
[Castle Taman Surga]
Besoknya. Leon dan lainnya berkumpul di ruangan kerja Leon. Ia sedang memberikan instruksi kepada Paradicone.
"Kita akan langsung bergerak sekarang. Rachel, apa kau sudah menyiapkan berkas-berkasnya.?" Tanya Leon dengan serius.
"Aku sudah menyiapkannya Leon. Ini adalah berkasmu untuk kerajaan Porsa." Kata Rachel sambil memberikan berkas kepada Leon.
"Baiklah. Kau sudah bekerja keras Rachel. Lalu, Aries, jika terjadi pertempuran disana. Selesaikan secepatnya. Lalu, periksalah jalur laut. Pastikan prajuritmu masih bertahan disana." Kata Leon dengan serius
"Ha. Aku akan melakukannya dengan cepat." Kata Aries penuh dengan semangat.
"Kibo. Pergilah ke pelabuhan. Pastikan prajuritmu tidak membuat kekacauan lagi disana." Kata Leon dengan serius.
"Ha. Akan aku lakukan Leon. Tapi, apa tidak ada yang lain.? Sepertinya tugasku hanya menjaga prajurit." Tanya Kibo yang tidak puas dengan tugasnya.
"Haah. Baiklah kalau begitu. Sepertinya kau akan bosan disana. Rachel, kirimkan surat kepada Lucas. Suruh dia melaporkan setiap aktifitas di pelabuhan. Bahkan laporan setiap harinya. Dan kau Kibo, ikutlah denganku ke kerajaan Porsa." Kata Leon dengan serius.
"Aku sudah mengirimkannya Leon." Kata Rachel dengan serius.
"Bagus Rachel. Kau melakukannya dengan cepat. Baiklah. Mari kita lakukan sekarang." Kata Leon dengan tersenyum.
"HA. LAKSANAKAN PERINTAH MAHARAJA." Kata semua Paradicone.
Mereka semua pun bergerak dengan cepat. Aries menghilang dan terbang ke Kerajaan Honzu. Rachel membuat portal menuju istana Kerajaan Forlsa.
Lalu, Leon dan Kibo terbang menuju benteng selatan.
.....
[Istana Kerajaan Forlsa]
Awan-awan di langit berkumpul. Gemuruh petir terdengar sangat keras. Tanah mulai bergetar cukup kencang.
"Yang Mulia, sepertinya ada seseorang yang datang ke istana." Kata salah satu menteri kerajaan.
"Haa. Sepertinya bencana akan datang, kalian bersiaplah ke ruangan tahta. Ada tamu yang luar biasa datang kesini." Kata Raja Briken.
"Ha. Laksanakan Yang Mulia." Kata menteri kerajaan.
.....
Raja Briken beserta Menteri dan Jendralnya menunggu kedatangan tamu itu di ruang tahta. Namun mereka masih bersikap biasa saja. Bahkan Raja Briken duduk di kursi singgahsanah.
Lalu, cahaya muncul di depan mereka semua. Sebuah portal terbentuk secara perlahan.
"Haaa. Ini. Ini. Tidak mungkin. Sebaiknya aku melihatnya dulu." Kata Raja Briken dalam hati dengan terkejut.
Rachel pun keluar dari portal itu. Dengan cahaya di seluruh tubuhnya. Wajahnya di tutupi kain. Dan aura putih keluar dari tubuhnya.
Aura itu menekan semua orang yang ada di ruangan itu.
"Aahrrrg. Apa ini. auranya sangat kuat." Kata Raja Briken dalam hati sambil menahan aura dari Rachel.
"Aah, Ini seperti panglima Louktus. Auranya sangat menyakitkan." Kata salah satu Jendral disana.
"Aku tidak bisa bergerak. Uhoouk. Aaaah. Ini benar-benar sangat sakit." Kata salah satu menteri disana.
__ADS_1
.....
Rachel pun melayang perlahan menghampiri Raja Briken.
"Hmm. Apa kau Raja dari kerajaan ini.?" Tanya Rachel kepada Briken.
"Aa, aaah, aku adalah Raja. Siapa kamu. Beraninya masuk kesini." Kata Briken dengan tegas.
"Hoo. Kau membuatku kesal Raja." Kata Rachel sambil mengeluarkan auranya lebih kuat.
Semua orang disana sangat terancam nyawanya. Ada yang kenjang-kejang karena terkena efek aura itu. Ada juga yang pinsan disana.
"Arrrght. Siapa sebenarnya orang ini.?" kata Briken dalam hati.
"Perkenalkan, aku adalah Dewi Perang. Sang Paradicone. Apa kau mengenalnya Raja.?" Kata Rachel dengan penuh ancaman.
"Ini, Tidak, tidak mungkin, sang Paradicone datang kemari." Kata Raja Briken sangat terkejut. Ia pun langsung bersujud di depan Rachel.
Semua orang disana juga sangat tercengang mendengar ucapan Rachel. Sontak mereka semua langsung bersujud padanya.
"HORMAT KAMI SANG PARADICONE." Kata semua orang disana.
"Ini pertama kalinya aku melihat Paradicone secara langsung. Cahaya di tubuhnya itu selalu bersinar. Aku tidak bisa melihat wajahnya." Kata Raja Briken dalam hati dengan ketakutan.
"Baiklah Raja. Aku ada urusan denganmu. Bisakah kita bicarakan disini.?" Kata Rachel dengan santai.
"Haa. Apa yang membawa Anda kesini Dewi.?" Tanya Briken dengan ketakutan sambil bersujud.
"Aku hanya mengambil sesuatu, yang seharusnya itu adalah milikku." Kata Rachel dengan serius.
"Apa itu Dewi.?" Tanya Briken dengan gugup.
"Apaaaaa." Kata semua orang disana dengan terkejut.
.....
"Ma, Maaf Dewi, wilayah ini sudah menjadi milik Louktus. Kami tidak bisa melawan mereka." Kata Raja Briken dengan ketakutan.
"Kau tenang saja Raja. Aku mengambil kerajaan ini tidak dengan tangan kosong. Tentu saja aku akan membantu kalian dalam urusan pertahanan. Bahkan ekonomi. Aku akan membantu rakyatmu." Kata Rachel dengan serius.
"Tapi Dewi, ini sangat mendadak. Kami harus membahasnya terlebih dulu bersama para petinggi kerajaan." Kata Briken kepada Rachel.
"Aah, aku tau Raja. Kalian bisa membahasnya. Tapi, jika kalian meminta bantuan kepada Louktus, mereka semua akan mati sebelum sampai disini. Bahkan para pemimpin mereka." Kata Rachel yang mengancam.
Semua orang yang mendengarnya hanya terdiam tak berkata apapun. Tubuh mereka gemetar ketakutan.
"Aku akan memberikan dokumen penting untukmu. Dokumen Ini adalah tawaran dari kami. Tentu saja kami tidak akan merugikan kalian. Pikirkanlah baik-baik Raja, atau kerajaan ini akan di ambil dengan paksa." Kata Rachel dengan serius.
"Aaah. Baiklah Dewi. Kami akan memikirkannya dengan cepat." Kata Raja Briken dengan gugup. Sambil menerima beberapa dokumen penting dari Rachel.
"Baiklah Raja. kirimkan surat ketempat ini. Waktu kalian hanya sampai hari ini. Jika kalian tidak mengirimkan surat padaku. Artinya kalian menolak, dan aku anggap itu adalah deklarasi perang." Kata Rachel dengan serius, sambil memberikan kotak sihir untuk mengirimkan surat.
"Aa. Aa, aaku akan mengirimkannya Dewi." Kata Briken yang ketakutan. Tubuhnya gemetar cukup kencang.
"Hmm." Suara Rachel tersenyum. Lalu, ia pun menghilang dalam sekejap mata.
....
__ADS_1
"Aa, aaaaah." Suara lega Raja Briken. Sampai ia terbaring di lantai.
"Yang Mulia, apa yang sudah terjadi.?" Kata salah satu panglimanya dengan tubuh yang masih gemetar.
"Kumpulkan para petinggi sekarang juga. Kita akan melakukan rapat darurat." Kata Briken yang terbaring di lantai.
"Ha. Laksanakan Yang Mulia." Kata Panglima kerajaan.
.....
Lalu, Raja Briken dan semua para petinggi berkumpul di ruang rapat. Yang di hadiri puluhan bangsawan, Menteri, dan para Jendralnya.
"Ini tidak bisa di biarkan Yang Mulia. Kita tidak bisa bergabung dengan Paradicone." Kata salah satu bangsawan disana.
"Itu benar Yang Mulia. Ini terlalu mendadak." Kata salah satu bangsawan lain.
"Apa sebaiknya kita laporkan kepada Louktus Yang Mulia.?" Kata salah satu Jendral.
"Paradicone sudah lemah. Mungkin mereka mengumpulkan kekuatan untuk melawan Louktus." Kata salah satu jendral yang lain.
"Yang Mulia. Apa Anda bisa menjelaskan semuanya.?" Kata salah satu bangsawan.
"Hmm. Apa kalian siap berperang dengan Paradicone.? Bahkan jika militer Louktus datang kesini, pertempuran mereka akan berdampak pada kerajaan ini." Kata Briken dengan tegas.
"Aa, aah. Ituu." Kata bangsawan itu dengan terkejut.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan Yang Mulia.?" Kata menteri kerajaan.
"Aku sudah membaca dokumen yang di berikan Dewi. Mereka benar-benar serius akan mengambil kerajaan ini. Tapi, tawaran ini sangat besar." Kata Raja Briken dengan gemetar.
"Apa itu Yang Mulia. Kita harus tau tentang itu. Keputusan ini harus di selesaikan bersama." Kata salah satu bangsawan.
"Ekm. Baiklah. Pertama, Paradicone akan memberikan jaminan keamanan dari Louktus. Kedua, mereka akan memberikan bantuan dana sebesar 100 miliyar Pon. Ketiga, mereka akan membeli semua hasil perkebunan kita setiap bulan. Keempat, mereka akan memberikan pendidikan bagi semua orang. Kelima, mereka akan memberikan fasilitas militer, bahkan sistem pelatihannya juga. Keenam, mereka memberikan jaminan Ekonomi untuk kemakmuran kerajaan. dan terakhir. Ketuju, mereka tidak mengambil pajak rakyat." Kata Raja Briken sambil membaca dokumen dari Rachel.
Semua orang hanya terkejut dan tercengang sambil menelan ludah. Tawaran itu tidak akan pernah di berikan oleh Louktus. Bahkan selama kerajaan itu pertama kali didirikan.
Itu adalah tawaran besar. Mereka bisa menghindari peperangan, dan bisa mendapatkan kemakmuran.
"Apa kalian masih ingin berperang dengan mereka.?" Tanya Raja Briken dengan serius.
"Ituu, ituu tawaran yang terlalu besar Yang Mulia." Kata salah satu bangsawan dengan tercengang.
"Kita akan memutuskannya sekarang juga." Kata Briken dengan tegas.
.....
[Castle Taman Surga]
Rachel sudah kembali ke Castle. Namun ia sendirian disana.
"Leoon, aku sudah selesai. Tinggal menunggu jawaban dari mereka. Apa kau masih di kerajaan Porsa.?" Kata Rachel dengan sedih yang di tinggal Leon sendirian di Castle.
"Bahkan hanya beberapa detik saja, aku sudah tidak kuat. Aku akan menyusulnya sekarang." Kata Rachel dengan sedih.
Rachel pun menyusul Leon. Ia melacak aura sihirnya yang sedang berada di benteng selatan.
.
__ADS_1
.