
"Aisyah..., dik?, kamu dimana?,". Aku mencari-cari Aisyah.
"Bi Aisyah dimana?,". Tanyaku kepada Bi Ijah yang sedang sibuk menyapu ruang keluarga.
"Non Aisyah ada di teras belakang den,".
"Makasih ya Bi,".
Aku berjalan menuju teras belakang, istriku memang suka duduk bersantai disana. Dia sangat suka melihat kebun bunga. Aku melihat Aisyah terduduk dikursi gantung menghadap kebun bunga. Tatapannya kosong, raut wajahnya sangat memperihatinkan. Bahkan saking fokusnya melamun, dia sampai tidak menyadari kehadiran diriku. Hatiku sakit melihat istriku seperti itu, kenapa sampai segitunya hanya demi agar aku menikah lagi?.
"Dik...,". Panggilku. Aisyah tidak menjawab, dia hanya menengok kepadaku. Rasanya ingin menangis, dan memeluknya erat.
"Kamu sedang apa?!, sudah makan?,".
"Belum, sedang tidak ingin makan,". Aisyah menggeleng dan kemudian mengalihkan pandangannya menuju ke kebun bunga lagi. Aku memilih duduk dikursi gantung samping nya.
"Dik, mas mau membicarakan masalah permintaan kamu beberapa hari yang lalu,".
"Jadi?,". Tanya Aisyah dengan nada suara yang sangat parau.
"Jadi, mas putuskan untuk memenuhi permintaanmu. Mas akan menikah lagi sesuai keinginanmu,". Aku membuang muka dari Aisyah. Aku tidak mampu melihat wajah istriku.
__ADS_1
"Baguslah,".
"Nanti mas pilih calon adik madu untuk mu dik,". Ucapku dengan terpaksa.
"Tidak perlu, Aisyah sudah menyiapkan calon adik Aisyah. Mas hanya perlu menikah dengannya,".
Mataku terbelalak mendengar perkataan Aisyah. Bisa-bisanya dia bahkan sudah menyiapkan perempuan yang harus aku nikahi. Benar-benar konspirasi yang sangat kejam.
"Aa... apa?!!, kamu bahkan sudah menyiapkan orang yang harus mas nikahi dik?,". Aku tak sanggup menahan air mataku lagi. Aku shock dan tidak menyangka istriku Aisyah tega menghancurkan cintaku yang aku bangun hanya untuknya.
"Iya mas, Aisyah sudah menyiapkan perempuan yang harus mas nikahi, Aisyah sudah menyiapkan adik madu Aisyah,". Aku tak mampu memandang wajah mas fatih. Jujur hatiku sangat hancur. Aku berusaha membendung air mataku yang sedari tadi berdesakan ingin keluar dari mataku.
Tepat satu hari yang lalu, Bunda memaksaku untuk bertemu dengan perempuan yang sudah Bunda pilihkan untuk menjadi istri mas Fatih. Sebenarnya aku sudah menolak, tapi lagi-lagi Bunda mertua mengancam dan memaksaku. Dan untuk kesekian kalinya pula aku harus mengalah. Aku bertemu dengan calon istri muda mas Fatih hanya berdua tanpa Bunda. Aku tidak tahu, kenapa Bunda tidak ikut datang menemani. Mungkin Bunda merasa bersalah dan tak berani bertemu denganku karena sudah sangat kejam kepadaku.
Wanita itu melihat ke arahku dengan tatapan yang menghina dan sangat merendahkan. Mungkin dimatanya wanita bercadar sepertiku sangat memalukan, atau bahkan menakutkan. Wanita itu menjabat tanganku dan dengan sombong nya memperkenalkan diri "Kenalkan, Siska calon istri muda mas Fatih,". Aku hanya memperkenalkan diri dengan menyebut namaku tanpa ada embel-embel statusku dengan mas Fatih.
Astaghfirullah, apa komentar mas Fatih padaku?, jika aku memilih kan perempuan yang terbuka seperti ini?, aku sangat tahu betul, mas Fatih sangat tidak suka perempuan yang mudah mengumbar bebas aurat nya. Setelah aku memperkenalkan diri, Siska langsung berdiri dan meninggalkanku dengan sombongnya. Aku melihat dirinya di jemput oleh seorang laki-laki dengan mobil berwarna putih. Sangat mesra, hanya aku tidak ingin berpikir buruk pada calon adik maduku. Apalagi aku baru saja bertemu.
"Siapa orang nya dik?, seperti apa dia?, kamu bertemu dimana?, kamu sejak kapan mengenal nya?,". Mas Fatih mencecarku dengan banyak pertanyaan yang aku sendiri tidak bisa menjawab nya. Aku bahkan sama sekali tidak kenal siapa dan bagaimana siska.
"Besok atau lusa, Aisyah akan mempertemukan mas dengan calon istri mas. Nanti akan Aisyah suruh dia datang kerumah kita,". Aku berdiri dan meninggalkan mas Fatih yang masih menangis sambil memandangi diriku yang berjalan menjauhi nya. Aku tidak bisa berlama-lama di samping mas Fatih. Aku sudah tidak mampu membendung bulir-bulir air mataku.
__ADS_1
Aku menuju ke kamar mandi, dan menangis sejadi-jadinya. Aku mengguyurkan tubuhku dengan air dingin yang mengalir dengan deras nya dari shower. Aku meratapi diriku yang hancur. Ya Allah, betapa sangat menyakitkan nya membagi orang yang kucintai. Laki-laki yang bisa membuatku jatuh cinta ketika aku memilih hijrah di jalan-Mu ya Rabb. Aku tidak memperdulikan three Bi yang memanggil-manggilku dari luar kamar mandi.
Aku membuka semua keran air, agar tangisku yang meledak tidak di dengar oleh mas Fatih. Aku harus terlihat kuat, aku harus terlihat biasa saja dihadapan mas Fatih.
"Bi Inah?, kemana perginya Aisyah bi?,".
"Non Aisyah nampaknya sedang mandi den,".
"Oh yasudah, terimakasih Bi,". Aku mengucapkan terimakasih kepada Bi Inah dan berjalan menuju ruang tv.
Aku menunggu Aisyah selesai mandi, ingin menanyakan lebih jauh siapa perempuan yang akan dijadikan istri mudaku. Tapi satu jam telah berlalu, Aisyah tidak juga keluar dari kamar mandi. Aku bertanya-tanya dalam hati, apa yang sedang aisyah lakukan didalam sana?, jika hanya mandi, rasanya tidak mungkin selama ini. Aku semakin cemas dan khawatir, meskipun aku masih sangat emosi dan mulai membenci Aisyah karena perlakuannya yang seenaknya padaku, tapi dia masih istriku, dan didalam lubuk hatiku yang dalam, aku masih sangat mencintai nya.
"Bi apa kalian melihat Aisyah keluar dari kamar mandi?,". Tanyaku cemas pada three Bi.
"Tidak den, non Aisyah masih dalam kamar mandi, belum keluar dari tadi den,". Jawab mereka bersamaan.
Aku dan three Bi cemas menunggu Aisyah yang tak kunjung keluar dari kamar mandi.
"Bruakkkk!!!!!, bruaakkkkkk!!!!, bruakkk!!!!,".
Aku akhirnya dengan sangat terpaksa mendobrak dengan keras beberapa kali pintu kamar mandi. Hingga akhirnya pintu terbuka dan aku melihat tubuh istriku tergeletak dibawah shower dengan air yang masih terus membasahi tubuh nya.
__ADS_1
"Asiyahhh.....!!,". Aku berteriak dan langsung membopong tubuh Aisyah yang basah menuju ke kamar. Aku dan three Bi sangat panik. Mereka langsung dengan sigap mengambilkan handuk, membuatkan teh manis panas, dan membantuku menyiapkan baju ganti untuk Aisyah. Aku tak tahan, air mataku menetes. Wajah Aisyah sangat pucat, bibirnya sampai membiru, dan kulit kaki serta tangannya keriput karena terlalu lama terkena air. Aku melirik three Bi yang juga ikut menangis melihat kondisi Aisyah.
"Aisyah..., sadarlah dik,". Aku berucap sangat lirih di sela-sela tangisku.