
[Di udara, perjalanan ke benteng selatan]
Leon dan Kibo masih dalam perjalanan menuju benteng selatan. Sepertinya Leon sedang menikmati perjalanan itu.
"Kibo, aku sangat bebas sekarang hahaha." Kata Leon sambil terbang dengan tertawa.
"Ah, Leon. Apa kau selalu di kekang Rachel.?" Tanya Kibo dengan penasaran sambil terbang.
"Ituu. Kau sendiri sudah tau Kibo. Rachel selalu memakai portal untuk pergi kesuatu tempat. Dan saat sampai, semua orang selalu bersujud. Aku tidak suka dengan pemandangan itu. Lalu, aku juga jarang keluar Castle. Sudah pasti sekarang aku senang kibo. Hahaha." Kata Leon dengan tertawa senang.
"Hahaha, syukurlah Leon. Aku senang mendengarnya." Kata Kibo sambil tertawa senang.
"Kibo, aku peringatkan padamu. Mungkin prajurit di benteng selatan tidak mengenalimu, karena Jendral mereka sedang berada di benteng barat. Jadi jangan tunjukan identitasmu. Jika kau mengamuk disana karena sikap mereka. Aku akan membunuhmu." Kata Leon dengan serius.
"Ahaha. Kau memang selalu menakutiku Leon. Tenanglah, aku akan menurutimu. Kau terlihat sangat bahagia sekarang." Kata Kibo dengan tersenyum senang.
"Hahaha. ini sangat menyenangkan Kibo. Aku harap Rachel tidak datang kesini. Aku ingin membaur dengan para prajurit itu." Kata Leon dengan senang.
"Itu benar Leon, kalau Rachel datang, semua orang pasti langsung bersujud padanya." Kata Kibo sambil tersenyum.
"Baiklah Kibo. Benteng selatan sudah ada di depan. Kita akan masuk lewat gerbang dalam." Kata Leon dengan tersenyum.
....
Gerbang dalam benteng selatang. Bendera Kerajaan Properose berkibar sangat banyak. penjagaannya juga sangat ketat.
"Haa. Siapa orang-orang itu. Mereka berjalan kesini." Kata salah satu penjaga yang melihat Leon dan Kibo berjalan ke arah gerbang dalam.
"Beritahu komandan, ada seseorang yang datang kemari." Kata penjaga itu kepada bawahannya.
"Ha. Laksanakan perintah." Kata prajurit.
.....
Lalu, Leon dan Kibo pun sudah berada di depan gerbang. Namun ia di berhentikan disana.
"Siapa kalian. Ini adalah kawasan militer Properose." Kata penjaga itu.
"Ahaha. Maaf, kami sudah tau pak. Kami ada urusan di dalam sana. Bisakah kita masuk kedalam." Kata Leon dengan sopan.
"Kalian tidak bisa tanpa surat ijin. Siapa kalian.?" Kata penjaga itu.
"HAAAA." Suara terkejut Leon dalam hati.
"A, aah. Maaf Pak, Kita tidak memiliki ijin itu. Apa aku tidak bisa masuk kesana.?" Kata Leon dengan tersenyum.
"Apaaa. Siapa kalian, beraninya mendekat ke kawasan militer. Disini bukan tempat bermain." Kata penjaga itu dengan tegas.
Kibo yang mendengarnya terpancing emosinya. Namun, Leon cepat menyadari itu.
__ADS_1
"Kibo, jangan lakukan apapun." Kata Leon yang berbisik pada Kibo.
"Apa yang kalian bicarakan. Pergilah dari sini. Atau kalian akan di tahan disini." Kata penjaga itu.
"Ah, ahaha. Maaf Pak, kami sebenarnya dari kerajaan Majaren. Aku di tugaskan untuk melihat kondisi benteng disini. Apa bisa kita masuk kedalam pak. Aku tidak akan melakukan apapun." Kata Leon dengan sopan.
"Kau jangan menipu kami. Kenapa kalian hanya berdua.? Bahkan kalian tidak punya surat perintah." Kata penjaga itu.
Leon pun kesal dengan itu. "Haah, sepertinya tidak segampang yang aku pikirkan. Memang harus ada Rachel disini. Aku tidak paham dengan surat perintah itu. Semua yang mengerjakan adalah Rachel." Kata Leon dalam hati dengan merenung.
"Apa ini sudah cukup Pak. Aku membawa surat perintah itu." Kata Kibo yang memberikan surat perintah dari Paradicone.
"Aa, aah. Ituu. Ituu surat emas. Perintah langsung dari Paradicone." Kata penjaga itu dalam hati dengan ketakutan.
"Ha. Maafkan saya Tuan. Saya tidak tau Anda adalah orang penting. Silahkan masuk kedalam." Kata penjaga itu.
"Aa, aa, aa." Suara terkejut Leon yang melirik Kibo.
"Ehehe. Apa aku membantumu Leon.?" Kata Kibo dengan tersenyum sambil mengaruk-ngaruk kepalanya.
"Kau, kau. Kau sangat membantu Kibo. Tidak aku sangkan. Hahaha." Kata Leon dengan tertawa sambil memukul Kibo.
.....
Lalu, komandan Cena datang ke gerbang dalam. Ia melihat Leon dan Kibo yang masih ada di luar gerbang.
"Emm, siapa mereka.?" Tanya Cena kepada penjaga.
"Hmm, Apa kalian punya surat perintah.?" Tanya Cena kepada Leon dan Kibo.
"Ah, Komandan. Ini surat perintahnya." Kata Leon sambil memberikan surat perintah itu.
Namun, Cena hanya tercengang dan terkejut, hanya melihat bentuk dan warna surat itu. Bahkan ia tidak berani menyentuhnya
"Tidak mungkin, mereka di perintah langsung oleh Paradicone. Siapa mereka, seorang Jendral kah.?" Kata Cena dalam hati.
....
"Ekm, Baiklah Tuan. Maafkan kelancanganku. Ternyata kalian orang penting. Silahkan masuk." Kata Cena dengan sopan.
"Ah, baiklah komandan. Ahaha." Kata Leon yang senang.
....
Mereka pun berjalan ke dalam Camp prajurit Properose.
"Ah, maaf Tuan. Siapa Anda sebenarnya. Aku tidak pernah melihat seseorang membawa surat perintah Paradicone kecuali para Jendral yang di percaya." Tanya Cena yang sangat penasaran.
"Aah, Kami adalah Menteri kerajaan komandan. Kami di tugaskan untuk melihat kondisi benteng. Mungkin akan ada perbaikan secepatnya. Ahaha." Kata Leon dengan tersenyum senang.
__ADS_1
"Aaah. Maaf Tuan Menteri. Perkenalkan nama saya Cena, komandan pasukan elit dari Kerajaan Properose." Kata Cena dengan sopan.
"Ah, siap Komandan Cena. namaku Leon, dan Orang disebelahku adalah Kibo. Apa kalian pernah mendengar nama itu.?" Tanya Leon dengan penasaran.
"Em. Tuan Leon, dan Tuan Kibo. saya belum pernah mendengar nama itu." Kata Cena dengan santai.
"haaaaaah." Suara lega Leon dalam hati. Ia pikir Cena tau nama dari salah satu Paradicone.
.....
Saat perjalanan, Leon menoleh kekanan dan kekiri. Ia melihat sekelilingnya. Benteng selatan benar-benar sangat berantakan.
"Apa disini terjadi pertempuran besar komandan.?" Tanya Leon penasaran.
"Itu benar, beberapa hari yang lalu. Kami mengahadapi militer Louktus dan pasukan Porsa. Mereka menyerang dengan membabi buta. Bahkan komandan tertinggi Louktus datang kesini. Kita bertempur antara hidup dan mati." Kata Cena dengan serius.
"Emm, ini sangat parah komandan. Benteng ini mungkin akan hancur jika ada serangan lanjutan." Kata Leon dengan santai, sambil menganalisa kondisi.
.....
"Sebelah sini Tuan." Kata Cena yang menunjukan arah ke tenda prajurit.
"Ah, apa kita boleh langsung ke atas benteng.? Aku akan melihat dan mencatat dengan cepat kondisi benteng ini." Kata Leon dengan penasaran.
"Aah, baiklah. Mari ikuti aku." kata Cena yang mengantarkan Leon dan Kibo ke atas benteng.
Mereka melihat aktifitas prajurit yang sedang berjaga. Ada juga yang main kartu, ada juga yang tidur pulas.
Lalu, Leon pun sampai di atas benteng. Disana ada komandan Jokenyang sedang menjaga tempat itu.
"Joken, ada tamu penting disini. Surat perntah langsung dari Paradicone." Kata Cena kepada Joken.
"Haa. Apaaa. Siapa kalian.?" Tanya Jiken jepada Leon dan Kibo.
"Ah, maaf. Kami adalah menteri kerajaan. Kami ditugaskan untuk melihat kondisi benteng." Kata Leon dengan sopan.
"Ho. Baiklah Tuan. Apa kalian sudah tau kondisi disini. Benteng ini akan segera runtuh." Kata Joken sambil melihat ke bawah benteng luar.
Lalu, Leon pun sangat terkejut melihat pemandangan yang tidak biasa. Ia melihat seluruh tanah berwarna merah.
Leon sangat kesal dengan pemandangan itu. namun ia masih bisa menahannya.
"Komandan, apa yang sudah terjadi disini. Ini sangat mengejutkanku." Kata Leon dengan sangat terkejut.
"Bernahkah. Hahaha. Aku sendiri sangat merinding melihatnya. Itu adalah darah dari prajurit Louktus yang terbunuh beberapa hari lalu." Jata Joken dengan tertawa.
"Mereka di bantai habis oleh Dewi Kematian Tuan. Lalu mayat mereka kita bakar, dan kita kubur di dalam sana." Kata Cena dengan santai.
"Ini bukan pembunuhan. Ini pembantaian. Seberapa kuat Aries sekarang. ia bisa melakukannya sendirian." Kata Leon dalam hati yang tercengang melihat tanah berwarna merah.
__ADS_1
.
.