
[Lembah Utara Neverley]
Terlihat, Kibo sedang berhadapan dengan Winsol di atas udara.
"Kibo, hari ini adalah hari terakhirmu." Kata Winsol sambil menahan pedang milik Kibo.
"Diamlah, pertarungan baru saja di mulai." Saut Kibo.
"Hehehe. Kau sedikit berbeda dari ribuan tahun yang lalu. Apa kau sudah berubah.?" Tanya Winsol.
KLANG. Suara pedang milik Kibo yang mendorong dagger milik Winsol.
"Tidak selamanya orang terus lemah." Jawab Kibo.
Lalu, DEEP. Suara tubuh Kibo yang tiba-tiba berada di belakang Winsol.
"Eeh.?" Suara Winsol yang terkejut.
TRANG TRANG SRAK. Suara pertempuran Kibo dan Winsol.
"Kenapa dia bisa secepat ini.?" Kata Winsol dalam hati sambil menahan serangan Kibo.
"HOOAA." Teriakan Kibo yang menyerang Winsol dengan membabi-buta.
SWOSH KLANG KLANG. Suara benturan pedang.
...
Di tempat Leon berada.
"Hem, dimana Dona.? Apa dia bersembunyi.?" Kata Leon sambil melihat pertarungan Kibo.
WOOSSSH. Suara tubuh Dona yang tiba-tiba berada di belakang Leon.
"Apa kau menungguku.?" Tanya Dona.
"Ah, kau datang dengan tiba-tiba." Saut Leon sambil menoleh kebelakang.
"Hem, kau bahkan belum mengeluarkan pedangmu, apa kau ingin bertarung.?" Tanya Dona lagi.
"Kau bisa mati jika aku mengunakan pedang." Jawab Leon sambil mengeluarkan pedangnya dari udara.
GLEPP. Suara tangan Leon yang memegang pedangnya.
"Itu jauh lebih baik. Tunjukkan padaku kekuatan yang kau bicarakan tadi." Kata Dona sambil mengeluarkan kekuatan yang sebenanarnya.
KPAK. Suara sayap malaikat yang keluar dari punggung Dona.
"Baru saja dimulai, kau sudah sangat serius." Kata Leon dengan tatapan tajam.
TRAANG. Suara pedang milik Leon yang di tarik dari sarungnya.
"Aku tidak bisa meremehkanmu." Kata Dona sambil mengeluarkan aura hijau dari tubuhnya.
"Kau seperti nenek sihir yang berumur ribuan tahun." Saut Leon sambil mengeluarkan aura kegelapan dari matanya.
"Hee.? Aku memang sudah berumur ribuan tahun." Kata Dona. Lalu, DEEP. Suara tubuh Dona yang tiba-tiba hilang dan tiba-tiba menyerang Leon.
KLANG. Suara benturan pedang.
__ADS_1
"Hem, tunjukkan padaku juga kekuatan Cristal yang kau banggakan itu." Kata Leon.
"Chikh, HOAA." Teriakan Dona yang menyerang Leon.
SLASH SLASH TRANG. Suara Pertempuran Leon dan Dona di atas udara.
...
Di tempat Xerone berada.
SRAK SRAK. SWOSH. Suara pedang Xerone yang menyerang prajurit Louktus.
"Ini terlalu mudah, apa Jendral Louktus tidak ada yang kuat.?" Kata Xerone sambil menyerang.
Lalu, tiba-tiba TRANK. Suara benturan pedang yang menangkis serang Xerone.
"Hem, kau sudah membunuh banyak prajurit. Aku tidak bisa melihatmu seperti itu." Kata salah satu Jendral Louktus bernama Kenn.
"Akhirnya ada orang yang bisa menangis pedangku." Kata Xerone dengan tersenyum.
"Chikh." Suara Kenn yang kesal.
"Semoga kau bisa bertahan lama." Kata Xerone.
"Bajingan kau. HOAAA." Suara Kenn yang menyerang Xerone dengan sekuat tenaga.
TRANG TRANG KLANG. Suara pertempuran.
"Itu masih belum cukup untuk melawanku." Kata Xerone.
BUOK BUK BUK. Suara pukulan dari tangan Xerone yang memukul kepala Kenn.
"Hem, sangat membosankan." Kata Xerone. BUOK. Suara tendangan dari kaki Xerone yang menendang perut Kenn.
"Uhook." Suara Kenn yang kesakitan, sampai mulutnya mengeluarkan darah.
WOSSSH. Suara tubuh Kenn yang terbang jauh kebelakang.
"Mereka seperti semut, bahkan dengan jumlah yang sangat banyak, ini masih terlalu mudah bagi pasukan Gionova." Kata Xerone.
DEEP. Suara tubuh Xerone yang tiba-tiba menghilang, dan muncul di atas Kenn yang masih meyalang di udara.
"Eeh.?" Suara Kenn yang terkejut melihat Xerone yang tiba-tiba berada di atasnya.
"Selamat tinggal." Kata Xerone sambil mengempaskan pedangnya.
SRAK. Suara pedang milik Xerone yang memenggal kepala Kenn.
DUK. Suata tubuh Xerone yang mendarat ketanah.
"Em, jumlah mereka masih sangat banyak. Ini masih membutuhkan waktu yang cukup lama." Kata Xerone sambil melihat ke arah gunung di sebelah kirinya.
...
BDREDOOM, DROMRR. Suara ledakan dari atas gunung.
"Serang mereka semua, jangan sampai berhenti." Teriak Cena sambil mengeluarkan bola api dari tangannya.
"Jendral, gunungnya." Kata salah satu komandan kepada Cena.
__ADS_1
"Ah itu sudah longgos, teruskan saja serangannya, hancurkan prajurit disana bersama gunungnya." Kata Cena sambil menyerang ke arah gunung dari jarak jauh.
...
"Mereka benar-benar menghancurkan gunung itu." Kata Xerone sambil melihat gunung di sebelah kirinya yang sudah hancur separuh.
"Sebaiknya aku juga bergerak kedepan. Prajurit Louktus itu masih berbaris di belakang sana." Kata Xerone sambil mengeluarkan aura petir dari matanya.
DEEP. Suara tubuh Xerone yang tiba-tiba hilang.
"HOAAA." Terikan Xerone yang membantai prajurit Louktus di garis depan seorang diri.
"Apa itu.?" Kata salah satu prajurit Louktus yang melihat Xerone menyerang dengan membabi buta.
"Dia sangat cepat sekali. Bahkan mataku tidak bisa melihat pergerakannya." Kata prajurit lainnya.
Tiba-tiba. TREET. Suara petir yang berada di atas mereka.
"Eeh. Petir.?" Kata Prajurit itu dengan terkejut.
DEEP. Suara tubuh Xerone yang tiba-tiba sudah berada di garis belakang pasukan Louktus.
"Tidak mungkin, kenapa dia bisa sampai disini dengan cepat.?" Kata prajurit Louktus disana dengan terkejut.
"Jadi ini garis belakang yang menyerang dari jarak jauh, kalian mempunyai senjata yang bagus, tapi sayang sekali." Kata Xerone sambil menghempaskan pedangnya ke arah senjata berat milik Louktus.
SRAK. BREDOOMM. Suara ledakan dari senjata berat yang di hancurkan oleh Xerone.
"AAAAAA." Teriakan semua prajurit Louktus yang berlari menjauh dari Xerone.
"Berpencarlah, pasukan garis depan sudah di tembus." Kata salah satu komandan disana kepada prajuritnya.
"Itu tidak akan terjadi." Kata Xerone sambil menekan jiwa prajurit Louktus disana.
"AARRGH." UUUH" UHook." Suara para prajurit Louktus disana. Bahkan tubuh mereka sampai terjatuh dengan sendirinya ke tanah.
"Ini, sangat kuat sekali. Bahkan tubuhku tidak bisa aku gerakkan." Kata komandan Louktus yang bertekuk lutut di tanah.
"Kalian semua harus mati disini, tidak akan aku biarkan kalian kabur." Kata Xerone sambil mengeluar aura petir dari tubuhnya.
"Aah. Ini bukan lagi perang, tapi ini adalah pembantaian." Kata komandan itu sambil melihat Xerone penuh dengan aura petir di tubuhnya.
"HOAAAA." Teriakan Xerone yang menyerang.
"Aah, aku akan mati sekarang." Kata komandan itu dengan pasrah.
SRAK. Suara pedang milik Xerone yang memenggal kepala komandan itu. BUK. Suara kepala yang terjatuh ke tanah.
Dan Xerone masih menyerang prajurit Louktus yang berada di garis belakang dengan membabi buta.
SRAK SRAK SLASH. Suara pedang Xerone yang membunuh ribuan prajurit Louktus dengan sangat cepat.
"Sudah tidak ada tempat untuk kembali, mereka semua pasti akan mati disini. Mungkin aku tidak ingin melakukan pembantaian seperti ini, tapi mereka para Louktus sudah merengut banyak nyawa dimasa lalu." Kata Xerone dalam hati sambil membunuh prajurit Louktus.
"Aku sudah menantikan moment ini sejak kecil, kalian sudah membunuh keluargaku, temanku, dan semua orang dibenua Lories. Aku tidak bisa memaafkan kalian di kesempatan seperti ini. Maafkan kau." Kata Xerone dalam hati sambil mnyerang.
"Arrgh." Uh." AAA." Suara prajurit Louktus yang dibunuh Xerone.
"Louktus, aku benar-benar sangat benci dengan kalian semua." Teriak Xerone disana sambil menyerang.
__ADS_1
.