
Sudah seminggu Aisyah pergi tanpa ada kabar apapun. Entah kemana dia pergi, terkadang aku merindukan dia. Biar bagaimanapun Aisyah masih istri sahku. Tapi ketika aku mengingat semua ucapan Aisyah yang begitu keji memfitnah Siska benar-benar membuat aku muak dan benci. Sudah seminggu ini aku mencari-cari bukti sendiri, jika memang Siska mengkhianatiku. Tapi hasilnya nihil. Aku tidak menemukan apapun. Bahkan semakin hari Siska semakin lengket padaku. Dan tentu aku semakin mencintai nya.
Hari ini urusan kantor sangat padat, bahkan aku sampai harus pulang malam alias lembur. Biasanya jam 5 sore semua urusan kantor sudah selesai dan aku bisa pulang bertemu dengan istriku Siska dan calon anakku. Aku memutuskan untuk memberikan kabar pada Siska melalui pesan singkat.
To Istri Mudaku:
"Sayang, maaf mas harus pulang telat. Karena ada urusan kantor. Jadi harus lembur ngga pasti pulang jam berapa. Kamu dirumah istirahat yah,".
Dari Istri Mudaku:
"Iya mas. Ngga papa. Iya Siska dirumah istirahat,".
Ah, rasanya tenang sekali saat punya istri yang penegertian dan penurut, dan aku punya Siska. Aku tenang jika harus lembur di kantor, jika sudah memberikan kabar pada Siska dan tahu kalau Siska akan dirumah menungguku.
"Hey bro...!, elu ngapain?!,". Tiba-tiba Alex mengagetkanku.
"Ya seperti yang kamu lihat lah Lex, lembur banyak. Banyak dokumen yang belum beres,".
"Tapi walaupun lembur kan enak lu, punya istri dua. Capek lembur langsung hilang,".
"Istriku cuman ada satu Lex,". Jawabku dingin.
"Hah?!!, sumpah lu?!. Siapa yang lu ceraikan tih?, istri muda lu atau istri tua lu?!,". Respon Alex seperti orang yang kaget.
"Dua-duanya tidak ada yang gue ceraikan Lex,".
"Gimana si lu, tadi katanya istri lu sekarang cuman satu. Sialan, lu ngerjain gue ya?!,".
"Engga Lex, aku serius. Istriku sekarang cuman satu dirumah. Karena istri tua ku...,". Aku malas membahas tentang Aisyah.
"Kenapa istri tua lu?!, meninggal?!, hah!?,".
"Engga lah, istri tuaku ga tau kemana Lex. Dia kabur dari rumah sudah seminggu. Dan aku sama sekali tidak tahu kemana dia pergi,".
"Kenapa bro, kok bisa istri tua lu sampe kabur dari rumah?,".
"Intinya terakhir aku berantem hebat, bahkan sampe main fisik ke istri pertamaku Lex, setelah itu aku tinggalkan aja itu istri tuaku yang sudah tidak berdaya dan berdarah-darah. Dan setelah itu, aku tidak tau dia pergi kemana,".
"Wow.... suatu kemajuan, seorang Fatih berani main fisik sama perempuan. Keren bro keren,".
"Keren dari mana nya?, kemajuan dari mana nya. Jujur sebenarnya aku juga merasa sudah keterlaluan dengan istri pertamaku Lex. Pokoknya benar-benar sangat ribet urusan rumah tangga gue,".
"Sudah lah, gausah sedih gitu bro. Lu udah hampir selesai kan kerjaan nya?, mau ngga anterin gue ke mall. Gue mau beli sesuatu buat bini gue,".
"Boleh lah, sekalian buang penat Lex. Mau jam berapa?,". Aku menerima tawaran Alex untuk menemani nya pergi ke mall. Lagi pula masalah rumah dan urusan kantor lumayan membuat pening kepala.
"Sekarang deh yuk, lagian sudah jam delapan malam. Jam sepuluh kan mall Jakarta sudah pada tutup. Lagian kerjaan elu udah mau selesaikan?,".
__ADS_1
"Sudah selesai ko, yaudah ayuk sekarang ajah,".
Aku dan Alex pergi keluar kantor untuk menuju kesalah satu mall. Kantorku terletak tidak jauh dari mall yang akan kita tuju. Setelah sampai kedalam mall ternyata barang yang Alex cari untuk istrinya tidak ada disana. Akhirnya kita memutuskan untuk pindah ke mall lainnya yang agak jauh dari kantor. Mobil masuk kedalam area parkir mall kedua yang aku dan Alex kunjungi. Entah barang seperti apa yang akan Alex beli untuk istrinya itu.
Aku dan Alex berjalan menuju kedalam mall setelah memarkirkan mobil. Jam segini mall sangat ramai sekali. Banyak bermacam-macam manusia dengan kesibukan dan tujuan yang berbeda-beda. Aku duduk di salah satu kursi yang memang disediakan untuk para pengunjung. Sedang Alex mencari barang yang sampai sekarang aku tidak tahu apa. Mataku tertuju pada wanita bercadar yang sedang asyik memilih sepatu bersama suaminya. Mereka nampak sangat bahagia, aku melihat perempuan itu tertawa bersama laki-laki yang di sampingnya. Seketika air mataku berdesakan ingin keluar. Ah, aku rindu Aisyah, tapi.... Aisyah tidak sebaik yang aku kira. Entah kenapa aku sangat benci dengan ucapan Aisyah yang memfitnah Siska didepanku. Dan rasa rindu itu hilang begitu saja di gantikan dengan rasa emosi dan kecewa yang sangat dalam.
Aku mengirim sebuah pesan singkat pada Alex.
To Alex:
"Lex, aku jalan-jalan dulu ya. Pengen beli minuman atau makanan. Aku lapar. Nanti kalau kamu sudah selesai kabari ajah ya. Nanti aku samperin,".
Dari Alex:
"Oke bro,".
Setelah mendapat balasan pesan dari Alex. Aku beranjak dari tempat duduk dan mulai berjalan-jalan mencari tempat ngopi atau makanan yang enak dan nyaman. Aku jadi rindu Siska. Kira-kira dia sedang apa ya di rumah. Aku akan membelikan sesuatu untuknya. Aku beli perhiasan saja. Dia sangat suka perhiasan, Siska pasti sangat bahagia.
Deg, langkahku terhenti ketika aku melihat sosok perempuan yang sangat aku kenal. Aku mengenal nya sangat dekat, lebih dekat, dan teramat sangat dekat. Perempuan itu menggunakan dress berwarna putih dengan motif bunga-bunga di sekeliling nya. Sangat menawan. Dia sedang Asyik memilih perhiasan, dan dia tidak sendiri. Aku melihat laki-laki yang selalu merangkul tubuh nya dengan sangat mesra. Darahku seakan mengalir lebih cepat, nafasku memburu. Aku berusaha menahan emosi yang mulai bergejolak dalam dadaku.
"Sabar Fatih sabar... jangan terbawa emosi,". Ucapku menenangkan diri sendiri. Aku berlalu dari toko perhiasan itu dan mencari tempat duduk yang agak jauh dari toko perhiasan itu, namun tetap masih bisa terlihat aktifitas yang terjadi di sana.
"Sayang?, kamu lagi ngapain?, mas kangen,". Aku mengirimkan pesan singkat pada istri mudaku.
Dari Istri Mudaku:
To Istri Mudaku:
"Mana coba kamu kirim foto ke mas. Mas rindu,". Aku meminta Siska untuk mengirimkan fotonya. Dan setelah menunggu beberapa menit, aku menerima pesan yang berisi gambar.
Aku membuka gambar itu dan kemudian melihat rincian dari foto itu. Foto itu di ambil pada hari ini tapi jam nya bukan sekarang. Sekarang adalah jam 20:45. Tapi di foto tertera waktu pengambilan jam 19:00. Ah, Siska berbohong padaku. Aku tidak mungkin salah lihat, itu Siska. Benar-benar Siska. Tapi siapa laki-laki yang berkali-kali mengelus perut Siska itu?, mirip seperti seorang suami yang sedang menantikan kelahiran anak nya. Bahkan siska juga menciumi pipi laki-laki itu berkali-kali.
Sabar, aku tidak boleh salah langkah. Mungkin saja itu adalah saudara Siska yang tidak aku ketahui. Saudara jauh mungkin. Aku masih mengawasi Siska dari kejauhan. Hatiku benar-benar sangat sakit, ternyata Siska berbohong padaku. Dia bilang dia sedang dirumah dan beristirahat. Tapi ternyata dia berkeliaran malam-malam dengan seorang laki-laki.
To Istri Mudaku:
"Oke sayang, mas pulang jam 21:30 yah,".
Aku memerhatikan Siska yang melihat jam ditangannya setelah membuka ponsel dan membaca chatting dariku barusan. Itu benar-benar Siska. Dia melihat jam tangannya, dia pasti berencana pulang sebelum aku tiba terlebih dahulu agar tidak ketahuan habis pergi malam-malam, dan berbohong padaku.
"Bro, ayu balik,". Tiba-tiba Alex menepuk pundakku, dan reflek aku sangat kaget.
"Kamu ngagetin aja Lex. Hmmm.. ayok,".
"Ya gue udah kirim pesan ke elu, tapi ga dibalas-balas. Untung saja gue liat lu disini. Ngapain si lu diam disini. Katanya lu mau makan dan cari minuman?!,". Tanya Alex yang bingung karena melihat ku yang duduk di toko pakaian dalam. Bahkan aku tidak sadar, kalau toko yang aku masuki adalah toko pakaian dalam khusus perempuan. Sial... gerutuku dalam hati.
"Oh, i... iya aku salah masuk,". Jawabku sambil garuk-garuk kepala.
__ADS_1
"Dasar lu, udah punya istri dua masih aja kurang, sampe masuk-masuk ke toko pakaian dalam perempuan. Hahaha... gila lu ya Tih,". Alex meledekiku.
"Yaelah, aku beneran salah tempat. Dan ga sadar juga kalau itu toko pakaian dalam khusus perempuan, udahlah ayok cepat pulang?!,".
Aku dan Alex melaju menuju kantor lagi. Karena memang kita pergi menggunakan mobilku. Sedang mobil Alex sengaja di tinggal di area parkir kantor. Setelah mengantar Alex. Aku segera pamit dan langsung meluncur pulang kerumah. Sepanjang jalan aku masih terbayang-bayang apa yang baru saja aku lihat di mall barusan. Emosiku muncul lagi, Siska benar-benar telah berbohong padaku. Tapi aku masih penasaran, siapa laki-laki yang sangat mesra pada Siska?. Apa dia saudara jauh Siska?, aku tidak boleh sampai salah langkah dan merusak segalanya. Aku percaya Siska tidak seperti Aisyah yang tukang selingkuh, dan berbohong padaku.
Aku sampai rumah pukul 20:45. Lebih cepat dari jam yang aku berikan kepada Siska. Mobil sengaja aku masukan kedalam garasi.
Dan benar saja, Siska tidak ada dirumah. Kamar nya kosong.
"Bibi... three Bi,". Aku mencari-cari three Bi.
"Iya den Fatih, ada apa den?,". Jawab mereka serempak.
"Kemana perginya Siska Bi?!,".
"Non Siska tadi dijemput laki-laki den,". Jawab Bi Dar.
"Kemana Siska pergi Bi?!,".
"Kami tidak tahu den, kami juga tidak berani bertanya pada non Siska,". Jawab Bi Ijah.
"Bi... apa laki-laki itu, adalah laki-laki yang sama seperti yang kalian ceritakan padaku?!,".
"Iya den, itu laki-laki yang sama. Yang kemarin-kemarin kami ceritakan pada den Fatih. Tapi tolong jangan kasih tau non Siska, kalau kami memberi tahu den Fatih ya den,". Bi Inah menimpali.
Tidak-tidak. Aku harus bersabar. Aku masih berusaha memberikan kepercayaan untuk Siska. Siska tidak mungkin melakukan itu semua setelah aku memilih dia dari pada Aisyah. Aku percaya itu.
"Dari mana sayang?!,". Tanyaku pada Siska, yang datang dengan laki-laki yang tadi aku lihat di mall. Posisi laki-laki itu masih merangkul pinggang Siska. Aku melihat ekspresi Siska yang kaget dan salah tingkah, karena yang membuka pintu dan menyambut nya adalah aku, bukan three Bi.
"Aaa.... emm... maa... mas Fatih?!, kok sudah sampai rumah?, ka... katanya pulang jam 21:45?,". Siska bertanya padaku dengan tergagap. Dia seperti maling yang sedang tertangkap basah.
"Iya tadi memang mau pulang jam segitu, tapi karena mas kangen dengan istri mas yang sedang hamil, serta mas kasihan sama kamu yang sendirian di rumah, jadi mas putuskan untuk pulang lebih awal?!. Tapi ternyata setelah mas sampai rumah, istri mas tidak ada. Ngga tau kemana. Padahal tadi bilang sedang istirahat dan kirim foto juga,". Ucapku dengan berusaha tidak terpancing emosi.
"Ma... mas Fa.. Fatih. Maafkan Siska. Bukan maksud Siska berbohong. Si.. Siska. Hanya butuh refreshing mas. Ja... jadi, Siska minta di antar saudara Siska mas,".
"Jadi laki-laki ini saudara kamu?, kok kamu tidak mengenalkan pada mas?,".
"Di... dia baru pulang dari luar negeri mas. Jadi Siska tidak sempat mengenalkan mas dengannya. Dan, sebentar lagi saudara Siska ini akan terbang lagi ke Australia, jadi Siska sekalian ketemu dan minta di ajak ke mall. Maaf jika Si...Siska tidak jujur,". Sialan, laki-laki ini sudah sampai rumah lebih dulu, sebelum aku dan mas Deni datang. Semoga saja dia percaya dengan sandiwaraku.
"Yasudah, cepat masuk. Kasian calon anak kita. Malam-malam begini masih di ajak keluar. Dan terimakasih sudah mengantar dan mengajak Siska istriku jalan-jalan,". Ucapku yang kemudian menutup pintu depan.
Ah, aku senang sekali, sandiwaraku berhasil. Laki-laki ini mempercayai semua kata-kataku. Lain kali aku harus lebih hati-hati. Dasar laki-laki ****, mau aja di bohongi. Setidaknya aku sudah bahagia karena sudah bertemu dengan mas Deni, bapak kandung dari anakku ini. Aku tidak bisa membayangkan jika mas Fatih sampai melihat aku bermesraan dengan mas Deni depan rumah.
"Sayang, sekarang kamu istirahat yah. Jangan di ulangi lagi. mas khawatir. lain kali kalau mau pergi bilang ke mas saja". Ucapku dengan kondisi masih berusaha sabar demi cintaku dan calon anakku yang ada di kandungan Siska.
"Iya mas. Maafkan Siska. Ayuk kita istirahat sayang,". ucap Siska padaku seraya memelukku dengan sangat manja.
__ADS_1
Seketika emosiku luluh, rasa sakitku hilang ketika Siska memelukku. Aku mengelus perut Siska, sekedar menyapa calon anakku. Aku percaya, Siska setia. Siska tidak seperti Aisyah.