Madu

Madu
Episode.53 (SEASON 2)


__ADS_3

Sebuah undangan syukuran diterima olehku. Suruhan Bunda Layla memberikan sebuah undangan padaku. Entahlah, dari sampulnya hanya ada tulisan undangan tasyakuran. Tasyakuran untuk apa, aku belum sempat membuka isi undangannya. Tanganku langsung mengeluarkan selembar kertas yang berada didalam amplop undangan ini.


"Tasyakuran untuk merayakan dan sekaligus menyambut calon istri dari ananda Muhammad Fatih?! ".


Diriku sangat terkejut begitu membaca undangan tersebut. Apa maksudnya semua ini, apakah kemarin Bunda nya Fatih hanya menakut-nakuti diriku saja. Menyambut calon istri?. Itu artinya Fatih sudah menemukan seorang pendamping untuk hidupnya. Dan aku tidak harus berhutang budi dengan melepaskan Aisyah untuk Fatih. Rasanya sangat bahagia sekali, mendapatkan undangan ini. Setidaknya, keluargaku tidak lagi akan di ganggu. Aku masih tidak menyangka, lalu apa maksudnya semua pesan bunda padaku. Adakah semua ini jawaban dari semua pertanyaan diriku. Jika benar Fatih sudah memiliki calon istri, itu artinya aku telah salah menilai buruk pada Bunda dan Fatih. Di undangan tersebut, dituliskan bahwa acara tasyakuran akan diadakan sore ini, di kediaman Fatih. Tapi akankah Aisyah mau aku ajak datang ke rumah mantan suami nya?. Jika aku dan Aisyah tidak datang setelah diundang, itu sama saja seperti aku dan Aisyah tidak menghargai undangan orang lain. Pastilah, baik Bunda maupun Fatih akan merasa tersungging.


Aku memasukan kertas undangan itu kedalam tas. Dan bergegas memacu gas mobil untuk segera pulang ke rumah. Kebetulan semua pekerjaan kantor sudah aku selesaikan. Jadi aku bisa pulang sedikit lebih cepat dari biasanya. Aku masih tidak menyangka, akhirnya Fatih akan menikah juga setelah sekian lama memilih menjadi seorang duda. Aku turut bahagia mendapatkan kabar ini. Aisyah ku akan selamanya menjadi milikku. Dan itu pasti, akun tidak akan pernah mau melepaskan Aisyah untuk siapapun. Aisyah adalah berlian yang harus aku jaga dengan baik. Ini seperti mimpi, tapi bukan mimpi. Karena memang undangan itu kini ada di dalam tas kerjaku. Syukurlah, mimpi buruk itu ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan nya. Hari ini malah aku dan Aisyah diundang untuk menghadiri acara syukuran Fatih yang akan menikah lagi.


"Assallammualaikum Ibu, Ibu dimana Aisyah? ".


"Waallaikummussalam, ada di ruang TV nak. Sedang bersama Wawa".


Aku meninggalkan Ibu yang sedang asyik membaca majalah setelah bersalaman dan mencium punggung tangan Ibu.


"Sayang".


"Loh sudah pulang Abi? ".


" Sudah sayang. Kata Ibu tadi kamu sedang bersama Wawa. Dimana Wawa? ".


"Iya tadi memang sedang sama Wawa, baru aja Wawa masuk ke kamar nya".


" Oh begitu. Sayang, mas dapat undangan".


"Undangan?. Dari siapa mas?. Siapa yang akan menikah? ".


" Dari keluarga mantan suami kamu, sayang".


"Ma-maksud Mas Fahmi?! ".


"Iya, jadi tadi ada seseorang yang menyerahkan sebuah undangan pada Mas, saat Mas akan masuk mobil dan mau pulang".


" Lalu? ".


" Ini bukan undangan pernikahan sayang. Tapi undangan tasyakuran ".


"Tasyakuran?! ".


" Iyah, Fatih mantan suami kamu mengadakan syukuran. Karena sebentar lagi akan menikah".


"Oh, syukurlah Mas kalau begitu".


" Jadi bagimana? ".


" Bagaimana apanya Mas?".


"Kok, bagaimana apanya si sayang. Ya bagaimana?. Kita akan datang tidak di acara syukuran itu? ".


" Kayak nya, Aisyah nggak ikut Mas. Mas saja yah yang mewakili ".


" Masa Mas datang sendiri sih?. Lagi pula ngga enak sama keluarga Fatih. Nanti dikira kita meremehkan undangan mereka. Lagi pula, di undangan ini juga tertulis nama kamu sayang. Bukan hanya nama Mas saja ".


" Aisyah tidak ingin datang Mas. Bilang saja, kalau kita sibuk dan tidak bisa menghadiri undangan tasyakuran nya".


"Kenapa kamu tidak mau datang?! ".


" Aisyah malas Mas. Apalagi setelah masalah salah paham dengan Mas dulu. Aisyah tidak mau berhubungan lagi dengan mereka. Bukan apa-apa. Ini semua demi kebaikan kita Mas Fahmi".

__ADS_1


"Mas mengerti, tapi tidak baik sayang. Kita sudah di undang. Bahkan sampai dikasih undangannya. Masa kita tidak datang?. Itu namanya kita tidak menghormati orang yang sudah mengundang kita. Jadi datang saja yah. Setidaknya agar mereka tahu, kita datang. Tidak perlu lama-lama disana. Nanti di pertengahan acara, kita pamit saja. Bagaimana? ".


" Benar yah, hanya untuk sekedar setor kedatangan saja. Jangan lama-lama. Aisyah tidak mau".


"Iya sayang. Mas janji, lagi pula Mas juga mau ngapain lama-lama disana".


" Jam berapa acaranya Mas?".


"Di undangan ini sih tertulis hari ini, sekitar pukul empat sore. Bisa? ".


" Hmmm.. baiklah ".


" Sekarang sudah pukul tiga lebih tiga puluh menit. Mas mandi dulu yah. Kamu sudah mandi? ".


" Sudah. Nanti Aisyah tinggal siap-siapa saja".


Aku masih tidak menyangka, akhirnya Fatih akan menikah juga. Itu artinya, Bunda Layla tidak akan lagi memaksa dan membuat diriku seperti sangat berhutang pada nya. Maksudnya memaksaku untuk membalas perbuatan baik nya padaku. Aku bersiap, agar tidak terlambat datang pada acara tasyakuran itu. Hem berwarna putih dengan celana bahan hitam menjadi pilihan ku. Juga Aisyah yang mengenakan gamis dan jilbab yang senada denganku. Rambutku ku sisir rapih. Tidak ada sepuluh menit, aku sudah siap untuk berangkat ke rumah mantan suami istriku. Meskipun jika boleh memilih, aku tentu seperti Aisyah. Tidak akan mau datang di acara itu. Apa boleh buat, aku terpaksa harus datang. Karena Bunda Layla lah, yang sudah menyelamatkan nyawaku. Jika saja, aku tidak diselamatkan oleh mantan mertua istriku, yang sekarang mengundang aku dan Aisyah hadir dalam acara tasyakuran itu. Pastilah akan aku biarkan saja undangan itu tergeletak di jok mobilku.


"Kalian mau kemana? ".


Ibu heran melihat aku dan Aisyah sudah terlihat sangat rapih dan wangi. Memang baik aku dan Aisyah belum menyampaikan hal ini pada Ibu.


" Ka-kami mau datang ke acara tasyakuran Bu".


"Acara tasyakuran?. Acara nya siapa? ".


" Teman lama Bu" . Jawabku sekena nya.


"Oh, yasudah hati-hati. Nanti biar Ibu yang sampaikan pada putri kalian".


" Makasih Bu".


Tangan Aisyah aku genggam erat. Menggandeng wanita yang sangat aku cinta ini menuju mobil. Meskipun jarak rumah Fatih tidak terlalu jauh. Tapi tetap saja, aku bisa telat jika sudah terjebak macet


"Aisyah? "


"Iya Mas? ".


" Kamu tahu?. Hari ini kamu sangat cantik sayang"


"Alhamdulillah, eh hanya hari ini Aisyah cantik nya? "


"Setiap hari cintaku. Hanya saja, Mas kan jarang melihat kamu memaki gamis berwarna putih seperti saat ini".


" Heheh... iya sih. Masa Aisyah di rumah sehari-hari pakai warna putih. Nanti yang ada akan cepat kotor dong Mas ".


" Iya juga sih. Hehehe... kamu ada keluhan tidak sayang perut nya? ".


" Alhamdulillah, sejauh ini enggak ada Mas. Semoga saja lancar sampai lahiran. Seperti saat akan melahirkan Marwah dulu. Aamiin "


"Aamiin".


Syukurlah, perjalanan menuju rumah Bunda Layla tidak macet. Dan juga Aisyah serta aku tidak kesasar. Karena memang, ini kali pertama diriku dan Aisyah datang ke rumah Bunda Layla. Hanya bermodalkan peta yang tertera pada undangan saja. Meskipun aku sudah cukup lama tinggal di Yogyakarta, terkadang aku suka sering tidak ingat mana saja gang atau jalan yang kecil. Apalagi ini perumahan, pastilah akan sedikit sulit mencari letak rumah yang di tuju. Diriku sejujurnya sudah tidak sabar, ingin segera sampai ke rumah Bunda Layla. Aku ingin berterimakasih padanya, karena ternyata permintaan nya padaku saat itu, hanyalah sebuah candaan saja. Aku tidak bisa membayangkan jika sampai itu benar adanya.


"Mas, janji ya. Jangan lama-lama. Aisyah tidak mau Mas".


"Iya sayang. Mas janji kok. Lagi pula ini hanya untuk sekedar agar mereka melihat dan tahu. Bahwa kita sudah menghadiri undangan dari mereka. Jadi kamu jangan khawatir yah. Mas juga tidak mau, kamu lama bertemu dengan mantan suami kamu. Nanti yang ada kamu akan teringat semua kenangan masa lalu kamu dengannya lagi. Jika saja bukan karena menghormati orang yang lebih tua yang sudah mengundang kita, pastilah Mas juga tidak akan mau datang Aisyah. Mas cemburu!, nanti kamu jangan jauh-jauh dari Mas yah. Harus selalu di samping Mas".

__ADS_1


"Astaghfirullah, Mas itu ngomong apa. Yang maksa Aisyah untuk ikut aja Mas. Tidak akan Mas Fahmi, kenangan yang Aisyah ingat ya hanya tentang kita. Pastilah Mas, Aisyah akan selalu di samping Mas. Bila perlu, Mas jangan melepaskan genggaman tangan Mas dari tangan Aisyah yah".


" Ya namanya juga orang khawatir sayang. Syukurlah. Bidadari cantik seperti kamu harus dijaga baik-baik sayang. Jadi, Mas sedikit over padamu".


"Iya Mas Fahmi, suamiku sayang".


Sepanjang jalan, aku dan Aisyah saling bercanda dan mengobrol ngalor ngidul. Kadang juga, membahas topik ringan seputar dunia parenting. Sampai-sampai tidak terasa, mobil yang aku dan Aisyah tunggangi sudah terparkir dihalaman rumah Bunda Layla. Ku pandangi, beberapa tamu undangan sudah banyak yang datang. Sepertinya tasyakuran ini sangat megah. Tamu yang di undang saja sangat banyak dan juga rata-rata mengenakan mobil. Aku turun dari mobil, dan langsung menggandeng Aisyah menuju lokasi syukuran akan di adakan.


"Eh, sudah datang".


Sambut Bunda Layla dengan senyuman lebar pada aku dan Aisyah. Sepertinya Bunda Layla sangat bahagia melihat kedatangan diriku dan Aisyah. Aisyah dan aku di persilahkan untuk masuk dan duduk diantara tamu undangan yang lainnya. Entah kenapa, banyak pasang mata yang melihat ke arah Aisyah. Apa yang mereka bicarakan sedari tadi sembari memperhatikan istriku. Apa mereka sedang membicarakan bahwa Aisyah adalah mantan menantu dari Bunda Layla. Jujur saja, aku tidak suka jika ada orang asing yang melihat pada istriku dengan tatapan seperti itu. Tatapan yang sangat aneh bagiku.


"Mas Fahmi, kenapa mereka pada melihat dan memperhatikan Aisyah. Aisyah tidak suka di perlakuan seperti itu Mas".


Aisyah berbisik padaku. Menyampaikan apa yang dia rasakan. Ternyata bukan hanya aku yang menyadari hal ini. Aisyah juga merasa bahwa dirinya sedang menjadi pusat perhatian banyak tamu undangan yang datang di acara syukuran hari ini.


"Bagaimana kabar kalian?. Sehat semua kan? ". Tanya Bunda Layla padaku dan Aisyah.


"Alhamdulillah".


Hanya itu yang aku jawab dari pertanyaan Bunda Layla.


" Fatih nak, sini. Fahmi datang".


Aku memperhatikan arah dimana Bunda Layla menengok. Benar, disana sudah ada Fatih. Laki-laki mantan suami istriku. Tapi kenapa dia nampak nya tidak bersemangat pada acara ini?. Bahkan Fatih terkesan sangat malas untuk sekedar menyapa para tamu undangan yang datang ke acara syukuran dirinya. Dan kemana wanita calon istri yang akan menjadi pendamping hidup nya.


"Oh, sudah lama? ".


" Tidak, barusan kok. Oh iya selamat yah, sebentar lagi akan punya pendamping hidup".


Ucapku pada Fatih.


"Hmmm.. makasih".


Fatih terlihat sangat gugup di depan diriku dan Aisyah. Bahkan dia mengajak pergi Bunda nya. Aisyah dan aku hanya diam tidak berkomentar apapun. Mungkin saja mereka sedang banyak tamu. Jadi, gerak-gerik nya sangat aneh.


" Baik, saya buka acara tasyakuran nya. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ".


Tiba-tiba seorang pembawa acara membuka acara tasyakuran yang sudah aku tunggu-tunggu dari tadi. Aku memfokuskan perhatian ku pada bapak bertubuh tambun yang sedang menggenggam mikrofon ditangan nya. Seperti tamu undangan yang lainnya, bapak pembawa acara yang diketahui bernama Heru itu juga sering melihat ke arah Aisyah. Rasanya ingin marah, tapi aku tahan.


" Mas kapan kita pulang?. Aisyah sudah risih".


"Iya sayang. Sebentar lagi yah. Kan acara baru saja di buka. Nggak enak kalau langsung pulang".


" Iya sih, yasudah".


Tiba-tiba Bunda Layla memegang kendali mikrofon yang tadi di pegang oleh bapak bernama Heru. Entah, mungkin dia akan menyambut para tamu undangan nya.


"Assalamu'alaikum, bapak dan ibu yang saya hormati. Sebelum nya terimakasih karena telah menyempatkan untuk hadir pada acara syukuran untuk putraku satu-satunya yaitu Muhammad Fatih. Seperti yang sudah bapak dan ibu baca pada undangan yang kemarin sudah saya berikan. Tasyakuran ini diadakan tidak lain dan tidak bukan untuk mengucapkan rasa syukur pada Tuhan, karena akhirnya putra saya akan menikah lagi dalam waktu dekat. Disini juga, saya mempunyai tamu terhormat yang sengaja saya undang pada acara tasyakuran hari ini. Mereka ada di pojok sebelah sana".


Rasanya sangat shock, untuk apa Bunda Layla melakukan itu padaku dan Aisyah. Kini semua pasang mata melihat kearah Aisyah dan diriku. Apa maksudnya tamu terhormat. Itu terlalu berlebihan, dan sangat tidak masuk akal.


"Yang laki-laki bernama Fahmi. Dan yang perempuan bernama Aisyah calon istri putraku Fatih".


Sepertinya ini sudah tidak benar. Bagaimana mungkin, Bunda Layla mengatakan didepan banyak orang. Bahwa Aisyah adalah calon istri Fatih. Apa mungkin Bunda Layla salah mengucapkan. Dari mantan istri ke calon istri. Tidak itu tidak mungkin, Bunda Layla bahkan tidak meralat ucapannya barusan. Fatih juga seperti nya tidak nampak pada acara ini, setelah tadi membawa Bunda nya untuk masuk kedalam rumah. Rasanya emosiku sudah tidak bisa ditahan lagi. Aku berdiri dan menggandeng Aisyah yang seperti nya juga sudah sangat ingin pergi dari acara yang tidak wajar ini. Aku sudah tidak memperdulikan banyak pasang mata yang melihat kearahku dan Aisyah. Aku tidak menyangka, Bunda Layla akan melakukan ini semua. Rasanya sangat kecewa, melihat kenyataan yang terjadi hari ini. Aisyah bahkan sudah menangis di balik cadar nya. Aku yakin, perasaan nya sangat hancur. Aku merasa sangat bersalah pada Aisyah.


"Aisyah, Maafkan Mas Fahmi".

__ADS_1


Ucapku sembari meneteskan air mata. Tapi hanya ada hening dan tidak ada suara atau bahkan jawaban apapun dari Aisyah.


__ADS_2