Legenda Maharaja

Legenda Maharaja
Hormat Prajurit


__ADS_3

[Benteng Selatan]


Xerone melihat Vera menangis dengan mematung didepannya. Xerone sangat terkejut. Ia pun langsung memeluk Vera dengan erat.


"Vera, curahkan semuanya padaku. Menangislah." Kata Xerone dengan khawatir.


"Xerone. Aku. Huuhu. Huaaah." Kata Vera yang menangis di pelukan Xerone.


"Ah, aku tau Vera." Kata Xerone sambil memeluk Vera yang menangis.


....


Lalu, Beberapa menit kemudian. Vera sudah tenang dan berhenti menangis.


"Apa kau sudah tenang. Aku akan pergi kesana sekarang. Apa kau mau ikut.?" Tanya Xerone dengan tersenyum.


"Terimakasih Xerone." Kata Vera dengan tersenyum kepada Xerone.


"Tidak apa-apa Vera. Aku siap membantumu." Kata Xerone dengan tersenyum.


"Baiklah, aku akan ikut bersamamu kesana." Kata Vera dengan senang. Sepertinya ia mulai jatuh cinta kepada Xerone.


...


Mereka pun pergi kesana dengan berjalan.


"PANGLIMA PERANG DATAAANG." Teriakan ajudan komandan Cena.


"Ah, dia sudah datang kesini." Kata Cena sambil melihat Xerone dan Vera berjalan ke arah gundukan itu.


Ratusan ribu prajurit disana berbaris dengan rapi dan membuat jalan untuk Panglimanya.


"Panglima. Kami sudah menyelesaikan tugas." Kata Cena dengan tegas sambil hormat kepada Xerone.


"Ah, aku tau. Aku akan kesana sebentar Cena. Apa ada prajurit yang menindas mereka.?" Tanya Xerone sambil berjalan.


"Ha. Mereka tidak akan berani melakukannya Panglima." Kata Cena dengan tegas.


"Bagus. Suruh mereka semua membaca aturan di tatonya. Biar mereka tau, dan tidak mati karena sumpah ini." Kata Xerone dengan serius sambil berjalan.


.....


"HUAAAAH." HIKS HIKS" AYAAAH" HAAAHA". Suara tangisan para warga yang tidak peduli dengan ratusan ribu prajurit di depannya.


Xerone yang melihatnya sangat terpukul dengan kesedihan mereka. Dan Vera sangat terkejut melihat mereka.


"Semua Prajurit. Menyingkirlah dari makam ini. Kembalilah kedalam benteng. INI PERINTAAAH." Teriak Vera dengan kencang.


"HA. LAKSANAKAN PERINTAH PANGLIMA." Kata semua prajurit disana.


Lalu, Xerone dan Vera di temani para komandanya, masih berdiri disana.


"Itu panglima mereka." Kata salah satu warga disana.


"Tuan Tolong kami. Berikan kami ijin untuk kesana. Saya mohon Tuan. Hiks." Kata salah satu warga disana.


"Tolong saya tuan, saya sudah disini selama 1 minggu hanya ingin menjenguk ayah saya yang meninggal." Kata salah satu anak laki-laki kepada Xerone.

__ADS_1


"Haaa. Ini, kalian membuatku sedih." Kata Xerone dalam hati dengan sedih.


"Kalian semua diijinkan untuk menjenguk makam ini. Bahkan setiap hari. Kami sudah memakamkannya dengan layak seperti para pejuang. Silahkan." Kata Xerone dengan sedih.


"Huaaah Terimakasih Tuan, terimakasih." Kata salah satu warga disana sambil berlari ke makam.


Semua warga yang ada disana pun berlarian ke makam itu. Meskipun mereka tidak tau di mana jasad keluarganya, mereka hanya menghampiri salah satu dari makam yang sudah di bangun disana.


Lalu, Xerone dan Vera bersama para komandannya. Memberikan penghormatan militer kepada semua prajurit musuh.


.....


[Castle Taman Surga]


Leon sedang santai di sofa sambil membaca buku buatan Rachel dan mengaruk-ngaruk pantatnya.


"Apa ini, karya ini benar-benar bagus. Sistem dan sihir. Hmm kau hebat Rachel bisa membuat buku seperti ini. Meskipun isinya salah semua." Kata Leon dalam hati dengan wajah cemberut.


"Leon bisakah kau berhenti mengaruk pantatmu. Aku tidak nyaman dengan itu." Kata Rachel yang sedang duduk di depannya sambil makan cemilan.


"Eeeeh." Suara Leon terkejut sambil melihat pantatnya.


"Ahaha. Maaf Rachel ini sangat gatal. Hehe." Kata Leon dengan tersenyum.


"Leon, aku sedang menunggu." Kata Rachel dengan wajah memerah sambil memejamkan matanya.


"Eeh. Apa yang kau tunggu.?" Tanya Leon kebingungan.


"Kau kemarin sudah bilang dua kali padaku, kalau kau mau menciumku. Aku menagihnya sekarang." Kata Rachel dengan kesal sambil memejamkan mata.


"Aku sudah menunggu Leon. Aku sudah menunggu disini." Kata Rachel dengan kesal dan wajahnya memerah.


"Eeeeeee." Suara terkejut Leon.


"Kau lama sekali Leon. Aku akan kesana." Kata Rachel sambil berdiri dan berjalan kearah Leon.


"Ee, eeeh. Jangan Racheel. Jangan." Kata Leon yang menolak ciuman Rachel.


Tapi Rachel tidak perduli dengan itu. Ia langsung duduk di atas Leon. Dan menciumnya penuh gairah.


"Ekkk, emm. Akkm."Suara Leon yang terkejut.


Beberapa menit kemudian. Rachel melepaskanya. "Heeh, heh, Ini baru satu kali Leon. Aku akan melakukan yang kedua setelah ini." Kata Rachel dengan wajah memerah penuh gairah sambil terengah-engah.


"Lagii.? AAAAA. Tu, Tunggu Rachel. Biasakah kau menyingkirkan pantatmu dari sini. Ini membuatku merasa aneh." Kata Leon dengan wajah memerah.


"Ah, aku juga merasa aneh Leon. Apa ini lebih baik." Kata Rachel sambil mengoyangkan pantatnya.


"AAAAAAAAHHHH." Suara terikan Leon.


.....


Beberapa menit kemudian.


"Ee, eeeh, eeek." Suara Leon yang mau pinsan terbaring di lantai. Dan Rachel terbaring di sofa.


"HAAA. Apa yang kau lakukan Racheeel.?" Teriakan Leon sambil berdiri dengan marah.

__ADS_1


"Hehe, kau menikmatinya Leon. Bahkan kau kencing di celanamu hehehe." Kata Rachel dengan wajah memerah sambil melihat celananya Leon yang basah.


"Aa, aa, apa. HEEEEE." Teriakan Leon sambil melihat celananya yang basah. Lalu ia melihat Rachel yang terbaring di sofa.


"Ka, kau juga kecing disana Racheeeel." Kata Leon dengan wajah memerah sambil gemetar.


"Ah, benarkah. Aku sangat menikmatinya Leon. Ayo kita lakukan lebih serius lagi." Kata Rachel yang berdiri sambil melepaskan kempasnya. Dan ia langsung mendorong Leon sampai terjatuh. Lalu, Rachel membuka celana Leon sampai keluar itunya. Dan ia langsung menumpanginya. Lalu, Rachel mengoyangkan pantatnya penuh gairah.


"AAAAAAAAAAAAAAA." Teriakan Terkejut Leon yang terbangun dari tidurnya di atas sofa sambil memegang buku.


"Aa, aah. Haaaaaah (menghela nafas). Ternyata hanya mimpi." Lalu ia pun duduk dan melihat celananya.


"Haah(menghela nafas). Ternyata tidak basah. Ini benar-benar mimpi buruk." Kata Leon sambil meneteskan air liurnya dan wajahnya memerah.


"aaaah. Tidak tidak. Apa yang aku pikirkan." Kata Leon sambil mengelengkan kepalanya.


"haah, mungkin aku hanya kelelahan. Kenapa aku harus mimpi seperti itu. Hmm." Kata Leon sambil melihat keluar jendela.


.....


Didapur. Terlihat Rachel sedang memasak makanan untuk Leon. Lalu, Aries dan Kibo sedang duduk di meja makan sambil makan cemilan.


"Kapan para Jendralmu itu datang kamari Kibo.?" Tanya Aries dengan serius.


"Mungkin beberapa hari lagi. Kita juga ada tugas untuk pergi ke wilayah utara besok." Kata Kibo sambil memakan cemilan.


"Emm, semoga di sana tidak terjadi apa-apa." Kata Aries yang kesal.


"Kau harus melakukannya Aries. Jangan buat Leon marah lagi." Kata Rachel sambil memasak.


"Ah, aku tau Rachel." Kata Aries yang merasa lemas.


Lalu, Leon pun datang ke dapur sambil menguap habis tidur.


"Ah, Leon, kau sudah bangun. Kau tertidur pulas di sana, aku tidak berani membangunkanmu, kau terlihat sangat lelah." Kata Rachel dengan tersenyum sambil melihat kearah Leon.


"HAAAA. Racheeel." Kata Leon yang terkejut melihat tubuh Rachel. Ia mengingat mimpinya dengan muka yang memerah.


"Aaah. Kau kenapa Leon.? Apa ada yang aneh dengan tubuhku. Kenapa kau melihatnya seperti itu.?" Kata Rachel dengan kebingungan.


"Ah, apa kau sudah mulai tertarik Leon. Hahahaha." Kata Aries dengan tertawa.


"Aa, aah. Tidak tidak. Kenapa aku jadi seperti ini. Haah," Kata Leon dalam hati dengan tercengang melihat tubuh Rachel.


"Aah. Tidak apa-apa Rachel. sepertinya aku kelelahan." Kata Leon sambil duduk di meja makan.


"Emm. Kau terlihat aneh Leon. Tunggulah sebentar, aku akan menyiapkan makananmu." Kata Rachel yang melihat Leon aneh sambil memasak.


"Hiiii. Apa yang ada di pikiranku sekarang. Aku tidak bisa berfikir. Kenapa ini, aah apa otakku sedang rusak. Kenapa hanya ada Rachel disini." Kata Leon dalam hati sambil tercengang melihat piring didepannya.


"Apa kau tidak apa-apa Leon.?" Tanya Kibo yang khawatir.


"HAAAAAAAAAA." Teriakan Leon yang frustasi.


.


.

__ADS_1


__ADS_2