Madu

Madu
Madu Ep.20 (SEASON 2)


__ADS_3

Tepat hari ini, sudah dua bulan Bapak mertuaku meninggal orang-orang yang menyayangi dan mencintainya. Semenjak kepergian bapak dua bulan yang lalu. Aku dan suamiku mas Fahmi memutuskan untuk memboyong Ibu kerumah kami. Tidak mungkin tega kami membiarkan Ibu tinggal seorang diri dirumah tanpa Bapak. Rumah lama Ibu mertuaku, dibiarkan kosong. Karena sesuai dengan amanah almarhum Bapak. Dalam keadaan apapun, rumah itu tidak boleh dijual. Karena nantinya, rumah buku milik Bapak dan Ibu akan ditempati oleh adik iparku Fatimah jika sudah balik dari luar negeri. Bersyukur rasanya, Ibu sudah bisa tersenyum kembali setelah ditinggal pergi untuk selama-lamanya oleh kekasih hatinya. Sehari-hari aku dan Ibu mencoba banyak resep-resep makanan, aku tidak ingin membuat Ibu terus berduka. Rasanya, ibu mertuaku juga sudah mengikhlaskan kepergian laki-laki yang dicintainya untuk menghadap ke Rabb yang menciptakannya. Begitupun dengan Mas Fahmi suamiku dengan adik kandung nya Fatimah yang tidak bisa melihat jenazah terakhir bapak secara langsung. Semakin hari, benih-benih cinta dihatiku untuk mas Fahmi semakin besar, tumbuh berbunga dan semakin subur. Proses yang sangat panjang sekali memang, dan lagi-lagi waktu adalah obat mujarab untuk mengobati segala luka. Meksipun waktu tidak mampu menghapus segala kenangan penuh duka lara. Mendapatkan diriku kembali, mungkin itu istilah yang tepat untukku sekarang. Aku sudah bisa menjadi Aisyah yang dulu, Aisyah yang tidak lagi dibayangi oleh luka-luka di masa lalu. Berkat kesabaran dan kegigihan seorang Fahmi, perempuan bernama Aisyah merasa terlahir kembali. Menikmati hidup dengan penuh syukur dan sabar. Melewati hiruk pikuk rumah tangga, badai-badai kecil yang sedikit demi sedikit mampu dilewati.


"Ibu?, kenapa Aisyah mual-mual terus yah Bu?,". Tanyaku pada Ibu mas Fahmi.


"Coba kamu beli alat test kehamilan ya nak. Semoga kali ini rejeki buat kamu dan Fahmi,". Saran dari ibu mertuaku, agar aku membeli alat test kehamilan. Sebelum nya aku pernah mengalami mual dan pusing, bahkan empat menggunakan test pack juga. Tapi hasilnya masih negatif. Sebenarnya agak ragu juga dengan saran Ibu. Aku takut mengecewakan beliau. Biar bagaimanapun, seperti Bapak mertuaku dulu semasa masih hidup, sangat ingin menimang seorang cucu, dan bermain bersama.


"Kenapa melamun nak Aisyah?,". Tiba-tiba Ibu mas Fahmi, menegurku.


"O-oh iyah Ibu. Bu, jujur Aisyah takut mengecewakan Ibu dan mas Fahmi. Takut hasilnya masih negatif Bu,".


"Kalaupun hasilnya masih negatif, tidak apa nak. Tidak usah risau, itu artinya belum rezeki kamu dan suamimu. Ibu bisa mengerti, dan tidak akan marah nak. Anak itu adalah titipan,".


Nikmat Tuhan mana lagi yang harus aku dustakan?. Diberikan seorang Ibu mertua yang sangat baik. Di anggap seperti putri kandungnya sendiri. Tidak pernah sekalipun ibu membeda-bedakanku. Bagiku, salah satu rezeki yang Allah kasih adalah, diberikannya seorang mertua yang baik dan penyayang. Sudah bukan rahasia umum rasanya, banyak rumah tangga yang tidak bisa dipertahankan karena sering adanya cekcok antara menantu dan mertua. Bahkan ini menjadi point penting, bagi siapapun yang akan berumah tangga. Carilah laki-laki yang keluarga nya menerima keadaan kita apa adanya. Karena menikah itu tidak hanya menyatukan dua jiwa, tapi juga menyatukan dua keluarga. Ini yang sulit, menyatukan dua keluarga dengan karakter dan latar belakang yang berbeda. Butuh kesabaran dan kedewasaan agar kedua keluarga tetap dalam hubungan yang kondusif dan baik. Sungguh, betapa banyak terdengar disana-sini, ribut antar ipar, atau bahkan ribut antar besan. Menyesakkan sekali.


"Yasudah, bismillah yah Bu. Semoga kali ini rezeki Aisyah dan Mas Fahmi. Jadi ibu bisa secepatnya gendong Cucu,". Aku berlinang air mata dan memeluk erat tubuh Ibu mertuaku.


"Aamiin nak. In syaaAlloh, Allah tahu yang terbaik untuk kita nak. Yang terpenting, sebagaimana manusia jangan pernah kita berputus asa. Karena Allah sangat membenci hamba Nya yang memiliki sifat putus asa. Ibu rasa Aisyah sudah pernah dengar tentang ayat yang membahas larangan manusia untuk berputus asa bukan?,".


"Iyah ibu. Jika tidak salah, larangan itu ada di Qs. Yusuf yang artinya "Wahai anak-anakku, pergilah kalian dan carilah berita mengenai Yusuf dan saudaranya, dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tidaklah ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir.” (QS. Yusuf: 87)


"MasyaAlloh, tabarakallah menantuku sayang. Ibu bahagia, Fahmi tidak salah memilih istri nak,".


"Ibu, jangan berkata begitu. Aisyah jadi malu,".


"Yasudah nak, kamu beli dua alat test kehamilan di warung samping rumah yah nak,". Perintah Ibu mertua padaku.


"Baik Bu, Aisyah tinggal dulu yah Bu sebentar. Ibu ingin apa?. Nanti biar Aisyah belikan sekalian Bu?,".


"Nggak Aisyah, ibu tidak ingin apa-apa. Hati-hati ya anakku,".


"Iya sudah. Assalamualaikum,". Pamitku pada ibu.


Alhamdulillah wa syukurilah. Seorang wanita bernama Aisyah yang pernah merasakan kegagalan dalam rumah tangganya, yang pernah kehilangan calon janin nya. Kini bisa bangkit melawan segala rasa trauma itu. Rasa trauma yang membuatku terkurung dan sempat tidak berani melangkah. Tidaklah mudah bagi seorang perempuan, kehilangan calon janin dikehamilan pertamanya. Itu benar-benar menyisakan trauma yang sangat dalam. Itu yang juga aku sampaikan pada suamiku. Aku berkata jujur apa adanya pada mas Fahmi, bahwa aku masih trauma untuk hamil lagi. Bersyukur selalu, mas Fahmi begitu sabar menungguku, meyakinkanku tanpa paksaan. Dia tidak pernah sekalipun mengataiku ini dan itu yang membuat sakit dihatiku. Support, kasih sayang, pengorbanan, dan perhatian semuanya itu, aku tidak pernah kekurangan dari sosok suami seperti mas Fahmi.


"Mau kemana mbak Aisyah?,". Sapa salah satu tetangga rumahku.


"Mau kewarung, bude,". Aku terbiasa memanggilnya dengan panggilan bude.


"Oh, Ibu dirumah mbak?,".


"Iyah Ibu dirumah bude. Mau kerumah?,".


"Niatnya mau main kerumah, mau minta diajari bikin siomay kaya kemarin yang mbak Aisyah kasih. Heheh... enak sekali rasanya mbak,".


"Syukurlah kalau suka bude. Kerumah saja bude, Ibu sedang nyantai aja kok,".


"Nanti saja lah mbak. Agak sorean mbak, bude kerumah nya,".


"Ohalah, yasudah bude. Aisyah ke warung dulu ya bude. Assalamualaikum,".

__ADS_1


"Waallaikumussalam, hati-hati mbak Aisyah,".


"Iyah bude,".


Lingkungan disekitar rumahku sangat mendukung. Aku tidak pernah sekalipun merasa di intimidasi karena mengenakan cadar. Mereka saling menghormati, hidup rukun dan harmonis. Keberadaanku diterima oleh masyarakat sekitar. Bahkan, sudah seperti saudara dekat. Contohnya bude yang tadi menyapaku. Dia sangat baik, dari awal aku pindah hingga sekarang sudah seperti keluarga sendiri. Alhamdulillah, setidaknya banyak orang-orang yang berpikiran maju dan tidak mudah memojokkan orang lain hanya karena asumsi-asumsi yang tidak jelas dan pastinya sangat diragukan kebenarannya.


"Mbak, beli test pack nya yah dua pcs saja,".


"Wah, Alhamdulillah. Mbak Aisyah hamil yah?,".


"Aamiin, semoga saja kali ini rezeki yah mbak. Doakan saja. Ini baru mau di test,". Jawabku jujur.


"Aamiin, pasti tak doakan mbak. Ini mbak,". Ucapnya sembari menyodorkan dua buah alat test kehamilan padaku.


"Berapa mbak?,".


"Tiga puluh ribu rupiah, mbak Aisyah,".


"Oh, iya ini mbak uang nya. Terimakasih banyak yah mbak,". Ucapku sembari menyodorkan uang tiga puluh ribu padanya.


Aku berjalan kembali menuju rumah. Sudah tidak sabar rasanya, ingin mengecek dan mengetahui hasilnya. Ya Allah, semoga kali ini. Adalah rezeki untuk Aisyah dan mas Fahmi. Aisyah sudah sangat ingin memberikan kado ini pada suami Aisyah. Aku mengelus lembut perutku. Mataku berkaca-kaca, betapa bahagianya mas Fahmi, jika benar aku hamil. Aku mengusap air mataku yang tak terbendung, dan jatuh menetes di pipiku. Kutarik nafas dalam dan panjang, kemudian kuhembuskan perlahan. Sepanjang berjalan menuju rumah, tanganku terus memegang perutku. Betapa sangat membahagiakan nya jika aku benar positif hamil ya Allah.


"Tookk.... toookkk ... tokkk. Assalamualaikum Ibu,". Aku mengucapkan salam dan mengetuk pintu rumah.


"Waallaikumussalam nak Aisyah. Sudah beli?,". Tanya Ibu mertuaku.


"Syukurlah, kapan kamu akan cek nak?,".


"In syaaAlloh besok pagi-pagi Bu. Karena kalau pakai alat test kehamilan paling bagus saat pagi hari, setelah bangu tidur Bu. Sebelum ada makanan dan minuman yang masuk. Karena saat itu hormon hCG (Human Chorionic Gonadotropin) dalam kadar yang tinggi,". Aku menjelaskan apa yang aku ketahui selama dibangku perkuliahan dulu.


"Yasudah nak. Kamu simpan dulu saja alat tes kehamilan yang barusan kamu beli,".


"Iyah ibu, Oh iya Bu, tadi Aisyah bertemu dengan bude. Katanya bude mau kerumah bertemu dengan ibu nanti sore,".


"Iya kah nak?, untuk apa bude kerumah?,".


"Katanya, bude mau belajar bikin resep somay yang kemarin kita coba buat Bu. Somay nya enak sekali kata bude,".


"Wah, serius nak?. Enak beneran?. Padahal kita aja baru coba-coba ya nak. Bisa kayaknya dijadikan bisnis. Hehehe...,".


Bahagia sekali rasanya bisa melihat tawa ibu kembali. Semenjak ditinggal pergi selamanya oleh Bapak. Sangat jarang mas Fahmi dan aku bisa melihat ibu tertawa selepas ini. Semoga hasil test kehamilanku positif dan menunjukkan dua garis merah. Agar bisa mengobati rasa kesepian ibu tanpa bapak.


"Boleh tuh Bu, kita buka bisnis catering makanan saja Bu. Kan Aisyah sama ibu punya hobby memasak. Kalau hobby bisa menghasilkan rezeki. Kenapa tidak ya kan Bu?,".


"Benar sekali putriku. Nanti kalau Fahmi pulang. Kita bicarakan rencana kita yah nak. Biasanya Fahmi punya planning yang sangat matang. Jadi nanti biar suamimu yang memikirkan konsep dan lain sebagainya,".


"Boleh-boleh Bu. Nanti kalau sudah berkembang. Kita bisa rekrut karyawan buat bantu-bantu kita yah Bu. Jadi bisa buka lapangan pekerjaan buat orang lain,".


"Iya nak Aisyah. Benar sekali,".

__ADS_1


Ibu mertuaku dan aku memang memiliki sebuah hobi yang sama. Yaitu memasak, aku dan Ibu sudah banyak mencoba puluhan resep masakan dan jajanan. Dan hasilnya tidak mengecewakan. Bukannya sombong atau memuji diri sendiri. Tapi memang begitu faktanya. Semoga ide bisnis ini bisa membantu mas Fahmi dalam mencari rezeki. Sebentar lagi, suamiku pulang. Aku bergegas menyiapkan pakaian ganti untuk mas Fahmi, tidak lupa aku juga berhias untuk menyambut kedatangan suamiku. Karena memang, wanita lebih tepat berhias hanya didepan suaminya, bukan di khalayak umum untuk dilihat oleh banyak orang. Salah satu penyebab perselingkuhan dalam rumah tangga adalah, karena istri tidak menyiapkan dirinya maksudku tidak berhias ketika menyambut seorang suami dalam kondisi lelah setelah seharian mencair rezeki dan nafkah yang halal pulang kerumah. Laki-laki mana yang tidak jenuh?, ketika seharian bergulat dengan terik matahari dan amanah-amanah yang menumpuk, lalu pulang kerumahnya mendapati istrinya dalam kondisi tidak enak dipandang?. Kebanyak perempuan, berhias hanya ketika akan pergi jalan-jalan atau pun untuk acara di luar. Sedangkan untuk suami, hanya mengenakan daster tanpa parfum ataupun bedak di wajahnya. Satu point penting, untuk menyenangkan suami, tidak harus memiliki wajah yang cantik. Cukup dengan menyambut kedatangannya dengan sebaik-baiknya sambutan. Cantik itu relatif, dilihat dari siapa yang memandang dan melihat. Itu yang sampai saat ini, aku usahakan untuk menjaga keutuhan rumah tanggaku dengan suamiku mas Fahmi. Manusia memilik banyak kekurangan, dijadikan berpasang-pasangan agar saling menyempurnakan.


"Assalamualaikum?,". Suara khas dari suamiku terdengar. Aku buru-buru menuju depan dan membukakan pintu untuknya.


"Waallaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh mas,". Ucapku menjawab salam dari mas Fahmi, dan kemudian mencium punggung tangan kanan nya. Sedang mas Fahmi mencium keningku. Itu rutin selalu dilakukan oleh mas Fahmi dan aku.


"Ibu mana dik?,".


"Ibu diruang TV mas. Mas bagaimana kerja hari ini?. Lancar?,". Tanyaku pada suamiku.


"Alhamdulillah lancar sayang,".


"Syukurlah, mas itu baju gantinya sudah Aisyah siapkan di kasur kamar. Mas ganti baju dulu yah. Aisyah pamit buatkan jus dulu buat mas,".


"Makasih ya sayang, oh iya. Dik jangan bikin jus. Mas pingin dibuatkan es teh saja sayang. Ngga papa kan?,".


"Ngga papa dong mas. Yasudah mas ganti baju dulu. Aisyah buatkan es tehnya. Nanti sekalian makan bersama Ibu. Ada yang mau ibu dan Aisyah bicarakan juga dengan mas Fahmi,".


"Bicarakan?, tentang apa sayang?,".


"Yeee... makanya mas ganti baju aja dulu. Nanti sekalian sambil ngobrol-ngobrol saat makan. Oke,".


"Oke istriku sayang,".


Aku meninggalkan mas Fahmi dikamar, dan berjalan menuju dapur. Aku membuat satu gelas es teh dan satu teh manis hangat untuk ibu mertuaku. Sedangkan aku, lebih suka minum air putih jika sedang makan berat. Aku juga sering mengingatkan Ibu mertuaku, dan suamiku untuk banyak-banyak meminum air putih. Dulu, Abi dan Umi lah yang mengajariku untuk gemar meminum air putih. Mereka tidak pernah lelah mengingatkanku, jika lupa tidak minum air putih. Bahkan Umi dan Abi lah yang suka menanyakan, kak Aisyah sudah minum air putih?, kak aisyah jangan lupa banyak-banyak minum air putih ya kak?. Dan lain sebagainya. Kebiasaan hidup sehatku semua diajarkan oleh Umi dan Abi, meskipun kadang aku bandel dan makan seenaknya ketika sedang lapar dan sangat ingin. Aku penggila pedas, dulu Umi yang sangat rewel jika aku terlalu banyak makan lombok dan berbagai macam sambal. Wajar, Umi punya masalah dengan lambungnya. Umi tidak bisa makan-makanan yang pedas.


"Sudah pulang nak?,". Tanya Ibu mertuaku pada putranya.


"Sudah Ibu,". Jawab mas Fahmi sembari mencium punggu tangan Ibunya. Mas Fahmi juga mencium kening Ibu, seperti dia mencium keningku.


Aku sangat bersyukur, bisa membantu suamiku untuk terus berbuat baik dan taat pada Ibunya. Karena surga suamiku tetap pada Ibunya. Berbeda dengan seorang perempuan, ketika sudah akad. Maka surga ada pada suaminya. Betapa banyak, seorang anak laki-laki yang setelah menikah justru malah semakin jauh dari wanita yang melahirkannya?. Aku tidak mau itu terjadi pada suamiku.


"Mas, bantu Aisyah untuk taat padamu, karena setelah akad surga Aisyah ada padamu. Dan Aisyah bantu mas Fahmi untuk taat pada Ibumu, karena setelah akad nikah, surga mas Fahmi tetap ada pada Ibu kandung mas,". Kira-kira beginilah kata-kata yang pernah aku sampaikan pada suamiku, ketika malam setelah akad pernikahanku dengannya.


"Ibu?, kata dik Aisyah. Ada yang ingin ibu bicarakan dengan Fahmi?. Ada apa Ibu?". Mas Fahmi lebih dulu menanyakan pada Ibu. Sedang aku sibuk mengambilkan nasi di piring beserta lauknya untuk mas Fahmi dan untuk Ibu mertuaku, serta untuk diriku sendiri.


"Iyah nak, Ibu dan menantu ibu nak Aisyah, ingin usaha buka catering makanan. Menurut kamu gimana putraku?,".


"MasyaAlloh. Fahmi dukung Ibu dan Aisyah. Selama itu baik Bu. Mau mulai kapan?,". Tanya mas Fahmi di sela-sela makan.


"Nanti dipikirkan lagi nak. Ini baru rencana,". Jawab ibu pada putranya.


"Yasudah Bu, nanti kita pikirkan lagi yah,".


"Iyah putraku,".


Ketika Ibu mertuaku dan putranya sedang asyik berdiskusi mengenai konsep usaha catering yang akan dibuka. Aku sibuk menginginkan agar cepat pagi. Sudah tidak tahan rasanya untuk melihat hasil test kehamilan yang akan kugunakn besok. Aku mengelus pelan perutku.


"Semoga ada kamu disana ya calon anakku sayang,". Ucapku dalam hati sembari mengelus lembut perutku.

__ADS_1


__ADS_2