
[Tenda Panglima]
Terlihat, Leon masih berfikir keras bersama Kibo. Jalur menuju kerajaan Nerverley kemungkinan di blokade oleh pasukan Louktus.
"Leon, Apa kau tidak membawa benda teleportasi milik Rachel.?" Tanya Kibo.
"Aku tidak membawanya Kibo, dan benda itu hanya bisa mengarah ke Rachel seorang." Kata Leon.
"Sepertinya kita membutuhkan Rachel. Aku bisa meminta bantuan Aries untuk mengirimkan benda itu padamu." Kata Kibo sambil mengeluarkan surat.
"KIBOOOOOO." Teriak Leon sangat kesal.
"Haa." Suara Kibo yang terkejut.
"Aku sudah bilang padamu. Peperangan ini tidak ada hubungannya dengan Rachel. Apa kau mengerti Kibo.?" Kata Leon dengan kesal.
"Aa, ituu." Kata Kibo mulai takut.
"Apa kau tau, jika Rachel sampai menemuiku disini, aku akan berhenti berperang. Bahkan kalau dia mengirimkan sesuatu padaku." Kata Leon serius.
"Ah, baiklah Leon, maafkan aku." Kata Kibo yang mulai ketakutan.
"Aku hanya tidak ingin melibatkan Rachel dan Aries disini. Ini adalah tugas kita, bukan tugas mereka. Aku sudah memutuskannya." Kata Leon dengan serius.
"Baiklah Leon, aku akan melakukan semua keputusanmu." Kata Kibo yang ketakutan.
"Haaah (mengehala nafas). Kita pasti punya jalan keluar untuk semua masalah disini, aku akan memikirkannya. Maafkan aku Kibo." Kata Leon sambil bersandar dikursinya.
"Kau tidak perlu minta maaf Leon." Kata Kibo dengan murung.
"Hem. Sudahlah, kita selesai sampai disini. Sebaiknya kita pergi ke istana." Kata Leon sambil berdiri.
"Apa kau akan mengajakku minum arak lagi.?" Tanya Kibo.
"Heeee. TIDAAAAAAK." Jawab Leon sambil berhenti berjalan dengan seketika.
.....
[Istana Kerajaan Cimoren]
Terlihat, Xerone dan pasukannya sedang berbincang-bincang dengan Raja dan para petinggi kerajaan Cimoren.
"Bagaimana dengan makannya Panglima.? Kami menyiapkan hidangan ini dengan sangat istimewa." Kata Raja Philip.
"Ah, semua makanan disini sangat enak yang mulia. Sepertinya harganya sangat mahal." Jawab Xerone sambil makan.
"Ahahaha. Itu tidak seberapa Panglima." Kata Raja Philip dengan tersenyum malu.
Lalu, Ronald bersama Luciana dan Ernes mengampiri Xerone.
"Apa dia putramu yang mulia.?" Tanya Xerone.
"Benar Panglima, dia adalah putra mahkota kerajaan Cimoren." Jawab Raja Philip.
"Putra mahkota ya. Pantas saja dia bersikap seperti itu padaku." Kata Xerone.
"Maafkan putra saya Panglima." Kata Raja Philip mulai panik.
"Aku tidak marah padanya, hanya saja sikapnya sudah keterlaluan." Kata Xerone sambil melihat Ronald.
"Ini benar-benar membuatku takut. Apa aku akan baik-baik saja. Glegg." Kata Ronald dalam hati sambil menelan ludah.
Lalu, dia pun berlutut di samping Xerone yang sedang duduk dikursi.
"Ha, haa. HA, Saya menghadap kepada Panglima." Kata Ronald dengan ketakutan, bahkan tubuhnya gemetar cukup kencang.
"Em. Duduklah disini pangeran." Kata Xerone.
"Ha. Baik Panglima." Kata Ronald sambil berjalan duduk di kursi yang tempatnya berhadapan langsung dengan Cena.
"Chiikh." Suara Cena dengan kesal sambil melihat Ronald.
"Aa, aa." Suara Ronald yang ketakutan.
"Hem. Berhentilah mengancamnya Cena." Kata Xerone.
__ADS_1
"Dia membuatku kesal Panglima." Kara Cena sambil melihat Ronald dengan tatapan tajam.
"Ma, ma, maafkan sikapku tadi Panglima. Aku benar-benar tidak tau." Kata Ronald dengan ketakutan.
"Heee.? Apa sikapmu seperti itu kau lakukan juga kepada orang lain.?" Tanya Cena dengan kesal.
"Maa, maafkan saya Tuan. Aku akan lebih bijak lagi." Kata Ronald dengan gemetar.
"Hem" Suara Cena yang memalingkan pandangannya.
"Haah" Suara Xerone yang menghela nafas.
"Salam Panglima." Kata Luciana sambil mengangkat gaunya.
"Ah, siapa wanita cantik ini yang mulia.?" Tanya Xerone yang melihat Luciana.
"Dia adalah Luciana Panglima, seorang Putri kerajaan." Kata Raja Philip.
"Ah, Tuan Putri. Pantas saja kau telihat sangat cantik, hahaha." Kata Xerone.
"Apa kau tertarik denganya Panglima.?" Tanya Raja Philip.
Cena yang mendengarnya langsung angkat bicara. "Sebaiknya yang mulia tidak menawarinya."
"Hemm." Suara Raja yang kebingungan. "Apa Anda tidak tertarik Panglima.?" Tanya Raja kembali.
"Ah, dia memang cantik, tapi aku sudah ada yang lain. Hahaha." Kata Xerone tertawa.
"Hee.? Aah, maafkan aku Panglima." kata Raja Philip dengan terkejut.
.....
"Ada apa dengan orang ini, bahkan dia tidak tertarik denganku. Apa aku sekarang terlihat sangat jelek.?" Kata Luciana dalam hati.
.....
"Sebaiknya kau duduk Tuan Putri, sampai kapan kau akan berdiri disitu.?" Kata Cena dengan muka cemberut.
"Terimakasih atas tawarannya Tuan." Kata Luciana sambil berjalan duduk dikursi.
"Panglima, bolehkan aku bertanya sesuatu kepada anda.?" tanya Raja Philip.
"Silahkan yang mulia." Jawab Xerone.
"Siapa sebenarnya Tuan Leon dan temannya yang datang kesini.? Apa mereka adalah Paradicone.?" Tanya Raja Philip.
Dengan sontak, Xerone dan lainnya langsung berhenti makan dengan raut wajah yang tercengang.
"Haa." Suara Raja Philip dengan terkejut melihat mereka semua yang tercengang.
"Maaf Panglima, apa pertanyaanku menyingung anda.?" Tanya Raja Philip.
"Sebaiknya Anda tidak bertanya tentang itu." Jawab Xerone mulai panik.
"Haaa.? Maafkan aku Panglima." Kata Raja Philip yang kebingungan.
"Heem. Aku harap kalian tidak menyebutkan kata itu padanya." Kata Xerone.
"Baik Panglima. Aku akan menjaga perkataanku." Kata Raja Philip.
.....
"Siapa.? Siapa yang mereka bicarakan.?" Kata Ronald dalam hati dengan tercengang.
"Siapa sebenarnya dia itu.? Aku merasa takut sekarang." Kata Luciana dalam hati.
.....
Dijalan menuju istana.
"Mereka sudah memulai pesta cukup lama Kibo. Aku harap masih ada makanan yang tersisa." Kata Leon sambil berjalan.
"Apa kau bosan dengan makanan yang disajikan di istana kemarin Leon.?" Tanya Kibo.
"Kibo, rasa makanan saat di pesta itu berbeda. Kau harus tau itu." kata Leon sambil bergegas menuju istana.
__ADS_1
"Haaah. Kau hanya ingin menikmati pesta itu Leon." Kata Kibo sambil menghela nafas.
.....
Ditempat pesta. Semua orang yang menghadiri pesta di istana sedang menikmati makanan sambil bercanda. Xerone dan Raja Philip mulai akrab dan tertawa bersama.
Lalu, Leon dan Kibo pun sampai ditempat pesta. Namun Leon langsung menghampiri meja makan yang ada didepannya.
"Ini terlihat sangat enak." Kata Leon sambil berjalan ke meja makan.
"Leon, Xerone dan lainnya ada disana, apa kau tidak ingin menghampirinya." Kata Kibo.
"Diamlah disitu Kibo, suasana pesta akan berubah jika mereka melihat kita." Kata Leon sambil mengambil beberapa makanan.
....
"Siapa orang itu.? Apa mereka tamu undangan.?" Kata salah satu bangsawan disana yang melihat Leon.
"Lihatlah, mereka mengambil makanan dengan tangan kosong." Kata bangsawan lainnya.
"Mereka sangat tidak sopan disini." Kata Wiliam yang melihat Leon mengambil makanan.
Wiliam pun menghampiri Leon dan Kibo dengan raut wajah yang kesal.
"Apa kau menyukainya.?" Tanya Wiliam yang datang dengan tiba-tiba disamping Leon.
"Ah, makanan ini telihat sangat enak." Kata Leon yang menghiraukan pandangannya kepada Wiliam.
"Chiikh. Aku lihat, kalian bukan tamu undangan disini." Kata Wiliam yang berdiri disamping Leon.
"Kami diundang ke pesta ini oleh Raja." Kata Leon sambil makan.
"Omong kosong apa itu.? Bahkan sikapmu sangat tidak sopan." Kata Wiliam yang sangat kesal.
"Aku hanya ingin memakan makanan ini, sebaiknya kau jangan merusak suasana pesta." Kata Leon sambil makan.
"Chiikh, penyusup. Kau berani sekali datang kesini." Kata Wiliam dengan sangat kesal.
Lalu, dia pun memukul piring yang dibawa oleh Leon. BRAK, TIAARRR. Suara piring yang jatuh bersama makananya.
Leon langsung terdiam sambil melihat makanan itu yang sudah terjatuh ke lantai. tiba-tiba Kibo menghampiri Wiliam dengan tatapan yang marah.
"Berhentilah Kibo, jangan buat keributan disini." Kata Leon dengan kesal.
"Heh, orang jelata sebaiknya pergi dari sini. Kau membuat selera makanku jadi buruk." Kata Wiliam dengan kesal.
"Itu benar rakyat jelata, sebaiknya kau pergi dari sini." Kata salah satu bangsawan disana.
Namun Leon hanya terdiam ditempatnya, lalu ia mengambil makanan yang sudah terjatuh kelantai dengan tangannya.
"Leoon.?" Kata Kibo dengan sedih sambil melihat Leon mengambil makanan di lantai. Kibo sebenarnya sudah sangat marah, namun ia menahannya.
"Chiikh, bahkan kau bahkan sampai mengemis dan mengambil makanan itu." Kata Wiliam yang kesal.
"Ambil saja makanan itu, dan pergilah dari sini." Kata Salah satu bangsawan disana.
"Benar, kau sangat menjijikkan. Apa perlu kau diusir oleh prajurit kerajaan.?" Kata bangsawan lainnya.
"Hahaha, itu sangat cocok untukmu pecundang." Kata Wiliam.
Lalu, Wiliam menginjak makanan yang sedang di ambil oleh Leon di lantai. "Ini adalah makanan ternikmat dalam hidupmu. Hahaha." Kata Wiliam.
"Kau, bajingan." Kata Kibo yang sudah habis kesabarannya.
"Kibo, berhenti disitu. Kita pergi saja dari sini." Kata Leon sambil berdiri dengan membawa makanan di tangannya.
"Leon kau." Kata Kibo dengan tercengang.
"Hahaha, pergilah dari sini pecundang." Kata Wiliam dengan tertawa.
"Chiikh." Suara Kibo yang kesal.
Leon dan Kibo pun berjalan menuju pintu keluar istana.
.
__ADS_1