Legenda Maharaja

Legenda Maharaja
10 Cristal Merah


__ADS_3

[Pulau mengapung Louktus Prem]


Pulau mengapung yang ada diatas benua Ferland adalah tempat tinggal para pemimpin Louktus Prem. Pulau itu di bangun dengan sangat megah dan sangat besar.


Salah satunya adalah Castle Canavero, tempat tinggal para penguasa dunia yang dipimpin oleh Bram Neswara bersama dengan 5 panglimanya. Pulau mengapung itu juga di tinggali oleh para Raja dari 29 Kerajaan terkuat didunia.


Pulau itu dikenal dengan tempat tinggal para Dewa. Selain para Nine Core yang berumur panjang, 29 Raja terkuat diseluruh dunia juga memiliki umur ribuan tahun.


Seluruh orang di benua Ferland mengangap pemimpin Louktus sebagai King Of God. Semua orang menyembahnya di sebuah kuil yang megah dan besar. Bahkan semua orang menganut ajaran agama Algoria, yang menyembah King Of God dan berdoa kepadanya. Meskipun mereka tidak pernah bertemu dengan Neswara, namun mereka taat beribadah padanya.


.....


[Castle Canavero]


Terlihat, Neswara sedang duduk diruanganya yang berada diatas Castle tertinggi. Dia sedang memandang keluar jendela kaca yang super besar.


"Nasion, Singgahsana itu masih sangat mengangguku. Bahkan sisa-sisa panglimanya masih berjuang sampai saat ini." Kata Neswara dengan merenung.


"Hem. Maharaja, gelar itu sangat diinginkan semua orang, meskipun aku bisa duduk di Singgahsana itu, tapi aku masih belum bisa menguasai dunia." Kata Neswara.


Lalu, tiba-tiba ada seseorang yang masuk kedalam ruangan itu.


"Ha. Saya menghadap kepada pemimpin Louktus Prem." Kata Dona sambil berlutut.


"Ah, Dona. Apa kau sudah baikan sekarang.?" Tanya Neswara dengan membelakangi Dona.


"Ha. Saya sudah sembuh total berkat Anda." Jawab Dona sopan.


"Hem. Apa menurutmu dia benar-benar seorang Maharaja.?" Tanya Neswara.


"Pemimpin. Jika dilihat dari kekuatannya, dia benar-benar sangat kuat. Orang itu berjuang bersama Paradicone, sudah pasti dia adalah Sang Maharaja." Jawa Dona.


"Laporanmu seperti Varel, semua orang menganggap orang itu Maharaja. Kau tau Dona, Maharaja sudah lenyap didunia ini, meskipun orangnya sama, tapi dia bukan Maharaja." Kata Neswara.


"Aa, Apa maksud Anda.?" Tanya Dona.


"Maharaja adalah seseorang yang menguasai seluruh dunia, seseorang yang memiliki pengaruh besar. Tidak penting dengan kursi Singgahsana yang dia tinggalkan, yang terpenting adalah pengaruhnya bagi semua manusia yang hidup. Bahkan gelar Maharaja masih sangat jauh pengaruhnya dengan gelar King Of God." Kata Neswara.


"Aa, aaa." Suara Dona tercengang.


"Bahkan mungkin dia tidak bisa merasakan energi sihir didunia ini. Ini benar-benar sangat menyakitkan Dona." Kata Neswara sambil berdiri dan menghampiri Dona.


"Kau sudah gagal dalam misi itu. Paradicone sekarang sangat lemah dimata kita, dan kau tidak mampu membunuh Rachel." Kata Neswara dengan tatapan tajam sambil berdiri di depan Dona.


"Ma, maafkan kami pemimpin. Kami sudah hampir membunuhnya, tapi Maharaja itu datang dan menghajar kami semua." Kata Dona ketakutan.


"Itu hanya alasanmu." Kata Neswara sambil mengeluarkan aura putih dari tubuhnya yang menekan Jiwa Dona.


"Arrgh." Suara Dona kesakitan.


"Aku akan memberikanmu 10 Cristal merah padamu, gunakan Cristal ini untuk membunuhnya. Aku tidak ingin Paradicone mengambil wilayah Louktus yang sudah kita ambil dengan susah payah selama ribuan tahun ini." Kata Neswara sambil mengeluarkan 10 Cristal merah dari udara.


.....


"Cristal ini jauh lebih besar, dan jumlahnya ada 10.?" Kata Dona dalam hati dengan tercengang melihat 10 Cristal merah didepannya.


"Ini saatnya kita berperang dengan serius, aku tidak akan membiarkannya begitu saja." Kata Neswara dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Ha. Laksanakan perintah." Kata Dona.


.....


[Istana Kerajaan Cimoren]


Terlihat semua Jendral dan Rajanya bernama Philip sedang melakukan rapat besar-besaran disebuah ruangan yang sangat luas.


"Bagaimana ini Yang Mulia.?" Tanya salah satu Jendral disana.


"Sepertinya kita tidak bisa menarik prajurit dari Neverley. Dan semua pasukan utama Louktus sedang ada disana." Kata Philip sambil berfikir keras.


"Yang Mulia, semua pasukan utama Kerjaan hanya tersisa sedikit disini. Apa kita bisa mempertahankan kerajaan ini.?" Tanya salah satu Jendral.


"Hem. Bagaimana menurutmu Jendral Ernes.?" Tanya Raja Philip kepada Jendral terkuat di kerajaan Cimoren. Ia adalah seorang Wanita yang tangguh dan kuat.


"Yang Mulia, pasukan Paradicone saat ini sangat kuat sekali, bahkan mungkin mereka bisa menghancurkan sebuah kerajaan dalam waktu semalam saja." Jawab Ernes.


"Bahkan kau sendiri sampai berfikir seperti itu." Kata Raja Philip.


BREDOOMM. Tiba-tiba terdengar suara hantaman dari luar istana.


"Haa, apa yang terjadi.?" Kata Raja Philip.


"Aku akan memeriksanya Yang Mulia." Kata Ernes. Ia pun langsung keluar dari ruangan itu dan berjalan ke luar balkon.


.....


"Heem, kita mendarat dengan sangat keras disini." Kata Kibo.


"Lalu, apa kita langsung masuk kedalam istana.?" Tanya Leon.


.....


"Siapa mereka.? Mereka menerobos masuk kedalam sini." Kata Ernes yang melihatnya Leon dan Kibo berdiri di tengah alun-alun depan istana.


.....


"Berhenti disana, jangan bergerak." Kata salah satu prajurit disana.


"Kami dari tadi hanya diam disini Tuan." Kata Leon sambil mengangkat kedua tangannya.


"Siapa kalian.? Darimana kalian berasal.? Dan apa tujuan kalian datang kesini.?" Tanya prajurit itu.


"Pertanyaanmu terlalu banyak Tuan. Bisakah kami bertemu dengan Raja Cimoren.?" Tanya Leon.


"Apaa. Siapa kalian.? tidak sembarang orang yang bisa bertemu dengan sang Raja." Jawab prajurit itu.


"Hem. Sebaiknya kalian tidak tau identitas kami, itu demi kebaikan kita bersama." Kata Leon.


"Apaaa.? Beraninya kau bilang begitu." Kata prajurit itu sambil mengarahkan tombak ke tubuh Leon.


"BERHENTIIII." Kata Ernes yang tiba-tiba datang.


"Jendral.?" Kata prajurit itu sambil menarik tombaknya lagi.


"Berhenti disana, aku akan berbicara dengannya." Kata Ernes kepada prajurit itu sambil berjalan menghampiri Leon.

__ADS_1


"Emm.?" Suara Leon penasaran.


"Kalian berdua. Tunjukan identitas kalian." Kata Ernes kepada Leon dengan tatapam tajam.


"Aku sudah bilang kepada prajurit itu, sebaiknya kalian tidak tau identitas kami, itu demi kebaikan kita bersama Nona." Kata Leon.


"Jangan bercanda kepadaku. Berani sekali kau." Kata Ernes.


.....


"Orang itu pasti mati disini." Kata Prajurit disana dalam hati.


"Berani sekali mereka datang kesini tanpa ijin masuk." Kata prajurit lainnya dalam hati.


"Nona. Kami datang kesini untuk menemui Raja Cimoren, ada sesuatu yang ingin kami bicarakan. Bisakah kau mengijinkan kami masuk.?" Tanya Leon.


"Tanpa identitas kalian dianggap penyusup. Sudah pasti kalian akan mati disini, atau kalian di penjara seumur hidup." Jawab Ernes dengan tatapan tajam.


"Aku tidak memaksa anda Nona. Memang kami datang tidak punya ijin, tapi aku tidak mau ada pertumpahan darah disini." Kata Leon.


"Kau sudah mengakuinya, itu berarti kalian adalah penyusup." Kata Erner sambil mengeluarkan pedangnya.


Semua prajurit disana, langsung menodongkan pedang dan tombak kepada Leon dan Kibo.


"Apa tidak bisa dibicarakan secara baik-baik Nona.?" Tanya Leon.


"Sudah jelas kalian adalah penyusup. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi." Jawab Ernes sambil mengeluarkan aura kuning dari tubuhnya dan menekan jiwa Leon.


"Aku peringatkan sekali lagi Nona. Aku datang kesini secara baik-baik, tidak perlu ada pertumpahan darah disini." Kata Leon dengan santai.


.....


Didalam hati Ernes, dia sangat terkejut. "Tidak mungkin, aku sudah menekan orang ini dengan kekuatan penuhku. Siapa sebenarnya orang ini.?" Kata Ernes dalam hati.


Didalam istana kerajaa.


Raja Philip bersama bersama Jendral yang lain, masih membahas masalah militer di kerajaannya. Tiba-tiba, ada sebuah kertas laporan keluar dari udara didepan salah satu Jendral.


"Ah. Laporan dari komandan benteng." Kata Jendral itu sambil mengambil kertas itu.


Lalu. " APAAAAAA." Teriak Jendral itu dengan terkejut.


"Yang Mulia." Kata Jendral itu sambil memberikan laporan kepada Raja.


"Haa." Suara Raja Philip terkejut. "Ini gawat, pasukan Gionova sudah mengambil alih benteng dalam sekejap saja." Kata Raja Philip dengan sangat terkejut.


"Yang Mulia, mereka hanya ada dua orang yang menyerang benteng. Ini tidak masuk akal." Kata Jendral itu sambil tercengang.


"Ini gawat Jendral." Kata Raja Philip sambil berlari keluar balkon. Lalu, ia melihat dua orang sedang dikepung oleh puluhan prajurit kerajaan bersama Ernes.


"Haaa." Suara terkejut Raja Philip, bahkan ia sampai terkena serangan jantung dan terjatuh ke lantai.


"Yang Mulia, Yang Mulia." Kata Jendral disana sambil membantu Raja berdiri.


"Jendral, mereka berdua sudah ada disini." Kata Raja Philip sambil menunjuk ke arah alun-alun didepan istana.


"Haa, apaaa. Kita semua akan mati disini." Kata Jendral itu dengan sangat ketakutan sambil melihat kearah Leon.

__ADS_1


.


.


__ADS_2