
[Didalam Hutan]
Terlihat, Rewin dan Raja James yang langsung pergi menuju ke pelabuhan Ame. Lucas di perintahkan untuk mengirimkan surat kepada kerajaan-kerajaan sahabat.
Dan para jendral di perintahkan mengumpulkan pasukannya yang tersebar di seluruh penjuru kerajaan. Keputusan Raja james ini sangat beresiko, karena jika semua prajurit diperintahkan untuk menuju ke pelabuhan Ame, maka musuh bisa menyerang dari segala arah.
Namun, Perdana Menteri Kerajaan, Lucas, tidak sebodoh itu. Ia justru memikirkan cara, agar kerajaan tetap aman. Pasukan yang di gunakan untuk menjaga wilayah tetap aman, adalah kerajaan sahabat. Justru itu cara paling aman untuk menjaga citra Kerajaan, karena tidak mengunakan pasukan bantuan untuk terjun ke medan pertempuran tanpa rapat darurat militer.
....
[Ditempat Pelabuhan Ame]
Leon yang mengeluarkan aura dengan kuat menyerang prajurit-prajurit disana seorang diri. Ia menghadapi puluhan ribu prajurit dengan sangat cepat.
Namun, kekuatan yang di keluarkan oleh Leon itu, justru membuatnya kesakitan. Kekuatan yang ada pada tubuhnya seolah memberontak, dan bahkan ikut menyerang tubuhnya sendiri.
"Huh, huh, huh. Aku tidak percaya kekuatan ini akan menyerangku di saat-saat seperti ini. Aku memang belum pulih sepenuhnya." Kata Leon dalam hati yang terengah-engah Sambil bertarung melawan prajurit disana.
Setengah dari puluhan ribu prajurit sudah di kalahkan oleh Leon hanya dalam waktu 5 menit saja. Namun kekuatannya semakin memberontak.
Ia menyerang sambil melindungi warga sekitar yang masih hidup dari serangan prajurit-prajurit itu.
Prajurit yang Leon hadapi sekarang, berbeda jauh dari prajurit pasukan Honzu, mereka jauh lebih kuat dengan aura sihir di pedangnya. Bahkan bisa dikatakan mereka semua sudah berada di tingkat AJI bintang 5.
Leon yang kurang pengalaman melawan orang yang sudah dibangkitkan, membuatnya kesulitan. Ia berusaha beradaptasi dengan keadaan itu. Di tambah lagi, ia juga di serang oleh kekuatannya sendiri. Menghadapi puluhan ribu prajurit dengan tingkat kekuatan seperti itu, membuat Leon kualahan.
"Tempat ini, desa pelabuhan Ame. Mereka semua terbunuh oleh mereka. Tapi kenapa, tangisan mereka yang sudah mati terus mengemah di telingaku, apa yang sebenarnya terjadi padaku" Kata Leon dalam hati.
"Aku harus cepat menyelesaikan ini" Kata Leon dalam hati, sambil menahan rasa sakit yang ada di tubuhnya.
Tiba-tiba mata Leon mulai memburam, ia bahkan tidak bisa melihat dengan jelas musuh-musuh didepannya. Kesadaran Leon perlahan hilang, ia terangah-engah sambil melihat warga di sana.
"Tangisan mereka, melihat keluarganya yang sudah meninggal, penderitaan yang sangat sakit, aku merasakan penderitaan itu, hatiku sangat sakit." Kata Leon yang sudah bertekuk lutut sambil memegang pedangnya dengan terengah-engah kesakitan.
"Uhuuuook, huh, huh. Darah.? Apa aku terluka.?". Kata Leon yang melihat darah di bawahnya. Dengan kesadaran yang sudah hampir hilang. Darah itu keluar dari mulutnya.
Tiba-tiba, 3 orang datang dari langit. Mereka adalah NINE CORE. Bernama Nicol, Winsol, dan Varel. ke tiga orang itu adalah Panglima Perang Neswara dari Louktus.
Mereka berdiri tepat di depan Leon. "Aaah, aku kira ia Kibo, atau Rachel. Ternyata hanya pencundang yang kebetulan kuat". Kata Nicol lepada Leon. Mereka tidak mengenali Leon, karena tidak pernah bertemu pada jaman dulu.
"Siapa mereka.? Aku bisa merasakan kekuatan yang hebat dari tubuhnya." Kata Leon dalam hati sambil mengangkat kepalanya dengan darah yang keluar dari mulutnya, ia sangat kesakitan.
Tiba-tiba, mereka bertiga mengeluarkan tekanan jiwa yang begitu dasyat menekan Leon. "Siapa kau nak.? Aku tidak bisa hanya melihat kau membunuh mereka disana." Kata Nicol kepada Leon dengan mengeluarkan tekanan jiwa untuk menekan Leon.
__ADS_1
"Aaah, mereka mencoba menekanku. Tapi kekuatan ini sangat kuat, aku tidak bisa menahannya. Tubuhku mulai lemas, aku sudah tidak punya energi lagi" Kata Leon yang menahan tekanan dari mereka sambil bertekuk lutut. Dan mulutnya sudah di penuhi darah.
Namun, Leon mencoba untuk berdiri. "Aah, apa kalian pemimpin pasukan ini.?" Kata Leon kepada mereka sambil sempoyongan.
"Apa.? Dia bisa menahan tekanan dari kami bertiga. Bahkan dia masih bisa berdiri. Dia tidak bisa di anggap remeh" Kata Varel yang terkejut.
"Kau sudah di ambang kematian nak, sebaiknya kau mati saja". Kata Varel penuh ancaman dan senjata suci mulai keluar dari udara. Senjata Suci Varel adalah Tombak berwarna putih dengan hiasan berwarna merah.
"Simpan ocehan itu untukmu sendiri." Kata Leon yang berdiri sempoyongan dengan tangan kanannya memegangi perut. Darah yang ada dimulutnya terus menerus keluar.
"Apaa.!!! Biar aku yang menyelesaikan ini." Kata Varel kepada Nicol dan Winsol.
"Baiklah, hanya pecundang seperti dia, itu sangat cocok untukmu Varel." Kata Winsol dengan santai.
Aura kegelapan berwarna hitam kemerahan muncul dari tubuh Varel. Tombak suci yang keluar pun di pegang olehnya, dan ia langsung menghilang untuk menyerang Leon.
....
[Di udara Rachel dan Aries yang terbang]
"Aura ini. Aries cepatlah. Ini sangat gawat." Kata Rachel dengan sangat panik yang masih dalam perjalanan.
"Aku tau Rachel, apa kibo belum sampai disana?". Kata Aries yang sangat panik.
.....
Serangan Varel ditangkis oleh Leon dengan pedang hitam. Lalu, kakinya mulai terdorong mundur. "Ini sangat kuat" Kata Leon yang menangkis serangan Varel. Ia pun terpental sangat jauh kebelakang, dengan luka dalam yang semakin parah karena serangan Varel. Seluruh tubuhnya seketika lumpuh. Dan terjatuh menghantam bangunan rumah warga.
"kenapa aku tidak bisa merasakan tubuhku". Kata Leon yang mulai kehilangan kesadaran. Namun, ia mencoba untuk tetap tersadar. Aura kekuatanya mulai meredup.
"Ini serangan terakhir nak, dan matilah". Kata Varel yang bersiap untuk menyerang Leon, auranya menyelimuti seluruh tombak sucinya. Dan ia menghilang menuju Leon.
Leon pun mencoba mengerakkan tubuhnya. Lalu, ia menoleh ke arah Varel, dan dia sudah ada didepannya.
Leon langsung berdiri dan mengambil pedangnya dengan cepat, dan Ia masih bisa menangkis tombak Varel dengan tubuh yang sudah tidak berdaya. Tangkisan itu mengeluarkan percikan petir berwarna hitam keunguan. Aura kekuatan Leon yang tiba-tiba hilang mulai keluar lagi.
"Aku tidak boleh mati, aku harus hidup, aku tidak boleh mati, aku harus hidup". Kata Leon dalam hatinya yang terbayang-bayang oleh orang di sekitarnya, yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.
"AURuuuoOOOAAAAAAAH" Teriak Leon dengan sangat kencang mencoba melawan serangan Varel.
Varel pun terpental. "Apaaa.!!!". Kata Varel yang terkejut. Ia pun langsung berdiri, dan melihat Leon berdiri di depannya penuh dengan Aura kegelapan berwarna hitam keunguan, matanya berubah menjadi aura hitam sambil berjalan perlahan dengan sempoyongan ke arah Varel.
"Ciikhh" Kata Varel dengan kesal. Dan ia pun melancarkan serangannya lagi. Gelombang laut mulai melambung tinggi, Awan-awan yang sudah gelap mulai mengeluarkan petir. Tanah-tanah mulai bergetar. Bencana alam sedang terjadi.
__ADS_1
Mereka pun bertarung dengan sangat sengit sampai ke atas langit. Kilatan petir keluar dari gesekan senjata mereka. Pertempuran mereka sangat cepat, hanya terlihat percikan petir yang berjalan.
Tubuh Leon perlahan-lahan mulai mengeluarkan aura petir dan Api. Pertanda kekuatannya mulai tidak stabil, ia tidak bisa mengendalikan kekuatannya. Itu sangat menyakitkan bagi Leon. Tapi Leon berusaha untuk melawan Varel dengan kekuatan penuhnya.
"Arrgh, Tubuh ini sudah mencapai batas" Kata Leon dalam hati. Tiba-tiba iya terkena goresan tombak Varel di perutnya. Tubuh Leon mulai lamas.
Namun, tetap saja. Leon masih memaksakan tubuhnya untuk bergerak. Kekuatannya sendiri mulai menghancurkan bagian dalam tubuh Leon. Sampai Ia muntah darah berkali-kali.
Dan serangan dari Varel masih dikerahkan dengan membabi-buta kepada Leon.
"Arrgh, Uhuoook." Suara Leon yang terkena serangan Varel terus-menerus. Tapi Leon masih mencoba melawan balik dengan tubuhnya yang sudah lemas.
Benturan energi antara Varel dan Leon, membuat kekuatan Leon membrontak. "Kenapa kekuatan ini tidak bisa dikendalikan." Kata Leon dalam hati sambil bertarung dengan Varel diatas udara.
Pertarungan mereka sudah cukup lama. Tubuh Leon sudah mulai lumpuh. Dan ia berkali-kali terkena serangan Varel, namun Leon sendiri tidak bisa melukai Varel.
"Aku harus hidup, aku tidak boleh mati" Kata Leon dalam hati, dan tiba-tiba tubuhnya lumpuh seketika. Ia mulai kehilangan penglihatannya di hadapan Varel. "Mati kau." Kata Varel dengan kesal.
Varel pun menusukan tombaknya tepat di perut Leon dengan mudah. "Uhooukkh." Suara Leon yang kesakitan dengan mulutnya yang mengeluarkan darah.
Tangan Leon bergerak memegang tombak yang tertusuk diperutnya. "Arrrgh. Uhooukh." Suara Leon yang kesakitan, ia merasakan antara hidup dan mati.
"Kau masih bisa bergerak." Kata Varel terkejut. Dan ia menusuknya lebih dalam lagi, sampai ujung tombaknya menembus tubuh Leon.
"Sepertinya aku selesai disini." Kata Leon dalam hati. Lalu, tangannya yang sedang memegang tombak, terjatuh dengan sendirinya. Dan Leon pun tak sadarkan diri.
Waktu pun seakan berhenti.
Didalam alam bawah sadarnya, Leon mendengar teriakan orang-orang yang sudah mati di kota Nasion, teriakan mereka bercampur dengan tangisan yang ada di desa pelabuhan Ame. Suara teriakan itu di dengar jelas olehnya.
Ia pun melihat kejadian Castle Nasion didalam alam bawah sadarnya. "Tolong kami."."Maafkan hamba tuan."."Aaaaaaahh"."ampun tuan. Aaaah". Suara penduduk kota Nasion.
"Leoon pergilah dari disini. Huh, huh, uoookk" Suara dari salah satu panglimanya yang sudah meninggal.
"Alden, Alden," Suara teriakan yang pernah di dengar oleh Leon saat di bukit.
"Apa ini, Apa ini, dimana aku." Kata Leon kebingunggan bercampur kesedihan yang masih mendengarkan suara-suara itu. Ia pun memegang kepalanya dengan sangat erat.
"Ini sangat sakit, Sakit Sekali. DIMANA AKU INI. AAAAAAAAAAHHHHH". Teriakan Leon yang kesakitan.
Tiba-tiba seluruh bumi mulai berguncang. Bencana alam ada dimana-mana, letusan gunung berapi yang sangat dasyat mengeluarkan laharnya. Gempa bumi dirasakan oleh manusia diseluruh dunia. Alam mulai terguncang.
.
__ADS_1
.
.