Madu

Madu
Madu Ep.6 (SEASON 2)


__ADS_3

Hari ini kota Yogyakarta diguyur hujan. Alhamdulillah rasanya sangat nikmat dan tentram sekali. Bisa menghabiskan waktu bersama istri sembari menikmati deru tetesan hujan yang tanpa lelah membasahi bumi. Sudah kurang lebih satu bulanan, usia pernikahanku dengan Aisyah. Gadis yang kunikahi satu bulan yang lalu, kini tinggal bersamaku di kota Yogyakarta. Aku dan Aisyah sudah memisahkan diri, maksudku kami sudah pindah dari rumah orang tua Aisyah sejak seminggu yang lalu. Sesuai dengan permintaan Aisyah. Dia baru mau pindah dari rumah orangtuanya jika kurang lebih sudah dua Minggu tinggal di sana. Aku sudah menyiapkan satu rumah sederhana untuk bidadariku. Aku mendesign rumah ini, sedemikian rupa agar Aisyah suka. Tentunya tak lupa, aku membuatkan istriku sebuah taman bunga kecil dibelakang rumah. Aku mendapatkan informasi itu semua dari Umi mertuaku.


"Mas, ini Aisyah buatkan coklat hangat,". Tiba-tiba Aisyah datang dan duduk disampingku sembari membawa dua cangkir yang berisi coklat hangat. Setelah tadi dirinya pamit padaku untuk kedapur.


"MasyaAlloh, Jazakillahkhoyr ya zaujati (istriku). Dingin-dingin dibuatkan coklat hangat sama istri. MasyaAlloh Tabarakallah,". Ucapku dengan begitu bahagianya.


"Wa antum Jazakallahkhoyr mas Fahmi. Mas tau tidak?,". Tanyaku pada suamiku.


"Tau apa dik?,". Jawabku penasaran.


"Dulu, Aisyah setiap hujan sering minum secangkir coklat hangat bersama Umi. Kami berdua sambil mengobrol dan berdiskusi tentang banyak hal mas,". Ucapku pada mas Fahmi. Aku mengenang kebiasaanku dulu bersama umi.


"MasyaAlloh, bolehlah kapan-kapan mas diajak minum secangkir coklat hangat bersama istriku dan Umi mertua mas,". Ucapku pada Aisyah. .


"Ya kalau di Solo pas sedang hujan mas. Menikmati secangkir coklat hangat itu paling enak saat sedang gerimis dan hujan seperti saat ini mas Fahmi,". Ucapku pada suamiku.


"Oh iya, dik kamu tahu tidak. Kalau membasahi sebagain tubuh kita agar terkena air hujan itu adalah sunnah?,". Tanyaku pada Aisyah.


"Tau dong mas, dulu waktu Aisyah sama umi sedang menikmati secangkir coklat hangat bersama. Tiba-tiba Umi membasahi sebagain tangannya dengan air hujan. Awalnya Aisyah juga bingung, apa yang sedang Umi lakukan. Akhirnya Aisyah bertanya pada Umi. Dan Umi hanya tersenyum lalu menjelaskan pada Aisyah, bahwa membasahi sebagian tubuh ketika hujan adalah sunnah. Dan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam sering melakukan itu ketika hujan,". Aku menceritakan kenanganku bersama Umi dulu pada mas Fahmi.


Aku melihat Aisyah kemudian menyingkap sebagian kain gamisnya dan membasahi tangannya agar terkena air hujan. Dia tersenyum dan sangat terlihat bahagia ketika bermain air hujan. Aku mengikuti Aisyah, membasahi tanganku agar terkena air hujan. Aku bahagai bisa melihat Aisyah tersenyum begitu didepanku. Meskipun aku tahu, dibelakangku istriku masih sering bersedih dan menangis.


Jika saja aku mengetahui dan bisa meringankan beban yang menjadi sumber masalah yang membuat istriku sering menangis dan bersedih dibelakangku, maka akan aku bantu agar beban dan masalah itu hilang dari pikiran dan perasaan istriku. Aku hanya ingin membuat perempuan yang kini telah menjadi istriku bahagia. Aku sudah bosan, aku bosan sering melihat wajah Aisyah sendu dan sedih dibelakangku. Sampai detik ini, aku belum berani menanyakan hal yang membuat Aisyah sering bersedih dan menangis.


"Dik, apakah kamu bahagia menikah dengan mas?,". Tanyaku pada Aisyah.


"Kenapa mas Fahmi bertanya demikian pada Aisyah mas?,". Jawab Aisyah padaku. Aisyah langsung menatap kearahku lekat.


Aku melihat wajah Aisyah yang kaget dan shock medengar pertanyaanku padanya. Salahkah aku sebagai seorang suami bertanya demikian pada istriku?. Aku hanya ingin memastikan, apakah perempuan yang kini telah sah menjadi milikku bahagia karena keberadaanku dalam hidupnya?. Salahkah aku?.


"Oh, nggak papa dik. Mas hanya ingin tahu saja. Maaf jika pertanyaan mas Fahmi padamu membuat tidak berkenan dihati Aisyah. Maafkan mas dik,". Ucapku pada Aisyah.


Meminta maaf, aku rasa itu lebih penting dari pada jawaban Aisyah sekarang. Aku takut Aisyah berpikiran yang tidak-tidak padaku karena aku tiba-tiba menanyakan hal demikian padanya. Ini kali pertamanya aku memberanikan diri bertanya pertanyaan tadi pada Aisyah. Sungguh, aku tidak ada maksud lain, selain memastikan wanita yang kini menjadi pelengkap hidupku, menjadi pelengkap separuh agamaku, dan menjadi pertner dalam segala hal benar-benar bahagia karena menjadi istriku. Hanya itu.


"Apa mas Fahmi tidak bahagia menikahi seorang janda seperti Aisyah?, hingga mas menanyakan hal demikian pada Aisyah mas?,". Ucap Aisyah sembari mengalihkan pandangannya padaku ke arah bunga anggrek yang kini menjadi saksi bisu pembicaraanku dengan Aisyah malam ini.


"Astaghfirullah dik sayang. Jangan berkata seperti itu lagi yah dik. Mas tidak suka mendengar ucapan Aisyah barusan. Jangan di ulangi lagi yah dik,". Aku mengucapkan sejujurnya pada istriku, bahwa aku tidak suka mendengar dirinya berkata demikian padaku.


Sungguh, aku tidak pernah merasa terpaksa atau bahkan tidak bahagia memiliki Aisyah dalam hidupku. Aku tidak memperdulikan dan tidak memikirkan status masa lalu Aisyah. Aku memilihnya karena segalanya yang ada padanya. Aisyah perempuan luar biasa, aku bahkan sangat bahagia bisa menikahi perempuan sepertinya. Tidak ada rasa menyesal sedikitpun dalam hidupku karena memilih nya untuk kujadikan istri.


"Jujur saja mas,". Aisyah memaksaku untuk berkata jujur tentang jawaban dari pertanyaan nya padaku.

__ADS_1


"Baiklah dik, mas akan jujur. Mas Fahmi memang tidak bahagia menikahi kamu dik Aisyah,". Ucapku datar pada Aisyah.


"Lalu kenapa mas Fahmi memilih Aisyah?, kalau mas terpaksa dan tidak bahagia memiliki Aisyah mas?, kenapa mas?,". Aisyah seperti marah padaku, dia mengajukan pertanyaan yang aneh-aneh padaku.


Aku melihat wajah Aisyah berubah menjadi sendu. Bahkan sekarang mendung diwajahnya kini telah berubah menjadi hujan di pipinya. Benar, Aisyah sekarang sudah menangis. Aku membuatnya menangis, aku memang sengaja. Aisyah bahkan tidak melihat kearahku setelah aku menjawab pertanyaan nya barusan. Dia lebih memilih memandangi bunga anggrek ungu yang sangat segar terkena tetesan air hujan.


"Dik sayang, jujur mas tidak bahagia menikahimu dik. Tapi mas teramat sangat-sangat bahagia memiliki istri sepertimu dik Aisyah sayang. Mas bahkan tidak merasa menyesal sedikitpun dititipkan kamu dalam hidup mas dik. Kamu tau?, adanya kamu dalam hidup mas adalah nikmat yang luar biasa, yang Allah telah berikan kepada mas dik. Mas tidak hanya bahagia, tapi mas lebih bahagia dan bersyukur memiliki wanita baik dan solihah seperti mu dik,". Aku berkata jujur, bahkan aku menyeka air mataku yang jatuh. Aku mengucapkan itu semua benar-benar dari dalam hatiku.


"Jadi?,". Tanya Aisyah mengkonfirmasi ucapanku sebelumnya.


"Jadi, sejujurnya mas hanya bercanda dan mengerjaimu saja dik. Heheh...,". Ucapku sembari tertawa didepan Aisyah.


"Iiih, apaan si mas. Jangan gitu dong mas. Aisyah sudah baper, Aisyah sudah terbawa kesal dan sakit hati mendengar ucapan mas tadi,". Aisyah merajuk padaku sembari mengusap sisa air matanya.


"Sini,". Ucapku kepada Aisyah sembari merentangkan kedua tanganku lebar-lebar.


"Mas ngapain si?,". Tanya Aisyah polos dan kebingungan.


"Kok ngapain si dik?, ya peluklah dik,". Tanyaku tanpa malu-malu. Lagi pula disini hanya aku dan Aisyah saja berdua.


"Iih, apaan si mas. Tadi kan mas sudah mengerjai Aisyah. Masa sekarang minta di peluk,". Ucap Aisyah padaku.


"Yasudah deh iya, mas minta maaf yah,". Ucapku lagi sembari melipat kedua tanganku yang tadi kurentangkan lebar-lebar.


"Hmmm, sedikit. Oh iya dik. Kamu tau tidak, alasan mas kenapa memilih Aisyah untuk dijadikan istri mas?,". Ucapku pada Aisyah.


Aku melihat Aisyah begitu serius menunggu jawabanku, maksudku Aisyah begitu serius menunggu penjelasan dariku. Penjelasan mengapa dan kenapa aku memilih dirinya untuk kujadikan partner dalam segala hal. Aku sengaja diam saja, dan tidak menjawab apapun.


"Mas Fahmi?, kok malah diam saja. Aisyah kan nungguin penjelasan mas kenapa memilih Aisyah mas,". Aisyah merajuk padaku. Dia ngambek karena dari tadi menunggu tapi belum ada satu katapun yang keluar dari mulutku.


"Peluk dulu dong. Nanti baru mas jawab,". Ucapku pada Aisyah sembari merentangkan kembali kedua tanganku lebar-lebar.


"Yasudah iya,". Jawab Aisyah padaku. Dia kemudian menyambut rentangan tanganku dan memelukku.


Aku sangat bahagia, sungguh saat ini aku bahagia. Rasanya sangat nyaman dipeluk oleh Aisyah. Semoga hal-hal kecil seperti ini tidak pernah hilang dalam rumah tanggaku dan Aisyah.


"Sudah, ayok mas jawab,". Aisyah melepaskan pelukannya dariku dan menagihku lagi.


"Iya-iya dik, sabar. Mas pasti penuhi janji mas kok. Jadi gini dik, ada kurang lebih delapan alasan kenapa mas memilih kamu dalam hidup mas dik,". Ucapku serius.


"Delapan alasan mas?, kok banyak sekali?. Pokoknya mas Fahmi harus menjelaskan satu persatu alasan-alasan itu pada Aisyah yah mas,". Aisyah mencecarku dan merajuk padaku.

__ADS_1


"Iyah, akan mas jawab semua. Tapi setelah itu peluk lagi ya. Heheh...,". Aku berkata dan bercanda pada Aisyah.


"Iiih, enak aja. Yang serius dong mas. Ayok mas buruan jelasin kenapa mas pilih Aisyah,". Aisyah terus merajuk seperti anak kecil.


"Baiklah, tadi mas bilang ada delapan alasan kenapa mas memilih kamu dik. Pertama, Aisyah itu pandai menutup aurat. Wanita yang baik akan menutup auratnya dik. Karena itu perintah dari Allah. Sebagaimana dalam Al-Qur'an yang berbunyi “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnya  ke seluruh tubuh mereka“. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab: 59),". Diayat itu, Allah memerintahkan kepada wanita untuk menutup auratnya. Dan itu ada padamu dik. Aisyah pandai menutup auratnya,".


"Lalu yang kedua?,". Tanya Aisyah lagi.


"Kedua, kenapa mas pilih Aisyah, karena kamu berpakaian sesuai aturan dan syari'at Allah dik. In syaaAlloh, kamu sudah paham apa saja kriteria busana yang harus di pakai oleh seorang muslimah dik. Dan mas lihat kamu sudah berusaha untuk memakai pakaian seperti yang di syariatkan Allah dan Rasul-Nya,".


"Lalu?,". Tanya Aisyah kembali.


"Ketiga, betah dirumah. Wanita yang baik itu akan betah didalam rumahnya dik. Kecuali dalam kondisi-kondisi darurat yang mengharuskan seorang wanita keluar rumah. Dan mas lihat, kamu bahkan jarang kemana-mana. Buktinya waktu mas ajak kamu di taman bunga saja, kamu tidak tahu. Padahal itu di kota kelahiranmu. Hehehe. Kalo perintah ini ada di salah satu ayat Allah yang berbunyi “Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” (QS Al Ahzab: 33). Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat di atas mengatakan, “Hendaklah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian keluar rumah kecuali karena ada kebutuhan”. Oh iya, kamu tahu tidak dik?, ada sebuah cerita yang bisa diambil ibrohnya (pelajarannya)?,".


"Cerita apa itu mas?,". Tanya Aisyah padaku. Dia begitu antusias dengan penjelasanku.


"Dulu, disebutkan bahwa ada orang yang bertanya kepada Saudah -istri Rasulullah-, “Mengapa engkau tidak berhaji dan berumrah sebagaimana yang dilakukan oleh saudari-saudarimu (yaitu para istri Nabi yang lain, pent)?” Jawaban beliau, “Aku sudah pernah berhaji dan berumrah, sedangkan Allah memerintahkan aku untuk tinggal di dalam rumah”. Perawi mengatakan, “Demi Allah, beliau tidak pernah keluar dari pintu rumahnya kecuali ketika jenazahnya dikeluarkan untuk dimakamkan”. Sungguh moga Allah ridha kepadanya,". Aku menceritakan kepada Aisyah.


"MasyaAlloh ya Allah, sungguh Aisyah tidak ada apa-apanya dengan ibunda Saudah,". Ucap Aisyah sembari menyeka air matanya.


"Kamu bisa terus belajar dik. Alasan keempat kenapa mas menikahi Aisyah yaitu rasa malu. Mas melihat itu dari diri Aisyah dik. Mas masih ingat, saat dulu kita akan bertaaruf. Kamu bersembunyi karena malu, bahkan setelah mas sudah mengucapkan akad dan telah sah menjadi suami Aisyah. Aisyah masih malu-malu pada mas. Perempuan harus memiliki rasa malu dik. Karena salah satu cabang iman antara lain adalah rasa malu. Jika manusia sudah tidak memiliki rasa malu. Apa bedanya kita dengan makhluk Allah yang lainnya?. Kalau ini ada disalah satu hadist yang berbunyi “Rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37, dari ‘Imron bin Hushain.),".


"MasyaAlloh. Semoga Aisyah bisa terus lebih baik lagi ya mas. Mohon ingatkan dan bimbing Aisyah ya mas,". Ucap Aisyah padaku.


"Bismillah, in syaaAlloh dik. Kita sama-sama belajar ya sayang. Alasan kelima, taat dan menyenangkan suami dik. Aisyah begitu taat pada mas dalam kebaikan. Dan menyangkan ketika dipandang oleh mas. Dulu Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih). Karena betapa banyak wanita yang melakukan banyak perawatan wajah, namun ketika dipandang tidak bisa membuat suaminya merasa bahagia dan tentram dik,".


"Alasan keenam mas?,". Tanya Aisyah lagi.


"Keenam, menjaga kehormatan, anak, dan harta suaminya dik. Mas percaya padamu. Aisyah bisa menjaga kehormatan diri Aisyah, menjaga anak-anak kita kelak, dan menjaga harta mas ketika mas sedang tidak ada dirumah karena suatu hal. Ini juga Allah jelaskan dalam salah satu ayatnya yang artinya “Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada” (QS. An Nisa’: 34).,".


"Dua alasan yang terakhi apa mas?,".


"Bersyukur dengan pemberian suami serta berdandan dan berhiasa diri hanya dihadapan suaminya. Aisyah, kamu tau dik. Mas bahagia karena kamu selalu bersyukur dengan apapun yang mas berikan padamu. Kamu juga pandai berhias hanya dihadapan mas. Jazakillahkhoyr ya sayang. Semoga Allah balaskan surga untuk istri yang taat dan sebaik kamu dik,". Ucapku pada Aisyah sembari menyeka air mataku.


"Mas?, apakah benar semua itu ada di dalam diri Aisyah mas?. Aisyah merasa, Aisyah hanya perempuan dengan segunung dosa mas. Rasanya terlalu berlebihan, jika kedelapan alasan itu semuanya ada pada diri Aisyah mas Fahmi,". Aisyah merasa tidak yakin, jika kedelapan alasan yang membuatku memilih nya untuk kujadikan istri ada semua padanya.


"Dik, itulah adanya. Mas tidak melebih-lebihkan dik. Kedelapan alasan itu memang ada padamu istriku,".


"Semoga Allah mengampuni dosa-dosa Aisyah dan dosa-dosa mas ya. Maafkan Aisyah ya mas. Jika selama jadi istri mas Fahmi. Aisyah belum bisa memberikan yang terbaik. Dan jazakallahkhoyr mas, sudah mendoakan dan membimbing Aisyah. Sudah menjadi suami yang sabar dan dewasa untuk Aisyah. Semoga Allah juga hadiahkan jannah-Nya untuk suami sebaik mas. Aamiin ya Allah ya Rabb. Dan terimakasih mas, telah memilih Aisyah dari banyaknya akhwat solihah yang ada di dunia ini,".


"Aamiin, terimakasih juga telah menerima laki-laki sepertiku dik. Dik masuk yuk. Lagian anginnya semakin kencang. Takut masuk angin,". Ajakku pada Aisyah.

__ADS_1


"Ayuk mas,". Ucap Aisyah sembari membawa dua gelas cangkir bekas coklat tadi.


Aku dan Aisyah masuk kedalam rumah, dan kemudian kami makan malam berdua. Semoga rumah tanggaku dan Aisyah selalu diberikan kekuatan, keberkahan, dan kebahagiaan. Doaku dalam hati.


__ADS_2