
[Di lembah timur]
Terlihat, Leon sedang melihat Dona pergi dari hadapannya begitu saja.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang.?" Tanya Kibo.
"Mereka akan menyerang kita Kibo, sudah jelas kita harus melawan balik." Jawab Leon.
"Mereka tidak akan menyerang dengan sembarang Leon, mereka sudah pasti menyiapkan strategi untuk melawan kita." Kata Kibo.
"Aku tau itu Kibo. Sebalah kanan dan kiri gunung, ada ratusan ribu prajurit yang mengepung kita, dan jutaan prajurit sedang bersiap untuk menyerang dari depan." Kata Leon.
"Sebaiknya kita bersiap sekarang sebelum mereka menyerang." Kata Leon sambil bergerak kembali ke barisan prajurit Gionova.
"Ah, baiklah." Kata Kibo sambil mengikuti Leon.
...
Di barisan prajurit Gionova, Xerone sedang memperintahkan pasukannya untuk berbaris.
"Panglima, pimpinan sudah kembali." Kata Cena yang melihat Leon bergerak menghampirinya.
"Apa mereka sedang bernegosiasi dengan Louktus.?" Tanya Xerone.
"Sepertinya begitu Panglima." Jawab Cena.
"Sebaiknya kita bertanya langsung pada pimpinan." Kata Xerone sambil menghampiri Leon.
Leon pun berhenti di depan Xerone dan Cena yang masih menaiki kuda.
"Pimpinan, apa perintah anda selanjutnya.?" Tanya Xerone sambil berlutut.
"Xerone, kita sedang dalam situasi perang, berhentilah bersikap hormat seperti itu." Kata Leon dengan tatapan tajam.
"Ha, maafkan saya pimpinan." Kata Xerone sambil berdiri.
"Apa kau sudah tau situasi sekarang.?" Tanya Leon.
"Pimpinan, situasinya sangat rumit, saya tidak tau strategi apa yang mereka pakai, saya sudah memperintahkan prajurit untuk bersiap." Jawab Xerone.
"Bagaimana strategi yang kau pakai.?" Tanya Leon lagi.
"Pimpinan, saya sudah membagi pasukan menjadi 3 baris, pasukan garis depan, tengah, dan belakang. Dengan jumlah prajurit musuh disana, strategi yang saya pakai adalah menyerang dari jarak jauh." Jawab Xerone.
"Apa kau yakin bisa mengalahkan mereka dengan strategi seperti itu.?" Tanya Leon.
"Saya sudah yakin Pimpinan, para prajurit bisa menyerang ke segala sisi, garis depan dan garis belakang pasukan musuh." Jawab Xerone.
"Hem, sepertinya itu bagus, apa kau melihat pasukan yang ada di sebalah kanan dan kiri gunung itu.?" Tanya Leon lagi.
"Eeeh.?" Suara Xerone yang terkejut.
"Jadi kau belum menyadarinya. Di sebalah sana ada ratusan ribu prajurit yang sedang menunggu perintah untuk mengepung kita, sebaiknya kita rombak strategi yang sudah kau buat." Kata Leon sambil turun dari kudanya.
"Panglima, maafkan saya, saya tidak tau dengan itu." Kata Xerone dengan murung.
"Hem, seorang Panglima sepertimu juga pernah membuat kesalahan, meskipun prajurit kita sangat kuat, tapi jika kita kalah dalam strategi, itu bisa membuat kita kalah dalam peperangan." Kata Leon.
"Ha, sekali lagi, saya minta maaf Pimpinan." Kata Xerone.
"Sudahlah, kita harus bergegas sebelum mereka menyerang kita." Kata Leon.
"Baik Pimpinan, seperti apa strategi yang anda gunakan.?" Tanya Xerone.
"Bagi pasukan menjadi 6 grup. dan arahkan 2 grup untuk menyerang gunung di sebalah kanan dan kiri, lalu 3 grup menyerang langsung ke depan dengan arah yang berbeda dan berpencar. Dan grup terakhir akan menyerang mereka dari jarak jauh." Jawab Leon.
"Eeh.? Ituu. Itu strategi yang bagus Pimpinan." Kata Xerone.
"Kita masih belum tau hasil peperangan kali ini, tapi aku bisa menjamin para panglima mereka tidak akan menyentuh kalian, dan kau fokus saja dengan prajurit Louktus disana." Kata Leon.
"Ha, laksanakan perintah." Kata Xerone.
"Baiklah, gerakkan sekarang pasukanmu." Kata Leon.
"Baik Pimpinan." Saut Xerone sambil berlari kearah pasukannya.
__ADS_1
Lalu, tiba-tiba. TOOTHH, TOOTH. Suara terompet yang menandakan perang akan di mulai.
"Hee.? Ini terlalu cepat." Kata Leon yang mendengar suara terompet itu dengan terkejut.
"Kita masih belum bersiap-siap Leon, apa aku akan menghalangi mereka untuk sementara.?" Tanya Kibo.
"Tidak perlu Kibo, biarkan mereka bergerak. Kita bisa mengambil posisi sambil menyerang." Jawab Leon.
...
Di tempat Xerone.
"Ini, ini terlalu cepat. Mereka bahkan tidak memberikan kesempatan untuk kita." Kata Xerone dengan terkejut.
"Panglima, apa perintahmu.?" Tanya Cena dengan panik.
"Cena, ini perintah langsung dari Pimpinan. Dengarkan baik-baik dan lakukan dengan cepat." Kata Xerone dengan panik.
"Baiklah Panglima." Saut Cena.
Xerone pun menjelaskan semua strategi yang di buat oleh Leon, dan Cena pun mendengarkan dengan serius.
...
Di tempat pasukan Louktus.
"Kita tidak perlu menunggu mereka, ini terlalu lama." Kata Dona.
"Hehe, mereka bahkan belum bersiap-siap Dona. Kau sangat jahat sekali." Saut Winsol.
"Ini adalah perang, tidak perlu memberikan kesempatan kepada musuh." Kata Dona.
"Baiklah, kita serang mereka sekarang." Kata Winsol.
"Bunyikan terompet kedua, dan serang mereka." Kata Dona kepada salah satu Jendral disana.
"Ha. Laksanakan perintah." Kata Jendral itu.
Beberapa detik kemudian. TOOOTTH. Suara terompet kedua.
"HOAAAAAAA." Teriakan pasukan Louktus yang menyerang.
Jutaan bola api dan panah api di luncurkan dari garis belakang pasukan Louktus. Bola api itu memenuhi langit pagi yang mengarah ke barisan belakang pasukan Gionova.
...
Di tempat Leon berada.
"Terompet kedua sudah di bunyikan. Apa Xerone belum selesai.?" Kata Leon sambil melihat jutaan bola api yang melesat kearahnya.
"Aku akan menangkis serangan itu Leon." Kata Kibo.
"Bola api itu sangat banyak Kibo, jika kau menangkisnya, kita tidak bisa melihat kedepan." Saut Leon.
"Lalu, bagaimana ini.?" Tanya Kibo.
"Kita tunggu saja pasukan Gionova menyerang, kita harus percaya kepada Xerone dan lainnya." Jawab Leon.
...
Di tempat Xerone.
"Lakukan sekarang juga Cena, kita hanya punya waktu beberapa detik saja." Kata Xerone sambil berlari kedepan.
"Baik Panglima, kita akan berpencar sekarang sambil menangkis serangan itu." Kata Cena sambil bergegas bergerak.
"Atasi bajingan yang ada di gunung itu." Teriak Xerone.
...
Leon pun terbang ke atas udara bersama Kibo. Dan mereka melihat pasukan Gionova sudah bergerak.
"Kita lihat Kibo, seberapa hebatnya pasukan Gionova." Kata Leon.
"Em. Jumlah itu mungkin menjadi tantangan bagi Xerone dan lainnya. Bahkan jumlah pasukan Louktus 6 kali lipat lebih banyak." Saut Kibo.
__ADS_1
"Ah, tapi itu mudah bagi Xerone. Dan kau juga harus bersiap-siap Kibo." Kata Leon dengan tersenyum.
"Aku akan menahannya Leon." Kata Kibo dengan serius.
...
"HOAAAA." Suara pasukan Gionova yang berlari menyerang pasukan Louktus.
TRET TRET TRET. DROMRR. Suara petir yang menghalau jutaan bola api dan panah api di udara.
"Hem, tidak buruk." Kata Leon yang melihat serangan itu.
Di garis depan, terlihat Xerone berlari sangat cepat menuju ke arah pasukan Kavaleri.
TRET. Suara aura petir yang keluar dari mata Xerone.
"Aku harus melakukan yang terbaik untuk perang ini." Kata Xerone dalam hati sambil berlari paling depan.
Lalu, ia pun meloncat ke depan. "HOAAA." Teriakan Xerone sambil menyerang pasukan kavaleri.
SRAK SRAK SRAK. SLASH WOSSH. Suara pedang Xerone yang menyerang pasukan kavaleri dengan sangat cepat.
"Haa.? Siapa dia.?" Kata Jendral Louktus yang terkejut melihat Xerone menyerang pasukannya yang ada di belakang.
"Lihat kemana kau.?" Kata salah satu komandan Gionova yang menyerang Jendral itu.
KLANG. Suara benturan pedang.
"Bajingan mana yang menyerang dari belakang.?" Kata Jendral Louktus.
"Apa kau bodoh.? Ini adalah perang."Kata Komandan itu.
"Chikh. HAAAAA." Teriak Jendral itu sambil menyerang balik.
TRANG TRANG KLANG. Suara pertempuran mereka berdua.
...
Di tempat Leon berada.
"Hem, perasaan ini terasa sakit. Tidak ku sangka, hanya beberapa detik saja pasukan Gionova sudah membunuh puluhan ribu pajurit Louktus." Kata Leon sambil melihat medan peperangan dari atas udara.
Dan Kibo hanya terdiam sambil tercengang dan terengah-engah.
"Huh, huh, Arrgh. Ini sakit sekali." Kata Kibo sambil memegangi dadanya.
"Apa kau bisa menahannya Kibo.?” Tanya Leon.
"Uuuh. Aku sedang berusaha untuk menahannya Leon." Jawab Kibo.
"Sebaiknya kau melihat kedepan, ada tamu yang yang menghampirimu." Kata Leon sambil menunjuk Winsol yang terbang kearah Kibo.
"Ah, dia sudah datang ya." Kata Kibo dengan terengah-engah.
"Apa kau bisa mengurusnya.?" Tanya Leon.
"Uhok. Aaah. Aku akan melawannya Leon." Jawab Kibo dengan tubuh yang sudah lemas.
"Apa kau yakin.? Kau terlihat sangat lemas." Saut Leon sambil melihat Kibo yang sudah terengah-engah.
"Herrr. Aku sudah menekatkan hatiku untuk moment ini. Aku tidak akan mundur." Kata Kibo dengan serius.
"Baiklah, Aku serahkan dia padamu." Kata Leon.
"Tunggu di sini, aku akan menyelesaikannya." Kata Kibo dengan serius.
Lalu. DEEP. Suara tubuh Kibo yang tiba-tiba hilang dan tiba-tiba menyerang Winsol.
"Eeeh.?" Suara Winsol yang terkejut.
TRANG. Suara benturan pedang suci milik Kibo dan dagger milik Winsol.
"Hehe, ternyata kau cukup berani melawanku." Kata Winsol.
"Jangan banyak bicara, kita selesaikan saja sekarang." Kata Kibo.
__ADS_1
.