
[Istana Kerajaan Majaren]
Terlihat, Leon dan Rachel sedang menghadap Raja James dan para Jendralnya. Leon ingin membahas sesuatu yang sangat penting.
"Tu, Tuan Leon, Ada perlu apa Anda kemari.?" Tanya James dengan sangat terkejut.
"Haah, apa kau tau James, kalau kerajaanmu sedang dalam bahaya.?" Tanya Leon kembali kepada James.
"Ah, Apa Maksudnya Tuan.?" Kata James yang kebingungan.
"Aku akan memberitahumu. Pasukan kerajaan Pantiko dan Properose sedang berperang di perbatasan dengan Louktus. Mungkin mereka sekarang berjuang antara hidup dan mati. Aku mengirimkan bantuan prajurit di sana, hanya untuk menjaga wilayah James. Bukan untuk berperang. Apa kau sudah tau James.?" Kata Leon dengan serius.
"Haaa." Suara terkejut James dalam hati.
"Aa, aah. Maaf Tuan, saya tidak tau. Aku akan mengirimkan pasukan kesana segera." Kata James yang panik. Dan ia sangat ketakutan.
"Itu tidak perlu Yang Mulia, aku memanggil para Jendralmu ke istana, karena urusan lain." Kata Leon dengan serius.
"Ah, Ada urusan apa Tuan?" Tanya james yang gugup.
"Aku mendapatkan laporan dari Kevin. Pembangunan desa di lakukan dengan lancar. Meskipun masih beberapa minggu, tapi sudah terlihat hasilnya. Tapi kau tau James. Aku sebenarnya sangat kesal." Kata Leon dengan serius.
"Ad, Ada apa Tuan.?" Kata James yang mulai ketakutan.
"Pasukan kerajaan, yang seharusnya membantu para penduduk desa. justru menindas warga disana. Jendral, apa kau tau tentang itu.?" Tanya Leon dengan tatapan tajam.
"Aa, aah. Tu, Tuan. Aku tidak tau tentang itu." Kata salah Jendral disana. Tapi sebenarnya ia tau, kalau ada beberapa prajurit dan komandan yang menindas warga desa.
"Aku sangat kesal mendengarnya. Apa kau bisa menyelesaikannya Jendral. Aku ingin prajuritmu itu bersikap ramah kepada para penduduk. Apa kalian masih belum cukup dengan makanan yang sudah disediakan.? Atau tempat Camp yang berdiri sangat nyaman.?" Kata Leon dengan serius.
Mereka yang ada disana hanya terdiam tak bicara apapun. Tubuh mereka mulai gemetar, mereka sangat ketakutan.
"Apa kau tau Jendral. Bagaimana rakyatmu hidup selama ini.? Apa kalian bisa merasakan penderitaan mereka. Bahkan sampai saat ini, kalian masih menindas rakyatmu sendiri. Mereka hanya butuh makan, dan tempat tinggal yang layak." Kata Leon dengan tegas.
"Ah, ma, maaf Tuan. Aku akan membereskan ini semua." kata salah satu Jendral disana.
"Aku harap kalian tidak mengecewakanku. Jika ini terjadi lagi, aku akan meninggalkan tempat ini, aku tidak peduli dengan serangan Louktus yang sekarang terjadi. Aku duduk disini, hanya ingin membantu kalian semua. Jadi mojon kerja samanya." Kata Leon dengan serius.
Semua orang hanya terkejut mendengarnya, bahkan mungkin ada yang terkena serangan jantung.
"Tu, Tuan Leon. Aku akan menyelesaikan ini sekarang juga. Jadi anda tidak perlu khawatir." Kata James dengan gugup.
"Aku akan memberimu sesuatu Yang Mulia, dan semua para jendral." Kata Leon dengan serius.
"Apa itu Tuan.?" Tanya James dengan penasaran
__ADS_1
"Rachel, tolong berikan itu pada mereka." Kata Leon dengan tegas.
"Baiklah. Aku akan memberikan beberapa dokumen kepada kalian." Kata Rachel dengan santai. Lalu, dokumen-dokumen itu muncul didepan mereka semua lewat udara.
"Aa, aah, Apa ini.?" Kata James dengan penasaran.
"Baiklah semua, itu adalah data yang aku buat. Semua laporan ada disitu. Pembangunan, peperangan, semuanya. Aku tidak menekan kalian untuk turun ke medan perang, tapi hapus program penanaman sihir kepada orang-orang." Kata Leon dengan serius.
"Aah, Tuan, jika itu di lakukan, kita akan kekurangan prajurit Tuan." Kata James yang sangat panik.
"Ah, kau tidak tau apa-apa James. Jika kau menanam sihir kepada orang yang tidak terbangkitkan, sama saja kau membunuhnya secara perlahan. Kau melakukan itu hanya untuk kekuasaan, tapi kau tidak sadar, kau telah membunuh rakyatmu sendiri." Kata Leon dengan kesal.
"Aa, aah." Suara James yang terkejut.
"Aku sudah menulis beberapa program militer. Kau bisa mengembangkannya. Jika ada seseorang yang tidak terbangkitkan, mereka masih bisa bergabung ke dalam militer. Mereka akan berguna di bagian administrasi. Jangan anggap mereka adalah sampah James. Energi sihir tidak semudah yang kau pikirkan. Aku sudah menyuruh Rewin untuk tidak menanamkan energi sihir pada siapun. Karena itu sangat berbahaya. Jika kau tidak percaya, bacalah bukti-bukti yang sudah ada. Apa kau mengerti James." Kata Leon dengan serius.
"Ha, haa, Hamba mengerti Tuan. Aku akan mempelajari dokumen yang Anda buat." Kata James dengan ketakutan.
"Baiklah James, aku akan undur diri. Semua permasalahan kerajaan ini, ada di buku itu. Semoga kalian paham maksudnya." Kata Leon dengan tegas.
"HA, SIAP LAKSANAKAN TUAN LEON DAN DEWI." Kata semua orang yang ada di sana sambil berlutut dan menundukkan kepala.
Leon dan Rachel pun kembali ke Castle Taman Surga.
....
Ekspesi mereka semua hanya panik dan ketakutan.
"Aku tidak percaya ini, Kekuatan Louktus, kita sekarang sedang di kepung. Lalu pembangunan dan juga sekolah militer. Isinya benar-benar mengejutkanku. Bahkan aku sendiri seorang Raja, tidak tau dengan hal ini, apa yang sudah aku lakukan." Kata James dengan raut wajah yang panik.
"Aa, aaaaah, Hoook." Suara salah satu Jendral yang tiba-tiba pinsan setelah membaca dokumen itu.
"Aku harus melakukan yang terbaik. Tuan Leon sudah membantu kita sejauh ini. Aku tidak akan mengecewakannya." Kata James dalam hati.
"Semua para Jendral, tangkap prajurit yang menindas penduduk desa sekarang. Jangan sisahkan mereka yang merugikan kerajaan. Lalu, Ares, awasi para Jendral-Jendral ini. Jangan segan-segan membunuh mereka yang tidak patuh dengan adab dan aturan." Kata Raja James dengan tatapan yang tajam.
"HA. LAKSANAKAN PERINTAH YANG MULIA." Kata semua Jendral dan Ares secara bersamaan.
.....
[Castle Taman Surga]
Terlihat Leon yang kesal sambil tiduran di sofa. Ia memikirkan Raja Majaren.
"Kenapa dia sampai tidak tau dengan hal semacam ini. Dia benar-benar bodoh. Kenapa orang bodoh sekarang bisa jadi Raja. Aaaaaah." Kata Leon yang masih kesal.
__ADS_1
"Kau tidak boleh begitu Leon. Kita semua juga tidak tau. Yang tau hanya kamu seorang." Kata Rachel sambil membawakan cemilan untuk Leon.
"Ah, Rachel. Apa kau masih punya makanan yang enak itu. Aku sangat ingin memakannya sekarang." Kata Leon yang merayu Rachel.
"Tentu saja aku punya, tapi itu harus di goreng dulu Leon. Apa kau mau menemaniku.?" Kata Rachel dengan tersenyum.
"Baiklah." Kata Leon sambil berdiri.
.....
Beberapa menit setelahnya. Aries pun kembali ke Castle Taman Surga. Lalu di susul Kibo yang muncul di sampingnya.
"HAAA." Suara Aries yang tekejut. "Kau mengagetkanku Kibo." Kata Aries sambil memukul kepala Kibo.
"Aries, jangan berisik. Aku sangat gugup disini." Kata Kibo dengan gugup.
"Aah, aku tau. Pasti kau sudah melakukan sesuatu kan Kiboo.?" Kata Ariea dengan tersenyum sambil melihat wajah Kibo yang takut.
"Aa, akuu, aku tidak melakukan apapun." Kata Kibo yang tidak bisa berbohong.
"Kau pasti sudah berbohong kan Kibo. Mengakulah, apa kau membunuh mereka semua.?" Kata Aries yang memancing Kibo.
"Aa, Aries, kau jangan bicara sembarangan." Kata Kibo yang gugup sambil menoleh kanan kiri.
"Ah, aku benar kan.?" Kata Aries yang masih mengoda Kibo.
"Sebaiknya kita melapor dulu pada Leon." Kata Kibo dengan gugup. Sambil berjalan ke arah dapur.
.....
Didapur, terlihat Leon sedang menunggu masakan Rachel dengan bosan.
"Kau kenapa Leon, kau terlihat lemas. Apa kau sakit.?" Tanya Rachel yang perhatian.
"Ah, aku hanya memikirkan sesuatu Rachel." Kata Leon dengan santai.
"Apa yang kau pikirkan Leon.? " Tanya Rachel dengan khawatir.
"Bagaimana caranya Aries dan Kibo menyelesaikan tugas mereka.?" Tanya Leon dengan gelisah.
"Haaaa." Suara terkejut Rachel dalam hati.
"Aku sudah tau, mereka pasti membunuh mereka semua. Tapi tidak mungkin aku memberi tau Leon. Mereka bisa di bunuh." Kata Rachel dalam hati sambil memasak untuk Leon.
"Haaa, ini sangat gawat. Apa yang akan kalian jelaskan nanti." Kata Rachel dalam hati dengan panik.
__ADS_1
.
.