
[Istana Kerajaan Porsa]
Leon dan Rachel sedang berada di dalam istana kerajaan Porsa. Semua orang disana hanya terkejut atas kedatangan mereka.
Namun, mereka masih belum menyadari, kalau yang datang adalah Paradicone. Semua orang termasuk Raja Norman hanya tercengang melihat Leon dan Rachel.
"Siapa kamu. Beraninya masuk ke istana kerajaan tanpa ijin." Kata Raja Norman dengan marah.
Leon pun berjalan mengahampiri Raja Norman. Sontak saja semua prajurit penjaga Raja mengeluarkan pedangnya.
"Berhenti disana penyusup." Teriak salah satu Jendral disana.
"Ah, maafkan atas kedatangan kami yang tiba-tiba Yang Mulia. Aku hanya ingin berbicara kepada anda." Kata Leon dengan tersenyum sambil menundukkan badanya.
"Bicara apa kau penyusup. Siapa sebenarnya kalian." Kata salah satu Jendral disana sambil menodongkan pedang ke arah Leon.
Leon pun berjalan secara perlahan kearah Raja Norman.
"Berhenti disanaaaa." Teriak Jendral disana.
"Aa, aah. Aku tidak akan melakukan apapun. Aku kesini hanya ingin bernegosiasi dengan kalian. Perkenalkan, Namaku Arjun Leon, dan wanita di sebelahku ini adalah Dewi Perang, Pemimpin Paradicone." Kata Leon dengan tersenyum.
"Aa, aaap, aaapa.?" Kara Raja Norman yang mematung dengan tercengang melihat ke arah Leon dan Rachel.
"Par, Par, Paradicone.?" Kata salah satu Jendral disana dengan tercengang sambil menelan ludah.
"tidaaak, tid, tidaak mungkin." Kata salah satu Jendral yang lain dengan ketakutan.
"Apa portal itu adalah portal dimensi.? Aah, aku sangat ketakutan. Badanku gemetar. Tidak mungkin mereka,(menelan ludah). Aaah." Kata Raja Norman dalam hatinya dengan tubuh gemetar sangat ketakutan.
"Kita semua akan mati disini, apa yang harus kita lakukan." Kata Jendral disana.
"Be, be, berrsujudlah jendral. Bersujudlah." Kata Raja Norman dengan gagap sambil melihat Leon dan Rachel di depannya. Ia benar-benar sangat ketakutan.
"Apaaa.?" Kata Jendral itu dengan terkejut, air keringatnya keluar begitu banyak. Tubuhnya gemetar sangat ketakutan.
"HORMAT PARADICONE." Teriak semua orang disana sambil bersujud ketakutan.
....
"Kenapa kita harus bersujud pada mereka. Tapi aku merasakan ketakutan yang luar biasa." Kata salah satu Jendral disana sambil bersujud.
"Bahkan pemimpin mereka yang datang kesini sendiri. Apa yang sudag terjadi.?" Kata Raja Norman dalam hati sambil bersujud ketakutan.
....
"Hmm. Memang sangat berguna mengunakan nama Paradicone. Tapi sikap mereka. Aku tidak menyukainya." Kata Leon dalam hati.
"Baiklah Yang Mulia, bisakah kita berbicara sebentar. Kita bisa duduk disini. Aku lihat kalian sedang melakukan rapat di ruangan ini. Sangat kebetulan sekali." Kata Leon dengan santai.
"Apa tujuan Anda kemari Tuan.?" Kata Norman dengan ketakutan.
"Bisakah kita duduk saja Yang Mulia, aku tidak akan melakukan apapun. Aku hanya akan mengetakkan mulutku." Kata Leon dengan serius.
__ADS_1
"Baiklah Tuan." Kata Raja Norman dengan ketakutan sambil berdiri. Tubuhnya gemetar cukup kencang.
"Sebelah sini Tuan." Kata Norman yang menunjukkan kursi untuk Leon.
"Terimakasih Yang Mulia. Mari kita bicarakan." Kata Leon dengan tersenyum.
....
Semua orang disana pun duduk di depan Leon dan Rachel, dengan menundukkan kepala.
"Aku tidak akan berbasa-basi Yang Mulia. Kita langsung ke intinya. Aku ingin perang ini di akhiri." Kata Leon serius.
"Haaa(kaget). Apa yang sudah terjadi Tuan. Kenapa Anda menyuruh kami berhenti. Wilayah kami sedang terancam." Kata Raja Norman dengan gugup.
"Ah, aku tau Yang Mulia. Tapi aku akan menjamin keamanan wilayah anda dari pasukan Majaren. Asalkan anda tidak mengirimkan pasukan kesana." Kata Leon dengan serius.
"Tuan, kami hanya mengikuti perintah dari Louktus. Seluruh kerajaan akan musnah jika kami tidak berperang." Kata Norman yang ketakutan.
"Emm. Louktus ya. Apa kalian bisa keluar dari struktur mereka. Dan bergabunglah dengan kami. Seharusnya kerajaan ini adalah milik Paradicone." Kata Leon dengan serius.
"Apaaaa.(terkejut). Ah, maaf Tuan. Kami tidak bisa keluar begitu saja. Mereka bisa menghancurkan kerajaan ini dalam semalam saja. Kami tidak berani dengan itu." Kata Norman dengan ketakutan.
"Baiklah, Bagaimana kalau aku yang menjaminnya. Aku akan mengirimkan pasukan untuk menjaga perbatasan kerajaan ini. Jika terjadi peperangan dengan Louktus, mereka akan membantu kalian. Tentu saja, bukan hanya kekuatan militer yang aku kirim. Ada beberapa yang ingin aku berikan." Kata Leon serius.
"Aa, aapa itu bisa dilakukan Tuan.?" Tanya Norman dengan ketakutan.
"Tentu saja bisa. Aku hanya tidak ingin berperang melawan kalian. Kalian harus tau, beberapa warga menangis di perbatasan sana. Mereka ingin mengunjungi makam keluarganya. Apa kau tau Yang Mulia.?" Kata Leon serius.
"Aku tidak akan memaksakan kalian, jika kalian masih ingin berperang, kami akan melawan. Aku menawarkan kerja sama dengan kerajaan ini. Tentu saja, kami tidak akan merugikan kalian." Kata Leon serius.
"Tuan, tapi ini sangat sulit dilakukan. Louktus sudah mengirimkan bantuan militer ke kerajaan ini, pengaruh mereka juga besar Tuan." Kata Norman dengan gugup.
"Baiklah Yang Mulia. Aku hanya bernegosiasi disini. Aku akan memberikan beberapa dokumen untukmu. Dokumen itu adalah penawaran kami, dan kau tetap akan menjadi Raja." Kata Leon serius .
"Aa, aah. Ituu" Kata Norman yang kebingungan.
"Aku akan memberikanmu dokumen Raja. Sebaiknya kau pikir-pikir dulu. Aku akan menunggu jawabanmu hari ini juga. Jika kalian tidak mengirimkan surat padaku, artinya adalah deklarasi perang. Kami akan mengambil kerajaan ini dengan paksa." Kata Rachel dengan serius.
"Eeeh." Suara Leon yang terkejut.
Lalu, beberapa dokumen di berikan kepada Raja Norman.
"Sebaiknya yang mendiskusikan dengan petinggi kerajaan. Aku harap kau bisa bekerja sama dengan kami." Kata Rachel serius sambil memejamkan mata.
"Baiklah Yang Mulia. Aku harap kau mau mengakhiri perang ini. Semoga kau bisa mengerti." Kata Leon sambil berdiri dari kursinya.
"Haa, Hamba akan mengirimkan surar secepatnya." Kata Raja Norman dengan gugup.
"Kita kembali Rachel." Kata Leon yang berjalan ke portal bersama Rachel.
Lalu, portal itu pun hilang dengan seketika.
"Jendral, kita harus melakukan rapat darurat sekarang juga." Kata Norman sambil ketakutan, dan tubuhnya gemetar.
__ADS_1
"Ha, Laksanakan Yang Mulia." Kata Jendral itu.
[Benteng Selatan]
Leon dan Rachel tiba didalam tenda komando di benteng selatan.
"Bagaimana hasilnya Leon.?" Tanya Aries yang penasaran.
"Sepertinya mereka sangat ketakutan dengan Louktus. Aku tidak bisa memaksakan mereka. Sebaiknya kita tunggu saja jawabannya." Kata Leon sambil duduk di kursi.
"Lalu, apa mereka masih mau berperang dengan kita.?" Tanya Aries yang penasaran.
"Mereka sebenarnya tidak mau melakukannya. Tapi karena perintah Louktus, mereka melakukannya. Aku juga tau, kita melakukan hal yang sama seperti Louktus. Mereka sangat pintar memainkan politik dan militer." Kata Leon sambil memejamkan mata.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang.?" Tanya Aries penasaran.
"Kita harus mempunyai pasukan. Satuan pasukan dari tiga benua. Dan aku ingin memilih para Jendralnya, mereka nantinya akan bertugas di seluruh tiga benua. Tentu saja, kita akan bersatu melawan Louktus. Kekuatan militer ini harus di bentuk. Hanya saja, apakah semua kerajaan Paradicone akan menyetujuinya.?" Kata Leon yang berfikir keras sambil memejamkan mata.
"Wooo. Itu ide bagus Leon. Sangat bagus." Kata Aries dengan tersenyum senang.
"Ah, itu benar-benar sangat hemat Leon. Aku tidak pernah memikirkan itu sebelumnya." Kata Rachel dengan tersenyum senang.
"Aku merasa itu akan menjadi kekuatan besar Leon. Aku akan melakukannya." Kata Kibo penuh semangat.
"Aaaah. Kalian pikir menyatukan kerajaan itu mudah. Mereka akan melakukanbya jika kalian yang menyuruhnya. Tapi kalian juga harus memikirkan dampaknya. Apa jadinya jika semua pasukan kerajaan bergabung dengan satuan militer ini.? Mereka tidak mempunyai pasukan untuk menjaga kerajaannya masing-masing." Kata Leon sambil berfikir.
"Aa, aah. Ituu." Kata Aries yang kebingungan.
"Apa yang harus kita lakukan Leon.?" Tanya Rachel serius.
"Aku sedang menikirnya Rachel. Ini sangat sulit." Kata Leon sambil memjamkan matanya.
"Ah, Leon. Aku memikirkan sesuatu. Apa sebaiknya kita mengambil setengah pasukan yang terpilih.?" Kata Kibo dengan malu.
"Em, apa dengan pasukan yang setengah itu, bisa melawan ratusan juta pasukan Louktus.?" Tanya Leon dengan santai sambil menyilangkan tangannya.
"Leon, Kau harus tau. Dunia sekarang sudah berubah. Ini bukan dunia yang kau kenal dulu. Semua prajurit sekarang mengunakan energi sihir. Dan kau tau, jika kekuatan prajurit itu memiliki tingkat yang lebih tinggi, itu bisa di bandingkan dengan ribuan prajurit." Kata Rachel dengan serius.
"Apa itu bisa di bandingakan dengan kekuatan Louktus yang sejarang Rachel.?" Tanya Aries dengan serius.
"Itu benar Rachel. Meskipun kekuatan prajurit kita kuat, pasti Louktus juga memiliki pasukan yang sebanding. Bahkan kita sendiri tidak bisa menang melawan Nine Core." Kata Kibo dengan serius.
"Aa, aah. Aku hanya mengeluarkan pendapat teman-teman." Kata Rachel yang sedih.
"Aa, aa, HAAAAAAA." Teriak Leon dengan terkejut.
"Ada apa Leon.? Kau membuatku terkejut." Kata Rachel yang terkejut.
"Aku punya rencana Rachel. Hihi, kau membantuku dengan pendapatmu itu." Kata Leon yang tersenyum lebar.
.
.
__ADS_1