
[Castle Taman Surga]
"Kau kenapa Leon. Kenapa kau dari tadi mondar-mandir.?" Tanya Rachel.
"Aku sendiri tidak tau Rachel. Ada sesuatu yang menganggu pikiranku." Jawab Leon.
"Ini sudah beberapa hari tidak ada laporan dari Xerone dan Vera. Bahkan Steve, Abelia dan lainnya sudah mengirimkan laporan. Aku hanya ingin tau situasinya disana." Kata Leon.
"Mungkin disana memang tidak ada apa-apa Leon." Kata Aries
"Ah, aku harap begitu." Kata Leon yang cemas.
"Tenanglah Leon. Sebaiknya kita membicarakan rencana selanjutnya." Kata Rachel.
"Heem. Baiklah. Kita akan membahas beberapa hal untuk penyerangan selanjutnya." Kata Leon serius.
....
[Wilayah Utara, Tepi laut.]
Terlihat, puluhan kapal perang yang dipimpin Jendral Juroo sudah tengelam sebagian. Ada juga yang terbakar dan terbelah.
"Hah, hah. Ini serangan yang sangat kuat. Tidak kusangkan dia menyerang sendirian." Kata Juroo yang masih bertahan dari serangan Dona dari atas langit.
"Kepalaku sudah berdarah cukup banyak. Apa aku akan pergi dari sini. Dia seperti penyihir sungguhan.?" Kata Juroo dalam hati sambil melihat Dona.
Juroo melihat Dona menyerang kapal-kapal perang dari atas udara mengunakan senjata sucinya. Serangannya itu tidak pernah berhenti.
Lalu, surat perintah keluar di depan Juroo.
"Ini bukan waktunya untuk membaca. Arrgh. Kepalaku sakit sekali." Kata Juroo yang sudah lemas.
....
"Heem. Mereka cukup kuat, dengan jumlah ratusan ribu prajurit berkekuatan Gaia, membuatku berkeringat. Tapi masih kurang menarik." Kata Dona sambil menyerang mereka menggunakan ribuan jarum cahaya berwarna hijau.
....
"Uhuuok. Jendral. Sebaiknya kita pergi dari sini. Kondisinya sudah sangat parah." Kata Komandannya Juroo. Ia bahkan hampir tidak sadarkan diri. Kepala dan tubuhnya penuh luka dan berdarah.
"Kita harus bergabung bersama Panglima. Kita pergi dari sini." Kata Juroo yang sudah terengah-engah.
...
Ditengah Laut.
"Aaah. Dona mengancurkan semuanya. Sebaiknya aku berlabuh di pantai. Sepertinya sudah ada yang menunggu disana." Kata Abraham.
"Jendral, tunggulah disini. Aku akan pergi kesana sendirian. Aku butuh pamanasan." Kata Abraham kepada jendralnya.
"Ha. Laksanakan Perintah." Kata Jendral Louktus sambil bersujud.
Lalu, Abraham pun menghilang tiba-tiba menuju pantai utara.
....
Diatas tebing. Vera sedang kebingungan.
"Apa yang sudah terjadi disana. Aku tidak bisa melihat. Terlalu banyak kabut disana." Kata Vera.
"Mona. Perintahkan pasukan untuk bersiap. Sepertinya musuh akan datang kesini." Kata Vera serius.
"Ha. Laksanakan Perintah." Kata Mona.
"Heem, semoga tidak terjadi sesuatu yang mengejutkan." Kata Vera.
Tiba-tiba awan mendung berkumpul di atas langit. Petir mulai menyambar dengan kencang terus menerus.
Sebuah cahaya muncul dari atas langit, turun ke arah pantai.
"Yang benar saja. Itu bukan orang biasa." Kata Vera yang melihat cahaya itu.
"Bersiaplah semua." Teriak Vera.
Lalu, Cahaya itu menghantam bibir pantai dengan sangat keras. Bahkan efeknya sampai mengeluarkan cahaya putih yang bergerak melingkar dengan cepat.
__ADS_1
"Hehe. Sepertinya mereka sedang bersembunyi." Kata Abraham yang sudah mendarat di bibir pantai.
"SERAAANG." Teriak Vera.
Ratusan ribu panah api, dan serangan petir diluncurkan kepada Abraham. Serangan itu di kerahkan terus menerus.
"Aah. semua prajurit disini berkekuatan Gaia. Tapi ini masih belum cukup untuk melawanku bocah. Hehehe." Kata Abraham.
Lalu, ia mengeluarkan senjata sucinya saat ia masih menerima serangan bertubi-tubi itu. Kapak bermata dua berwarna putih berhias emas, keluar dari udara.
"Ituu, tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Glegg. Nine Core." Kata Vera tercengang ketakutan.
"Aku harus mengirimkan laporan. Ini sangat darurat." Kata Vera yang panik.
Lalu, terlihat serangan dari tebasan kapak milik Abraham. Serangan itu mengenai seluruh area pantai dan tebing sampai masuk kedalam hutan.
Seketika serangan dari pasukan Vera tertangkis dan terdorong ke belakang. Lalu, serangan Abraham itu mengenai semua pohoh-pohon disana dan terbelah dengan sangat cepat. Bahkan tebing yangn di injak Vera ikut tertebas.
Semua prajurit Vera berteriak kesakitan. Bahkan sampai ada tubuh prajurit yang terbelah.
"Arrggh" HAAA" Uhoouk" Huaaa." AAAARG" Suara para prajurit yang terkena serangan Abraham.
"Ini, ini mustahil." Kata Vera yang terjatuh dari tebing.
Lalu, aura putih dengan kekuatan yang dasyat keluar dari tubuh Abraham menekan ratusan ribu prajuritnya Vera.
"AAARRRG. Uhoouk." Suara Vera yang terkena tenakan itu sampai muntah darah.
"Ini, sangat kuat sekali. Aarg. Aku sudah tidak kuat hanya dengan tekanannya saja." Kata Vera yang mulai tengelam kedalam laut bersama puing-puing tebing.
Lalu, Abraham berjalan secara perlahan. Setiap langkahnya, membuat tekanan semakin kuat. Bahkan semua prajurit dengan kekuatan Gaia, bagaikan semut yang mudah di injak oleh Abraham.
"Hem. Aku kira akan menarik. Ternyata mereka hanya kelompok semut." Kata Abraham sambil berjalan.
Lalu, Vera mengeluarkan kekuatannya dan melayang dari dalam laut. Ia mengeluarkan Aura putih yang kuat, dan mencoba menekan Abraham.
"Hoo, masih ada yang bisa berdiri. Ini cukup menarik. Hahahaha." Kata Abraham. Lalu, ia tiba-tiba menghilang. Dan tiba-tiba berada di depan Vera.
"Ini tidak mungkin." Kata Vera sambil mengeluarkan pedangnya.
"Aaarrrgh." Suara Vera yang menangkis serangan Abraham dengan sekuat tenaga.
"Ternyata kau bisa menangkisnya Nona. Bagaimana dengan ini.?" Kata Abraham sambil mengarahkan kapaknya lagi.
"Sepertinya aku akan mati." Kata Vera dalam hati.
Abraham pun mengerahkan serangan dengan bertubi-tubi dan dengan sangat cepat.
"Arrgh, Uhoouk. Hikss. Xerone.Ook. Uhookk." Kata Vera yang menerima serangan bertubi-tubi dari Abraham.
Seluruh tubuh Vera penuh dengan luka sayat, bahkan rambutnya terpotong-potong. Lalu, tangannya lumpuh seketika. Dan pedanganya terjatuh dengan sendirinya.
"Hmm, tidak menarik sama sekali." Kata Abraham sambil menendang perut Vera.
"Uhook." Suara Vera kesakitan. ia pun terpental jauh kedalam hutan. Bahkan sisa -sisa pohon yang masih berdiri, hancur karena tabrakan tubuh Vera. Ia sampai terpental menabrak tebing gunung.
"Aarrrgg." Suara Vera yang menabrak tebing gunung. Dan ia langsung tak sadarkan diri.
"Hehehe. Sepertinya disini sudah selesai." Kata Abraham.
....
"Apa kau sedang membuat lapangan Abraham.?" Kata Dona yang tiba-tiba berada di atas Abraham.
"Dona. Aku sedang membersihkan rumah semut." Kata Abraham.
Tiba-tiba awan-awan berkumpul dengan cepat. Dan membentuk tiga lingkaran. Keluar cahaya putih dan turun dengan sangat cepat ke area Camp prajurit.
"Ah, mereka datang. Hehehe." Kata Abraham.
Tiga cahaya itu menghantam tanah dengan sangat keras. Dan terlihat tiga orang berdiri disana.
"Aa, aa. Kita terlambat Rachel." Kata Aries dengan tercengang melihat semua pasukannya yang sudah tergeletak.
"Aku tau Aries." Kata Rachel dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Glegg. Tidak mungkin, mereka berdua ada disini sekaligus." Kata Kibo mulai ketakutan.
...
"Hehehe. HAHAHAHA. Sudah lama tidak bertemu. RACHEEEEL." Teriak Abraham.
"Hem. Ini baru menarik." Kata Dona memejamkan mata sambil mengeluarkan aura putih kehijauan.
"Sebaiknya kita selesaikan ini." Kata Rachel kepada Abraham.
"Aah, aku akan membunuhmu. Hehe." Kata Abraham.
.....
[Castle Taman Surga]
Beberapa menit yang lalu.
"Leon, ada laporan dari Xerone dan Vera." Kata Rachel.
"Cepat berikan padaku." Kata Leon sambil mengambil laporan itu.
Leon pun membaca laporan itu dengan terkejut. "Firasatku tidak pernah salah. Ini sangat gawat. Seseorang dengan gelar Nine Core dari Louktus sudah datang." Kata Leon dengan tercengang.
"APAAAA." Teriak Paradicone.
"Kita harus kesana sekarang Leon." Kata Aries yang panik.
"Mereka datang di dua titik. Perbatasan barat Forlsa dan Wilayah utara Majaren. Ada dua Nine Core di masing-masing tempat itu. Ini sangat gawat." Kata Leon dengan panik.
"HAAAAA." Teriak Paradicone.
"Lalu bagaimana Leon. Sudah pasti ada Abraham atau Dona disalah satu tempat itu." Kata Aries panik.
"Apa sebaiknya kita bagi tugas saja Leon.?" Tanya Kibo panik.
"Apa kalian bisa menang melawan Nine Core ini, selain Abraham dan Dona.?" Tanya Leon balik.
"Kalau lawan kita adalah Varel, Winsol dan Nicol, kita masih bisa menang. Tapi kalau yang kami hadapi adalah Abraham atau Dona, mungkin kita hanya bisa menahannya." Kata Rachel serius.
"Aku tidak tau, siapa yang datang Rachel. Ini ada dua tempat. Lalu, Xerone dan Vera sudah pasti tidak tau nama mereka. Apa yang harus aku lakukan." Kata Leon dengan panik.
"Kita pergi ke kedua tempat itu Leon." Kata Rachel serius.
"Baiklah, kalian pergilah bertiga, aku akan pergi sendirian." Kata Leon serius.
"Apa kau bisa menang melawan mereka sendirian Leon.?" Kata Aries yang meragukan.
"Justru aku yang bertanya itu pada kalian." Kata Leon dengan tatapan tajam.
"Aa, aa." Suara Aries ketakutan.
"Aku tidak tau Abraham atau Dona ada dimana. Kalian bertiga pergilah ke wilayah Utara. Aku akan pergi ke perbatasan Forlsa." Kata Leon dengan serius.
"Baiklah Leon, aku akan membuatkan portal kesana." Kata Rachel sambil membuat portal untuk menuju ke perbatasan selatan Forlsa.
Tiba-tiba, Leon memeluk Rachel. "Racheel. Aku harap kau baik-baik saja. Segera laporkan padaku jika terjadi sesuatu." Kata Leon dengan sedih.
"Leon, kau tidak perlu takut. Kami bertiga sudah cukup kuat melawan mereka. Energi terpusat kita sudah kau buka. Jadi kau tidak perlu khawatir." Kata Rachel tersenyum sambil membalas pelukan Leon.
"Ah, tapi tetap saja aku khawatir." Kata Leon sedih.
"Baiklah Leon. Aku akan memberikan benda teleportasi padamu. Kau bisa berpindah seketika padaku. Bagaimana.?" Kata Rachel tersenyum.
"Hem. Baiklah kalau begitu. Kita selesaikan masalah ini." Kata Leon sambil melepaskan pelukannya.
"Kami pergi dulu Leon. Jaga dirimu baik-baik." Kata Rachel dengan tersenyum.
Lalu, Rachel, Aries dan Kibo menghilang dari tempat itu. Dan Leon pergi ke dalam portal seorang diri.
"Semoga kau baik-baik saja Rachel." Kata Leon dengan sedih.
.
.
__ADS_1