
[Istana Kerajaan Cimoren]
Semua orang yang menghadiri pesta di istana seketika terdiam melihat kedatangan Xerone dan lainnya.
"Aa, itu Panglima Gionova." Kata Raja Philip.
"Haaa.? Yang Mulia, auranya sangat mencekam disini." Kata Bangsawan yang bersama Raja.
"Ronald, Arnold, sambut mereka dengan sopan." Kata Raja Philip kepada kedua pangeran.
"Ayah, kenapa mereka harus disambut.?" Kata Ronald, anak pertama dari Philip. dia adalah Putra mahkota pewaris tahta.
"Kau baru saja datang ke istana, sebaiknya kau diam dan turuti perkataanku." Kata Raja Philip dengan tatapan yang tajam.
"Sebaiknua aku saja yang menyambutkan Ayah." Kata Arnold sambil berdiri dari kursinya.
"Haaah (mengehela nafas). Hanya seorang prajurit, kenapa kita harus menghormatinya." Kata Ronald yang songong.
"Diam kamu Ronald, kau tidak tau apapun masalah kerajaan. Sebaiknya aku sendiri yang kesana." Kata Raja Philip sambil berdiri dari kursi singgahsananya dan berjalan menghampiri Xerone.
"Ayah, ayah, kenapa kau melakukan itu, kau adalah seorang Raja. Tidak perlu menyambut seorang prajurit." Kata Ronald.
"Apa kau tidak mendengarkan obrolan ayah kakak.? Mereka bukanlah prajurit biasa." Kata Arnold yang yang mulai berjalan mengikuti Raja.
"Haaaah. Kehormatanku bisa hancur disini." Kata Ronald sambil berjalan mengikuti Raja.
.....
Disisi lain. Tempat Luciana dan lainnya berkumpul.
"Ah, Mereka sudah datang kesini." Kata Ernes yang melihat Xerone.
"Apa dia laki-laki yang kau maksud Jendral.?" Tanya Wiliam.
"Bukan, dia adalah Panglima perang pasukan Gionova. Kau tau Wiliam, kekuatan sihirnya sudah di puncak Awakening Gaia." Kata Ernes sambil berjalan menghampiri Xerone.
"Apaaaa. Awakening Gaia.? Glegg, tidak mungkin ada orang seperti itu." Kata Wiliam dengan tercengang.
"Aku akan pergi kesana Wiliam." Kata Luciana sambil berjalan kearah Xerone.
"Aaah. Ini sangat menakutkan." Kata Wiliam yang tercengang sambil melihat Luciana yang berjalan menghampiri Xerone.
.....
Ditempat Xerone berdiri.
"Panglima, sepertinya mereka akan menyambut kita." Kata Cena.
"Aku tau Cena. Perintah tetaplah perintah. Kita diperintahkan untuk datang kepesta ini, sudah pasti kita harus menikmatinya." Kata Xerone dengan tersenyum.
"SELAMAT DATANG PANGLIMA." Kata semua orang disana sambil menundukkan kepalanya.
Orang-orang yang tidak tau dengan identitas Xerone, sangat terkejut melihat Raja bersama semua Jendralnya menundukkan kepalanya.
"Siapa mereka sebenarnya.?" Kata salah satu bangsawan disana.
"Sebaiknya kita ikuti sikap Raja." Kata salah satu bangsawan yang lain.
__ADS_1
Mereka semua yang menghadiri pesta, langsung memberikan salam dan menundukkan kepalanya kepada Xerone.
"Hem. Baiklah Yang Mulia. Sebaiknya kita berbicara sambil makan disana." Kata Xerone kepada Raja Philip.
"Ah. Silahkan Panglima." Kata Raja Philip.
Dan Ronald yang ada disana tidak terima dengan sikap seperti itu.
"Aku tidak terima dengan semua ini, hanya seorang prajurit kenapa aku harus menundukkan kepala padanya." Kata Ronald dalam hati. Lalu ia mengangkat kepalanya dan menatap dengan tajam kearah Xerone.
"Emm.?" Suara Xerone yang melihat Ronald sangat kesal.
"Prajurit, kau tidak pantas datang ke sini. Sebaiknya kau pergi dari sini sebelum pasukan kerajaan mengusir kalian." Kata Ronald dengan marah.
"RONAAAALD." Teriak Raja Philip dengan spontan.
"Ah, ada apa ayah.? Aku menyelamatkan kehormatanmu disini." Kata Ronald.
.....
"Dia sangat bodoh." Kata Ernes dalam hati.
"Sebaiknya kau sendiri yang pergi dari sini." Kata Raja Philip dengan marah.
"Haaa.? Kenapa aku yang harus pergi Ayah. Jelas-jelas mereka hanya seorang prajurit. Sedangkan disini dihadiri oleh para bangsawan dan petinggi kerajaan." Kata Ronald yang sombong.
"Kau, kau membuatku sangat marah Ronald." Kata Raja Philip dengan sangat marah.
"Heem. Mungkin sebaiknya kami pergi dari sini yang mulia. Sepertinya kita tidak diterima disini." Kata Xerone dengan santai.
"Panglima, tolong jangan dimasukkan hati, biar aku sendiri yang menghukum anak ini." Kata Raja Philip ketakutan.
"Sombong sekali kau prajurit, bahkan kau berani bilang seperti itu didepan Raja dan para Jendralnya." Kata Ronald dengan tersenyum sombong.
Lalu tiba-tiba. "AAAARRGH." Suara Ronald yang terkena tekanan jiwa dari Cena. BRUOK, suara Ronald yang terjatuh ke lantai, bahkan dia sampai mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Haa. Panglima, maafkan putraku. Saya mohon, saya akan menghukumnya nanti." Kata Raja Philip sambil berlutut didepan Xerone.
Sontak saja, semua orang yang melihatnya langsung ketakutan. Bahkan mereka semua tidak berani berbicara sepatah katapun.
"Arrg. Kekuatan itu sangat kuat, bahkan dia hanya menekanku beberapa detik saja bisa membuatku terjatuh dan mengeluarkan darah." Kata Ronald dalam hati dengan kesakitan sambil bertekuk lutut.
.....
"Cena berhentilah. Apa kau ingin mati disini.?" Kata Xerone dengan tegas.
"Panglima, aku hanya memberinya pelajaran, aku tidak menindas mereka." Kata Cena mulai panik.
"Yang mulia, sebaiknya sembuhkan putramu sekarang. Aku akan tetap berada disini." Kata Xerone sambil berjalan kearah meja makan.
"Terimakasih Panglima." Kata Raja Philip sambil mengangkat tubuh Ronald dan menjauh dari tempat itu.
Beberapa menit kemudian. Ronald duduk dilantai dan disembuhkan oleh Luciana di pingir ruangan.
"Kau sangat bodoh kakak." Kata Luciana kepada Ronald.
"Apa maksudmu.?" Tanya Ronald dengan terkejut.
__ADS_1
"Mereka semua adalah pasukan khusus yang dibentuk oleh Paradicone. Kau sendiri sudah tau, siapa Paradicone itu.?" Kata Luciana serius.
"Apaaaa. apa itu benar Luciana.?" Tanya Ronald yang mulai ketakutan.
"Hem, kau bertindak tanpa mengetahui identitasnya. Kau cukup berani kakak, untung saja nyawamu tidak melayang. Jika terjadi apa-apa dengan mereka disini, kerajaan ini bisa hancur dalam sekejap." Kata Luciana.
"Aku baru tau Luciana, ini sangat mengejutkanku. Kenapa aku begitu bodoh, bahkan kekuatanku yang sudah di tingkat Aji bintang 7 tidak sanggup menahan tenakan itu." Kata Ronald mulai ketakutan sambil melihat kearah Cena.
"Hem, kau tidak tau kakak. Panglima disana itu kekuatannya sudah di puncak Awakening Gaia, itu sangat jauh denganmu." Kata Luciana.
"Heee.? Tidak mungkin. Memang ada orang yang seperti itu.?" Kata Ronald dengan sangat ketakutan.
"Bahkan ibu menyuruhku untuk melayaninya, itu semua demi kerajaan ini kakak. Apa kau tau itu.?" Kata Luciana.
"Glegg. Kau benar Luciana, aku benar-benar sangat ceroboh. Aku akan meminta maaf setelah ini." Kata Ronald dengan tubuh gemetar.
Lalu, Ernes datang menghampiri mereka. "Pangeran, dengan sikapmu tadi, kau bisa menghancurkan kerajaan ini." Kata Ernes sambil berjalan menghampiri Ronald.
"Ernes. Aku sudah membuat Ayah ketakutan disana. Aku benar-benar tidak tau." Kata Ronald yang ketakutan.
"Sebaiknya kau menghampiri mereka dan berlututlah, lalu minta maaf kepadanya dengan tulus, sebelum semuanya terlambat." Kata Ernes.
"Ah. Aku akan melakukannya, tapi tubuhku masih gemetar ketakutan." Kata Ronald.
"Kau adalah seorang putra mahkota, dan kau sudah mengancam kerajaan ini. Kau harus menanggung semua perbuatanmu." Kata Ernes.
"Aku akan mengumpulkan keberanian dulu Ernes. Jadi tunggulah sebentar, aku pasti akan kesana." Kata Ronald dengan ketakutan.
"Aku bisa mengantarmu kakak. Kau tenang saja." Kata Luciana dengan tersenyum.
"Ah. Terimakasih Luciana." Saut Ronald.
.....
Ditenda Panglima. Terlihat Leon sedang berfikir keras sambil melihat peta kerajaan Neverley.
"Apa kau yakin Kibo, kalau Nine Core pasti ada disana.?" Tanya Leon dengan serius.
"Aku tidak bisa memastikannya Leon. Tapi kau sendiri yang bilang, kalau mereka tidak akan berhenti melawan meskipun mereka sudah kalah berkali-kali. Kenapa kau sekarang sangat ragu.?" Jawab Kibo.
"Aku tidak ragu Kibo. Hanya saja, mereka pasti membawa jutaan prajurit kesana. Belum lagi, pasukan dari kerajaan lain yang membantu mereka." Kata Leon sambil berfikir.
"Apa kau butuh tambahan pasukan lagi Leon.?" Tanya Kibo.
"Tidak perlu, pasukan garis depan sudah cukup untuk melawan mereka semua." Kata Leon.
"Lalu, apa yang kau bingungkan.?" Tanya Kibo lagi.
"Lihat ini Kibo. Jalur untuk menuju ke Neverley adalah pegunungan, dan sepertinya itu adalah tempat yang sangat luas. Mungkin lahan luas itu bisa menampung jutaan orang sekaligus." Kata Leon sambil menunjuk peta.
"Ah, mungkin mereka mencoba menahan kita disana." Kata Kibo.
"Kita bisa menerobosnya Kibo. Yang jadi masalah adalah, ada dua tempat seperti ini, jalur dari perbatasan Cimoren, dan jalur yang akan dilewati oleh Dion." Kata Leon sambil berfikir.
"Leon, ini sangat berbahaya." Kata Kibo mulai panik.
"Ini benar-benar berhaya Kibo. Aku sendiri tidak tau, para Nine Core itu akan pergi kemana. Jika pasukan Dion tidak di hadang oleh mereka, aku bisa sedikit lebih tenang." Kata Leon.
__ADS_1
.