Legenda Maharaja

Legenda Maharaja
Perjuangan Ayah


__ADS_3

[Pelabuhan Ame]


Siang hari. Tenda prajurit yang di bangun di pemukiman warga, sudah di bereskan. Lalu, terlihat Kibo ada di tenda Kaisar Naga, yang masih gemetar karena melihat Leon semalam.


"Aku sangat ketakutan, kenapa tanganku sampai sekarang masih gemetar. Sosok itu, Maharaja berdiri di depanku semalam." Kata Kibo yang masih gemetar melihat sosok seorang Leon.


"Ara, sepertinya kau membuat kekacauan Kibo.?" Kata Aries yang tiba-tiba masuk ke tenda Kaisar Naga.


"Ariess. Syukurlah kau datang. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan sekarang." Kata Kibo dengan gelisah sambil melihat Aries.


"Ah, aku sudah tau semuanya dari Rachel. Kau terlalu buru-buru Kibo. Kau membuatnya marah. Hmm, kau harus menyelesaikan semuanya. Perintah itu masih berlaku sampai sekarang." Kata Aries dengan santai sambil duduk di kursi.


"Aku tau Aries. Aku terlalu bersemangat melakukan tugas ini, aku kira Leon akan senang dengan keamanan yang kuat. Tapi mereka malah menindas penduduk disini." Kata Kibo dengan serius.


"hm, mungkin mereka menganggap kerajaan ini tidak pantas untuk di jaga. Melihat kerajaan Pantiko yang begitu besar, sudah sewajarnya mereka besar kepala." Kata Aries sambil memejamkan mata.


"Aries. Semalam, aku melihat sosok Sang Maharaja berdiri di depanku. Itu membuatku ketakutan, bahkan sampai sekarang, tanganku terus gemetar." Kata Kibo yang ketakutan mengingat kejadian semalam.


"Haah, itu wajar Kibo, kau sendiri sudah tau, siapa sebenarnya Arjun Leon." Kata Aries sambil melihat Kibo yang ketakutan.


"Sebaiknya kau menemui dia Kibo, aku ada urusan dengan Rachel, datanglah ke desa, Leon ada disana bersama Rachel." Kata Aries sambil berdiri.


"Aah, Aku masih tidak berani menemuinya Aries. Aku sangat gugup. Semua ini karena kesalahanku." Kata Kibo yang ketakutan sambil melihat tangannya yang gemetar.


"Lalu, sampai kapan kau akan disini.?" Kata Aries sambil berjalan keluar tenda.


Aries pun pergi meninggalkan Kibo dan pergi menghampiri Rachel yang ada di tenda emergency.


"Ah, ituu. Aku sendiri tidak tau." Kata Kibo kepada dirinya sendiri sambil melihat tangannya yang gemetar.


....


Didesa Pelabuhan Ame. Terlihat, semua warga sedang sibuk membereskan rumahnya masing-masing.


"Bahan makanan ini, tolong di kirim kesana. Kita harus menyuplay makanan ke beberapa desa di wilayah kerajaan." Kata Lucas kepada bawahannya.


"Ha, siap laksanakan Tuan." Kata Bawahannya Lucas.


"Apa kau sibuk Tuan.?" Kata Silvi yang datang bersama pasukannya.

__ADS_1


"Ah, Nona Silvi. Apa kau sudah baik-baik saja sekarang.?" Kata Lucas kepada Silvi.


"Ya, aku sudah baikan sekarang Tuan. Syukurlah semua bisa terselesaikan dengan cepat. Mereka sangat menderita setelah kedatangan pasukan Kerajaan Pantiko." Kata Silvi kepada Lucas.


"Aku sendiri sangat terkejut saat datang kemari, bahkan para pekerja proyek di usir dari sini. Aku juga kebingungan mengatasinya. Untung saja Tuan Leon datang kesini. Hah, aku jadi lega sekarang." Kata Lucas yang meresa aman.


"Aku dengar, Kaisar Naga sendirilah yang menjaga disini. Apa itu benar Tuan.?" Tanya Silvi kepada Lucas.


"Ah, sepertinya itu benar. Aku melihat Dewi marah-marah kepada Kaisar Naga, saat di camp prajurit kemarin." Kata Lucas sambil melihat ke arah laut.


....


Tenda Emergency.


"Rachel, bagaimana keadaanya.?" Kata Aries yang tiba-tiba datang ke tenda emergency.


"Ah Aries, kau sudah datang. Dia sudah mulai pulih." Kata Rachel sambil makan di tenda.


"Apa kau nyaman dengan penutup wajah itu Rachel. Aku melihat kau sangat terganggu." Kata Aries kepada Rachel.


"Leon sendirilah yang menyuruhku, jika ini tidak aku lakukan, semua orang bisa pinsan dari kemarin." Kata Rachel dengan tersenyum.


"Lalu, dimana Leon sekarang.?" Tanya Aries kepada Rachel dengan penasaran sambil duduk di kursi.


"Dia sekarang ada di ujung tebing pantai." Kata Rachel kepada Aries.


"Emm," Suara Aries yang berfikir.


.....


Di tebing pantai. Terlihat Leon yang duduk sendirian menghadap kearah laut, sambil memejamkan matanya.


"Sampai kapan kau ada disini sendirian, Leon.?" Tanya kepala desa bernama Solan yang datang tiba-tiba ketempat Leon.


"Aahh, haha. Tuan Solan, kau mengejutkanku." Kata Leon tertawa sopan sambil mengaruk kepalanya.


"Haah, apa kau masih marah dengan prajurit itu nak.?" Tanya Solan kepada Leon.


"Ah tidak Tuan. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu." Kata Leon sambil melihat ke arah laut.

__ADS_1


"Terimakasih nak, kau sudah banyak membantu disini. Aku sendiri tidak tau, apa yang harus aku berikan padamu." Kata Solan kepada Leon dengan sedih sambil duduk disamping Leon.


"Ah, Tuan. Tidak perlu berterimakasih padaku. kau membuatku malu, hahaha." Kata Leon yang malu sambil tertawa.


"Apa kau masih mengingatnya Leon. Ayah Tina yang kau tolong tempo lalu?" Tanya Solan kepada Leon.


"Ah, aku hanya senang melihat perjuangannya." Kata Leon sambil tersenyum sedih.


"Dia memang memaksakan diri Leon, bahkan saat ia sedang sakit, Argus pergi ke laut mencari ikan untuk Tina. Itu di lakukan setiap hari, ia bahkan tersenyum kepada anaknya dalam keadaan sakit. Hidupnya di habiskan hanya untuk merawat Tina. Dan istrinya meninggal karena kelaparan saat Tina masih berusia 3 tahun. Argus benar-benar sangat menderita. hanya Tina yang dia miliki satu-satunya." Kata Solan bercerita kepada Leon.


Leon hanya terdiam sambil menelan ludah mendengarkan cerita itu.


"Setiap hari dia pergi ke laut mencari ikan, dan Tina menyiapkan sisa-sisa makanan untuk ayahnya dirumah. Kami semua sangat prihatin kepada mereka. Argus adalah mantan prajurit kerajaan, ia di berikan kekuatan sihir untuk bertempur ke medan perang. Tapi saat ia bertemu dengan ibu Tina, ia berhenti menjadi seorang prajurit. Argus memilih untuk tinggal di desa ini bersamanya." Kata Solan yang bercerita.


Leon masih terdiam mendengarkan cerita itu dengan serius.


"Setelah mereka menikah dan tinggal di desa ini, ada beberapa prajurit Kerajaan yang datang ke rumahnya. kami mendengar teriakan yang sangat kencang dari rumahnya. Dan setelah prajurit-prajurit itu pergi, kami bergegas melihatnya. Tubuhnya terbaring lemas di tanah, Argus hanya mengerang-ngerang kesakitan, dan istrinya menangis sambil memeluknya." Kata Solan yang bercerita.


Leon pun masih terdiam dan berkata dalam hatinya. "Sepertinya, mereka mengambil energi sihir dari tubuhnya."


"Setelah kejadian itu, Keadaan Argus mulai sakit-sakitan. Ia sering batuk-batuk dan mengeluarkan darah. Bahkan istrinya sampai mengemis di kota dalam keadaan hamil. Saat Tina lahir, ia berusaha mencari ikan di laut untuk keluarganya. Namun, ikan yang dia dapatkan, hanya cukup untuk satu orang saja. Ia selalu mengalah kepada istrinya, dan istrinya selalu menyisahkan makanan itu untuk Argus." Kata Solan bercerita.


"Ah, mereka sangat menderita, aku bisa merasakannya Tuan, bahkan saat Tina menangis mengejar ayahnya ke laut. Aku hanya bisa melihatnya." Kata Leon yang sedih.


"Tina sangat beruntung mempunyai ayah seperti Argus nak." Kata Solan sambil melihat kearah Leon.


"Itu benar Tuan, itu mengingatkanku pada seseorang." Kata Leon sambil merenung.


"Tapi, kau tidak hanya membantu Tina Leon, kau membantu semua warga disini. Aku benar-benar sangat berterimakasih padamu. Hiks, aku tidak akan melupakannya." Kata Solan yang terharu sambil bersujud pada Leon.


"Ah, Tuan. Jangan lakukan itu padaku. Berdirilah Tuan Solan. Aku akan berusaha membantu semunya, jangan khawatir soal itu, aku sendiri yang akan menjaga kalian." Kata Leon sambil mengangat tubuh Solan.


....


"Baiklah nak, ini sudah mulai sore, aku akan membantu warga disana. Nikmatilah nak, jangan menyalahkan dirimu sendiri." Kata Solan sambil berjalan ke arah desa.


"Ah, sepertinya aku sudah membuat kesalahan." Kata Leon sambil melihat ke arah laut.


.

__ADS_1


.


__ADS_2