menjadi sebuah sekolah yang populer. Akademi Rousen." Kata Rachel
"Hoooo." Kata Leon sambil bertepuk tangan.
"Aku menulis buku tingkatan sihir ini, untuk anak-anak di desa waktu itu, entah kenapa teoriku ini di terima oleh semua orang di dunia, dan karyaku ini di pakai hingga saat ini. Namun, dibuku-buku itu tidak tertulis namaku, jadi semua orang tidak tau, siapa pembuat buku itu." Kata Rachel.
__ADS_1
"Apa kau menyesal Rachel, apa kau ingin jadi terkenal dengan pembuat buku.?" Tanya Leon kepada Rachel.
"Aku tidak tertarik sama sekali untuk menjadi terkenal. Dulu, yang aku inginkan di dunia ini hanya ada satu." Kata Rachel dengan senyum.
"Apa itu Rachel, apa kau ingin menjadi seorang Ratu, dan menguasai dunia seperti dulu.?" Tanya Leon penasaran.
"Tidak, aku juga tidak tertarik dengan itu. Yang aku inginkan hanyalah seseorang bernama ARJUN LEON kembali kedunia ini lagi". Kata Rachel tersenyum manis dengan melihat Leon.
"HAaah,". Kata Leon terkejut.
"Apa kau tidak tertarik denganku Leon.?" Kata Rachel yang sedang merayu dengan tubuhnya.
"Hmm, Rachel,, sudah aku katakan berkali-bekali, aku tidak tertarik padamu". Kata Leon bercanda.
"APAAAAA.!!!, Apa kau lebih tertarik dengan Putri Raja bernama Elisabeth itu.?" Teriak Rachel dengan sangat kesal.
"Hahaha. Kau di kenal oleh masyakat Majaren sebagai Wanita Tercantik di dunia Rachel, itu membuatku tertawa". Kata Leon yang sedang tertawa terbahak-bahak.
Tiba-tiba tangan Rachel memukul wajah Leon berkali-kali sampai Bengkak.
"Uuuh, aku minta maaf." Kata Leon dengan wajahnya yang Bengkak.
"Aku memang tidak tertarik padamu Rachel. Dari awal sejak aku menemukanmu, aku sama sekali tidak tertarik denganmu. Rasa ini berbeda Rachel, aku tidak bisa mengambarkannya. Aku sangat marah jika kamu dilukai oleh seseorang, dan aku sangat kesal jika kamu di ganggu. Huh, aku sendiri juga tidak tau." Kata Leon dengan serius.
Rachel pun tersenyum dengan berkaca-kaca sambil mendekati Leon. Dan ia pun memelukknya.
"Aaah mulai lagi." Kata Leon dengan kesal.
.
.
.
__ADS_1