Legenda Maharaja

Legenda Maharaja
Murid Yatim Piatu


__ADS_3

[Ruang Latihan]


Terlihat Leon yang sedang kesal kepada Direktur Akademi Rousen.


"Aku tidak habis pikir, bagaiman Rachel mengelola Akademi ini selama ribuan tahun." Kata Leon dalam hati dengan kesal.


"Aku akan mengatur semuanya dari awal pak tua. Sekolah prajurit bukan disini tempatnya. Mereka disini hanya belajar untuk masa depan mereka. Kau benar-benar bodoh." Kata Leon dengan Emosi.


Rewin tidak berani berbicara. Ia pun menelan ludahnya. Dan inspektur Groy pun gemetar sekujur tubuh, bahkan ia sampai mengompol di celana.


"Hmmm. sudahlah. Aku akan menyapa mereka." Kata Leon sambil berdiri. Lalu ia pun berjalan mendekati anak-anak itu.


"Haii anak-anak." Kata Leon dengan tersenyum sambil melambaikan tangan.


"Hooo, ada kakak-kakak tampan disini.". "Oee kalian. Lihat disana ada Direktur Rewin juga"." waah ada pak Direktur"." Halo pak Direktur. Salam Hormat dari kami". Kata-kata dari semua anak-anak disana.


Dan Leon hanya terkejut sambil tersenyum kesal.


"Eeeh, anak-anak. Aku penganti inspektur Groy yang ada disana. Apa kalian ingin berjabat tangan denganku.?" Kata Leon dengan tersenyum.


"Aah, kakak, apa itu benar. Inspektur Groy terus-terusan memaksa kita untuk mengeluarkan api dari tangan ini. Aku sangat kelelehan. Bahkan aku belum makan." Kata salah satu murid perempuan disana.


"APAAAA." Teriak Leon terkejut dan menoleh ke arah Rewin. Rewin dan Groy pun hanya menundukkan kepalanya.


"Kau akan mati setelah ini groy." Kata Rewin yang berbisik pada Groy.


"Aa, aa, aaku hanya melakukan tugasku Tuan Rewin". Kata Groy sangat ketakutan, sampai ia mengompol kedua kalinya.


"Aaah, Baiklah, kalian semua bisa istirahat disini. Bisakah kalian duduk di depanku.? dan berbaris dengan rapi." Kata Leon dengan tersenyum sambil ia mengambil posisi duduk dan melihat anak-anak sedang mencari tempat untuk duduk dan berbaris.


"ini mengingatkanku, saat aku mengajari Jeff. Aah, aku sangat rindu pada mereka semua." Kata Leon dalam hati dengan tersenyum


"Kami semua sudah duduk kakak. Eh Inspektur." kata salah satu murid perempuan disana.


"Siapa namamu, apa kamu ketua kelas disini.?" Tanya Leon. Anak itu pun langsung berdiri tegap seperti seorang prajurit.


"Namaku Lily Inspektur, dan aku ketua kelas disini. Salam kenal". Kata anak perempuan berusia 8 tahun bernama Lily.


"Aah, baik Lily. Namaku Leon, salam kenal. Dan kalian semua panggil saja aku kakak Leon, jangan panggil aku inspektur." Kata Leon.


"Siap kakak Leon". Teriak semua anak-anak disana dengan kompak.


....

__ADS_1


Di ruang tertutup. Aries membuat layar sihir penglihatan di depan tembok. Mereka semua melihat Leon sedang berbicara dan tertawa dengan para murid disana. Leon terlihat senang dan gembira.


"Aku tidak bisa memaafkanmu Rewiiin." Kata Rachel yang emosi.


"Ini adalah Akademi yang kau bangun Rachel. Semua aturan kau sendiri yang membuat. Kenapa kau marah kepada Rewin.?" Kata Aries dengan santai.


"Aah, aku lupa dengan itu". Seketika emosi Rachel berhenti. "Tapi James yang meminta Rewin untuk membentuk pasukan dari anak-anak itu. Aku tidak tau akan hal itu Aries. Leon pasti marah disana". Kata Rachel sambil melihat Leon


"Kau tertidur puluhan tahun Rachel, kau juga tidak tau, apa yang sudah terjadi pada Kerajaan ini. Pasti itu dilakukan untuk melindungi wilayah kerajaan." Kata Aries kepada Rachel.


"Aku yakin, setelah Leon pergi dari sini, ia langsung menuju ke istana. Hahahaha" Kata Aries sambil tertawa.


"Kita hanya mengikuti perintahnya saja Aries." Kata Kibo dengan santai.


"Rachel, mungkin ini waktu yang tepat. Aku ingin membicarakan ini padamu." Kata Aries dengan serius kepada Rachel.


"Ada apa Aries.? Kenapa kau sangat serius." Kata Rachel yang sangat penasaran.


"Kibo." Kata Aries dengan melihat Kibo.


"Saat aku membebaskan Nine Core kepada Louktus. Aku bertemu dengan Abraham. Kau tau sendiri, kekuatannya setingkatmu Rachel. Dia sama kuatnya denganmu. Ia bilang padaku, kalau pria yang mengalahkan 3 Nine Core di pelabuhan Ame, adalah Maharaja dari Castle Nasion." Kata Kibo kepada Rachel.


"Lalu, apa masalahnya Kibo. Mereka tidak tau nama Leon kan, apa lagi melihatnya." Kata Rachel kepada Kibo.


"hm, itu benar. Namun, yang jadi pertanyaan adalah, mereka tau itu adalah kekuatan Maharaja. Dan Abraham bilang padaku, Kalau Neswara bisa melakukannya. Lalu, saat di penjara, Nicol juga bilang padaku, kalau kekuatan Leon tidak ada apa-apanya dengan Neswara. Ia jauh lebih kuat dari Leon." Kata Kibo dengan serius.


"Apa kau tidak terkejut Rachel, seseorang akan mengincar nyawa Leon. Dan ia sudah di incar oleh Neswara." Kata Aries kepada Rachel


"Hmm. Apa itu sebuah ancaman.? Tapi, Aku sendiri tidak tau Aries, kalau melihat Leon sekarang, ia sedikit berbeda. Memang, aku tidak bisa merasakan kekuatannya sekarang, tapi aku merasa, dia tidak bisa di kalahkan oleh siapapun." Kata Rachel dengan penuh keyakinan sambil melihat Leon dari layar sihir.


"Mereka sedang menyiapkan sesuatu Rachel. Dan kita tidak tau, apa yang akan terjadi selanjutnya." Kata Kibo kepada Rachel dengan serius.


....


Di tempat latihan sihir. "Lily apa kau bisa mengeluar api dari tanganmu.?" Kata Leon bertanya kepada Lily.


"Sepertinya aku sangat lapar Kak Leon. Aku sudah kelelahan. Dan teman-temanku juga sudah mulai kelaparan." Kata Lily kepada Leon.


"Baiklah, kalian boleh makan sekarang. Apa kalian membawa bekal.?" Tanya Leon kepada Lily.


"Aah, itu. Kami sudah tidak pulang selama 3 tahun Kak Leon, kami menginap dengan teman-teman di asrama. Lalu, kami disediakan makan 2x sehari." Kata Lily kepada Leon.


Tiba-tiba Leon mengeluarkan Aura kegelapan dari matanya.

__ADS_1


"Apa ada yang salah dengan perkataanku Kak, kenapa kau marah.?" Tanya Lily pada Leon. Leon pun menghilangkan Aura itu. Dan menoleh ke Rewin.


"Tidak Lily, aku tidak marah padamu. Kamu tunggu disini sebentar." Leon pun berdiri dan berjalan ke arah Rewin.


"Kita akan mati hari ini Groy." Kata Rewin yang sangat ketakutan melihat Leon berjalan kearahnya. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya.


"aku sudah pasrah Tuan Rewin" Kata Groy dengan tubuh yang gemetar. Dan ia ngompol ketiga kalinya.


"Rewin." Kata Leon dengan tatapan penuh ancaman.


"Ya Tuan, apa ada yang bisa saya bantu.?" Kata Rewin yang gemetar ketakutan.


"Bawakan anak-anak itu makanan sekarang." Kata Leon dengan kesal.


"Haa, baik Tuan, baik. Akan aku bawakan sekarang." Kata Rewin dan ia bergegas pergi keluar. Lalu groy hanya terdiam di situ.


"Eh, namamu Groy kan.?. Tolong ambilkan minum untuk mereka" Kata Leon dengan santai.


"Ba, ba, Baik Tuan". Kata Groy yang gagap sambil air kencingnya keluar lagi. Ia sudah ngompol keempat kalinya. Ia pun langsung pergi mengambilkan air minum.


Leon pun kembali menemui para murid.


"Kak Leon, apa kau memarahi Direktur Rewin.?. Jangan lakukan itu kak, pak Direktur orangnya sangat baik. Ia membantu kami semua. Kita sebenarnya anak-anak yatim piatu. Pak Direktur sudah menampung kami disini, dia juga memberikan kami tempat tinggal dan makanan." Kata Lily pada Leon.


"HAAA. Apa itu benar Lily.?" tanya Leon yang terkejut. "Eem" suara Lily.


"Huh, aku sudah berprasangka buruk kepadanya. Maafkan aku Rewin. Aku tidak tau, kau ternyata orangnya sangat baik. Kenapa aku menilai orang begitu cepat." Kata Leon dengan wajah yang menyesal.


"Baiklah, mari kita lanjutkan. Ceritakan aku lebih banyak Lily.?" Kata Leon dengan tersenyum.


Lalu, Rewin pun datang membawakan makanan untuk 24 murid disana, dan semua para murid itu pun makan.


"Rewin." Kata Leon dengan wajah murung.


"Ha, Ada apa Tuan.?" Kata Rewin yang sangat ketakutan.


"Tidak apa-apa, maafkan sikapku tadi. Aku merasa bersalah padamu." Kata Leon dengan tersenyum sambil melihat Rewin.


"Aa, aa, aapa yang Anda katakan Tuan.? Anda tidak membuat kesalahan padaku. Justru aku yang membuat kesalahan disini." Kata Rewin yang terkejut, namun ia masih ketakutan.


"Aah, apa mereka semua yatim piatu.?" Tanya Leon kepada Rewin.


"Iya benar Tuan." Kata Rewin yang panik. "Lalu.?" Tanya Leon ingin mendengarkan penjelasan lebih detail.

__ADS_1


.


.


__ADS_2