Madu

Madu
Episode 42


__ADS_3

"Bagaimana?, apa kamu sudah berbicara dengan Fatih tentang permintaan Bunda kepadamu satu minggu yang lalu?, kenapa kamu tidak kunjung mengabari Bunda juga?, ini sudah lewat satu minggu dari saat Bunda mengirimkan pesan itu,". Aku bingung, harus aku balas apa pesan itu?, aku tidak pernah ridho, tidak pernah ingin membicarakan hal itu walau satu huruf pun dengan suamiku.


Sudah seminggu, aku tidak juga membicarakan ini dengan mas Fatih. Aku tidak ikhlas membagi suamiku dengan perempuan lain. Perih rasanya, aku harus bagaimana?, sedang Bunda mertuaku hampir setiap hari mencecarku, bahkan satu minggu yang lalu sudah berani membicarakan hal ini lewat telepon, untung saja mas Fatih kelelahan dan tidak keruang tv, hingga pembicaraan menyakitkan itu tidak di ketahui olehnya.


"Maaf Bunda, Aisyah belum berani berbicara ke mas Fatih, untuk meminta mas Fatih menikah lagi Bun. Maafkan Aisyah Bun. Aisyah takut Bun. Bunda?, bisakah Bunda mengatakan?, apa kurangnya Aisyah buat Bunda?, apa Aisyah pernah menyakiti Bunda tanpa sengaja?, atau ada cara lain Bun, agar Bunda bisa kembali seperti dulu?, Aisyah sakit Bun, hati dan hidup Aisyah hancur jika harus membagi mas Fatih dengan perempuan lain. Aisyah mohon Bunda, Aisyah mohon,". Aku membalas pesan Bunda dengan menangis. Aku tak kuat, bahkan aku gemetar ketika mengetik balasan pesan untuk Bunda.


Tiga menit Bunda membalas pesanku.


"Jadi kamu belum juga bicara dengan Fatih?, tidak-tidak, tidak ada cara lain selain menyuruh Fatih untuk menikah lagi, dan kamu harus mau berbagi suamimu dengan perempuan lain yang sudah Bunda pilihkan untuk Fatih. Oke, sekarang Bunda kasih dua pilihan, pertama kamu pilih membagi Fatih untuk perempuan lain atau kedua kamu diceraikan oleh Fatih dan tidak akan memiliki Fatih selamanya,".


Aku nelangsa, Bunda begitu jahat kepadaku. Hatinya terbuat dari apa?, bahkan dia juga seorang perempuan?, kenapa?, apa salahku?, kenapa Bunda mertuaku sama sekali tidak memikirkan perasaanku sedikit pun?, kenapa Bunda begitu sangat baik, kalau akhirnya menghancurkan hidupku sehancur-hancurnya seperti saat ini. Kenapa harus berpura-pura baik didepan ku selama ini?. Aku masih menangis, dalam pikiranku muncul begitu banyak pertanyaan yang entah kapan akan mendapatkan jawabannya.


"Aisyah mohon Bunda, Aisyah tidak kuat harus membagi mas Fatih dengan perempuan lain Bunda. Ya Allah Bunda, Aisyah mohon Bun. Jangan lakukan ini sama Aisyah Bunda. Hati Aisyah hancur Bun,". Ya Allah luluhkan hati Bunda mertuaku ya Rabb. Aku membalas pesan Bunda, masih ada secercah harapan agar Bunda mau berubah pikiran dan membatalkan permintaan yang sangat kejam itu padaku.

__ADS_1


"Tidak, pokoknya kamu harus mau dimadu. Titik. Bagaimanapun caranya kamu harus tetap berhasil membujuk Fatih agar mau menikah lagi. Bunda kasih kamu waktu tiga hari dari sekarang untuk membicarakan ini pada Fatih, Aisyah. Jika dalam tiga hari ini, belum ada informasi apapun darimu, Bunda tidak akan segan-segan membuat kamu diceraikan oleh anak Bunda satu-satunya. Kamu bahkan tau bukan?, Fatih sangat penurut dengan Bunda. Jadi tolong jangan banyak membuang waktu Aisyah,". Bunda tetap dalam pendiriannya. Kenapa wanita dengan pendidikan tinggi seperti Bunda bisa memiliki hati sekejam itu?, bagaimana jika dia sekarang ada di posisiku?.


Aku menangis meratapi nasibku yang malang. Kenapa ujian seberat ini diberikan kepadaku?, ya Allah, kenapa tidak Engkau ambil saja Aisyah ya Rabb?, sungguh Aisyah jauh dari kata solihah, Aisyah tidak mampu untuk dimadu ya Allah.


"Istighfar ya non,". Tiba-tiba aku merasakan ada pelukan hangat di tubuhku, ternyata itu adalah Bi Ijah.


"Bii...., Aisyah tidak kuat. Kenapa ujian hidup begitu berat Bi?, kenapa surga Allah begitu mahal?,". Aku menangis dipelukan Bi Ijah. Sedang Bi Dar dan Bi Inah tiba menghampiri aku dan Bi Ijah dengan teh hangat dan salad buah.


"Non, bukan hidup namanya jika tidak ada ujian non. Ujian setiap orang kan beda-beda. Mungkin non dipilih karena non Aisyah di anggap yang paling mampu oleh Allah buat menerima ujian ini non,". Bi Ijah menasehati dan menguatkan aku.


"Non Aisyah, berhenti nangis dulu ya. Kami sebenarnya tidak tega, melihat non Aisyah menangis seperti ini setiap hari. Kami rindu wajah cantik dan bahagianya non Aisyah, rindu ketawa dan senyumnya non Aisyah. Non minum dulu tehnya ya, atau makan lah dulu salad buahnya. Kan non paling suka salad buah?, yaa... walaupun bibi ga tau, itu salad bisa sedikit bikin non Aisyah senang apa tidak,". Bi Inah menyuruhku untuk memakan salad buah kesukaanku. Sebenarnya aku tidak ada sedikit pun keinginan untuk makan atau hanya sekedar minum, apalagi dalam kondisi seperti ini.


"Terimakasih Bi, kalian semua sangat baik dengan Aisyah. Nanti Aisyah makan salad dan meminum teh buatan bibi kok,". Jawabku kepada three Bi.

__ADS_1


"Yasudah, kami tinggal dulu ya non, barangkali non Aisyah masih butuh waktu untuk sendiri. Selalu ingat Allah ya non,". Salah satu personel three Bi pamit undur diri dan kemudian mereka meninggalkanku sendiri lagi di teras belakang.


Pilihan yang sangat kejam, antara membagi suami dengan perempuan lain, atau menjadi janda?. Astaghfirullah... ya Allah, Aisyah tidak ingin menjadi janda secepat ini ya Rabb.


Bahkan aku dan mas Fatih belum juga punya malaikat kecil. Bagaimana perasaan orang tuaku jika aku menjadi janda?, nauzubillah. Hatiku sakit sekali, perih sekali rasanya. Air mataku menetes lagi, aku memandangi bunga-bunga yang mungkin juga ikut menangis meratapi nasibku yang malang, menangisi hancurnya hidup dan hati seorang anak perempuan yang rela jauh dari kedua orang tuanya untuk mengabdi pada suaminya, namun malah takdir mengharuskan dia membagi suami yang sangat dicintainya dengan perempuan lain karena keserakahan ibu mertuanya. Tapi apa kata orang-orang didekat rumahku?, jika sampai mendengar bahwa suamiku memiliki dua istri?, betapa hancur nya hati kedua orang tuaku melihat putri yang sedari kecil mereka sayangi harus berkorban hati, dan hidupnya untuk dimadu?.


Aku sempat ingin memberi tahu berita ini kepada Ayah mertuaku. Namun kuurungkan, aku takut kalau ternyata ayah sama sekali tidak pernah mengetahui hal ini. Aku takut bunda semakin marah padaku. Aku harus bagaimana ya Allah. Haruskah aku bercerita masalah aib rumah tanggaku, bukan lebih tepatnya aib Bunda mertuaku ke orang lain?, rasanya akan sangat jahat jika aku sampai membuka aib Bunda pada orang lain?, tapi aku?, biar bagaimanapun, Bunda tetaplah wanita yang rahimnya melahirkan laki-laki yang sangat aku cintai. Aku rapuh menelan semua ini seorang diri.


Air mataku terus menetes, jilbabku basah.


Bahkan teh hangat pun sudah sangat dingin, tidak mampu menghangatkan tubuhku yang hancur karena sikap Bunda kepadaku.


Tiga hari..., aku harus mulai dari mana?, aku tak kuat ya Allah...

__ADS_1


"Ingat, hanya tiga hari Aisyah. Bersiap-siaplah menjadi janda, jika kamu tidak juga membujuk Fatih untuk menikah lagi,". Bunda mertuaku yang sangat kejam, kembali mengancamku tanpa ampun, dan aku hanya mampu terdiam, dan menangis, hanya itu.


__ADS_2