
[Pasukan Dion]
Terlihat Dion bersama pasukannya sedang dalam perjalanan menuju benteng utara kerajaan Neverley.
"Apa masih jauh.?" Tanya Dion kepada Ares.
"Panglima, sepertinya kita akan sampai beberapa jam lagi." Jawab Ares.
"Kita harus menguasai benteng itu secepatnya." Kata Dion sambil menungangi kuda.
"Apa para Pemimpin sudah sampai di Neverly Panglima.?" Tanya Ares.
"Mereka semua sedang dalam perjalanan. Strategi yang di berikan oleh pemimpin adalah menguasai wilayah utara Neverley dengan cepat." Jawab Dion.
"Ha. Baik Panglima." Kata Ares.
...
[Dibenteng Barat Cimoren]
Leon dan pasukannya sudah sampai di benteng perbatasan bagian Barat Kerajaan Cimoren.
"Kenapa disini tidak ada orang.?" Tanya Leon sambil melihat-lihat sekitarnya.
"Sepertinya mereka semua juga ikut pergi ke istana bersama dengan prajurit kemarin." Jawab Kibo.
"Huh, ini bisa berakibat fatal jika tidak ada orang yang menjaga disini." Kata Leon.
"Apa yang harus kita lakukan Leon.?" Tanya Kibo.
"Kita tidak bisa mengurangi jumlah pasukan untuk menjaga disini Kibo, sebaiknya kita langsung bergerak" Jawab Leon.
"Baiklah kalau begitu. Apa perlu aku mengirimkan surat kepada Panglima Gionova.?" Tanya Kibo.
"Ah, Tolong kibo, aku serahkan padamu." Jawab Leon.
"Baik, aku akan mengirimkan suratnya." Kata Kibo sambil menulis surat.
"Kita harus bergerak sekarang Kibo. Mungkin Dion sudah sampai di wilayah utara." Kata Leon sambil mengerakkan kudanya pergi keluar dari benteng.
"Aku sudah mengirimkan surat perintah. Kita bisa berangkat sekarang." Kata Kibo sambil mengikuti Leon.
"Kirimkan surat kepada Dion, suruh mereka menunggu di wilayah utara sampai kita mengetahui keberadaan para panglima Louktus itu." Kata Leon.
"Baik Leon." Saut Kibo sambil menulis surat perintah.
Lalu, mereka semua pun berangkat menuju lembah gunung bagian timur wilayah Neverley.
...
[Wilayah Utara Neverley]
Beberapa jam berlalu. Dion dan pasukannya sampai di lembah gunung bagian utara. Dan mereka di hadang ratusan ribu prajurit Louktus disana.
"BERHENTIIII." Teriak Dion kepada pasukannya.
"Apa mereka sudah tau kedatangan kita Panglima.?" Tanya Ares dengan terkejut melihat ratusan ribu prajurit disana.
__ADS_1
"Sepertinya begitu. Bersiap-siaplah." Jawab Dion.
"Ha. Laksanakan perintah." Kata Ares sambil bergerak kebelakang.
"Tempat ini sangat luas sekali, apa mereka juga mengepung kami dari atas gunung.? Jika di lihat, sepertinya tidak ada Panglima louktus disini." Kata Dion dalam hati sambil melihat kedepan.
Lalu, pemancar sihir api di tembakkan keatas langit. Tanda para pemimpin pasukan Louktus ingin bertemu.
"Hem, Mereka masih ingin bernegosiasi." Kata Dion sambil melihat pemancar api.
"Ares. Kemarilah." Kata Dion.
"Ha, Ada apa Panglima.?" Tanya Ares.
"Bagi pasukan menjadi 4 garis ke belakang. Sepertinya mereka ingin bernegosiasi, tapi itu tidak akan berhasil. Setelah aku bertemu dengan pemimpin mereka, gerakkan semua pasukan untuk menyerang. Apa kau mengerti.?" Kata Dion dengans serius.
"Ha. Laksanakan Perintah." Saut Ares.
Lalu, terlihat 5 kuda bergerak menghampiri Dion. Dan Dion menghampiri mereka seorang diri. Mereka pun saling bertemu di tengah-tengah para pasukan yang saling berhadapan.
"Hallo Panglima." Kata salah satu pemimpin pasukan Louktus bernama Jill.
"Hem, tidak perlu basa-basi, langsung saja keintinya. Kenapa kau ingin bertemu denganku.?" Tanya Dion dengan serius.
"Apa kau tidak tau Panglima, ini adalah tradisi peperangan di Neverley, meskipun aku bukan warga kerajaan, tapi aku masih menghormati tradisi mereka." Jawab Jill.
"Apa yang kau maksud.?" Tanya Dion.
"Kita bisa berduel disini, tanpa harus mengorbankan banyak nyawa untuk bertempur. Jika kau menang, kami akan menyerahkan diri padamu. Tapi jika kau yang kalah, kalian harus menuruti semua perintahku." Jawab Jill.
"Hee, apa tradisi itu berguna untuk kami. Jangan bicara omong kosong, mana mungkin aku mau melakukan itu." Kata Dion.
"Kau jangan meremehkanku, negosiasi macam ini tidak akan berpengaruh padaku. Aku tidak menyetujuinya, lalu apa yang akan kau lakukan.?" Kata Dion.
"Hem, sudah jelas peperangan akan di mulai." Saut Jill sambil mengangkat tangan kirinya.
Lalu, puluhan ribu prajurit keluar dari tempat persembunyian di atas gunung. Para prajurit itu sudah di lengkapi dengan senjata panah yang diselimuti sihir petir.
"Hoo, jadi kau ingin mengepung kami.? Aku tidak yakin denganmu jika aku menyetujui keinginanmu, kau akan berhenti menyerang dan menyerah pada kami." Kata Dion.
"Aku tidak mengada-ngada panglima. Apa kau berubah pikiran.?" Tanya Jill.
Dion pun berfikir keras. "Meskipun mereka menyerang, kami masih bisa menang. Untuk apa aku menyetujui mereka, ini akan menghambat waktuku jika aku bermain-main." Kata Dion dalam hati.
"Maaf, aku tidak akan merubah keputusanku. Apa sudah jelas.?" Kata Dion dengan serius.
"Hem, baiklah kalau begitu, peperangan ini sudah tidak bisa di hindari lagi. Sebaiknya kau bersiap-siap." Kata Jill sambil bergerak mundur menuju ke barisan pasukan Louktus.
"Chikk. Kau seperti mengancamku." Kata Dion sambil bergerak menuju pasukannya.
"Bagaimana Panglima.?" Tanya Ares.
"Mereka sudah mengepung kita, dan peperangan akan dimulai. Arahkan para pasukan garis ke tiga untuk membumi hanguskan pasukan di gunung itu. Lalu kerahkan semua pasukan garis depan untuk menyerang mereka." Kata Dion.
"Ha, laksanakan perintah." Kata Ares, dan ia pun langsung memerintahkan pasukannya.
Semua pasukan Gionova pun langsung bergerak keposisinya masing-masing dengan cepat.
__ADS_1
...
Di tempat pasukan Louktus. Jill melihat pasukan Gionova yang sudah bersiap-siap untuk bertempur.
"Mereka sudah bersiap-siap Jill." Kata salah satu pemimpin Louktus lainnya bernama Raizo.
"Ah, kita harus memenangkan pertempuran ini. Mungkin akan sedikit sangat sulit, tapi prediksi dari Dewi Dona sangat akurat, tidak kusangka mereka juga menyerang dari sini." Kata Jill.
"Kau benar Jill, bahkan di antara mereka tidak ada Paradicone disana. Sebaiknya kita selesaikan tugas ini dengan cepat." Kata Raizo.
Jill pun mengangkat tangan kanannya, tanda pertempuran akan segera dimulai. Lalu, TOOOOTTH. Suara terompet yang di bunyikan, dan mereka semua pun bergerak menyerang pasukan Gionova.
"HOAAAA." Teriakan para pasukan Louktus yang menyerang.
SWOSH SWOSH SWOSH. Suara ratusan ribu bola api dan panah petir yang di tembakkan ke arah pasukan Gionova.
"Mereka sudah mulai." Kata Dion sambil melihat ratusan ribu bola api dari depan, dan ratusan ribu panah petir dari samping kanan dan kiri yang di kerahkan kepada pasukannya.
"Hem." Kata Dion sambil menarik pedang dari sarungnya. Lalu ia mengarahkan pedangnya ke depan.
"SERAAAAAAANG." Teriak Dion kepada pasukannya sambil bergerak kedepan dengan kudanya.
"HOAAAAAAA." Teriakan para pajurit Gionova dengan semangat sambil mengikuti Dion yang bergerak menuju ke kerumunan pasukan Louktus.
"HAAAA." Teriakan Dion sambil mengembaskan pedangnya ke puluhan prajurit. SRAK SRAK SLASH. Suara pedang milik Dion.
"Aku akan memenangkan peperangan ini." Kata Dion sambil bertarung.
Lalu, di bagian garis belakang pasukan Gionova. Mereka menembakkan ratusan ribu petir untuk menghalau serangan dari Louktus.
TRET TRET. SWOSSH SWOSSH. Suara petir yang di pancarkan ke ratusan ribu bola api dan panah petir.
BREDOOMM. Suara hantaman dari serangan di atas udara. Lalu, ratusan ribu bola api dan panah petir di tembakkan lagi oleh pasukan Louktus. Serangan itu di lakukan berkali-kali tanpa henti.
"Pertarungan ini, baru pertama kali aku mengalaminya." Kata Ares sambil menyerang pasukan Louktus.
Lalu, DEEP. Suara Raizo yang tiba-tiba berada di depan Ares. "Haa.?" Suara Ares yang terkejut.
"Aku akan menjadi lawanmu." Kata Raizo sambil mengerahkan pedangnya ke arah Ares.
"Heeee.. Benarkah.?" Saut Ares sambil menahan serangan Raizo. TRANG. Suara benturan pedang mereka berdua.
"HOAAA." Teriakan Ares yang mendorong serangan Raizo sambil mengeluarkan aura berwarna hijau dari tubuhnya.
"Haa.?" Suara Raizo yang terkejut, lalu ia pun terpental kebelakang. "Aku masih ingin bermain-main denganmu, kerahkan semua kekuatanmu." Kata Ares sambil meloncat ke arah Raizo.
"Tidak akan aku biarkan." Kata Raizo sambil mengeluarkan aura merah dari tubuhnya. Lalu, ia pun menyerang Ares dengan sekuat tenaga.
TRANG TRANG KLANG. BREDOOM. Suara pertempuran Ares dan Raizo di udara.
...
Ditempat Dion berada. Ia menyerang pasukan Louktus dengan ganas dan sangat cepat. Lalu, TRAANG. Suara benturan pedang dari Jill yang menangkis serangan Dion.
"Hoo, kau sudah muncul di depanku." Kata Dion dengan tersenyum.
"Kita selesaikan sekarang juga." Kata Jill sambil mengeluarkan aura putih dari tubuhnya.
__ADS_1
.
[Pesan Author. Saya meminta Maaf untuk para pembaca LM, karena sudah tidak update beberapa hari ini. Karena terjadi masalah di kehidupan nyata saya. Tapi untuk kali ini, Author akan update setiap hari lagi. Terimakasih yang sudah menunggu Update dari cerita LM 🙏.]