
[Ruangan Direktur, Akademi Rousen]
Mereka berempat pun keluar dari ruang dimensi yang dibuat oleh Rachel.
"Aku masih tidak percaya dengan kekuatan ini." Kata Kibo yang melihat tangannya gemetar.
"Aku juga juga tidak percaya Kibo." Kata Aries yang melihat tangannya gemetar di samping Kibo.
"Apa benar, kau sudah merasa baikan sekarang Leon. Aku sangat khawatir." Kata Rachel penuh perhatian kepada Leon.
"Ah, aku tidak apa-apa Rachel, kau tidak perlu khawatir lagi denganku, aku tidak akan menghilang lagi. Sekarang aku sudah tau cara kerja kekuatan ini. Aku sangat senang sekali. Ahahaha." Kata Leon yang tertawa dengan gembira.
Lalu, tiba-tiba Rachel mencium Leon sambil memeluknya. Leon sangat terkejut dan sangat malu.
"Kau jangan melihat ke belakang Kibo." Kata Aries sambil berbisik-bisik kepada Kibo.
"Ya aku sudah tau itu Aries." Kata Kibo yang berbisik kepada Aries.
Lalu, ciuman Rachel pun di lepas dari bibir Leon.
"Maaf Leon, aku hanya sangat senang. Aku sendiri tidak tau, perasaan ini sangat ingin melakukan itu." Kata Rachel dengan malu-malu sambil tersenyum.
"Eehh. Aku sangat terkejut Rachel." Kata Leon yang masih terkejut.
"Aku hanya membalas ciuman yang waktu itu saja." Kata Rachel yang sangat bahagia.
"Eeehh. Eeeh" Kata Leon yang celingak celinguk melihat Rachel dan Aries.
"Jangan melihat ke belakang dulu Kibo". Kata Aries yang berbisik -bisik.
" Aaah, baiklah. Aku sangat senang sekarang Rachel. Semua itu berkat kamu. Aku benar-benar sangat gembira sekarang. Hahaha." Kata Leon yang tertawa sambil mengelus kepala Rachel.
"Lalu, Kalian semua. Aku sudah berjanji kepada kalian untuk mengajari kalian cara mengisi energi ke dalam tubuh kalian, tapi itu akan kita lakukan di kubangan air putih." Kata Leon yang serius.
"AAH, baik Tuan Leon." Kata Aries dan Kibo secara kompak.
"Lalu, aku meminta kepada kalian. Jika kalian sudah tau cara itu, jangan di ajarkan kepada orang lain. Aku hanya bisa percaya kepada kalian saja." Kata Leon dengan tersenyum.
"Rachel, apa kau bisa menyimpan Cristal merah itu dengan aman disana.? Aku juga akan memberikan energi pelindung untuk ruang dimensimu." Kata Leon kepada Rachel.
"Tentu saja. Aku akan melakukan apapun yang kau mau." Kata Rachel dengan sangat gembira.
Lalu, gerbang dimensi itu pun perlahan-lahan turun dan menghilang dari pola sihir milik Rachel.
__ADS_1
"Lalu, apa yang kita lakukan sekarang.?" Tanya Leon kepada Rachel.
"Aku, aku hanya ingin bersamamu saja Leon." Kata Rachel dengan tersenyum sambil memeluk tangan Leon.
"Sepertinya kita harus membalikkan badan Kibo." Kata Aries yang berbisik kepada Kibo.
"Aaah, sepertinya begitu." Kata Kibo yang berbisik kepada Aries.
"Huh, baiklah, kita panggil saja Rewin kesini, aku ingin melihat laporan dari Akademi ini." Kata Rachel.
"Hoo, baiklah." Kata Leon sambil berjalan ke arah sofa, dan ia pun duduk disana.
....
Di luar Ruangan Direktur. Terlihat Rewin dan Lisa celingak-celinguk melihat ke kanan dan ke kiri.
"Kenapa aku tidak bisa merasakan kehadiran Dewi Tuan Rewin. Apa mereka masih ada di dalam ruangan rahasia.?" Kata Lisa yang penasaran.
"Sepertinya begitu. Tugas kita saat ini adalah menjaga pintu ini agar tidak ada orang yang mendekat." Kata Rewin dengan sangat serius.
Lalu, pintu Ruangan Direktur pun terbuka dengan sendirinya.
"Ah, Lisa pintunya sudah terbuka. Apa ada penyusup." Kata Rewin yang sangat panik.
"Hoee, hentikan sikapmu itu. Masuk lah Rewin, dan Nona yang itu." Kata Aries dengan tangan yang memegang pinggangnya.
Rewin pun mengangkat dan melihat wajah cantik sang Dewi yang tidak di selimuti Cahaya putih, itu sangat jelas sekali wajah dari sang Dewi.
"Sepertinya aku sedang jatuh cinta." Kata Rewin yang tercengang melihat wajah Rachel.
"Hentikan itu Rewin." Kata Aries dengan kesal.
"Maafkan aku Dewi." Kata Rewin kepada Ariesdengan ketakutan sambil bersujud.
Lalu Leon hanya duduk di sofa sebelah pintu, yang tidak terlihat oleh orang yang berada di luar. Leon sedang melihat tangannya dan melamun.
"Kekuatan ini, aku sepenuhnya mengerti cara kerjanya.." Kata Leon dalam hati.
Lalu Rewin dan Lisa pun masuk kedalam ruangan. Dan pintu ruangan Direktu pun tertutup dengan sendirinya.
Lisa masih belum menyadari keberadaan Leon yang ada di belakangnya. "Kenapa aku tidak melihat si tampan itu disini. Kemana perginya dia.?" Tanya Lisa dalam hati.
"Rewin, berikan aku laporan tahunan Akademi ini." Perintah Rachel kepada Rewin
__ADS_1
"Siap laksanakan Dewi." Kata Rewin. Lalu, dokumen-dokumen keluar dari udara di depan Rewin. Dam Rachel pun mendekat untuk mengambil dokumen itu.
"Aaah, tolong jangan mendekat Dewi. Meskipun Dewi tidak mengunakan aura kekuatannya, tapi Aura kecantikannya masih bersinar. Dan bau ini, aaah, sangat harum sekali." Kata Rewin dalam hati dengan tersenyum, dan wajahnya memerah. Namun ia menahan agar tidak pinsan.
Rachel pun mengambil dokumen itu dan pergi ke meja Direktur.
"Apa ini Rewin.? Kenapa laporan keuangannya tidak jelas seperti ini. Lalu, jelaskan padaku, kenapa murid-murid yang mendaftar sangat sedikit.?" Kata Rachel sangat marah.
"Maaf Dewi. Laporan keuangan itu sudah benar. Kami membangun sebuah gedung bertingkat untuk tempat olahraga para murid, dan bangunan untuk berlatih ilmu sihir." Kata Rewin dengan ketakutan dan gugup dan menundukkan kepalanya, seakan ia tidak berani melihat wajah sang Dewi.
Leon yang sedang melamun, tiba-tiba melihat ke arah Rewin. "Ruangan latihan untuk ilmu sihir.?" Kata Leon dalam hati.
"Lalu, untuk pendaftaran penerimaan murid baru, kami sudah menyeleksinya Dewi. Banyak calon murid yang tidak bisa membayar administrasi." Kata Rewin dengan ketakutan.
"Hoo, Karena uang ya. Yasudah kalau begitu.?" Kata Rachel dengan santai. ia memaafkan Rewin karena para murid tidak punya uang. Bagi Rachel mereka memang tidak pantas.
"HEEEE". Suara Leon yang Terkejut sampai tubuhnya oleng.
"Ha, suara ini, suara idaman. Tuan Leon ada di belakangku." Kata Lisa dengan wajah memerah penuh dengan gairah.
"Ada apa Leon. Apa ada masalah.?" Kata Rachel yang langsung berdiri dengan panik.
"Oe Rachel, kenapa kau menekan mereka yang ingin belajar." Kata Leon dengan serius sambil berjalan ke arah Rewin.
"Aa, aaah, itu. Leon. Ituu." Kata Rachel yang sangat gugup. Ia lupa kalau Leon tidak suka dengan cara memperlakukan orang seperti itu. Yang artinya, Leon tidak suka penindasan.
"Tuan Leon, dia ada disini. Apa dia sedang memarahi sang Dewi. Kau orang yang sangat mengagumkan Tuan Leon." Kata Rewin dalam hati dengan wajah yang terkagum-kagum.
"Hah, hah, hah, hah,". Suara Lisa yang terengah-engah penuh dengan gairah nafsu. "Aku sudah tidak kuat, aku ingin melepaskan bajuku disini. Kau memang sangat tampan Tuan Leon, dan kau sedang memarahi sang Dewi. Aku, aku sepertinya akan pinsan lagi." Kata Lisa dalam hati sambil menahan hawa nafsunya.
"Kibo lakukan." Kata Aries dengan menyilangkan tangannya.
"aah, aku tau." Kata Kibo yang berjalan kearah Lisa. Dan ia menekan jiwa Lisa. Lalu menenangkan hatinya dengan sihir.
Lalu, lisa pun mulai tenang. "aah, sihir apa ini.? sepertinya aku sudah baikan sekarang. Kenapa aku sangat lancang disini. Sadarlah Lisa. Aku harus menahannya." Kata Lisa dalam hati yang sudah tenang karena sihir Kibo.
Leon pun berdiri di depan Rewin. "Angkat kepalamu Rewin." Kata Leon dengan santai sambil duduk di depannya.
"Dan kau nona dengan tubuh montok. Kenapa kau terengah-engah begitu.?" Kata Leon yang sedikit kesal, tapi ia sebenarnya menyukai dadanya Lisa. Namun di sana ada Rachel.
"LEOOOON." Teriak Rachel yang marah. " Ehehe, tananglah Rachel aku hanya berbicara dengan mereka." kata Leon yang mulai ketakutan.
"Huh, baiklah, jaga ucapanmu itu didepanku, dan jangan melihat kearah sana." Kata Rachel dengan marah sambil menunjuk dada Lisa. Sebenarnya dada Rachel seukuran sama dengan Lisa. Namun Rachel tidak suka mengumbarnya.
__ADS_1
.
.