Legenda Maharaja

Legenda Maharaja
Pertempuran Neverley (2).


__ADS_3

[Wilayah Utara Neverley]


Pertempuran antara pasukan Gionova dengan Louktus berlangsung dengan sangat hebat, pertempuran itu menimbulkan bencana alam disekitarnya.


"Getaran ini sangat kuat." Kata salah satu pasukan garis belakang Gionova yang merasakan gempa bumi di sana.


"Jangan berhenti menyerang, kita hancurkan gunung itu." Kata salah satu prajurit lainnya.


"Ah, baiklah." Saut prajurit itu.


Mereka semua pun menyerang pasukan Louktus dengan petir yang di kerahkan ke arah gunung. Bahkan sebagian gunung di sebalah kanan dan kiri sudah terbakar cukup hebat.


Di sisi lain. Tempat Dion yang bertarung dengan Jill. TRANG TRANG KLANG. SWOOSH. Suara pertarungan Dion.


"Kenapa dia sangat kuat sekali.?" Kata Jill dalam hati dengan terengah-engah sambil menahan serangan Dion.


"Apa kau masih kuat.? Aku masih bermain-main denganmu." Kata Dion.


"Haa.? Keparat kau." Saut Jill dengan kesal.


"Jika tadi kau berduel denganku, sudah jelas aku yang memenangkan pertarungan itu." Kata Dion.


"Huh, huh." Suara Jill yang terengah-engah sambil menahan serangan Dion.


"Tapi aku mau kalian semua mati. HAAA." Kata Dion sambil menyerang Jill dengan sangat kuat.


"Haa.?" Suara Jill yang terkejut. SRAAK. Suara tebasan pedang yang mengenai lengan Jill.


"Hehe, kalian tidak sebanding dengan kami, Louktus." Kata Dion sambil menyerang Jill dengan membabi-buta.


SRAK SRAK SLASH. Suara tebasan pedang yang mengenai tubub Jill. "Uuh. Aargh." Suara Jill yang kesakitan.


BUOKK. Suara tendangan kaki Dion yang mengenai perut Jill. "ARRRRGH." Suara Jill yang kesakitan, dan tubuhnya terpental dibawah tanah.


BREDOOM. Suara hantaman tubuh Jill ke tanah. "Huh, huh, dia sangat kuat sekali. Tidak kusangka mereka akan sekuat ini." Kata Jill yang sudah terkapar di tanah.


DEEP. Suara Dion yang tiba-tiba berada di depan Jill. "Apa kau sudah tidak bisa berdiri.?" Tanya Dion kepada Jill.


"Uhook. Huh, keparat kau." Saut Jill yang sudah sekarat.


"Oe. Ini adalah perang, tidak mungkin aku berbelas kasih padamu." Kata Dion sambil menekan jiwa Jill.


"AAAAAARRGH." Suara Jill yang kesakitan, bahkan tubuhnya hampir tidak bisa digerakkan.


"Hem. Aku bisa memenangkan pertempuran ini hanya beberapa menit saja, tapi sepertinya aku tidak terburu-buru." Kata Dion sambil memegangi leher Jill.


"Aargh, AAAA. Lepaskan. Aargh." Suara Jil yang meronta-ronta. Bahkan tubuhnya terangkat di tangan Dion.


"Lepaskan.? Aku akan melepaskanmu setelah aku membunuhmu." Kata Dion sambil meremas leher Jill dengan sangat kuat.


"AAAARRGH." Suara Jill yang kesakitan.


"Matilah." Kata Dion. JLEBB. Suara pedang yang di tusukkan ke perut Jill. "Uuuh." Suara Jill yang sudah sekarat. Lalu, dalam beberapa detik saja, tubuhnya berhenti meronta-ronta, dan ia pun tewas di tangan Dion.


"Hem, pemimpin mereka sudah tewas." Kata Dion sambil melemparkan tubuh Jill.


"Sepertinya aku harus membereskan sisanya." Kata Dion. Lalu, DEEP. Suara tubuh Dion yang tiba-tiba menghilang dan tiba-tiba berada di garis belakang pasukan Louktus.


"Haa.? Siapa itu.?" Kata prajurit Louktus yang terkejut melihat kedatangan Dion.

__ADS_1


"Hallo, aku akan mengirimkan kalian kealam sana bersama pemimpin kalian." Kata Dion sambil mengarahkan pedangnya kedepan.


"Ha.? SERAAANG." Teriak prajurit disana.


"Hem, ini yang aku inginkan. Datanglah kemari." Kata Dion dengan tersenyum licik.


Lalu. STAK SRAK SLASH. SWOSSH. TRANG SRAK. Suara pedang Dion yang membantai puluhan ribu prajurit di garis belakang dengan sangat cepat.


...


Disisi lain, tempat Ares bertarung dengan Raizo. Mereka bertarung dengan sangat hebat di atas udara.


TRANG TRANG KLANG. Suara benturan pedang dari mereka berdua.


"Hehe, ini sangat menyenangkan." Kata Ares dengan tersenyum.


"Huh, huh, tidak kusangkan, dia sangat kuat." Kata Raizo dalam hati sambil menahan serangan Ares.


"Apa kau masih kuat Tuan.?" Tanya Ares sambil menyerang Raizo dengan bertubi-tubi.


"Huh, Diam kau bajingan." Saut Raizo.


"Hee.? Kau bahkan sudah sekarat, tapi masih bisa berbicara seperti itu. Rasakan ini." Kata Ares sambil menyerang Raizo dengan sekuat tenaga.


"Haa.?" Suara Raizo yang terkejut. SRAK SRAK. Suara tebasan pedang yang mengenai tubuh Raizo.


"Aargh." Suara Raizo yang kesakitan, lalu ia mundur dan menjauh dari Ares.


"Hee.? Apa kau mau menghindar.?" Tanya Ares sambil bersiap-siap bergerak ke arah Raizo.


Lalu. SRAK. Suara tebasan pedang yang memenggal kepala Raizo.


"Ini yang keempat dari para pemimpin Louktus disini. Apa sudah semuanya." Kata Dion yang tiba-tiba berada di depan Ares.


"Eeeh.? Panglima, dia adalah mangsaku." Kata Ares dengan kesal.


"Hee.? Benarkah.? Ah, maafkan aku Ares, aku tidak tau dia sedang bertarung denganmu. Hahaha." Kata Dion dengan tertawa.


"Aa, aaaah. Sudahlah." Kata Ares dengan terkejut.


Lalu. BREDOOM. DROMRRR. Suara ledakan yang berada di sisi kanan dan kiri gunung.


"Hem, sepertinya mereka sudah menghancurkan gunung itu." Kata Dion sambil melihat kearah gunung.


"Panglima, apa kita harus menghabisi mereka semua.?" Tanya Ares.


"Ah, habisi mereka semua." Jawab Dion.


"Baik Panglima. Sebaiknya anda beristirahat saja, aku akan membereskan mereka semua." Kata Ares dengan serius.


"Em. Baiklah. Selesaikan dengan cepat." Kata Dion.


"Ha, laksanakan." Kata Dion, lalu DEEP. Suara Ares yang tiba-tiba menghilang dan tiba-tiba berada di kerumunan pasukan Louktus.


SRAK SRAK SRAK. SLAASH. Suara pedang Ares yang membantai pasukan Louktus.


"Hem, sepertinya kami akan selesai. Apa pimpinan sudah sampai di wilayah timur Neverley ?" Kata Dion sambil melihat Ares membantai pasukan Louktus.


...

__ADS_1


[Di perjalanan menuju benteng barat Neverley].


Beberapa jam berlalu setelah Dion dan pasukannya memulai pertempuran. Pada malam hari, terlihat Leon dan pasukannya bergerak dengan cepat menuju wilayah Timur Neverley.


"Apa masih jauh Kibo.?" Tanya Leon sambil menungangi kuda.


"Ah, mungkin besok kita akan sampai di lembah gunung bagian Timur Neverley." Jawab Kibo.


"Hem, baiklah. Kita bangun camp saja disini. Besok pagi kita lanjutkan perjalanannya." Kata Leon.


"Apa kau yakin Leon.? Jika kita hanya beristirahat sebentar, mungkin besok pagi kita sudah sampai di lembah gunung sana." Kata Kibo.


"Hoo, baiklah kalau begitu, kita beristirahat sebentar saja disini." Kata Leon sambil memperpelan laju kudanya.


"BERHENTIII." Teriak Kibo kepada pasukannya.


Semua prajurit Gionova pun berhenti disana. Dan Xerone menghampiri Leon yang masih berada di atas kuda.


"Pimpinan, apa kita akan membangun camp disini.?" Tanya Xerone sambil berlutut.


"Kita hanya beristirahat beberapa menit saja, setelah itu kita akan berangkat lagi." Jawab Leon.


"Ha. Laksanakan perintah." Kata Xerone sambil menjauh dari sana.


Tiba-tiba sebuah surat muncul didepan Leon.


"Ah, ini dari Dion." Kata Leon sambil mengambil surat itu.


"Apa isinya Leon.?" Tanya Kibo yang penasaran.


"Em, mereka semua sudah menguasai benteng utara Neverley. Dan tidak ada panglima Louktus disana, mungkin kabar dari prajurit Cimoren kemarin benar Kibo. Nine Core ada di lembah timur Neverley." Kata Leon.


"Itu kabar yang bagus Leon. Aku sudah tidak sabar ingin menghabisi mereka." Kata Kibo.


"Ah, sebaiknya kita beristirahat disini sebentar, lalu kita lanjutkan perjalanan kita." Kata Leon sambil turun dari kudanya.


"Em baiklah." Kata Kibo.


...


[Di lembah timur Neverley]


Terlihat jutaan prajurit gabungan dari beberapa kerajaan dan Louktus. Mereka semua sudah bersiap-siap untuk berperang melawan pasukan Gionova.


"Apa semua sudah siap.?" Tanya Dona kepada Winsol.


"Semua sudah siap, sepertinya kita akan berhadapan dengan Paradicone setelah ini." Jawab Winsol.


"Ah, bahkan pasukan kita di wilayah utara sudah di habisi oleh pasukannya." Kata Dona.


"Mereka bahkan tau keberadaan kita disini. Ini akan menjadi pertempuran yang hebat." Kata Winsol.


"Sebaiknya kau tidak menyia-nyiakan Cristal yang sudah di berikan oleh pimpinan." Kata Dona.


"Aku sangat terkejut kau membawa 5 Cristal sekaligus untukku. Hahaha." Kata Winsol dengan tertawa.


"Gunakan itu untuk membunuh Paradicone. Jika kabar yang kita terima adalah benar, kita akan menghadapi sang maharaja disini. Kau harus mengunakan itu untuk menghadapinya." Kata Dona.


"Hehe, dia pasti akan mati disini Dona." Kata Winsol sambil tersenyim licik.

__ADS_1


.


__ADS_2