
[Perbatasan Selatan]
Medan peperangan yang begitu hebat, ratusan ribu prajurit berperang disana. Kobaran api yang membakar benteng begitu banyak di semua sisi.
Prajurit yang gugur tergeletak dan di injak-injak. Mereka semua berjuang antara hidup dan mati. Lalu, Xerone di cekik dan di angkat ke udara oleh Erwin.
"Apa kau masih bernafas Xerone.?" Kata Erwin dengan tatapan yang tajam.
"Kau, bajingan." Kata Xerone yang mengerang-erang.
"HOOAAAAAH." Teriakan kemarahan Erwin sampai ia mengeluarkan kekuatan penuhnya. Aura yang kuat menekan Xerone dan ribuan prajuritnya.
.....
Lalu, tiba-tiba. "Uhooukkh." Suara Erwin yang kesakitan sampai mengeluarkan darah dari mulutnya. Ia melihat perutnya tertusuk dan mengeluarkan darah.
"Siapa, siapa yang melakukan ini." Kata Erwin dalam hati dengan terkejut. Ia pun melihat kedepan. "Haaa." Suara terkejut Erwin.
"Ho, kau masih bisa bergerak bocah.?" Kata Aries yang tiba-tiba datang dengan menusuk perut Erwin.
"HAAAA." Suara ketakutan Erwin. "Tidak mungkin dia ada disini, kenapa, kenapa dia mengetahui begitu cepat." Kata Erwin yang ketakutan.
"AAAAHHHH. Aarrrgk." Suara Erwin yang mengerang-erang. dan tubuhnya didorong oleh Aries dengan senjata sucinya.
Tangan Erwin yang mencekik leher Xerone di lepasakan begitu saja. Dan baju Xerone di pegang oleh Aries.
"Apa kau baik-baik saja Xerone.?" Kata Aries yang mengangkat tubuh Xerone dengan tangannya.
"Aa, Aaaah. Yang Mulia. Maafkan aku." Kata Xerone kepada Aries sambil kesakitan. Kesadarannya sedikit akan hilang.
"Kau tidak perlu minta maaf. kau sudah berjuang Xerone, aku bangga padamu. Istirahatlah." Kata Aries sambil menerbangkan Xerone ke bawah tanah.
.....
"Aa, aaah, aaa. Itu, itu PARADICOOONE." Teriak prajurit Porsa yang melihat Aries melayang di udara. Mereka berlari berhamburan menyelamatkan diri.
"Lalu, apa kau masih hidup.?" Kata Aries sambil menancapkan senjata sucinya lebih dalam ke perut Erwin, sampai senjata suci itu mengeluarkan aura kegelapan.
"ini sakit, sangat sakit. Hiks, aku tidak bisa merasakan tubuhku." Kata Erwin dalam hati dengan kesakitan dan ketakutan, ia meronta-ronta di atas udara.
"UHoooukh. Ooookkkhg." Suara Erwin yang kesakitan. Dan tidak berlangsung lama, ia pun tewas di tempat.
"Ah, kau sangat membosankan." Kata Aries sambil membuang tubuh Erwin ke pasukan baris belakang Blitz Thunder.
....
"Jadi, kalau aku membunuh mereka semua, pasti pasukan musuh akan berkurang. Hmm, aku akan melakukannya dalam 1 menit." Kata Aries sambil tersenyum.
Ia pun mengeluarkan Awakening senjata suci. Dan keluarlah aura kegelapan dari Sabit Kematian berwarna putih bercorak hitam. Aura itu membentuk ribuan bulan sabit yang besar.
"Hm, kekuatan ini, benar-benar sangat kuat. Ini pertama kalinya selama ribuan tahun, aku bisa mengeluarkan kekuatan sebesar ini. Hehe. Leon, kau membuatku terharu. Aku akan melakukan tugasku secepatnya." Kata Aries dengan tersenyum gembira.
"Ah, tidak."."TIDAAAAK."."AAAAHH."."Pergi dari sini."."Aku sudah tidak bisa bergerak."."Apa itu.?". Suara prajurit Porsa dan Blitz Thunder yang sangat ketakutan.
Mereka semua tercengang melihat ribuan sabit kegelapan di atas langit. Ada yang menangis histeris, ada juga yang mematung. Bahkan ada yang berjalan dengan kejang-kejang.
"Hmmm. Sepertinya aku akan selesai." Kata Aries sambil memejamkan mata.
Lalu, Ribuan sabit kegelapan itu pun turun menyerang semua prajurit musuh. Sabit itu terus menerus turun dari langit selama 1 menit. Dan aura mematikan dari Aries, menekan prajurit-prajurit itu, membuat semua orang terjatuh dengan sendirinya.
"aa, aaa, itukah, kekuatan sang Ratu." Kata Juroo yang tercengang.
__ADS_1
"Aa, aku sampai tidak bisa bicara." Kata Cena dalam hati yang tercengang sambil menelan ludah.
Serangan Aries tidak ada yang meleset. sabit-sabit itu bergerak dengan sendirinya, begitu cepat menyayat tubuh manusia.
Dan dalam 1 menit, serangan itu berhenti. Tidak ada suara yang terdengar lagi. Semuanya mati mengenaskan. Bahkan kuda-kuda dan senjata berat, hancur semua.
"Aaah. Kalau Leon melihat ini, dia pasti akan membunuhku. HAHAHAAHAHA." Kata Aries dengan tersenyum, lalu ia tertawa puas dengan kencang.
....
"Lalu, apa aku harus memberaskan mayat-mayat itu?. Sepertinya harus dilakukan, sebelum Leon melihatnya." Kata Aries dengan tersenyum.
Aries pun pergi ke benteng menemui prajuritnya. Dan Senjata Sucinya mulai menghilang.
Semua orang yang melihatnya hanya tercengang, lalu mereka bersujud di depan Aries.
"HORMAT KEPADA YANG MULIA RATU." Kata semua prajurit disana sambil bersujud. Dan tubuh Xerone di terbangkan ke atas benteng oleh Aries.
"Xerone, apa kau masih sadar.?" Kata Aries dengan santai.
"Aah, aa, Aku masih sadar Yang Mulia." Kata Xerone dengan mengerang-ngerang kesakitan sambil bersujud.
"Baiklah. Beristirahatlah kalian. Pasokan makanan akan datang setelah ini. Lalu, bereskan semua mayat-mayat disana, dalam waktu 1 hari. Jangan sampai ada yang tergeletak satu pun, kubur atau bakar mayat-mayat itu. Apa kau mengerti Xerone.?" Kata Aries dengan santai.
"Ha, Siap laksanakan Yang Mulia." Kata Xerone yang kesakitan sambil bersujud.
"Ingat Xerone, jangan sampai aku melihat mayat-mayat itu besok. Kerjakan dengan benar." Kata Aries dengan tatapan tajam.
"Hamba mengerti Yang Mulia." Kata Xerone.
Dan Aries pun menghilang dari sana.
Semua prajurit pun berbaring lega, ada yang langsung tertidur di tempat, ada juga yang masih mengerang kesakitan.
"Jen, Jendral apa kau baika-baik saja.?" Kata Cena yang gemetar.
"Cena, Joken, Han, dan Juroo. Kumpulkan pasukan yang masih hidup, dan sembuhkan mereka. Lalu, istirahatlah, setelah makan Kita akan melakukan perintah dari Yang Mulia Ratu." Kata Xerone kepada para Komandannya. Lalu, ia tak sadarkan diri.
"Jendraaal.." Kata Cena yang menangis dengan tubuh yang masih gemetar.
....
Semua prajurit pun beristirahat di tempat. Beberapa healer sedang menyembuhkan luka prajurit. Para komandan memerintahkan pasukannya untuk mengangkat mayat teman-temannya.
Lalu, Juroo mengangkat tubuh Joken yang pinsan, sambil melihat kebawah benteng. "Ini sangat mengerikan untuk di lihat." Kata Juroo dengan tercengang.
Medan pertempuran yang sangat hebat, dengan ratusan ribu mayat tergelak di tanah. Darah mengalir seperti air sungai. Burung gagak berdatangan memakan mayat-mayat itu.
Lalu, beberapa jam setelahnya.
"Uhooukk." Suara dari salah satu prajurit yang muntah-muntah melihat mayat yang terpotong-potong dari atas benteng.
"Kau harus kuat, pakailah masker ini." Kata Salah satu temannya.
"ini pertama kalianya aku melihat kekuatan Yang Mulia Ratu, aku benar-benar sangat merinding." Kata Salah satu prajurit disana.
"Aku lebih merinding melihat mayat-mayat itu." Kata salah satu temannya sambil melihat ke bawah benteng.
"Uhooukk. Sebaiknya kita turun saja. Uukkk." Kata prajurit yang lainnya sambil muntah-muntah.
.....
__ADS_1
Di camp prajurit Properose.
"Hoooeee. makanan sudah datang." Kata salah satu prajurit.
"Wah, akhirnya kita bisa makan." Kata prajurit disana.
"Tolong ambil ini, pelan-pelan." Kata prajurit Pantiko yang membawa pasokan makanan.
"Terimakasih teman, kami sudah kelaparan seharian." Kata prajurit Properose kepada prajurit Pantiko.
"Hahaha. Ini sudah tugas kami mengantarkan makanan kesini, sebaiknya kau berterimakasih pada atasan kami." Kata prajurit Pantiko.
Semua prajurit disana pun makan bersama.
....
Tenda komando.
Xerone yang sudah sadar, masih terbaring di ranjangnya sambil melamun.
"Aku benar-benar sangat lemah." Kata Xerone dalam hati sambil tangannya mengepal.
"Bagaimana Ratu tau, kalau yang menyerang disini adalah prajurit Louktus. Ini sangat aneh. Kenapa tiba-tiba Dia datang kesini." Kata Xerone dalam hati sambil berusaha duduk.
"Ettaaahh. Sakit sekali." Kata Xerone kesakitan.
"Huuh, tapi kekuatan itu, benar-benar sangat hebat, kau sangat indah Ratu. Aaahh." Kata Xerone yang teringat Aries menyelamatkannya.
....
"Jendral, apa kau baik-baik saja." Kata Cena yang masuk kedalam tenda komando.
"Ah, aku sudah lebih baik sekarang." Kata Xerone dengan tersenyum.
"Aku membawakan makanan untukmu Jendral." Kata Cena yang terlihat sedih melihat Xerone duduk di atas ranjang.
"Kenapa kau sedih begitu Cena.?" Tanya Xerone.
"Hiiks. Jendral, aku sangat bersyukur kau selamat." Kata Cena yang meneteskan air mata.
"Hapus air matamu itu, kau seorang prajurit elit." Kata Xerone tersenyum.
"Ha, Baik Jendral." Kata Cena dengan tersenyum sambil menghapus air matanya.
Lalu, Jendral Xerone pun menemui prajurit lainnya, termasuk komandan-komandanya. Mereka bercerita dan tertawa sambil makan bersama.
....
"Baiklah, sekarang waktunya melaksanakan tugas dari Yang Mulia Ratu. Jangan sisahkan satu mayat pun. Atau ia akan mengamuk besok. KERJAKAN." Kata Xerone penuh dengan samangat.
"HA. LAKSANAKAN JENDRAL." Kata semua prajurit disana.
Mereka pun mengumpulkan mayat-mayat musuh yang terpotong-potong. Ada yang muntah, ada yang pinsan melihat darah, ada juga yang ketakutan.
Mereka menumpuk mayat-mayat itu dan membakarnya dalam waktu semalam saja.
"Emm, sepertinya tugasku disini selesai. Saatnya kembali berjaga di dalam benteng." Kata Xerone yang melihat kobaran api yang besar, lalu ia berjalan ke arah benteng.
.
.
__ADS_1