
[Akademi Rousen]
Terlihat Rewin sedang berlatih menggunakan kekuatan barunya. Ia benar-banar tidak percaya, kalau dia sendiri bisa memanipulasi alam.
"Kekuatan ini, benar-benar sangat menakjubkan. Aku harus berlatih lebih giat, agar aku bisa melatih Lily. Tuan Leon sudah berpesan padaku." Kata Rewin yang sedang berlatih sendirian di ruang pribadinya.
...
Lalu, Lisa yang masih terbaring lemas, masih terengah-engah memikirkan Leon.
"Heh, heh, Sepertinya aku akan mati disini. Aaaaah, Tuan Leon. Aku jatuh cinta padamu. Bahkan hanya memikirkannya saja, seluruh badanku terasa panas. AAAAAAAHHHHHiii." Kata Lisa yang sedang menikmatinya sambil membayangkan Leon. Dia sudah mengeluarkan air dari tubuhnya ke tiga kalinya hari ini.
....
Lalu, Lily yang sudah sadar. Mencoba menenangkan dirinya di kamarnya.
"Besok, aku akan belajar bersama Direktur Rewin. Hem hem hem (beryanyi). Apa kak Leon akan kesini memberikanku boneka.?" Kata Lily sambil mengambar.
....
[Castle Taman Surga]
Terlihat, Leon sedang di introgasi oleh Paradicone.
"Sudah aku bilang berapa kali, aku sudah membangkitkan anak-anak disana. Aku juga membantu Rewin meningkatkan kekuatannya." Kata Leon mulai frustasi lagi, karena mereka yang ada di sana, terus menanyakan pertanyaan yang sama.
"Apa kau sakit Leon.?" Kata Aries yang sebenarnya bingung.
"SUDAH KU BILANG BERAPA KALI. Huh, huh, huh." Teriakan Leon yang kesal.
"Bagaiman caramu membangkitkan mereka Leon.?" Tanya Rachel dengan serius.
"Aku sudah menjelaskannya pada kalian, aku menanamkan wadah untuk mereka. Lalu aku membesarkan Cristal merah milik Rewin." Kata Leon yang masih kesal.
"Apa itu bisa di lakukan Leon.?" Kata Kibo yang penasaran.
"Tentu saja bisa. Tapi, kenapa kalian bertanya yang jawabannya itu itu aja." Kata Leon yang kesal.
"Aku sudah menjelaskannya waktu kita masih di Ruang Dimensi milik Rachel. Dan aku sudah membuktikan pada kalian, bahkan Kibo sudah bisa mengeluarkan 5 naga. Lalu apa yang kalian bingungkan.?" Kata Leon dengan kesal.
"Memang teorimu itu sangat sulit di cerna Leon, aku sudah tidak bisa berfikir." Kata Aries yang menyandar di sofa.
"Aku juga tidak bisa berfikir sampai disana Leon. Mungkin hanya kamu yang bisa memahaminya." Kata Rachel yang berfikir keras.
"Memang benar, teori ini tidak masuk akal untuk kalian. Karena kalian sudah mempelajari sihir ribuan tahun, dan sudah melekat di otak kalian. Lalu aku datang dan membawa teori baru. Itu memang sangat sulit di percaya, meskipun aku mempunyai bukti." Kata Leon dengan serius.
"Mungkin kau benar Leon. Aku percaya dengan yang kau katakan, cuma aku tidak bisa mencernanya, itu terlalu sulit." Kata Rachel kepada Leon sambil berfikir.
"Emm, sudahlah. Mungkin sebaiknya teori ini tidak di publikasikan. Bisa terjadi peperangan jika seseorang mengetahui cara kerja kekuatan ini." Kata Leon dengan serius, sambil melihat tangannya.
....
__ADS_1
"Rachel, aku mau ke ibu kota. Aku mau membeli sesuatu untuk anak-anak di Akademi. Apa kau tau tempatnya.?" Tanya Leon kepada Rachel
"Apa kau mengajakku kencan Leon.?" Tanya Rachel dengan sangat senang, sambil berkaca-kaca.
"Ah bukan itu maksudku, aku hanya ingin kau menunjukkan jalan." Kata Leon yang tidak peka.
"HAA, BODOH." Teriak Aries sambil menarik Leon menjauh dari Rachel.
"Bilang kau kencan bodoh. Kau akan menyakiti Rachel. Dan...." kata Aries dengan berbisik. "Hoo, hoo, Emm". Suara Leon mencoba memahami perkataan Aries.
"Ehehehe. Iya Rachel. Apa kau mau menemaniku pergi kesana. Jika kau mau, kita akan kencan. Hehe.?" Kata Leon yang sebenarnya bingung.
"Haaaa, Benarkah Leon. Aku sangat senang mendengarnya." Kata Rachel sambil mendekat ke Leon.
"Tentu saja. Setelah ini kita akan pergi kesana. Apa kalian ikut Aries, Kibo.?" Kata Leon yang tersenyum bingung.
"BODOOH. Sini kau." Teriak Aries sambil menarik Leon
"Kau harusnya bilang cuma berdua." Kata Aries Berbisik. "Apaaa.?. Apa kalian tidak mau ikut." Kata Leon.
"Kau harus tau perasaannya Leon. Kencan itu cuma pergi berdua, seperti kekasih." Kata Aries yang berbisik. "Hoo." Suara Leon.
"Ehe, maksudku kau akan pergi kemana Aries dan Kibo.?" Kata Leon sambil kebingungan.
"Leoon, sepertinya kau tidak mau berkencan denganku." Kata Rachel yang sedih.
"Kau pergilah sendiri, aku akan disini." Kata Rachel yang sedih. Tapi sebenarnya ia hanya memancing emosi Leon.
"Waah, Benarkah.?" Kata Rachel yang tiba-tiba senang sambil memegang tangan Leon.
"Huuufh." Suara lega Aries.
.....
Malam pun tiba. Leon dan Rachel sedang pergi berkencang di ibu kota Majaren. Mereka berkeliling disana sambil bergandengan tangan. Namun, agar tidak menimbulkan keributan, mereka menyamar menjadi orang dewasa, seperti bapak dan ibu.
"Waah, kenapa rame sekali disini. Apa kau tau sesuatu Rachel.?" Tanya Leon yang penasaran.
"Ah, mereka sedang menunggu bintang jatuh Leon, aku lupa memberitahumu, kalau hari ini adalah festival bintang jatuh." Kata Rachel sambil mengandeng tangan Leon.
"Bintang jatuh?, kenapa harus malam ini. Apa mereka tau kalau malam ini ada bintang jatuh.?" Tanya Leon sangat penasaran.
"Kita cari tempat di caffe itu Leon, sepertinya nyaman." Kata Rachel sambil menunjukkan tempat nongkrong.
"Baiklah, mari kita kesana." Kata Leon.
"Ah, tempatnya ruang terbuka. Cukup menarik konsepnya, bisa melihat langit dengan jelas." Kata Leon sambil memandangi bintang di langit.
"Disini cukup romantis Leon. Aku sangat suka." Kata Rachel sambil melihat sekelilingnya.
....
__ADS_1
"Lalu, kapan bintang itu akan jatuh.?" Tanya Leon kepada Rachel.
"Ah, Jadi ini cerita lama Leon. Saat kau menghilang di Castle Nasion. Tiba-tiba ada bintang jatuh di atas langit. Dan itu muncul setiap tahunnya. Mereka akan menunggu moment ini hanya untuk melihatnya, bisa di katakan, tahun ini adalah tahun baru. Mereka menghitung tahun dari arahnya bintang jatuh itu." Kata Rachel yang bercerita.
"Silahkan minumannya nyonya, Tuan." Kata Pelayan Caffee.
"Terimakasih." Kata Rachel kepada pelayan caffee.
"Apa kau pernah melihatnya Rachel.?" Tanya Leon yang penasaran.
"Setiap kali aku bangun 50 tahun, selalu bertepatan di hari festival bintang jatuh. Aku tidak pernah ketingalan melihatnya Leon, saat aku melihat bintang itu, perasaanku sangat lega. Aku jadi tenang, Jadi aku melihatnya di Castle sendirian." Kata Rachel dengan tersenyum sambil melihat Leon.
"Bintang jatuh yaa. Kenapa itu harus turun tiap tahun. Ini sangat aneh, siapa yang menjatuhkan bintang itu.? Jika memang terjadi setiap tahun, itu seperti dia mengelilingi bumi" Kata Leon dalam hati sambil melihat langit.
...
2 jam berlalu.
"Apa bintangnya belum jatuh Rachel.? Kita sudah menunggu lama disini." Tanya Leon yang bosan.
"Emm (cemberut). Kita tunggu disini dulu Leon, aku ingin melihatnya." Kata Rachel yang sedih sambil memegang tangan Leon.
"Haah, baiklah." Jawab Leon yang sudah bosan.
...
4 jam berlalu.
"Racheel, ini udah tengah malam. Kapan bintangnya akan jatuh. Semua orang juga sudah pergi. Mungkin bukan hari ini. Aku sudah mengantuk Racheel." Kata Leon yang sudah kesal.
"Leoon. Tunggulah sebentar." Kata Rachel yang gelisah sambil melihat ke atas langit.
...
7 jam berlalu.
"Fiuuuh, Fiiuuuh." Suara Leon yang tidur.
"Ini aneh, kenapa bintangnya belum jatuh, ini sudah hampir pagi, tidak mungkin bintang itu belum jatuh." Kata Rachel yang berfikir sambil melihat ke langit.
"HUAAAAHH." Suara Leon yang terkaget. "HAAAA" Suara Rachel kaget. "Ah, ternyata hanya mimpi. Fiuuuhh" Suara Leon yang lanjut tidur.
"KAU MENGAGETKANKU LEON." Teriak Rachel sambil memukul kepala Leon. "AAAAhh." Suara Leon.
"Eem, Aemm." Suara Leon habis bangun. "Bagaimana Rachel, apa bintangnya sudah jatuh, aku ketiduran tadi." Kata Leon yang masih mengantuk dengan wajahnya yang bengkak.
"Ini aneh Leon, sangat aneh." Kata Rachel yang sedih sambil melihat ke langit.
.
.
__ADS_1