
[Benteng Perbatasan Barat Majaren]
Leon masih merenung sambil menganalisa kondisi dan situasi perang. Namun, ia tetap mengeluarkan auranya.
"Aku harus tenang. Yang mereka lakukan justru menguntungkan. Aku hanya membereskan dampaknya. Sepertinya akan ada kompensasi untuk kerajaan Porsa. Pasti para prajurit yang terbunuh sudah meninggalkan keluarganya disana. Hmm, sebaiknya aku bertanya dulu." Kata Leon dalam hati dengan tenang sambil memejamkan matanya.
Tanah yang bergetar langsung berhenti seketika. Dan aura yang keluar dari tubuh Leon tiba-tiba hilang.
"Aapa dia akan mengamuk setelah ini.?" Kata Aries dalam hati dengan panik.
...
"Kibo, jelaskan padaku yang sebenarnya." Kata Leon dengan santai sambil memejamkan matanya.
"HAA. Maaf Leon, aku tidak bermaksud membohongimu." Kata Kibo dengan gugup.
"Haaah, Apa kau menyembunyikan kejadian yang sebenarnya. Kau sangat bodoh Kibo, kita masih dalam status peperangan. Bagaimana bisa kau memberikan informasi palsu padaku. Kau membuatku sangat kesal. Jelaskan padaku." Kata Leon dengan serius sambil menatap Kibo dengan aura kegelapan di matanya.
"Aa, aaa, Maafkan aku Leon. Aku akan menjelaskan semuanya." Kata Kibo yang mulai ketakutan.
.....
"Aku akan pinsan. Atau aku akan mati.?. Bahkan Kaisar Naga sangat takut dengannya. Aku benar-benar ketakutan. Aku ingin menangis." Kata Vera dalam hati dengan tubuh gemetar.
"Aa, aaakuu sampai tidak bisa bergerak. Aku akan mati karena terkejut." Kata Xerone dalam hati dengan sangat ketakutan sambil memejamkan matanya.
.....
"Leon, saat aku datang kemari, pasukan Louktus sudah mengambil alih benteng ini. Aku membunuh mereka semua disini. Lalu, aku menunggu pasukanku datang untuk membersihkan mayat-mayat itu." Kata Kibo dengan gugup.
Leon pun berfikir dengan keras. "Hm, jadi yang menguasai benteng ini adalah Louktus. Lalu, bagaimana dengan pasukan Aries yang ada di sini. Apa mereka sudah di kalahkan.? Ahh, aku tidak memikirkan itu." Kata Leon dalam hati sambil memejamkan matanya.
"Hmm, baiklah Kibo. Kau sudah berusaha dengan keras. Kau mengambil alih benteng ini dengan cepat." Kata Leon dengan tersenyum sambil memejamkan mata.
"Haa Benarkah.? Kau membuatku ketakutan Leon."Kata Kibo yang merasa lega.
"Leon, apa kau baik-baik saja.?" Tanya Rachel yang sudah mulai tenang.
"Aku baik-baik saja Rachel, aku hanya sedang memikirkan sesuatu." Kata Leon sambil memejamkan matanya.
"Lalu, Aries. jelaskan padaku. Apa pasukanmu disini sudah di kalahkan.?" Tanya Leon dengan serius.
"Aa, aah, ituu." Kata Aries yang tercengang. Ia tidak tau tentang masalah itu.
__ADS_1
"Hm, aku tau, kau pasti belum tau. Tenanglah Aries, aku tidak akan marah. Apa prajurit ini adalah Jendralmu yang bertugas di benteng selatan.?" Kata Leon dengan serius sambil menunjuk Xerone.
"Ah, benar Leon." Kata Aries dengan gugup.
"Baiklah, aku masih belum mengenal mereka. Bisakah kalian memperkenalkan diri.?" Tanya Leon pada Xerone dan Vera.
"Haa, Na, Nama saya Xerone Worgan, Jendral pasukan elit kerajaan Properose." Kata Xerone dengan gemetar.
"Haa, Nama. Nama saya Vera Rossa. Jendral pasukan khusus kerajaan Pantiko." Kata Vera dengan sangat ketakutan.
"Baiklah. Jelaskan padaku Jendral Xerone. Apa yang sudah terjadi dengan pasukan yang ada di sini.?" Tanya Leon dengan serius.
"Ha. Pasukan yang di pimpim oleh Komandan Juroo, di pukul mundur dari benteng ini Tuan. Mereka sudah kehilangan sepertiga prajurit. Dan pasokan makanan juga habis Tuan. Maafkan bawahanku yang ceroboh. Aku akan menghukumnya Tuan." Kata Xerone dengan jujur sambil ketakutan.
"Apa komandanmu masih hidup Jendral.?" Tanya Leon dengan santai.
"Ha. Dia mundur ke benteng selatan bersama pasukan yang tersisa Tuan. Lalu sekarang, dia sedang berada disini bersama pasukan yang lain." Kata Xerone dengan gugup sambil memejamkan matanya.
"Emm, Baiklah Jendral, kau sudah berusaha sebaik mungkin. Mungkin kau bisa membicarakannya dengan komandanmu sendiri. Aku harap kau tidak memarahinya." Kata Leon dengan santai sambil melirik Vera.
"Lalu, Jendral Vera. Apa kau bisa mempertahankan benteng ini bersama pasukanmu. Sepertinya tugas ini membutuhkan waktu yang lama. Apa kau punya keluarga.?" Kata Leon dengan santai.
"Haa, Tuan. Aku akan menjaganya dengan nyawaku sendiri. Lalu, keluargaku ada di kerajaan Pantiko, aku sering mengirimkan surat pada ayahku disana Tuan." Kata Vera dengan gugup.
"HA, LAKSANAKAN PERINTAH TUAN." Kata Xerone dan Vera secara kompak. Sepertinya mereka sudah merasa tenang.
"Kalian tidak perlu khawatir tentang pasokan makanan dan pakaian hangat. Kami akan mengirimkannya untuk kalian. Jadi bertugaslah dengan disiplin." Kata Leon dengan tegas.
"HA, LAKSANAKAN PERINTAH TUAN." Kata Xerone dan Vera secara kompak.
"Baiklah, Aku sangat senang bertemu kalian. Kita akan berjuang bersama sekarang." Kata Leon dengan santai.
"Ah, aku lupa sesuatu. Apa kalian bisa memberikan tanda di atas makam mayat-mayat yang kalian kubur. Itu akan menjadi monumen bersejarah nantinya. Pasti keluarga mereka yang terbunuh sedang mencari mayatnya." Kata Leon dengan serius.
"HA, LAKSANAKAN PERINTAH TUAN." Kata Xerone dan Vera secara kompak.
"Baiklah. Kalian bisa kembali bertugas sekarang." Kata Leon dengan tersenyum.
"HA. KAMI UNDUR DIRI TUAN." Kata Xerone dan Vera. Lalu, mereka pun keluar dari tenda komando.
....
"Sepertinya kita akan langsung bergerak saja. Kita akan pergi ke Porsa dan Forlsa." Kata Leon dengan tersenyum sambil duduk.
__ADS_1
"Apa kita akan pergi sekarang Leon.?" Kata Rachel dengan serius.
"Aku akan membaginya. Kita selesaikan dengan cepat. Louktus tidak akan menyerang sekarang, kekuatan tempur mereka sudah sedikit berkurang. Mereka pasti sedang memikirkan sesuatu." Kata Leon dengan santai sambil berdiri.
"Apa perintahmu Leon. Aku sudah menunggunya." Kata Aries dengan semangat.
"Aries, bisakah kau mengirimkan surat perintah untuk pasukan kerajaan bawahan, suruh mereka membantu pasukanmu yang bertempur di laut. Kita tidak bisa diam saja, jalur untuk pasokan makanan itu sangat penting." Kata Leon dengan tegas.
"Baiklah. Aku akan mengirimkan surat sekarang." Kata Aries dengan serius.
"Lalu, Rachel. Apa kau bisa bernegosiasi dengan kerajaan Forlsa. Berikan jaminan Ekonomi kepada mereka. Dan ambil alih kerajaan itu dari Louktus." Kata Leon dengan serius.
"Aku akan melakukannya Leon. Kapan aku akan pergi kesana.?" Tanya Rachel dengan serius.
"Besok kau akan pergi kesana Rachel. Dan aku akan pergi ke Porsa. Lalu, Aries. Pergilah ke Honzu. Dan Kibo, pergilah ke pelabuhan. Aku harap, kalian sudah mengerti tugas kalian masing-masing. Aku hanya memiliki 3 panglima sekarang. Ini sedikit sulit dari yang aku bayangkan. Aku mengandalkan kalian semua teman-teman." Kata Leon dengan serius.
"HA. LAKSANAKAN PERINTAH MAHARAJA." Kata semua Paradicone sambil berlutut didepan Leon.
"Sekarang kita kembali dulu ke Castle Taman Surga." Kata Leon dengan tersenyum. Lalu, Leon dan lainnya pun pergi ke Castle Taman Surga.
....
Di luar tenda.
"Sepertinya Paradicone sudah pergi dari sana. Tapi aku masih gemetar. Pria itu benar-benar mengejutkanku." Kata Xerone yang masih ketakutan.
"Kau benar Xerone. Aku sampai lemas di dalam sana. Bahkan Paradicone takut dengannya. Aku sangat penasaran. Siapa sebenarnya Pria itu.?" Kata Vera dengan ketakutan dan tubuhnya gemetar cukup kencang.
"Sebaiknya kita istirahat Vera. Kita akan melakukan tugas kita besok pagi." Kata Xerone sambil berjalan ke arah tenda prajurit.
"Ah, mungkin sebaiknya aku istirahat juga." Kata Vera yang berjalan ke arah tenda prajurit. Ia masih tidak berani masuk ke tenda komando.
....
[Castle Taman Surga]
Leon dan lainnya sampai di Castle. Mereka langsung menuju dapur untuk makan malam.
"Rachel, berikan aku makanan yang kemarin." Kata Leon dengan kesal. Karena makananya kemarin gorong. Bahkan pancinya meledak.
"Em, baiklah Leon, tunggulah sebentar. Aku akan menyiapkannya." Kata Rachel sambil mengambil panci baru.
.
__ADS_1
.