
"Mas Fahmi mau bawa baju apa saja?,". Aku bertanya dari dalam kamar. Sedangkan suamiku sedang bersiap di ruang tamu.
"Bawakan saja beberapa baju mas dik. Tolong ya dik. Ini mas sedang mengepak oleh-oleh nya dulu di kardus,".
"Oke, terserah Aisyah saja ya. Yang penting bawa baju ganti untuk dua hari,". Ucapku lagi.
"Iya sayang. Yang penting suamimu pakai baju,". Jawab mas Fahmi yang sambil tertawa-tawa.
"Yeeee,". Jawabku datar sambil senyum-senyum.
"Kalau sudah selesai bang ya, biar nanti mas bawa ke dalam mobil,".
"Oke sip,".
Pagi ini aku sedang sibuk bersama suamiku untuk menyiapkan segala kebutuhan. Maksudku, aku dan mas Fahmi sedang menyiapkan ini dan itu untuk dibawa ke Solo. Iya benar sekali, tepat nya hari ini tanggal tiga Desember 2015. Aku akan pulang kerumah Umi. Sudah lumayan lama, aku dan mas Fahmi suamiku belum lagi mengunjungi Umi. Bahkan aku sendiri belum sempat menginap di rumah ibu dan bapak mertuaku, maksudnya menginap dirumah orang tua mas Fahmi. Karena memang suamiku sangat sibuk. Mungkin nanti akan di agendakan setelah pulang dari rumah umi. Niatku, aku dan suamiku akan menginap dirumah Umi selama dua hari. Mumpung mas Fahmi juga sedang tidak masuk kerja. Setidaknya aku bisa melepaskan kangen dengan Umi, Abi, dan adikku Aldi. Mas Fahmi telah membeli beberapa oleh-oleh untuk dibawa ke Solo. Terutama yang menjadi icon kota Yogyakarta.
Jam dinding dikamar menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku masih sibuk didalam kamar menyiapkan baju dan pakaian mas Fahmi. Aku sebenarnya bingung, baju apa saja yang harus dibawa untuk mas Fahmi. Tapi tadi sudah kutanyakan pada suamiku, dan dia hanya menjawab terserah diriku, yang penting dia memakai baju saat berada dirumah orang tuaku. Mas Fahmi memang sangat humoris, selalu saja ada hal kecil yang membuatku terus menerus belajar untuk semakin mencintainya. Bahkan saat aku sedang ngambek padanya pun, pada akhirnya aku luluh karena tidak bisa menahan tawa. Terkadang suamiku sengaja menjelekkan wajahnya yang ganteng didepanku, itu tidaklah membuat wajahnya jadi lucu. Tetapi malah lebih ke aneh dan sedikit menakutkan, dan itulah yang membuatku tertawa. Bukan karena lucu, tapi karena aneh dan sedikit menakutkan.
Jarum panjang jam dinding berada diangka dua belas, sedangkan jarum pendek nya berada di angka sepuluh. Jam sepuluh pagi tepat, aku selesai mengepaki barang. Aku melongok kearah ruang tv, namun tidak mendapati mas Fahmi berada disana. Mungkin mas Fahmi sedang memanasi mobil digarasi dan menata kardus-kardus oleh-oleh yang tadi telah di tata rapih olehnya. Aku mengenakan cadar dan kemudian berjalan keluar menuju kegarasi depan. Benar saja, suamiku sedang sibuk menata kardus dan memanasi mobilnya.
"Mas?, apa disini sudah selesai?,". Tanyaku pelan.
"Sudah dik, kenapa?. Kamu sudah selesai mengemasi baju-baju dan keperluan kita yang lainnya?,". Tanya aja Fahmi padaku.
"Sudah selesai mas. Makanya Aisyah samperin mas disini. Katanya kalau Aisyah sudah selesai suruh kasih tau ke mas?, biar di angkat dan dimasukan kedalam mobil?,".
"Yasudah, kamu tunggu dulu disini ya. Ada berapa tas dik?,".
"Ngga banyak si mas, ada dua buah tas besar, dan satu tas kecil doang. Memangnya kenapa?,". Tanyaku heran.
"Oh yasudah. Ya ngga papa dik, mas hanya tanya saja. Ini loh mas sudah menyiapkan ruang untuk tas pakaian. Takutnya ngga cukup. Jadi mas tanya banyak atau enggaknya,".
"O-oh, begitu. Yasudah mas,".
"Tunggu disini ya. Mas kedalam dulu ambil tas-tas nya di kamar,". Mas Fatih memerintahkan padaku agar aku menunggu nya sebentar. Aku disuruh untuk menjaga didepan. Aku melihat suamiku berjalan menuju kedalam rumah.
Ah, rasanya sangat sudah tidak sabar ingin segera sampai di Solo. Meksipun Yogyakarta dan Solo bisa dikatakan tidak terlalu jauh atau dekat. Namun yang namanya rindu dan kangen itu selalu membuat pertemuan sebagai obat mujarab untuk menghapus dan mengobati rindu itu sendiri. Aku duduk diteras sembari menunggu mas Fahmi keluar. Aku bersyukur, dengan segala yang aku punya sekarang. Termasuk aku bersyukur memiliki seorang suami seperti mas Fahmi. Tidak lama, aku melihat suamiku dengan banyak tas di badan dan tangannya keluar dari dalam rumah. Aku tidak tega, aku berdiri dan beranjak dari posisi dudukku untuk membantu mas Fahmi.
"Sudah tidak usahlah dik. Kamu duduk istirahat saja ya. Mas tidak perlu dibantu. Masa mas nyuruh bidadari buat bantuin angkat-angkat si?,". Canda mas Fahmi ditengah kerepotannya mengepaki barang-barang didalam mobil.
"Jangan begitu mas. Aisyah tidak bisa diam aja lihat mas kesusahan bawa banyak barang begini mas,". Jawabku pada mas Fahmi.
"Iya sayang, mas tahu. Makanya mas suruh Aisyah duduk saja. Lagi pula ini tidak terlalu berat. Yang berat itu kalau lagi jauh dari kamu. Hehehe...,".
Mas Fahmi, masih saja meledekiku dan tertawa-tawa melihat wajahku yang menunduk karena malu.
__ADS_1
"Beneran?, ngga mau dibantuin sama Aisyah?,". Tanyaku kembali meyakinkan mas Fahmi.
"Yakin. Sudah kamu duduk saja. Lagi pula ini sudah mau selesai sayang,". Jawab mas Fahmi padaku.
Aku mengikuti perintah dari mas Fahmi, dan kembali duduk di teras. Aku memperhatikan mas Fahmi yang sedang membongkar beberapa barang. Agar cukup dan masuk semua kedalam mobil. Mas Fahmi begitu semangat saat sedang menata barang-barang didalam mobil. Aku hanya duduk dan memandangi suamiku. Bahkan sesekali mas Fahmi melirik dan tersenyum kearahku yang sedang duduk.
"Alhamdulillah selesai juga,". Mas Fahmi bersyukur karena tugasnya untuk mengepak barang-barang kedalam mobil telah selesai.
"Ayok masuk mas,". Ajakku pada Mas Fahmi yang menghampiriku.
"Iyah dik,". Mas Fahmi berjalan dibelakangku.
"Mas mau minum apa?, es teh?, air putih?, jus wortel?, atau apa mas?,". Aku menyebutkan beberapa minuman dan menawarkannya pada suamiku. Aku yakin mas Fahmi pasti capek dan sangat haus.
"Es teh saja dik. Tolong ya buatin untuk mas. Dan gulanya jangan terlalu banyak ya sayang. Jazakillahkhoyr dik,". Ucap mas Fahmi padaku.
"Oke siap ndoro,". Jawabku sembari berlalu dari tempat mas Fahmi sedang duduk.
Aku membuat dua gelas es teh manis untukku dan untuk suamiku, hanya dalam waktu kurang dari tujuh menit. Dua gelas es teh manis besar kubawa menuju keruang tv. Aku menyodorkan es teh itu pada mas Fahmi, yang sedang kipas-kipas karena kepanasan.
"Ini mas es teh nya diminum dulu. Mas pasti sangat capek ya?, kalau mas lelah. Berangkat ke Solonya setelah shalat dzuhur saja tidak apa-apa mas. Lagian bahaya, kalau mas menyetir dalam kondisi yang capek dan ngantuk,".
"Apa beneran nggak papa kamunya dik?, kalau kita berangkat ke rumah Umi nya setelah shalat dzuhur?,". Tanyaku meyakinkan Aisyah.
"Nggak papa mas. Nanti setelah kita selesai minum es teh nya. Lanjut sholat dhuha ya mas. Nah, baru deh setelahnya kita tidur siang dulu. Gimana?,".
Aku menghabiskan segelas es teh manis bersama mas Fahmi. Kira-kira sekitar pukul setengah sepuluh aku dan suamiku mas Fahmi telah selesai melaksanakan shalat sunnah dhuha. Aku dan mas Fahmi berusaha untuk terus membiasakan shalat sunnah dhuha. Karena disetiap sendi dan tulang-tulang itu ada yang harus disedekahkan. Sebagaimana dalam sebuah hadist yang artinya “Pada pagi hari diwajibkan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Maka setiap bacaan tasbih adalah sedekah, setiap bacaan tahmid adalah sedekah, setiap bacaan tahlil adalah sedekah, dan setiap bacaan takbir adalah sedekah. Begitu juga amar ma’ruf (memerintahkan kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at.” (HR. Muslim no. 1704),".
Suara adzan dzuhur terdengar. Aku terbangun dari tempat tidur. Aku melirik kearah mas Fahmi yang ternyata sudah tidak ada didalam kamar. Aku mencium bau wangi, khas seperti parfum mas Fahmi. Ternyata suamiku telah lebih dulu bangun dan bahkan dia sudah mandi dan rapih untuk bersiap-siap melaksanakan shalat jama'ah dimasji. Aku sejujurnya malu, kerja ringan. Tapi aku bangun paling telat.
"Sudah bangun dik?,". Tanya mas Fahmi suamiku.
"Su-sudah mas. Maafkan Aisyah ya mas. Bangunnya telah,". Ucapku dengan nada penuh dengan rasa bersalah.
"Nggak papa sayang. Mungkin kamu kecapean. Yasudah mas pamit berangkat ke masjid dulu ya dik. Kamu mandi, shalat, dan siap-siap yah. Jadi nanti saat mas sudah pulang shalat jamaah dari masjid. Kita bisa langsung meluncur menuju ke rumah Umi. Jangan lupa dik, minta tolong semua pintu di kontrol, apa sudah dikunci semua atau belum,".
"Iyah mas, nanti Aisyah ini langsung mandi dan sholat sama siap-siap. Iya mas Fahmi, nanti Aisyah cek dan kontrol ulang semua pintu. Yasudah sanah mas berangkat ke masjid,". Ucapku sembari mencium tanganas Fahmi. Aku mengantar suamiku hingga didepan pintu.
Aku bergegas menuju kamar mandi, untuk mandi, kemudian shalat, dan siap-siap. Gamis berwana grey dengan kombinasi waran hitam menjadi pilihanku, untuk menemani perjalanan menuju Solo. Semua pintu sudah aku cek dan aku kontrol. Semuanya sudah aman, sudah dalam kondisi terkunci. Bahkan kompor dan yang berkaitan dengan listrik pun sudah aku cek. Aku duduk menunggu mas Fahmi pulang dari masjid.
"Assalamualaikum,". Mas Fahmi mengucapkan salam. Kali ini aku sudah mulai terbiasa, dan sudah mulai bisa membedakan mana suara mas Fahmi suamiku, dan mana yang bukan.
"Waallaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh,". Jawabku sembari membukakan pintu.
"MasyaAlloh, canti sekali kamu dik. Kamu sudah siap sayang?,".
__ADS_1
"Sudah mas. Ayok,". Ucapku bersemangat.
"Ayok sayang,".
Suamiku dan aku pergi meninggalkan rumah tepat di jam dua belas siang lebih tiga puluh menit. Mas Fahmi dan aku mengucapkan bismillah dan doa ketika akan safar (dalam perjalanan). Sepanjang perjalanan menuju ke Solo, aku banyak tidurnya. Aku ketiduran sungguh, bahkan kadang aku jadi malu sama mas Fahmi. Entah kenapa, ketika naik mobil pasti aku selalu mengantuk dan ketiduran dengan seenaknya. Terkadang aku juga sengaja mengajak ngobrol mas Fahmi, agar dia tidak mengantuk dalam menyupiri mobilnya. Aku berdiskusi banyak hal dengan mas Fahmi, terutama tentang kehidupan dan kematian.
Mobil yang kami kenakan memasuki pelataran rumah Umi. Ah, rumah ini tidak pernah ada yang berubah. Masih sama seperti dulu. Aku bergegas turun dan mengetuk pintu depan beberapa kali. Sedang Mas Fahmi sibuk menurunkan barang-barang dari dalam mobil.
"Kak Aisyah?!,". Teriak Aldi yang ketika membuka pintu langsung memeluk erat kearahku. Anak ini selalu menyambut kakak perempuan satu-satunya dengan teriakan dan pelukan. Itu pasti.
"Assalamualaikum dek, Umi dan Abi pada kemana?, kok kamu sendirian dirumah?,". Tanyaku bingung pada Aldi.
"Tadi, Umi dan Abi sedang ke warung sebentar kak. Katanya sih, mau membeli sesuatu. Mas Fatih mana, kak Aisyah?,".
Aku terdiam, ketika adikku Aldi salah menyebutkan nama Fahmi menjadi Fatih mantan suamiku. Semoga mas Fahmi tidak mendengarnya.
"Mas Fahmi dek, bukan Fatih,". Ucapku datar.
"Oh iya, maafkan Aldi kak. Aldi lupa, habisnya mirip si,". Adikku meminta maaf padaku.
"Iya tidak apa-apa dek. Itu mas Fahmi sedang menurunkan barang-barang,". Ucapku sembari tersenyum.
Aldi dan aku, membantu mengangkat beberapa barang yang ringan masuk kedalam rumah. Aku langsung membawa tas pakaian kedalam kamarku. Kamar yang sama, tidak pernah ada perubahan. Kamar ternyaman yang pernah aku punya dulu. Banyak sekali kenangan didalam kamar ini. Aku menahan air mataku agar tak jatuh menetes ke pipi.
"Umi dan Abi kemana dik?,". Mas Fahmi memecahkan lamunanku.
"Oh, itu tadi katanya Aldi sedang ke warung sebentar. Ada sesuatu yang harus dibeli,". Jawabku.
"Yasudah, mas tinggal dulu ya. Kasian Aldi sendirian diruang tv, mas mau memarkirkan mobil dulu biar tidak menghalangi jalan,".
"Iyah mas,". Jawabku sembari memerhatikan tubuh laki-laki yang berstatus suamiku itu pergi meninggalkanku seorang diri didalam kamar.
Barang-barang langsung aku tata dan aku rapihkan. Meksipun badan sedikit pegal, mending sekalian saja merapihkannya. Biar tidak kerja dua kali. Baru beberapa menit aku membereskan barang-barang, tiba-tiba aku mendengar Aldi adikku mengetuk pintu kamarku.
"Tokkk..... tokk... Kak Aisyah?!,".
"Iyah dik?, ada apa?,". Aku yang bingung langsung bertanya pada Aldi, begitu membuka pintu kamar.
"Kak, tadi sebelum kak Aisyah datang. Ada bapak tukang pos datang. Memberikan amplop ini pada Aldi,". Adikku Aldi menyodorkan sebuah amplop padaku.
"Terimakasih dik,". Ucapku sembari menutup dan mengunci kembali pintu kamarku.
"Sama-sama kak,". Jawab Aldi padaku.
Jantungku seakan berhenti mendadak. Aku sangat gemetaran begitu membaca siapa yang mengirim surat itu padaku. Keringat dingin langsung berdesakan keluar dan membanjiri tubuhku. Badanku langsung lemas. Ada apa lagi ini?, kenapa harus ada surat dari Bunda mantan mertuaku?. Benar sekali, surat ini datang dari Jakarta. Dan jelas disampul amlop tertulis siapa nama pengirimnya. Aku tidak mungkin salah membacanya. Jelas-jelas pengirim surat ini adalah Bunda mertuaku, dr. Layla. Untuk apa sebenarnya Bunda mertuaku mengirimiku sebuah surat?. Haruskah aku memberitahu suamiku?, dan kemudian aku membacanya bersama?. Sungguh, aku sangat tidak ingin membuka isi surat ini. Kenapa harus datang surat ini, setelah aku selalu berusaha untuk melupakan segalanya yang ada di masa lalu?.
__ADS_1
Aku jatuh terduduk, dan menangis sambil memegangi sebuah amplop yang sangat tidak ingin aku baca. Sebuah amplop yang mampu membuatku hancur seketika bahkan tanpa aku baca isinya. Astaghfirullah, kuatkan Aisyah ya Allah. Kuatkan. Doaku lirih ditengah isak tangisku yang tidak lagi terbendung.