Legenda Maharaja

Legenda Maharaja
Benteng Barat (1)


__ADS_3

[Benteng Perbatasan Barat Majaren]


Pasukan Xerone yang datang ke benteng barat berjumlah sekitar 20rb orang. Mereka berusaha membaur dengan prajurit Pantiko.


Ini pertama kalinya dalam ratusan tahun, pasukan dari kedua Kerajaan besar bertemu dalam misi yang sama. Lalu, Xerone dan Vera sedang berhadapan di tenda komando.


Mereka duduk saling berhadapan, sudah hampir 10 menit tanpa berbicara. Namun, Xerone mencoba berbicara terlebih dahulu.


"Aah, Jendral. Bagaimana kondisi disini.? Saya melihat tidak ada mayat yang tergeletak. Bahkan di luar benteng." Tanya Xerone dengan basa-basi.


"Ituu, sebenarnya. Saat kami datang kesini, Kaisar Naga sudah berada disini. Kaisar sudah membereskan semua musuh seorang diri. Aku dan pasukanku hanya di perintahkan untuk membersihkan mayat-mayat itu tanpa jejak." Kata Vera dengan serius. tapi sebenarnya ia gugup.


"Apaa.? Jadi Kaisar Naga datang sendiri kesini.? Ini seperti yang di lakukan di benteng selatan Jendral." Kata Xerone yang mulai serius.


"Haa, apa yang sudah terjadi disana Jendral.?" Kata Vera dengan terkejut.


"Aah, ituu. Sebaiknya aku tidak bercerita. Tapi kau sudah membukanya. Bisakah kita mengakrabkan diri dulu. Sebaiknya kau panggil saja namamu Xerone." Kata Xerone dengan gugup.


"Aa, aapa tidak apa-apa.?" Kata Vera yang terkejut.


"Tentu saja." Kata Xerone dengan tersenyum.


"Ekmm, baiklah Xerone. Kau juga panggil namaku Vera." Kata Vera dengan tersenyum senang.


"Oo, Aah. Baiklah Vera. Kita lanjutkan pembicaraan kita, aku sebenarnya sedikit gugup berbicara dengan Putri Naga." Kata Xerone yang sudah tertarik dengan Vera.


"Aa, aa, aaah." Suara Vera yang terkejut dengan wajahnya yang memerah.


"Aku akan sedikit serius. Saat aku ada di benteng selatan, aku dan pasukanku sedang berperang melawan 200rb prajurit. Dari 100rb prajurit itu adalah pasukan Blitz Thunder yang di pimpin langsung oleh Erwin. dan sisa pasukannya, menyerang ke benteng ini." Kata Xerone dengan serius.


"Haaa. Apa kau memenangkan perang itu.? Ini sangat mengejutkanku. Bahkan Erwin sendiri yang turun tangan." Kata Vera yang terkejut sambil berfikir.


"Aku hampir mati bertarung dengannya. Tapi di saat-saat terakhir. Dewi Kematian datang menolong kami. Dewi membrantas semua pasukan disana dalam 1 menit saja. Semua prajurit itu mati mengenaskan, bahkan Erwin sendiri tewas hanya beberapa detik saja. Itu membuatku sangat ketakutan." Kata Xerone dengan serius sambil berfikir.


"Aa, aa, itu, Itu membuatku sangat terkejut Xerone. 200rb prajurit hanya di bantai dalam 1 menit." Kata Vera dengan sangat terkejut, bahkan kakinya mulai gemetar.


"Ah, kita sendiri sudah tau, kekuatan dari Paradicone. Itu benar-benar sangat menakutkan." Kata Xerone dengan ketakutan sambil tangannya mengepal.


"Em, Kekuatan mereka memang sangat dasyat Xerone. Apa kau tau, siapa pemimpin Paradicone.?" Tanya Vera kepada Xerone.


"Ini yang membuatku berfikir keras Vera. Sangat aneh jika Paradicone turun tangan langsung. Apa pemimpin Paradicone mengetahui bencana ini dari awal.?" Kata Xerone sambil berfikir keras.


"Ah, aku juga berfikir sama denganmu. Ini sangat aneh. Dalam sejarah, ini pertama kalinya mereka bergerak bersama. Aku sempat mencari tau, pemimpin Paradicone adalah Sang Dewi Perang. Ia di kenal dengan wanita tercantik di dunia." Kata Vera dengan serius.


Xerone hanya terdiam mendengarkan itu. Bahkan ia menelan ludah karena terkejut.


"Mungkin kita akan berjuang keras setelah ini. Dewi Perang pasti sedang merencanakan sesuatu." Lanjut Vera berbicara dengan serius.


"Kau banyak mengetahui tentang ini Vera. Aku sangat terkejut." Kata Xerone dengan tersenyum.

__ADS_1


"Aa, aapa yang kau bilang, kau membuatku gugup." Kata Vera yang tersipu malu.


"Lalu, apa kau juga di perintahkan untuk membersihkan mayat-mayat itu Xerone.?" Tanya Vera dengan serius.


"Ah, itu benar. Ini yang membuatku merasa aneh. Mereka turun tangan dengan membunuh semua musuh, lalu kita di perintahkan membereskan mayat-mayat itu. Seperti mereka sedang menyembunyikannya dari seseorang." Kata Xerone sambil berfikir.


"Jika dipikir-pikir, tidak mungkin mereka menyembunyikannya dari pemimpin mereka, apa lagi dari Louktus." Kata Vera yang berfikir keras.


"Aku mendengarkan suara Dewi Kematian saat memperintahku, ia seakan merasa takut jika ada seseorang yang melihat mayat-mayat itu." Kata Xerone dengan serius.


"Ah, aku juga berfikir begitu, saat aku mendengarkan perintah dari Kaisar Naga, ia juga merasa was-was." Kata Vera yang berfikir keras.


"Tapi, kita hanya menjalakan perintah. Apapun rencananya, aku akan tetap berjuang sampai mati." Kata Xerone sambil mengepalkan tangannya.


"Aku juga seperti itu Xerone. Sebaiknya kita makan dulu. Lalu, beristirahatlah." Kata Vera yang perhatian.


"Ah, Terimakasih Vera." Kata Xerone dengan tersenyum lembut pada Vera.


"HIIIIII." Suara Vera yang terkejut dengan wajahnya yang tersipu malu.


.....


Lalu, ada cahaya keluar di depan Vera. dan sebuah surat keluar.


"Ah, Vera, ada perintah langsung." Kata Xerone yang melihat surat itu.


"Aku akan membacanya Xerone, sepertinya ini perintah penting." Kata Vera dengan serius.


....


"HAAAAAAAaaa." Teriak Vera yang terkejut.


"Haa, Ada apa Vera. Kau membuatku terkejut." Kata Xerone dengan serius.


"Xerone. Pa, Par, Paradicone akan datang kemari. Bersama dengan pemimpin mereka. Aa, aaahh." Kata Vera yang terkejut, sampai ia tak sadarkan diri.


"Veraaa. Sadarlah. Kau harus kuat." Kata Xerone dengan terkejut sambil mengangkat tubuh Vera.


"Aa, aah. Maafkan aku Xerone, aku sangat terkejut." Kata Vera yang sudah sadar di pangkuannya Xerone.


.....


[Castle Taman Surga]


Leon dan lainnya sudah siap berkunjung ke benteng barat. Rachel membuat portal menuju gerbang dalam benteng.


Lalu, Xerone dan Vera beserta ratusan ribu prajuritnya menunggu kedatangan mereka.


"Vera, itu. Ada Portal muncul disana. Sepertinya mereka akan datang." Kata Xerone kepada Vera.

__ADS_1


"Semuanya, Bersujudlah. Paradicone telah datang." Teriak Vera ke semua orang yang ada disana.


Mereka pun bersujud dengan menundukkan kepala. Lalu, Leon pun keluar dari portal itu, di susul dengan Paradicone di belakangnya.


"HAAAA. mereka bersujud padaku. Dan ini terlalu banyak untuk dilihat." Kata Leon yang terkejut melihat ratusan ribu prajurit sujud padanya.


"Ahaha, seperti biasa, mereka pasti melakukannya Leon." Kata Kibo sambil tertawa malu.


"Leon, jika kau tidak nyaman, sebaiknya kita langsung ketenda komando." Kata Rachel dengan serius.


"Hahaha, Bahkan aku melihat Xerone disini. Sangat kebetulan." Kata Aries yang tertawa.


"HORMAT KAMI SANG PARADICONE." Kata semua orang yang ada disana secara kompak.


"Kibo, apa kau mengirimkan surat kepada mereka.?." Kata Leon dengan kesal.


"Ah, hehe. Aku hanya memberi tahu mereka Leon." Kata Kibo yang mulai gugup.


"Haaaah. Aku hanya memastikan benteng ini aman atau tidak. Kita langsung ke tenda komando sekarang." Kata Leon dengan serius.


"Ha, Laksanakan." Kata Paradicone kepada Leon.


Semua prajurit disana tidak bisa mendengar dengan jelas percakapan Leon dan Paradicone. Mereka hanya terdiam sambil bersujud.


Leon sangat tidak nyaman dengan pemandangan itu. Ia melihat ada beberapa prajurit yang kejang-kejang karena ketakutan, bahkan ada juga yang sampai pinsan.


"Hmm, kenapa mereka harus bersujud seperti ini. Aaah, ini membuatku sangat sedih." Kata Leon dalam hati sambil berjalan ke arah tenda komando.


.....


Xerone dan Vera masih belum bergerak dari posisinya. Mereka menunggu Paradicone masuk kedalam tenda.


"ini membuatku merinding. Tubuhku mulai berat." Kata Xerone dalam hati sambil bersujud.


"Aku, aaku. Aku sangat ketakutan. Tubuhku gemetar dari tadi, meskipun Paradicone tidak mengeluarkan auranya." Kata Vera dalam hati.


Lalu, Leon dan lainnya, masuk kedalam tenda komando.


"Haaa, aku benar-benar sangat lega berada disini. Kenapa mereka harus bersujud seperti itu.?" Tanya Leon kepada Paradicone.


"Mungkin mereka ketakutan Leon. Kau tau sendiri, hanya Nine Core yang bisa hidup ribuan tahun. Kita sudah di anggap dewa oleh mereka." Kata Rachel dengan serius.


"Emm, lalu. Aku tidak bisa bergerak bebas jika mereka seperti itu Rachel." Kata Leon dengan kesal.


"Ah, ituu. Aku sendiri tidak tau Leon." Kata Rachel dengan bingung.


"Hm, baiklah. Dimana para Jendral yang menjaga disini.?" Tanya Leon dengan serius.


.

__ADS_1


.


__ADS_2