Madu

Madu
Madu Ep.30 (SEASON 2)


__ADS_3

Senin dua puluh lima Agustus. Tepat hari ini dua minggu sudah Aisyah dinyatakan sembuh dari kanker ganas yang menggerogoti tubuh nya. Aisyah ku berhasil melewati masa kritis nya. Istriku perempuan yang sangat kuat. Kepercayaan dan keyakinan ku, bahwa Aisyah ku akan bisa melewati semua ujian ini akhirnya menjadi kenyataan. Bukan hanya sekedar harapan kosong diriku saja. Sebenarnya Aisyah masih harus meminum banyak obat-obatan pasca transplantasi ginjal dua minggu yang lalu. Dan satu hal yang membuat aku malu dengan diriku sendiri adalah, Aisyah tidak pernah mengeluh barang sekalipun. Meskipun dia harus meminum begitu banyak obat-obatan. Dia terus tersenyum dan tidak pernah mengatakan bosan karena harus menelan obat-obatan itu selama masa penyembuhan nya. Sedangkan aku?, aku yang seorang imam dan kepala keluarga, masih sering mengeluh dan bahkan tak jarang merasa ingin menyerah dan putus asa.


"Pak Fahmi, sel kanker di tubuh istri bapak sudah berhasil di angkat. Transplantasi organnya juga bagus. Tapi nyonya Aisyah bisa saja terkena kanker untuk kedua kalinya. Karena sel ini bisa saja kambuh secara tiba-tiba".


Kurang lebih itu yang di sampaikan dokter yang menangani istriku pada diriku kala itu. Sebenarnya mendengar kenyataan itu aku sedikit trauma. Sel kanker ciptaan Allah bisa saja datang kembali ke tubuh Aisyah kapan pun. Lemas sudah pasti, aku kira jika sudah sembuh maka tidak akan pernah terjadi pertumbuhan kanker lagi. Ternyata aku salah, penyakit ganas itu bisa datang kapan saja. Bukan hanya di tubuh Aisyah, mungkin saja aku. Berdoa, hanya itu yang bisa aku lakukan. Serta pasrah atas takdir yang akan Allah gariskan nanti. Sungguh, aku tidak ingin Aisyah sakit dan tersiksa seperti ini untuk kedua kalinya. Jutaan doa ku langit kan. Agar penyakit mematikan itu tidak datang kembali pada Aisyah. Masih banyak orang-orang sekitar yang membutuhkan sosok seperti Aisyah. Terutama putri kecilku Marwah. Kesabaran Aisyah menurun pada Marwah putrinya. Wawa selalu bersabar selama empat belas hari lamanya terpisah dari Umi nya. Dia selalu bersabar menunggu Umi nya datang dan memeluk nya. Selama dua minggu, Aisyah benar-benar istirahat total. Dia tidak aku ijinkan untuk melakukan pekerjaan yang berat. Karena memang, dia harus pemulihan dan sering bolak-balik kontrol ke rumah sakit.


"Umi?. Umi, Wawa sangat sayang sama Umi. Umi jangan pergi lama-lama lagi ya".


" Iya sayang, Umi juga sayang sama putri umi yang cantik ini. Maaf yah, Umi pergi terlalu lama".


"Tidak apa kok Umi. Hanya saja Wawa rindu sama Umi. Wawa juga udah banyak bercerita kan tentang sekolah, ibu guru, dan teman-temannya Wawa".


" Iya Wawa sayang. Umi udah tahu semua. Kan sebelum Wawa cerita ke Umi. Abi sudah lebih dulu menceritakan nya pada Umi nak".


"Iiihh... kok Abi bilang-bilang ke Umi. Harusnya kan Wawa yang cerita ke Umi".


Marwah memanyunkan bibir nya pada ku. Aku hanya bisa tersenyum dan tertawa kecil melihat nya. Wawa putriku, tidak ingin Umi nya mendengar cerita dari ku. Apa boleh buat, Aisyah sangat ingin tahu semua tentang Wawa ketika dia tidak sadarkan diri saat sakit. Mana mungkin aku menyembunyikan nya. Yang ada Aisyah yang akan ngambek padaku.


"Hehehe... kan Abi ceritanya ngga lengkap sayang. Jadi Wawa masih bisa cerita lagi ke Umi".


" Benar begitu Umi? ". Marwah putriku seperti nya tidak percaya padaku.


" Be-benar sayang. Nanti Wawa ceritakan semua yah ke Umi".


"Hmmm.. Oke siap Umi".

__ADS_1


Aku terdiam sambil memandang Aisyah dan putriku Marwah sedang asyik bercengkrama dan bercanda, seketika itu pula aku teringat salah satu ayat di dalam Al-Qur'an yang artinya "Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. 64: 14- 15). Dari ayat di atas, aku di ingatkan kembali, bahwa istri dan anak bisa menjadi penyab lalai nya aku dari taat kepada Allah. Maka dari itu, aku selalu berusaha. Agar aku bisa membimbing keluargaku untuk terus taat dan mengingat Rabb yang telah menciptakan nya. Aku ingin, pernikahan ku dengan Aisyah tidak cukup hanya di dunia saja. Tetapi juga hingga ke Jannah Nya. Pernikahan yang berhasil bukan yang memiliki banyak harta ataupun banyak kebahagiaan di dunia, lebih dari itu semua. Pernikahan yang berhasil adalah pernikahan yang bisa mengantarkan kita dan orang-orang yang kita cintai berkumpul bersama di Surga.


"Abi?, katanya mau bertemu dengan Ayah nya Ilham? ".


Putriku Marwah menagih janji pada ku. Aku memang sudah berjanji akan bertemu dengan orang tua dari Ilham teman satu sekolah Marwah. Ibuku bahkan belum tahu siapa nama orang tua Ilham. Selama dua minggu ini, aku juga hanya sempat ke kantor dan mengurus Aisyah yang masih dalam masa pemulihan. Ucapan terimakasih karena telah menjaga Wawa selama aku tidak bisa berada di samping putri ku, juga belum aku sampaikan. Jika saja Wawa tidak mengingatkan diriku, mungkin aku masih lupa.


"Ilham?. Siapa nak? ".


Aisyah kebingungan. Aku memang belum menceritakan mengenai teman baik putrinya di sekolah.


" Umi, Ilham itu teman baik nya Wawa. Waktu Umi dan Abi nggak bisa jemput Wawa. Ayah nya Ilham yang suka ajak Wawa ke rumah nya. Di rumah Ilham ada nenek nya juga Umi. Wawa disana makan bersama. Masakan nenek nya Ilham sangat enak ".


Marwah dengan sangat senang menceritakan Ilham. Dia sangat bersemangat ketika menceritakan tentang teman baik nya itu. Merasa bersalah sudah pasti, harusnya bukan dengan keluarga orang lain. Tapi dengan aku dan Aisyah. Tapi apa yang bisa di perbuat oleh manusia?, ketika Tuhan sudah menghendaki skenario yang demikian?.


" Oh iya, Abi lupa nak. Begini saja deh, nanti pulang sekolah. Abi jemput Wawa yah. Sekalian nanti ketemu dengan Ayah nya Ilham. Bagaimana? ".


" Hmmm.... Boleh deh Abi. Akhirnyaaa.... Wawa bisa kenalin Abi juga. Yeayyy... Makasih Abi".


Marwah sangat senang dan kemudian berlari menuju kamar nya. Sepertinya dia langsung bersiap-siap ke sekolah. Aku hanya mampu tersenyum dan menggelengkan kepala. Ada saja tingkah dari putriku yang solihah itu. Bagiku, Wawa adalah amanah terindah yang Allah berikan dalam hidupku. Anak perempuan kecil yang sangat sabar dan tangguh.


"Mas?. Memang nya siapa nama Ayah nya Ilham? ".


" Mas juga nggak tahu sayang. Mas bahkan belum sempat bertemu sekalipun. Kan mas menjaga bidadari mas terus. Hehehe".


"Hmmm... Kirain sudah tahu. Mas Fahmi bagaimana, masa nama nya saja belum kenal".

__ADS_1


" Yaaa... orang Mas belum kenal dek. Mau bagaimana coba. Masa harus mas bohong gitu, terus bilang nama Ayah nya Ilham, Joko misalnya".


"Iiihhh... ya bukan begitu juga suamiku ganteng".


" Ciee... ciee. Akhirnya istriku mengakui juga, kalau suaminya emang ganteng. MasyaAllah ".


" Mas Fahmi, jangan gitu dong. Aisyah malu".


"Sini-sini".


Aku memeluk erat tubuh Aisyah. Tubuh kuat ini yang telah berhasil bertahan melawan serangan kanker ganas yang tiap hari bersemangat menggerogoti tubuh nya. Air mataku jatuh, aku merasa sangat bersyukur. Akhirnya tubuh ini bisa aku peluk lagi.


"Mas Fahmi kok menangis?. Ada apa? ".


" Dek, jangan sakit lagi yah. Kamu yang sehat ya sayang. Mas Fahmi tidak kuat dik, kalo harus melihat bidadari mas terbaring sakit lagi. Rasanya sangat menyakitkan sayang. Kamu tahu, mas sangat ketakutan. Mas takut akan kehilangan kamu dalam hidup Mas".


"Maafkan Aisyah Mas. Aisyah sudah membuat repot dan menyusahkan Mas. Kita hanya manusia biasa mas. Semua yang terjadi adalah kehendak dari Allah. Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan pada Aisyah untuk bisa berkumpul lagi dengan laki-laki terbaik pilihan Nya".


"Kamu benar sayang. Manusia hanya bisa bersabar ketika Allah menghendaki memberikan kita Ujian. Juga manusia harus tetap bersyukur dengan segala nikmat dari Nya. Baik nikmat yang besar maupun kecil. Kamu ingat salah satu Hadist Rasulullah yang artinya “Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya." (HR Muslim Nomor 2999). Bersabar dan bersyukur adalah kebaikan dek. Mas berdoa semoga kita semua bisa selalu mengamalkan dua kata itu, apapun keadaan nya".


"Aamiin ya Allah".


" Cie Umi sama Abi. Kok Wawa ngga ikutan di peluk".


Tiba-tiba Marwah yang sudah siap dengan seragam dan tas nya muncul dari arah kamar nya. Aku dan Aisyah gugup, meksipun sudah memiliki seorang anak. Aku dan Aisyah masih saja malu ketika ada orang yang melihat kami sedang bermesraan. Aku lantas langsung melepaskan pelukanku pada tubuh Aisyah dan langsung membopong tubuh mungil Marwah. Aisyah dan juga aku mencium pipi Wawa bersamaan. Kami tertawa bersama setelah nya.

__ADS_1


__ADS_2