Madu

Madu
Episode 69


__ADS_3

" Assalamualaikum ". aku mengetuk pintu rumahku. Aku sampai di solo kira-kira jam 5 sore. Sebenarnya tubuhku benar-benar sudah merasa sangat lelah sekali.


" Waallaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh. Kak Aisyah ?! ". ternyata yang membuka kan pintu adalah Abi. Laki-laki hebat yang tidak pernah menyakiti umi. laki-laki hebat yang fisiknya tidak pernah menyentuh dengan kasar tubuh umi.


" Abi... Aisyah pulang, umi dan Aldi kemana ?".


" Umi ada di dalam kak".


" kak Aisyah ?! pulang dengan siapa kak ? mana nak Fatih kak ?! kakak kenapa ?! wajah nya Pucat sekali kak ?!". umi langsung memeluk tubuhku dengan sangat erat. air matanya menetes melihat putrinya terlihat pucat dan kurus.


" Aisyah pulang sendirian umi, Mas Fatih sedang ada urusan kantor. Mungkin terakhir nanti mas Fatih akan kesini, Aisyah hanya kecapean umi. Aisyah baik-baik saja".


" Yasudah kakak cepat masuk kamar ya kak, kak Aisyah istirahat dulu. nanti umi kesana ".


" iya umi ". Aku berjalan dengan pelan menuju kamar ku.


Ah sudah sangat lama sekali aku tidak masuk kamar ku ini. Kamar persembunyian ku saat mas Fatih datang kerumah pertama kali. Kamar ini masih sama, tidak ada yang berbeda. Di kamar ini, pertama kalinya aku tidur satu ranjang bersama laki-laki. laki-laki yang kini menyia-nyiakan diriku, laki-laki yang sangat baik kemudian berubah menjadi laki-laki yang beringas dan sangat kasar padaku. laki-laki yang gelap mata karena ada perempuan yang di rasa lebih dari segalanya dari ku. aku berusaha menahan air mataku. Ternyata pengorbanan ku untuk bunda mertuaku dan suamiku sejauh ini. Aku duduk di kursi dekat jendela yang menghadap ke kebun belakang rumah. Disini tempat aku menenangkan pikiran dan hatiku kala mas Fatih datang untuk melamar dan menikahi ku.


" tokkkk... tok... tokkk, kak Aisyah ?". suara umi mengetuk pintu kamarku dan memanggil ku.


" Nggih mi". aku bangun membuka pintu kamar.


" kak, ini umi bawakan coklat hangat dan sup untuk kak Aisyah. wajah kak Aisyah masih sangat pucat ".


" terimakasih banyak umi".


" kak ? kak Aisyah tidak ada masalah dengan nak Fatih kan ?".


" kenapa umi bertanya seperti itu ?".


" umi khawatir saja kak".


" umi ngga usah khawatir. Aisyah baik-baik saja dengan mas Fatih kok, oh ya mi. Aisyah punya permintaan ke umi".


" apa kak ?".


" umi, malam ini Asiyah ingin tidur berempat dengan umi, Abi, dan Aldi ".


" kenapa kak ? kok tiba-tiba kak aisyah ingin tidur berempat dalam satu kamar ?".


" Aisyah hanya rindu saat Aisyah masih kecil dulu, rindu tidur bersama umi, Abi, dan Aldi dalam satu tempat tidur, rindu ngobrol bareng sampai akhirnya tertidur mi". Ucapku pada umi sambil tersenyum. Aku rindu sekali rasanya dengan mereka.


" ya sudah, sekarang kak Aisyah minum dulu coklat nya, sama sup nya. nanti biar umi bilang ke Abi dan Aldi yah kak. kamu ini ada-ada saja permintaan nya. padahal sudah punya suami". aku melihat umi tertawa padaku, rasanya sangat membahagiakan melihat tawa dan senyum umi yang begitu indah. aku melihat tubuh umi yang menghilang dari kamarku.


Aku menatap foto pernikahan ku dan mas Fatih yang ternyata sudah terpasang di dinding kamarku. Sangat membahagiakan rasanya kala itu. sorot mata ku dan mas Fatih benar-benar berbinar sangat bahagia. Aku menggunakan gamis akad berwarna putih dengan mahkota indah di ujung kepala ku, sedang mas Fatih menggunakan jas berwarna hitam, sangat tampan. Ah... gamis itu, gamis yang juga menjadi saksi hari bahagia ku, dan hari kehancuran ku. Air mataku menetes, mengingat semua masa indahku bersama mas Fatih, dan masa kehancuran rumah tanggaku. Aisyah lelah ya Allah .. ucapku lirih.


" kakak.... ". tiba-tiba Aldi masuk dalam kamarku. aku langsung menghapus air mataku.


" kakak habis nangis yaaa... matanya basah ?". tanya Aldi dengan polos nya padaku.


" engga, Kaka hanya kelilipan debu". ucapku sambil mencubit pipi Aldi.

__ADS_1


" kakak .. Aldi kangen kakak. jangan pergi ya kak ".


" emang kakak mau pergi kemana ?".


" pokoknya kakak jangan pergi jauh. Aldi jadi ngga bisa main sama kak Aisyah ".


" iya dek engga kok, kakak juga sudah capek. oh iya, dek... kelak kalau Aldi sudah dewasa, udah gede. Aldi harus jadi laki-laki yang kuat yah, tapi kekuatan itu bukan untuk menyiksa perempuan, tapi untuk melindungi perempuan, seperti Abi yang selalu melindungi umi dan kak Aisyah".


" iya kak, nanti kalo ada penjahat, Aldi yang jaga umi sama kak Aisyah yah".


" Kak Aisyah nitip umi Abi yah dek, kan Aldi adik kakak satu-satunya".


" iya kak".


Sekitar pukul jam delapan malam. aku merasakan tubuhku banyak keluar keringat dingin. mungkin aku terlalu kecapean karena perjalanan panjang dari Cirebon-solo. padahal aku juga di kereta api sepanjang jalan banyak tidurnya. astaghfirullah.. aku harus banyak minum jika banyak keluar keringat begini. Aku mengganti baju tidurku yang basah karena keringat. Setelah banyak minum badan jauh lebih enakan.


" Mana putri Abi yang tiba-tiba minta tidur bareng-bareng kaya anak kecil". Aku melihat umi, Abi, dan Aldi datang bersamaan masuk kedalam kamarku. aku melihat kedua orang tua ku dan adikku tertawa bahagia. Rasanya hatiku benar-benar damai Melihat mereka semua.


" hehe... Aisyah bi, Aisyah pengen malam ini kita semua tidur bersama yah dalam satu tempat tidur. Aisyah rindu jadi anak kecil".


Aku memeluk umi, Abi dan Aldi. Suasana yang sangat haru. Aku dan adikku serta kedua orang tuaku saling berpelukan satu sama lain, dan kami pun tak terasa saling menangis. aku bahagia tumbuh dari laki-laki baik seperti Abi, lahir dari rahim umi yang solihah, dan terhibur oleh adikku yang Soleh. Mereka lah hartaku satu-satunya. Hanya mereka yang mampu memberikan semangat padaku, saat aku benar-benar dalam keadaan hancur.


" kakak, jangan jadi anak kecil. nanti Aldi ngga besar-besar. nanti Aldi ngga bisa jagain umi sama Abi kaya yang kak Aisyah bilang".


Aku melihat umi dan Abi tertawa mendengar ucapan Aldi barusan. aku tersenyum melihat kepolosan adik laki-laki ku satu-satunya.


" engga kok, kak Aisyah ngga akan jadi anak kecil lagi dan ngga akan jadi besar lagi. segini saja. hehehe ".


" Yasudah, Ayuk pada tidur". ucap umi


#####


Ah sekarang sudah pukul sepuluh malam. Tidak enak rasanya jika harus kerumah umi dan Abi malam-malam begini. lagi pula aku sangat lelah sekali. seharian perjalanan Jakarta ke Cirebon, dan Cirebon ke Solo. Kondisiku pun sangat tidak memungkinkan, acak-acakan dan sangat mengenaskan. Lebih baik sekarang aku mencari hotel terdekat, untuk mengistirahatkan badan. Aku mengemudikan mobil ku untuk mencari penginapan terdekat, dan setelah sampai dan check in aku segera mandi dan merebahkan badan. rasanya nikmat sekali ya Allah.


" Aisyah, tunggu mas Fatih besok ya sayang, mas akan jelaskan semuanya padaku dik. kita akan perbaiki hubungan rumah tangga kita lagi. mas janji tidak akan pernah menyakiti mu lagi bahkan walaupun sedikit, tidak akan pernah dik. maafkan mas Fatih sayang ". ucapku lirih sebelum akhirnya terlelap tidur.


Aku terbangun sekitar jam delapan pagi, aku kesiangan. aku benar-benar panik, aku bahkan tidak sempat shalat subuh. Ternyata aku benar-benar terlalu lelah, sampai seperti orang yang dibius. Aku langsung beranjak ke kamar mandi, untuk mandi dan shalat subuh. Aku tetap melaksanakan shalat subuh, karena jika memang lupa dan tidak sengaja meninggalkan shalat maka wajib harus shalat ketika ingat. Setelah mandi dan shalat aku buru-buru check out dan meluncur menuju ke rumah umi Abi. aku sudah tidak sabar ingin memeluk istriku Aisyah.


#####


Hari ini aku mengenakan gamis akad yang diberikan oleh mas Fatih padaku. entah kenapa hari ini aku ingin sekali menggunakan gamis putih ini. gamis yang aku gunakan saat akad nikah ku dengan mas Fatih, dan gamis ini pula yang menjadi saksi bisu ketika aku mendampingi mas Fatih melakukan akad nikah yang kedua dengan perempuan lain. Aku ingin pergi ke masjid, aku Rindu. Aku ingin menggunakan gamis ini, aku ingin melaksanakan shalat taubat di masjid yang sama ketika mas Fatih melakukan perjanjian besar dengan Abi ku, perjanjian yang mengubah seluruh hidupku, perjanjian yang merubah baktiku kepada orang tuaku pada laki-laki yang telah melakukan akad nikah dengan abiku.


" kak ? kak Aisyah mau kemana ?". tanya abi dan umi yang bingung melihat ku mengenakan gamis putih yang mirip dengan gamis pesta.


" Aisyah ingin pergi ke masjid umi Abi, Aisyah ingin curhat sama Allah. Umi... Abi... Aisyah minta maaf yah, kalau selama Aisyah menjadi putri umi dan Abi Aisyah punya salah dan dosa, yang kecil maupun besar, yang sengaja maupun tidak. Aisyah mohon mi, maafkan Aisyah, Aisyah minta maaf jika belum bisa menjadi putri yang baik untuk umi dan Abi. Aisyah sangat mencintai umi dan abi. Hiks... hiks .... hiks.. ". Aku berpamitan sekaligus meminta maaf pada umi dan Abi. aku sudah banyak berbohong pada mereka. Dan lagi-lagi aku tidak bisa menahan air mataku.


" Dek, Kaka minta maaf yah sama Aldi, kalo kak Aisyah belum bisa jadi kakak yang baik untuk Aldi. kakak minta maaf kalau kak Aisyah ada salah sama Aldi. inget pesan kak Aisyah ya sayang. Kak Aisyah nitip umi dan Abi ". ucapku pada Adikku satu-satunya Aldi.


" Yasudah, kakak kalau sudah selesai dari masjid cepet pulang yah". ucap umi padaku


" nggih umi, Aisyah juga capek pengen cepet pulang kok".

__ADS_1


" kak Aisyah pengen umi buatkan apa kak ?".


" Kak Aisyah pingin di petikkan beberapa bunga ya mi. nanti umi rangkai buat kakak".


" aduh putri Abi kok jadi mellow gini. hehe ".


" hehehe... yasudah Aisyah pamit ke masjid dulu nggih umi. Assalamualaikum".


" Waallaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh ". ucapku seraya pergi berjalan meninggalkan umi, abi dan Aldi.


Aku berdiri, memperhatikan rumah ku. Rumah yang selalu membuat aku rindu dan ingin pulang. Aku menyeka air mataku dan melanjutkan langkah ku menuju masjid yang dulu dijadikan tempat akad ku dengan mas Fatih.


#####


Akhirnya aku sampai juga dirumah umi. Aku deg-degan sekali akan bertemu dengan istriku Aisyah. rasanya seperti waktu baru pertama kali bertemu dulu. Aku juga telah menyiapkan bucket bunga yang sengaja aku beli untuk Aisyah. Aisyah sangat menyukai bunga. Bismillah...


" Tokkkk... took.... tokk...., Assalamualaikum". Aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam.


" Waallaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh, Nak Fatih ??!". Ternyata umi dik Aisyah yang membuka kan pintu. Aku langsung mencium tangan umi, dan kemudian Abi juga datang menghampiri aku dan umi.


" Umi, Abi. maaf Fatih baru sempat kerumah. Aisyah dimana mi bi ?". tanyaku penasaran.


" Aisyah sedang tidak dirumah nak ". jawab abi padaku.


" Kemana bi ?".


" Tadi pamit katanya mau ke masjid untuk shalat nak. coba saja nak Fatih susul ke masjid ". ucap Abi kepadaku.


" oh baik bi, mi. Fatih pamit menyusul Aisyah dulu di masjid ya mi. assalamualaikum". aku berpamitan pada umi dan Abi, serta langsung berjalan kaki menuju masjid. Ah itu masjid yang sama saat aku melakukan akad pernikahan dengan dik Aisyah. bucket bunga masih aku bawa di tangan. aku mempercepat langkah ku. Dan aku memasuki masjid. Aku melihat istriku sedang melakukan shalat. Aku duduk di belakang nya, sambil memegang bucket bunga untuk dik Aisyah. Aku menunggu Aisyah menyelesaikan shalatnya.


Aku terus memandangi Aisyah yang sedang sangat khusyuk shalat sunnah. Setelah rakaat terakhir, Aisyah agak lama sujudnya, mungkin dia memang sedang memperlama sujud di akhir raka'at. Aku masih semangat menunggu Aisyah hingga selesai shalat. aku ingin segera memeluk dan meminta maaf padanya. Air mataku menetes melihat tubuh istriku yang masih dengan khusyuk nya sujud kepada Rabb Nya. Di masjid ini aku menikahi Aisyah, melakukan perjanjian besar antara aku dan Rabb ku, dan sekarang di masjid yang sama pula, aku akan memperbaiki segala nya bersama bidadari ku, Aisyah Fatimatul Salwa.


Sudah sepuluh menit berlalu, Aisyah belum juga beranjak dari sujud nya. Aku bingung, aku memutuskan untuk menghampiri istriku. Aku memegang pundaknya dan tubuh Aisyah terjatuh ke pangkuan ku. Wajah cantik Aisyah sangat pucat, jantungku berdetak sangat kencang. aku memanggil-manggil Aisyah, tapi dia tidak menjawab. aku mencoba mengecek denyut nadinya sudah tidak teraba. aku dekatkan jariku pada hidung istriku pun tidak ada deru nafas disana, tubuh Aisyah sangkat kaku dan dingin.


" Aisyaaahhhh !!! bangun dik banguuunnn !!! mas Fatih sudah datang dikkk !!! Aisyaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh !!!!!!!!!!! Dik tolong, jangan dik Jangaaaaaannn !!! Mas Fatih sudah membawakan bucket bunga yang sangat indah untukmu istriku sayang !!!! bangun dik.. hikss... hiks... hiks... , ya Allah bangunkan istriku ya Allah, bangunkan !! Aisyaaahhhh !!!! jangan dik, tolong bangunlah !!!! mas datang dik !!! mas ingin memperbaiki semuanya !!! mas mau menjelaskan segalanya !!!!!!! aisyaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh !!!!!!".


aku berteriak-teriak, aku memanggil Aisyah, aku menggoyang-goyangkan tubuh istriku. Tubuhnya sangat kaku, wajah nya sangat pucat ,dan dingin. Aku gemetar hebat, jantungku seakan berhenti berdetak, duniaku telah kiamat. Aisyah tetap tidak bangun.


" Sayaaaang !!! kamu sangat cantik hari ini !!! kamu pakai gamis saat kita akad hari ini !!! kamu sangat cantik Aisyah !! bangunlah dik !! mas Fatih mohon bangun dikk !!! bangun !!! aisyaaahhhh !!!! hikkkss... hikss.... hiks... !!! Mas Fatih sangat mencintaimu dik aisyah. !!".


Aku memeluk tubuh Aisyah yang kaku dan dingin, aku memeluk nya sangat erat. Aku benar-benar tidak menyangka Aisyah akan pergi selamanya. Hidupku seperti mati. tidak ada cahaya dan semangat lagi bagiku.


" innalilahi wa innailaihi rojiuun... ". ucapku lirih sambil mencium kening jasad Aisyah yang masih berada di pangkuan ku. Aku tidak tahu harus bagaimana, aku benar-benar sudah mati. aku tidak bisa berkata apa-apa. aku hanya mampu diam memandangi wajah istriku yang sangat pucat.


Aku membopong tubuh istriku yang sudah terlelap tidur untuk selamanya. Aku membopong nya pulang kerumah umi yang memang tidak terlalu jauh dari masjid ini. aku juga membawa bucket bunga yang telah aku siapkan untuk Aisyah istriku. sepanjang jalan aku hanya bisa menangis dengan tubuh Aisyah yang sudah tidak bergerak lagi.


" Aisyaaaahhhh !! astaghfirullah nak Fatih !! Aisyah kenapa nak !! hikkkss hikss hiks !!. Umi dan Abi mertuaku menangis dan menjerit melihat tubuh putrinya yang kaku dan pucat.


" Ssttt... Umi Abi, Aisyah sedang tidur. Aisyah sudah cukup lelah, Aisyah sudah tidur untuk selamanya, Aisyah sudah bahagia jadi bidadari di Jannah Nya Allah ". ucapku sambil masih membopong tubuh Aisyah. aku memandangi wajah Aisyah yang terlihat sangat cantik.


Umi dan Abi jatuh pingsan tak sadarkan diri. Sedang para tetangga berdatangan membantu mengurusi jasad istriku dan membantu membopong tubuh umi dan Abi yang masih tak sadarkan diri. Sedang adik ipar ku Aldi, menangis dan berteriak-teriak memanggil kakak nya dalam dekapanku. Aku duduk sambil masih menciumi dan terus memeluk tubuh Aisyah.

__ADS_1


AKAN TAMAT DI EPISODE 70 YAH.


TUNGGU EPISODE TERAKHIR 🙏❤️🤗


__ADS_2