Legenda Maharaja

Legenda Maharaja
Perang (3) Semangat Prajurit


__ADS_3

[Benteng Selatan Forlsa]


Terlihat ratusan ribu pasukan utama Louktus berbaris dengan rapi. Mereka sedang menunggu perintah dari Nine Core.


Lalu, di pihak Xerone. Tidak ada prajurit satu pun yang berani keluar benteng. Mereka hanya tercengang melihat dua Nine Core sekaligus.


"Aa, Apa kita bisa menahan mereka.?" Kata Xerone dengan raut wajah ketakutan.


"Glegg, aku sendiri tidak bisa bergerak." Kata Dion dengan tercengang.


"Tapi kita di perintahkan untuk menjaga benteng ini. Apapun yang terjadi, aku akan melawan mereka." Kata Xerone.


"Ah, aku ikut membantumu Xerone." Kata Dion.


"SEMUA. BERSIAPLAH KE POSISI TEMPUR." Teriak Xerone kepada semua prajuritnya.


Semua pasukan Gionova yang ada disana, hanya tercengang tidak bisa bergerak. Namun, karena sumpah prajurit. Mereka berusaha bergerak secara perlahan.


"Mereka semua ketakutan Dion." Kata Xerone.


"Aku sendiri sudah takut dari tadi Xerone." Kata Dion.


Lalu, Varel dan Nicol melihat ke atas benteng, dan melihat sekeliling benteng.


"Mereka semua sudah bergerak." Kata Nicol.


"BERSIAP KEPOSISI TEMPUR." Teriak Varel kepada prajuritnya


....


"Haa." Suara terkejut Xerone, lalu ia menelan ludah.


"Kita harus mempertahankan benteng ini dengan nyawa kita." Kata Xerone.


"Aku tidak bisa diam disini terus. Aku memang sangat ketakutan. Tapi, aku harus bertarung disini. Haah, haah, kuatkan jiwamu Xerone. Kuat kan jiwamu. Kumpulkan keberanianmu." Kata Xerone dalam hati.


Prok prok prok. Suara Xerone yang memukul dadanya dengan gemetar.


"hidup. Hidup Gionova. Hidup GIONOVA. HIDUP GIONOVA." Teriak Xerone penuh semangat. Namun ia sebenarnya ketakutan.


Semua prajurit yang mendengarnya merinding. Hingga akhirnya, semangat juang tumbuh di dalam hati semua orang.


"HAAAAAAAA." Teriakan Dion penuh semangat.


"Glegg, ituu. Haaah. Kita harus bertarung. haaaAAAAAAA." Teriak salah satu prajurit yang mendengar teriakan Xerone.


Lalu. "HOOOOOAA. HIDUP GIONOVA." Teriakan semua prajurit penuh semangat. Lalu, mereka semua berlari ke posisinya masing-masing penuh dengan semangat.


....


"Hahaha. Mereka bersemangat sekali." Kata Varel.


"Hem. Suara teriakan kematian." Kata Nicol.


Lalu, tiba-tiba portal teleportasi muncul di depan Xerone dan Dion.


"Ah. Sepertinya sedikit sulit menghancurkan benteng itu." Kata Varel yang melihat portal.


....


"Ii, ii, iituu. Paradicone kah.?" Kata Xerone dengan tercengang.


Semua orang langsung berlutut di depan portal itu. Lalu, Leon keluar dari sana sendirian. Dan ia melihat semua prajuritnya belutut padanya.


"Xerone, apa kau sudah gila. Kita dalam posisi perang sekarang, kenapa kau berlutut." Kata Leon sambil melirik ke arah Xerone.


"Ha. Laksanakan Perintah." Kata Xerone sambil berdiri tegak, dan diikuti semua prajuritnya.


....


"Tuan Leon. Kenapa hanya sendirian. Kemana para pemimpin Gionova.?" Kata Xerone dalam hati.


"Glegg. Apa kita bisa menang Xerone.?" Kata Dion berbisik dengan tercengang. Lalu Xerone hanya menelan ludah.


.....


"Herrr. Dia, dia datang sendirian kesini. Apa dia merehkan kita.?" Kata Varel dengan marah.

__ADS_1


"Kau harus hati-hati dengannya Varel. Tidak kusangka, dia turun sendiri kesini. Sang Maharaja." Kata Nicol.


"Chiikh. Aku akan membunuhnya disini." Kata Varel dengan marah.


....


Namun, Leon masih terdiam di udara, sambil melihat area pertempuran. Ia melihat sekitar 600rb prajurit, yang di bagi menjadi 4 barisan.


"Hem. Orang-orang ini lagi. Apa dia yang bernama Abraham.?" Kata Leon dalam hati.


"Semoga dia bernama Abraham. Aku akan menghabisinya disini, dan menyusul Rachel kesana." Kata Leon dalam hati.


.....


"Xerone, Keluarlah benteng sekarang bersama prajuritmu. Aku pastikan mereka berdua tidak akan menyentuh kalian. Kalahkan semua prajurit yang ada di belakangnya. Lakukan sekarang." Kata Leon dengan tatapan tajam.


"Ha. Laksanakan Peintah." Kata Xerone. Ia pun langsung bergerak keluar benteng dengan jumlah pasukan 250rb prajurit garis depan dengan cepat.


"Lalu, Dion. Bantulah Xerone disana. Serang mereka dengan cepat." Kata Leon.


"Ha. Laksanakan Perintah." Kata Dion. Dan ia langsung menghilang dan muncul di samping Xerone.


"Kita Lakukan bersama Xerone." Kata Dion.


"Ah, kita kalahkan mereka." Kata Xerone.


....


"Mereka tidak main-main Nicol. Kita kerahkan semua pasukan disini." Kata Varel dengan kesal.


"Kita tidak bisa hanya menunggu mereka berbaris disana. Kita serang sekarang juga." Kata Nicol sambil mengepalkan tangannya.


.....


"SERAAAAAAANG." Teriak Varel.


"HOOOOO." Semua prajuritnya pun berlari menyerang pasukan Gionova. Di susul dengan ratusan ribu panah api dan bola api.


.....


"Glegg. Apa kita hanya diam disini.?" Kata Dion yang mulai gemetar melihat prajurit Louktus berlari kearahnya.


Leon hanya terdiam dengan memejamkan mata. Lalu, pedangnya keluar dari udara.


"Hem, perasaan ini. Aku harus menahanya. Ini demi Rachel. Lakukan Leon, lakukan. Kalahkan mereka." Kata Leon dalam hati sambil memejamkan mata.


Lalu, Leon pun memegang pedangnya dan menarik pedangnya itu dari sarungnya.


"SERAAAAAANG." Teriak Leon kepada pasukannya dengan mengarahkan pedangnya kedepan.


"HOOOOOOAAAA." Teriakan semangat pasukan Gionova sambil berlari menghadapi prajurit Louktus didepannya.


"HAAAAAAA." Teriakan Dion penuh semangat dan ia mengeluarkan auranya. Lalu menghilang.


"HOOOAAAAAA." Teriakan Xerone. Dan ia langsung menghilang.


Kedua panglima itu menerobos pasukan Louktus dan menyerang dengan ganas. Ratusan ribu panah api dan bola api di halau dengan serangan petir dari atas benteng oleh pasukan Gionova.


"Kita harus bergabung dengan mereka Nicol. Aku sudah tidak tahan." Kata Varel yang berdiri di tengah-tengah pertempuran bersama Nicol.


"Jangan terburu-buru Varel. Dia masih terdiam disana melihat kita." Kata Nicol.


"Aku sudah tidak tahan, aku ingin menyerangnya sekarang. Bantulah aku Nicol." Kata Varel.


"Haah. Baiklah, kita selesaikan dengan cepat." Kata Nicol.


Aura mereka berdua keluar dengan dasyat. Dan menekan jiwa Leon seorang. Lalu mereka melayang dan ikuti senjata suci keluar dari udara.


"Mereka menekanku. Apa ini yang mereka maksud dengan tekanan.?" Kata Leon dengan tatajam tajam. Dan ia pun mengeluarkan aura kegelapan dengan menekan jiwa Varel dan Nicol.


"Uhoouk." Arrrgh." Suara Varel dan Nicol kesatikan.


"Tidak mungkin, tidak mungkin. HAAAAAA." Teriak Varel yang marah. Lalu, ia menghilang dan tiba-tiba berada di depan Leon.


"HAAAA." Suara Varel menyerang Leon.


"Klang." Suara benturan pedang Leon. "Hem. Kau bersemangat sekali." Kata Leon kepada Varel dengan tersenyum.

__ADS_1


Lalu, mereka berdua pun bertarung dengan sengit. Di atas udara. Tidak berlangsung lama, Nicol juga ikut menyerang Leon.


"HAAAA." Suara Nicol dan Varel yang menyerang Leon bersamaan.


Namun, Leon hanya tersenyum dengan serangan mereka berdua.


"Sepertinya aku ingin bermain-main dulu. Sampai aku tau, apakah mereka benar-benar mengerti cara kerja kekuatan ini." Kata Leon dalam hati.


Pertarungan mereka sangat epik dan sangat cepat di atas udara. Membuat semua prajurit gagal fokus melihat pertarungan Leon bersama Nine Core diatas udara.


Namun, Xerone dan Dion, tidak perduli dengan itu, mereka berdua terus menyerang pasukan Louktus dengan ganas dan tanpa ampun.


....


Dia atas udara.


"HAAA." Teriakan Varel. Ia menyerang dengan bertubi-tubi kepada Leon mengunakan tombaknya bersama Nicol dengan palunya.


"Mereka masih belum mengunakan energinya. Hanya tekanan aura yang mereka keluarkan." Kata Leon dalam hati yang bertarung sambil menganalisa.


Lalu, Kepala Varel terkena pukulan Leon dengan bertubi-tubi. "Arrgh, Aah. Orrrgk." Suara Varel terkena pukulan Leon sampai ia terpental kebelakang.


Dan Nicol terkena pukulan di perutnya dengan sangat keras. "Urrggh." Suara Nicol, sampai ia mengeluarkan darah dari mulutnya. Dan terpental kebelakang.


"Huh, huh, Kita harus mengunakannya Varel. Jika seperti ini terus, kita akan kalah disini." Kata Nicol dengan terengah-engah.


"Ah, aku tau itu." Kata Varel.


Leon pun mengeluarkan aura putih dari tubuhnya. Dan menghilang di tempat. Lalu tiba-tiba ada di depan Varel dan Nikol.


"Haa." Suara Varel terkejut.


Leon pun mengerahkan pedangnya kepada mereka berdua. Lalu, Varel dan Nikol mengangkisnya.


"EERRHHAAAA." Suara Varel yang menahan sekuat tenaga.


Hanya beberapa detik saja. Mereka berdua terpental jatuh ke tanah dengan sangat cepat. Dan menghamtam area peperangan.


Suara terjatuhnya mereka berdua sangat keras, seperti bom yang di jatuhkan. Sampai tanah itu membentuk lubang besar.


"Uhoouk." Arrgh." Suara Varel dan Nicol dengan darah yang keluar dari mulutnya.


Semua orang yang ada di sekitar area itu, langsung mati seketika. Sampai membuat semua orang-orang berhenti bertarung. Dan melihat lubang besar itu.


"Huh, Arrgh. Huh. Aku akan mengunakannya sekarang." Kata Varel. Ia pun melayang dan mengeluarkan Awakeningnya.


Keluar sayap malaikat yang besar dari punggung Varel berwarna merah kehitaman. Dan tombak besar berjumlah 12 yang membentuk sayap di belakang sayap malaikatnya.


Lalu, Keluar ribuan tombak merah dari atas Varel. Di susul dengan Nicol, sayap malaikat berwarna merah kehitaman keluar dari pungungnya, di ikuti sarung tangan besi berwarna merah yang menyelimuti kedua tanganya.


Lalu, Keluar cahaya merah dari senjata suci milik Nicol yang membentuk banteng bercula 2 yang sangat besar berjumlah 8 ekor.


Semua orang yang ada diarea pertempuran itu, seketika berhenti. Bahkan Xerone dan Dion tercengenag melihat ke atas.


"Glegg. Apa itu.?" Kata Xerone tercengang.


"Kita akan mati disini.?" Kata Dion yang mematung.


....


Leon hanya terdiam melihat Awakeningnya Varel dan Nicol. "Apa mereka sudah tau cara melepas energi terpusatnya. Mereka mengunakan 60% energinya." Kata Leon dalam hati.


"Huh, huh. Kau akan mati disini." Kata Varel kepada Leon.


"HEEAAAAA." Suara Varel yang mengerahkan ribuan tombak merah pada Leon


"HAAAAA." Suara Nicol yang mengerahkan 8 ekor badak bercula dua pada Leon.


Mereka berdua pun mengerahkan seranganya kepada Leon seorang diri. Delapan ekor badak, dan ribuan tombak merah di arahkan semuanya kepada Leon.


"Apa ini yang dibilang Aries mereka semakin kuat.? mereka hanya membuka energi terpusat saja." Kata Leon dalam hati sambil melihat serangan gabungan dari Varel dan Nicol.


Serangan itu mengenai Leon terus menerus. Bahkan tombak merah bergerak sangat cepat ke arah Leon. Namun Leon hanya diam saja.


Lalu, pipi kiri Leon tergores oleh tombak merah milik Varel. Dan ia pun hanya mengeluarkan aura mamatikan untuk menangis serangan mereka.


Semua orang yang melihatnya hanya terdiam tercengang sambil menelan ludah. Bahkan Xerone dan Dion terlihat mulai putus asa.

__ADS_1


.


.


__ADS_2