
[Di kota Ame. Tempat camp pasukan Nizo.]
Elis yang sedang memeriksa dokumen pemberian David yang berisi informasi identitas Leon. Ternyata data palsu. Di kerajaan Majaren khususnya ibu kota, tidak ada keluarga yang bernama Arjun.
"David, kau membohongiku". kata Elis yang kesal sambil meremas kertas-kertas itu.
Tidak berselang Lama, pasukan kerajaan batalion utama penjaga Raja datang ke ibu kota.
Terlihat Silvi berlari menuju tenda komando, dan segera memberitahu Elis tentang datangnya sang Raja ke kota Ame.
Elis pun terkejut, kenapa tiba-tiba Raja datang ke kota Ame. Apakah ada masalah yang serius, sampai ia datang sendiri ke sini.
Elis dan pasukannya pun bergegas pergi dari Camp menuju pusat kota untuk menyambut datangnya sang Raja.
Sambutan yang sangat meriah, lebih meriah dari sambutan pasukan Nizo dulu. Semua warga bersorak gembira kepada Raja.
Raja James Nicolas, memberikan salam ke semua warganya. Rombongan yang sangat panjang.
Pasukan yang di pimpin oleh salah satu prajurit elit pilihan, dari Akademi Rousen, Ares Gilbert dari keluarga bangsawan Gilbert. Dipercaya untuk memimpin pasukan penjaga Raja.
Ares memimpin pasukan berjumlah 2 Batalion elit, dan 4 Batalion tempur.
Berjumlah sekitar 50.000 prajurit. Yang dimana 4 Batalion tempur di tempatkan di luar Ame dan di sepanjang jalan Pelabuhan Ame.
Satu Batalion elit di tempatkan di gerbang masuk kota Ame. Dan satu batalion Sisanya, di tempatkan di sekitar Raja.
Sungguh pasukan pengamanan yang sangat ketat, bahkan lalat pun tidak bisa menerobos kedalam jajaran pasukan elit itu.
Sesampainya di kantor Wali kota, Raja di sambut dengan para petinggi disana, beserta Wali kota Deril. Dan disana pula ada Elis dan Silvi yang berdiri.
"Ayaah, aku merindukanmu" Kata Elis kepada sang Raja. "Ah Elisabeth, lama tidak bertemu, bagaimana keadaanmu.?" Tanya Raja kepada Elis. "Aku baik-baik saja Ayah" kata Elis sambil tersenyum.
"Tuan Putri, jaga sikapmu di depan publik". Kata Ares kedapa Elis. "Ah, kau sangat membosankan Ares" saut Elis.
"Selamat datang di kota Ame kakak". Sambut Silvi kepada Ares. Silvi adalah Adik ke tiga dari Ares. Ia juga keturunan Bangsawa Gilbert.
Raja, beserta para Menterinya dan di temani Direktur Rousen, Rewin Winston masuk ke dalam ruangan Wali kota bersama para petinggi disana.
Perdana Menteri Kerajaan Majaren bernama Lucas Edward, dari Keluarga Bangsawan Edward menjelaskan maksud dan tujuannya ke kota Ame.
Semua para petinggi disana termasuk Wali kota sangat terkejut dengan penjelasan Lucas. Tidak di sangka, alasan kedatangan Sang Raja adalah karena orang bernama Arjun Leon.
Rapat kali ini berjalan dengan aman, tanpa ada permasalahan dan penjelasannya pun sudah sangat jelas.
__ADS_1
Rewin mulai angkat bicara. "Kami semua sudah tau kasus mengenai Leon, dan Raja sudah memutuskan, bahwa Elis tidak ada hubungannya, karena Elis juga tidak tau identitas dari Leon. Dan saya mewakili keluarga Winston, meminta maaf kepada wali kota atas pemalsuan data yang diberikan oleh David."
"Aah, tidak perlu meminta maaf Tuan Rewin, kami sudah menutup permasalahn ini" kata wali kota dengan sangat ketakutan.
Rencananya mereka akan berangkat besok pagi menuju tempat terlarang Taman Surga. Semua sudah di rencanakan, mulai dari siapa yang akan berangkat bersama rombongan Raja, dan siapa saja yang akan pergi ke gerbang Taman Surga.
Malam pun tiba
....
[Castle Taman Surga.]
Terlihat Leon sedang melamun memandangi bintang di luar balkon kamarnya.
"Ternyata dunia ini sudah sangat berubah sejak pertama kali aku datang dari masa lalu. Perasaan ini masih sangat terasa, pemberontakan itu. Dan pedang ini kenapa berubah jadi warna hitam. Apa karena ternodai oleh jiwa-jiwa yang mati pada saat itu." Kata leon dalam hati sambil melamun.
"Aku benar-benar sangat bodoh". Kata Leon sambil meremas pedangnya.
Tiba-tiba Rachel datang mendekat di samping Leon dengan memakai pakaian tidur. Dan bentuk tubuh Rachel terlihat dengan jelas.
"Kau memang bodoh Leon.?" Kata Rachel kepada Leon sambil mendekatkan kepalanya pada wajah Leon.
Leon pun kaget melihat Rachel yang tiba-tiba datang. "Rachel kenapa kamu ke kamarku.?" kata Leon sambil melihat tubuh Rachel dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Melihat kemana kamu Leon.?" Kata Rachel dengan wajah memerah. "Ini adalah rumahku, tentu saja terserah aku mau kemana" Lanjut Rachel bicara.
Rasa penasaran yang terkumpul dikepala Leon, sungguh membuatnya bingung, pandangan kosong ke arah langit membuatnya ia ingat dengan orang-orang di sekitarnya dulu.
Penyelasan, amarah, dan ia menyalakan dirinya sendiri.
Namun beda dengan Rachel, justru ia dari tadi memandangi wajah leon yang sedang murung, dengan langit malam yang di penuhi bintang-bintang dan angin malam yang berhembus, membuat suasana terkesan romantis bagi Rachel.
Rachel benar-benar sangat bahagia dengan kehadiran Leon disisinya. Sesuatu yang sangat berharga bagi dirinya yang ia tunggu-tunggu selama ribuan tahun.
"Hei Rachel, apa kamu akan tidur lagi selama puluhan tahun.?" Tanya Leon dengan pelan sambil memandangi bintang.
"Tentu saja tidak. Karena kamu ada disini". Saut Rachel sambil tersenyum.
"Ah, terimakasih Rachel, aku sudah kehilangan banyak orang yang ku kenal. Kamu sudah hidup ribuan tahun disini. Tapi aku masih bisa mendengar teriakan ribuan orang di kota Nasion. Aku masih bisa merasakan tangisan para penduduk disana, mereka maninggal karena keserakahanku. Bagiku itu baru saja terjadi. Dan aku masih hidup sampai saat ini, karena kekuatan dewa yang ada di tubuhku." Kata Leon yang masih terbayang-terbayang tragedi Nasion, sambil melihat ke arah hutan.
"Kamu tidak akan tau Leon, bagaimana perasaan kita saat kami tau kau mati. Kibo, Aries, dan Aku, menangis sepanjang malam, kehilangan salah satu Raja yang mereka kagumi, dan kehilangan satu-satunya teman yang aku sayangi." Kata Rachel.
"Aku menangis selama 1 minggu, dan selalu menyendiri di castle Nasion. Aku masih belum bisa menerima kenyataan itu. Aries selalu menenangkanku, dan kibo selalu membantuku. Bagi mereka, kamu adalah anugrah yang pernah mereka temui. Mungkin terlalu cepat bagimu untuk menguasai dunia di usia yang masih muda, kita berjuang bersama-bersama hanya untuk memenuhi ambisimu. Menciptakan dunia tanpa kekerasan. Tapi itu membuatmu sangat terkenal, kerajaan-kerajaan yang kau bangun di atas kekuatanmu, mulai iri denganmu." Kata Rachel dengan serius.
__ADS_1
Leon pun terdiam sambil bengong ke arah Rachel. ia benar-benar tidak memikirkan perasaanya. Sudah ribuan tahun Paradicone menanggung semua perbuatan Leon.
Bahkan setelah Leon menghilang, mereka bertarung di atas Namanya, sampai hari ini, mereka tetap mewaspadai pergerakan mantan pemberontak Louktus Prem.
"Berhentilah menyalahkan diri sendiri Leon. Aku sangat mengagumimu, dan aku sangat menghormatimu, semua ini terjadi karena keserakahan para pemberontak itu, aku benar-benar tidak bisa memaafkan mereka. Merekalah yang membuatku terpisah denganmu". Kata Rachel penuh dendam dengan mengepalkan tangannya.
"Apa kau benar-benar menyukaiku Rachel.?" Tanya Leon.
Sontak Rachel pun bilang "Tentu saja". Dan beberapa detik, wajah Rachel memerah. "Tidak, maksudku, aku sangat menghormatimu, Ah tidak tidak, aku hanya mengagumimu". Kata Rachel sangat malu.
Leon pun tertawa dan bilang. "Terimakasih".
....
Pagi hari pun tiba. Leon yang terbangun dari tidurnya, mendengar suara yang berisik di luar kamarnya. Ia pun berdiri perlahan, dan membuka pintu kamar.
Saat ia mau keluar dari kamarnya, terlihat benda yang melayang di depannya, dan hampir terkena kepala Leon.
"Apa itu barusan?." kata Leon, ia pun melihat sekeliling Castle, ada banyak sekali sapu-sapu yang bergerak sendiri membersihkan Castle, ada juga kain yang membersihkan perabotan, dan Lap lantai yang membersihkan lantai castle.
Leon pun terkejut. "Ternyata castle ini tetap bersih karena sihir Rachel". Kata Leon dalam hati sambil berjalan ke dapur.
"Ah, kamu sudah bangun Leon, sarapan sudah siap". Kata Rachel sambil menyiapkan makanan ke atas meja.
"Waaah, seperti biasanya, kelihatannya sangat enak Rachel" kata Leon terkagum-kagum.
"Aku hanya ingin memasak untukmu saja Leon". Kata Rachel sambil tersenyum.
Tiba-tiba Ada suara petir menyambar dengan sangat keras. Rachel pun langsung menoleh ke arah jendela dan berjalan ke pintu luar.
Leon yang masih belum makan, tidak perduli dengan petir itu, iya pun langsung menyantap semua makanan ada di atas meja.
"Ada segerombolan orang mendekat ke arah sini, sekitar 24.000 orang" Kata Rachel.
"Vetier aupao aaang faarusan itue Racheiil (Petir apa yang barusan itu Rachel.?)." Kata Leon yang sedang makan sambil ngomong.
"Telan dulu makananmu Leon." Kata Rachel
"ieni saengat enakj Racheil (Ini sangat enak Rachel)". Kata Leon sambil makan.
"Sudah kubilang, telan dulu makananmu". Kata Rachel yang kesal.
....
__ADS_1
Di tengah hutan. Rombongan Raja yang sedang menuju ke wilayah Taman Surga. Terlihat kereta kuda yang membawa makanan tersambar petir hingga terbakar.
.