
Cuaca kota Yogyakarta pagi ini sangat mendung. Hawanya sangat menyegarkan, meskipun tidak turun hujan. Hari ini aku sudah berjanji akan menjemput putraku Ilham di sekolahnya. Semenjak mengurus pindahan dari Jakarta ke Yogyakarta aku dan Bundaku sangat sibuk, menata rumah dan mengurus segalanya. Hari ini aku baru bisa memenuhi permintaan anak angkatku untuk bisa menjemput dirinya disekolah. Jam pulang hari ini, lebih awal dari pada biasanya. Jam tangan di tangan kiriku menunjukkan pukul sepuluh pagi. Seperti biasa, aku pasti akan membeli beberapa potong roti isi coklat kesukaan putra angkatku Ilham. Entah mengapa, putraku sangat suka dengan roti sobek isi coklat. Aku bahkan sampai tertawa melihat celoteh nya yang sedang mendeskripsikan betapa nikmatnya roti sobek yang sedang dia makan. Rasanya apa yang di ceritakan oleh nya sangatlah berlebihan. Saat aku kecil seperti nya, aku juga pernah merasakan roti sobek dengan isi coklat, tapi tidak seberlebihan itu dalam memberikan penilaian. Moment itu kadang membuatku tersenyum dan sangat-sangat menjadi penghibur di tengah-tengah penat yang mengerubuti otakku. Bahagianya menjadi anak kecil, bisa merasakan kebahagiaan hanya dengan menikmati sebuah roti sobek isi coklat. Ah, sungguh jadi ingin seperti Ilham kembali rasanya, jika sudah memikirkan masalah pekerjaan dan lain sebagainya.
Aku mengemudikan mobilku dengan kecepatan sedang. Lagi pula aku tidak terlalu terburu-buru untuk menjemput Ilham di sekolahnya. Pihak penjaga sekolah benar-benar akan menjaga dan menunggui murid yang belum di jemput oleh wali atau orang tuanya. Sekolah terbaik kuberikan untuk Ilham, meskipun dia bukanlah putra kandungku, tapi aku akan selalu memberikan yang terbaik selama aku mampu dan bisa. Bagiku, Ilham adalah harta kedua yang harus aku jaga dan aku bahagiakan setelah Bundaku sendiri. Awalnya aku sendiri tidak tahu, entah datang dari mana pikiran untuk mengadopsi seorang anak. Bahkan tidak pernah terlintas sebelumnya di benakku. Sampai pada akhirnya, saat itu aku dengan enteng berkata pada Bunda bahwa aku ingin mengadopsi seorang anak laki-laki. Ilham, pertama kali aku melihatnya di panti asuhan. Entah mengapa, rasanya hatiku begitu tentram melihatnya. Wajah nya yang lugu, pandangan nya yang menyejukkan, serta aku melihat banyak harapan besar yang tergambar dari kedua sorot matanya yang bening. Kesedihan, ya aku juga melihat duka yang dalam dari seorang anak laki-laki kecil ini. Entahlah, apa yang sedang ada dipikirannya kala aku datang siang itu. Disaat banyak teman-teman sebaya nya yang sedang asyik bermain, anak ini hanya diam termangu dengan tatapan yang kosong. Sesekali dia menggaruk kepalanya, dan memainkan jari-jarinya. Seolah sedang menghitung sesuatu. Pada hari itu, mungkin ada kira-kira sekitar sepuluh menit aku memperhatikan anak itu. Aku bersyukur, Bunda menyetujui permintaanku untuk mengadopsi Ilham menjadi putraku. Mengajak Ilham masuk kedalam tengah-tengah keluargaku yang sepi.
Hatiku semakin mantap untuk menjadikan Ilham putraku, begitu aku teringat keutamaan mengurus anak yatim-piatu. Sebagaimana hadist yang dibawakan oleh salah satu sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang bernama Sa’ad radhiallahu ‘anhu dimana beliau berkata bahwa: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya (HR. Bukhari, No.4998). Hatiku bergetar hebat, begitu sangat indah Islam mengatur segalanya, termasuk tentang urusan seorang anak yang tidak memiliki seorang ayah dan ibu.
"Derrtt.... derrtt....,". Aku merasakan telepon genggam ku bergetar. Rupanya ada panggilan masuk dari Bunda.
"Hallo, assalamualaikum Bunda?,". Ucapku melalui saluran telepon.
"Hallo, Waallaikumussalam. Kamu dimana nak?. Apa sudah sampai di sekolah Ilham?,".
"Belum Bunda, ada apa Bun?,". Tanyaku penuh dengan rasa penasaran.
"Apa masih lama?, tadi pihak sekolah menelpon kerumah. Katanya Ilham belum ada yang menjemput,".
"Sebentar lagi sampai kok Bun, mungkin mereka hanya mengingatkan. Takut kita lupa tidak menjemput Ilham di sekolah. Bunda dimana?,".
Rupanya pihak sekolah Ilham menghubungi kerumah. Karena memang seperti itulah salah satu keunggulan sekolah putraku. Akan selalu mengubungi wali yang bersangkutan, apa bila dirasa ada murid yang belum di jemput dari sekolah. Aku bersyukur, karena Bundaku juga sangat mencintai dan menyayangi Ilham, seperti cucu kandung nya sendiri. Bunda tidak pernah membedakan. Bundaku memang perempuan yang sangat luar biasa, rasanya ingin ku balas segala duka lara dan pengorbanan yang telah Bunda berikan untukku, meskipun aku tau. Itu tidak akan pernah mampu aku lakukan, sungguh tidak akan pernah mampu.
"Bunda dirumah saja. Nanti langsung pulang yah nak. Bunda sudah bikinkan makanan dan agar-agar kesukaan cucu Bunda,".
"Siap boss laksanakan. Nanti kami segera pulang. Tunggu kami yah. Bunda hati-hati dirumah,".
"Bas, bos, bas,bos. Bisa aja kamu ini nak. Yasudah hati-hati yah. Bunda tutup dulu telepon nya. Assalamualaikum putraku,".
"Hehehe... Iyah Bunda. Waallaikumussalam Warahmatullahi wabarokatuh,".
"Tuuutt.... tuuutt,". Telepon terputus.
__ADS_1
Sudah lama sekali aku tidak menginjakkan kaki di kota Yogyakarta semenjak, ah sudahlah. Aku tidak mau mengingat itu semua, aku tidak ingin menyakiti Bunda. Nampaknya pilihan Bunda untuk memilih kota Yogyakarta sangat tepat. Meskipun rasa itu sering muncul tiba-tiba dan sangat menyiksa. Jalanan kota Yogyakarta tidak terlalu padat, meskipun aktivitas berjalan seperti hari-hari biasanya. Yogyakarta, semoga aku bisa mengukir banyak kenangan indah di kota ini. Semoga ya semoga. Harapan yang baik aku inginkan dari kota ini. Hidup bahagia bersama Bunda dan Ilham, dan mungkin pasangan hidup yang baru. Meskipun untuk yang terakhir itu, entah kapan hatiku bisa kembali terbuka untuk wanita lagi, setelah kehilangan yang begitu mematikan. Cinta memang benar-benar membahayakan. Ada luka yang sangat dalam, ada rasa trauma yang begitu menyiksa. Cinta?, haruskah kembali menyentuh kata itu?. Bahkan setelah aku hampir mati karena yang namanya Cinta?. Bukan-bukan, bukan karena cinta nya. Mungkin karena kehilangan, yang membuat aku seperti mau mati. Pasrah saja, mungkin jauh lebih baik. Biarkan Allah yang mengatur semua skenario hidupku, termasuk mengenai pasangan hidup. Aku tidak mau lagi, merasakan kehancuran yang sama setelah kehilangan dia. Dia?, kenapa rasanya aku sangat takut untuk menyebut namanya. Aku takut, rasa itu datang lagi. Takut rasa ingin memiliki kembali membuncah didalam dada.
Lagi pula, bukankah berserah diri kepada Rabb itu jalan yang paling mulia?.
Aku pernah mendengar dari salah satu ulama yang bernama Ibnul Qayyim berkata : Allah adalah yang mencukupi orang yang bertawakal kepadanya dan yang menyandarkan kepada-Nya, yaitu Dia yang memberi ketenangan dari ketakutan orang yang takut, Dia adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong dan barangsiapa yang berlindung kepada-Nya dan meminta pertolongan dari-Nya dan bertawakal kepada-Nya, maka Allah akan melindunginya, menjaganya, dan barangsiapa yang takut kepada Allah, maka Allah akan membuatnya nyaman dan tenang dari sesuatu yang ditakuti dan dikhawatirkan, dan Allah akan memberi kepadanya segala macam kebutuhan yang bermanfa’at. [Taisirul Azizil Hamidh hal. 503].
Tawakal, yang berarti pasrah. Memasrahkan segalanya kepada Dzat yang Maha Segalanya. Akan aku pasrahkan segalanya kepada Nya. Bagaimanapun skenario kehidupan yang akan aku jalani nanti. Aku percaya, itu yang terbaik dan aku pasti mampu menjalankan nya. Bukankah aku dan Bunda sudah berhasil melewati ujian yang sangat dahsyat dalam hidup?. Benar adanya, bahwa Allah tidak akan pernah memberi ujian kepada hamba Nya, melebihi batas kemampuan dari hamba Nya.
"Astaghfirullah...,". Ucapku dalam hati.
Kira-kira sekitar sepuluh menit lagi, aku akan sampai disekolah Ilham. Sebentar lagi aku akan bertemu dengan jagoan ku. Sebenarnya ini sedikit terlambat, karena tadi aku ada urusan penting yang harus di selesaikan terlebih dahulu. Semoga saja putraku tidak ngambek, apalagi aku bawakan roti sobek isi coklat kesukaan nya. Mobil yang kugunakan ku parkirkan dihalaman depan sekolah Ilham. Dari kejauhan aku melihat Ilham sedang berbicara dan bercanda dengan seorang siswa perempuan.
"Anak yang sangat cantik,". Gumamku dalam hati.
"Ayaaahh....!!,".
Putraku berteriak sembari mendekat ke arahku. Rupanya dia mengetahui kedatanganku. Aku langsung menyambutnya dan memeluk erat tubuh kecil jagoan ku itu.
"Oke Ayah,". Jawabnya dengan sangat riang.
"Ada apa nak?,". Tanyaku pada Ilham yang tiba-tiba murung dan berkali-kali melihat ke arah gadis kecil cantik yang tadi berbicara dengannya.
"Ayah, Ilham punya teman baru. Namanya Wawa. Ilham sedih Ayah,". Jawabnya sembari menundukkan kepalanya.
"Oh Ilham punya teman baru?. Lalu, kenapa kamu malah sedih putraku?,". Tanyaku bingung.
"Ayah, teman Ilham itu belum ada yang menjemput. Kasian dia, dia sangat baik pada Ilham,".
"Memangnya kemana Ayah nya temen Ilham itu?. Kok ngga datang menjemput?,".
__ADS_1
"Kata Wawa, ayah nya Wawa belum pulang kerumah sudah beberapa hari. Semenjak Bunda nya Wawa teriak-teriak kesakitan,".
"Ohh... begitu,". Aku bersyukur, memiliki Ilham. Empati nya sangat tinggi. Rasa perduli nya sangat tinggi. Bahkan tidak semua anak memiliki empati luar biasa seperti putraku.
"Hmmm... bagaimana kalau kita ajak temen Ilham main kerumah kita?. Katanya, Oma bikin agar-agar kesukaan kamu. Oh iya, Ayah juga bawa roti sobek isi coklat kesukaan Ilham loh,". Lanjutku lagi.
Aku melihat putraku mengangkat kepalanya, wajah nya sangat sumringah. Matanya berbinar setelah aku menawarkan untuk mengajak teman barunya main kerumah.
"Boleh Ayah?, Ilham ajak main teman Ilham?,".
"Boleh dong sayang. Nanti yah, ayah bilang ke ibu guru dulu. Kamu tunggu dulu disini yah,".
"Asiikkk.....!!!, makasih Ayah,".
"Sama-sama putraku,".
Aku berjalan menuju salah satu guru yang sedang berkemas sembari menunggu teman Ilham yang dipanggil Wawa itu. Aku melihat wajah takut dari sorot mata anak cantik itu. Mungkin dia gelisah karena belum juga ada yang datang menjemput dirinya di sekolah. Sedang hanya dia satu-satunya murid yang tersisa.
"Permisi Bu, saya wali murid dari Ilham. Begini, bolehkah saya membawa nak Wawa kerumah kami?, ini alamat rumah kami Bu, nanti jika ada pihak wali yang akan menjemput nya, berikan saja alamat rumah ini. Lagi pula, kasihan dia sendiri disini Bu,". Ucapku kepada salah satu guru sembari menyodorkan kartu alamat rumahku yang baru.
"Boleh pak silahkan, nanti akan kami infokan ke pihak wali atau orang tua dari nak Wawa. Terimakasih banyak Pak,".
"Alhamdulillah, terimakasih yah Bu,".
Aku melihat guru tersebut mendekati gadis kecil itu. Sepertinya anak itu tidak menolak di ajak main kerumah. Alhamdulillah, syukurlah. Setidaknya dia tidak sendirian menunggu di sekolah. Ada baiknya dia menunggu dirumah bersamaku, Ilham dan Bunda. Dia juga jadi bisa bermain dan makan bersama sembari menunggu pihak walinya untuk menjemput.
"Nak, ikut Om dulu yah. Om orang tuanya Ilham. Nanti yang jemput nak Wawa datang kerumahnya Om. Nggak papa yah?,". Ucapku pelan-pelan.
"Ba-baik Ayah nya Ilham,". Jawabnya lugu dan polos.
__ADS_1
Aku menggandeng tangan mungil anak kecil berparas cantik ini menuju kedalam mobil. Aku, Ilham, dan temannya Ilham melaju menggunakan mobil menuju kerumah. Rasanya cacing-cacing didalam perut ku juga sudah mulai berdendang. Ingin segera pulang dan makan masakan buatan Bunda yang super Lezat. Sedang Ilham dan Wawa terlihat asyik memakan roti sobek isi coklat yang tadi aku bawakan. Untung saja aku membeli roti nya lebih dari satu.