
"Bundaaaaa!!!. Bundaaaaa!! ".
"Ada apa sih?!. Pagi-pagi sudah teriak-teriak?! ".
" Bunda!!. Tolong jawab jujur. Untuk apa Bunda datang ke rumah Aisyah?! ".
" Oh, rupanya kamu sudah tahu ya. Kalau bunda habis dari rumah nya mantan istri kamu yang tidak tahu diri itu?! ".
" Stop Bunda!!. Bunda tidak berhak menghina Aisyah seperti itu!. Untuk apa Bunda masih mengusik Aisyah?! ".
" Kok untuk apa!. Jelas lah untuk menegur mantan istrimu. Biar dia tidak lagi mengganggu putra bunda satu-satunya!!. Bunda tidak mau, kamu gila untuk yang kedua kalinya gara-gara Aisyah!! ".
" Astaghfirullah Bunda!!. Ini semua tidak ada sangkut paut nya dengan Aisyah?! ".
" Kamu memang sudah dibutakan oleh cinta, Fatih!!. Jelas-jelas semenjak kamu bertemu dengan dia, kamu jadi sering melamun dan menyebut namanya lagi!!. Sudah susah payah Bunda membawa dirimu berobat hingga ke luar negeri. Bunda tidak mau semua itu sia-sia!! ".
" Bunda, tolong dengarkan Fatih. Jujur, Fatih memang masih mencintai Aisyah. Tapi Fatih juga tidak egois harus memiliki Aisyah kembali Bun".
"Plaaaakkkk!!".
"Kamu bodoh!. Untuk apa kamu masih mencintai mantan istrimu!. Sadar putraku sadar!!. Aisyah sudah memiliki suami!! ".
Bunda menampar ku dengan sangat keras. Bahkan aku sampai meringis kesakitan. Aku tidak menyangka Bunda akan semarah itu padaku. Niatku hanya ingin, agar Bunda tidak lagi mengganggu kehidupan Aisyah. Aisyah sudah banyak tersakiti dulu ketika bersama diriku. Aku ingin melihat wanita yang aku cintai bahagia, meskipun tidak dengan diriku. Meskipun aku harus tersakiti melihat Fahmi lah yang kini membuat bidadari itu tersenyum manis dan bahagia. Bukan diriku.
"Bun, Aisyah wanita terbaik yang pernah Fatih miliki Bun. Selamanya juga Aisyah akan menjadi wanita terbaik dalam hidup Fatih. Meskipun sekarang, Fatih tidak akan pernah bisa memiliki Aisyah lagi. Maaf kalau perkataan Fatih membuat Bunda kecewa dan marah. Tapi beginilah fakta yang ada".
" Hikks... hikks.. sia-sia Bunda membawa kamu berobat hingga ke luar negeri. Kamu masih saja tidak waras Fatih!!. Duniamu hanya ada Aisyah".
"Bunda, tolong. Jangan usik kehidupan Aisyah Bun. Aisyah sudah banyak tersakiti karena kita dulu. Biarkan dia bahagia dengan kehidupan nya yang sekarang".
" Tapi kita sudah meminta maaf langsung pada nya!!. Juga pada kedua orang tua nya!!. Tapi bahkan dia tidak memiliki hati sama sekali. Dia cuek saat Bunda tertatih membutuhkan bantuan dari nya!! ".
" Sudahlah Bunda. Kita jalani saja kehidupan kita yang sekarang. Fatih mengerti, ini akan sulit untuk Fatih. Tapi buktinya, Fatih bisa bertahun-tahun bertahan hidup meski dengan cinta yang terbalaskan. Jadi Bunda jangan lagi menggangu Aisyah yah Bun".
"Sudahlah. Bunda tidak mau bicara lagi dengan mu!!. Bunda hanya ingin yang terbaik untuk putra Bunda satu-satunya!!. Apa susah nya kamu menikah dengan perempuan lain!!!. Bunda sudah tua Fatih!!. Bunda hanya ingin melihat kamu bahagia bersama istrimu yang baru dan memiliki banyak momongan!!. Sebelum bunda mati!!. Hanya itu!!. Tapi kamu tidak bisa memberikan nya pada Bunda!!. Kepada siapa Bunda harus mengharapkan itu semua jika bukan kepadamu putra satu-satunya yang dimiliki Bunda!! ".
__ADS_1
"Bunda, masalah hati tidak sesederhana itu Bun. Maafkan Fatih, entah sampai kapan Fatih akan menduda seperti ini. Sulit mencari wanita seperti Aisyah Bun".
Aku menyeka air mataku. Aku tidak kuat menahan nya lagi. Buliran air jernih ini selalu saja keluar, jika sudah membicarakan mengenai bidadari yang pernah aku miliki, Aisyah Fatimatul Salwa. Tidak ada wanita secantik dan sebaik dirinya. Wanita yang bahkan mampu membuat laki-laki seperti diriku memilih untuk menduda dari pada mencari pengganti dirinya. Aku tahu, ini tidak benar. Tapi inilah pilihan menyakitkan tapi juga membuat diriku tenang. Aku lebih tenang menyandang status duda, dari pada harus menikah dengan wanita lain yang tidak sebaik dan secantik Aisyah hatinya. Andaikan saja waktu bisa berputar, ah betapa sangat membahagiakan nya hidup dengan wanita seperti Aisyah.
"Tuhan, andaikan saja Engkau berikan lagi, satu saja kesempatan untuk bisa kembali memiliki Aisyah".
Gumamku lirih di sela isak tangisku.
Bunda memeluk tubuhku yang terjatuh dilantai. Aku sudah tidak bisa menahan tangis lagi. Aku menangis di pelukan Bunda seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. Tidak lagi ada rasa malu, biarlah dunia menertawai diriku yang lemah setelah kehilangan makhluk bernama wanita Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, bertemu kembali dengan Aisyah yang kini telah menjadi milik orang lain, mampu membuat separuh kehidupan diriku lumpuh. Tidak hanya lumpuh, tapi juga membuat tidak ada lagi cahaya, gelap semua gelap gulita. Entah kenapa, Tuhan masih saja mematri erat cinta itu dalam hatiku. Aku sendiri tidak tahu jawabannya hingga detik ini.
"Tenanglah nak. Jangan menangis putraku. Bunda janji, akan mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milikmu".
"Fatih masih sangat mencintai Aisyah Bun, bahkan hingga detik ini. Hikks.. hikks.. Rasanya kehidupan Fatih hampir lumpuh Bun. Menyakitkan sekali Bunda".
"Bunda mengerti nak. Maafkan Bunda, karena telah memaksa kamu untuk mencintai orang lain. Padahal di hatimu hanya ada satu nama. Jujur saja, Bunda hanya ingin membuat kamu bahagia putraku. Jika keinginan Bunda salah, maaf kan Bunda nak. Maaf Bunda tidak bisa mengerti isi hatimu. Maaf Bunda egois dan hanya memikirkan diri sendiri".
Aku tidak mampu berkata apapun. Rasa sakitnya sungguh sangat membuat sesak di dada. Hampir tidak mampu untuk bernafas. Sebelumnya, aku berusaha biasa saja dan kuat tanpa Aisyah. Tapi setelah pertemuan kembali saat itu, semuanya berubah. Rasa ingin memiliki bidadari itu kembali semakin kuat bahkan cenderung membuat hatiku semakin hancur. Tapi aku sadar, itu tidak akan mungkin terjadi. Fahmi telah mengisi seluruh hati Aisyah. Tidak ada celah di hati bidadari cantik itu untuk nama ku kembali. Dan itu benar-benar sangat menyakitkan. Sebenarnya aku juga korban di kehidupan dan peristiwa masa laluku. Aku korban, tapi kenapa aku yang harus di berikan ujian yang menyakitkan ini sendirian?. Kenapa takdir tidak adil terhadap diriku. Ingin marah, tapi pada siapa?. Perih sekali, ibarat luka yang menganga kemudian di taburi dengan garam. Bahkan mungkin rasanya lebih menyakitkan dari pada itu.
"Bangunlah putraku. Kamu harus kuat nak. Sekarang kamu punya Ilham. Kamu harus menjadi contoh untuk putramu. Jadilah laki-laki yang kuat, rebut kembali apa yang seharusnya kamu miliki nak. Jangan jadi pecundang yang hanya bisa diam dan menangis seperti ini. Bunda akan selalu mendukung dirimu putraku".
Bunda menghapus air mataku dengan telapak tangannya. Aku tidak menyangka. Bunda akan mengalah dan tidak memaksa diriku untuk mencari pengganti Aisyah. Bunda tidak lagi egois dan memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri. Meskipun niat Bunda padaku baik. Tapi permintaan Bunda padaku sangat lah berat. Aku mungkin bisa dan mampu memberi rumah mewah tujuh tingkat, atau bahkan mobil sport keluaran terbaru untuk Bunda. Tapi aku tidak mampu, jika harus mencari pengganti Aisyah untuk menemani sisa hidupku.
"Itu tidak akan terjadi nak. Kamu tetap harus berusaha, jika kamu ingin memiliki sesuatu. Tida bisa hanya dengan duduk manis dan terus menangis meratap. Tidak ada artinya".
"Bunda, sudahlah. Fatih akan tetap bahagia melihat Aisyah bahagia dengan suami nya yang sekarang. Biarlah Fatih yang kehilangan, Fatih yang tersakiti. Asal wanita yang Fatih cintai Bahagia".
Aku menyeka sisa air mataku. Dan tersenyum sebisa ku pada Bunda. Aku tidak mau terus terlihat terluka di depan wanita yang telah melahirkan diriku dengan taruhan nyawa. Aku tahu, aku egois. Aku tidak memikirkan perasaan dan keinginan Bunda. Tapi sungguh, masalah hati. Aku tidak bisa dengan mudah mengabulkan segala keinginan Bunda. Bertahun-tahun lamanya, aku jatuh bangun berusaha untuk melupakan kenangan dan bayangan Aisyah dan hidup dan hatiku. Tapi faktanya, sekarang Aisyah malah di bawa kembali masuk dalam kehidupan ku, dan mengusik segalanya. Entah, harus bagaimana dan seperti apa, aku menjalani hari-hariku ke depan. Satu kota dengan seseorang yang ada di masa lalu, dan masih sangat aku cintai tidak lah mudah. Terlebih, putra angkat ku berteman dekat dengan putri dari bidadari yang masih menguasai relung hatiku. Bagaimana mungkin itu mudah untuk aku lewati?.
"Yasudah, jangan menangis lagi. Hapus air mata mu. Jangan sampai Ilham melihat Ayah nya menangis. Nanti dia ikut-ikutan jadi laki-laki cengeng kaya kamu".
"Fatih tidak cengeng Bunda. Tapi memang se menyakitkan itu rasanya kehilangan, dah cinta bertepuk sebelah tangan".
" Iya, Bunda kan niat nya hanya mau menghibur kamu nak. Maaf deh kalau salah lagi".
"Engga Bunda. Fatih tahu kok. Makasih ya Bunda. Makasih untuk segalanya. Maaf Bunda, jika Fatih sering mengecewakan Bunda. Membuat Bunda susah dan sedih. Tapi percayalah, Fatih sangat menyayangi Bunda".
__ADS_1
" Iya iya, Bunda percaya. Kamu putra Bunda satu-satunya nak. Bunda ingin kamu hidup bahagia. Di sisa umur Bunda, Bunda hanya ingin menimang cucu yang lahir dari rahim istrimu".
"Entahlah Bun. Fatih saja tidak tahu akan menduda sampai kapan. Jadi, Fatih minta. Bunda jangan terlalu banyak berharap akan memiliki cucu kandung dari Fatih ya Bun. Maaf".
" Hmmm.. yasudahlah. Setidaknya ada Ilham. Untuk saat ini, kehadiran Ilham cukup mengobati rasa kesepian Bunda. Fatih?, putraku? ".
" Iyah Bunda? ".
" Sebegitu cintanya kah kamu dengan mantan istrimu?. Jika Tuhan memberikan kesempatan untuk memiliki Aisyah kembali. Apa kamu yakin akan mau?, sekalipun Aisyah telah memiliki seorang buah hati dari laki-laki lain? ".
"Teramat sangat Bun. Bagi Fatih, Aisyah adalah separuh nafas Fatih. Dan separuh nya lagi Bunda. Jadi, sekarang meskipun tidak ada Aisyah di sisi Fatih. Fatih masih bisa bernafas, karena Fatih masih memiliki separuh nafas yang lain, yaitu Bunda. Meskipun rasanya sesak, karena harus bernafas dengan separuh nafas saja. Tapi setidaknya Fatih masih bisa hidup".
Aku menghela nafas panjang dan dalam.
"Dan, jika memang takdir menghendaki Fatih untuk kembali memiliki Aisyah dalam hidup Fatih. Fatih akan anggap anak tiri Fatih seperti anak kandung Fatih sendiri Bun. Tidak membedakan dalam hal apapun. Dan itu Pasti. Bunda bisa melihat sendiri, bagaimana Fatih sangat menyayangi Ilham Bun. Bagaimana mungkin, Fatih tidak menerima anak yang dilahirkan dari rahim wanita yang sangat Fatih cintai? ".
Sambung ku lagi, sembari memegang erat tangan Bunda. Sepertinya Bunda sedang memikirkan suatu hal yang entah apa itu. Yang jelas, ada binar dari kedua mata Bunda.
" Bunda?. Kok melamun? ".
" Tidak nak. Yasudah. Kamu laki-laki, jadi harus tetap semangat. Apapun yang menimpa hidupmu. Kamu harus hadapi".
"Oke siap bu Boss. Makasih Bunda, sudah ngertiin Fatih. Fatih sayang Bunda".
Aku memeluk tubuh Bunda. Rasanya nyaman sekali. Setidaknya beban hatiku sedikit berkurang karena telah mencurahkan pada Bunda. Karena Bunda lah, aku masih bertahan hidup di tengah rasa sakit yang teramat sangat menyakitkan. Siapa orang nya yang tidak sakit hati dan tersiksa?. Mencintai seorang wanita yang telah mencintai laki-laki lain dan menjadi pasangan hidup laki-laki lain. Pastilah tidak ada satu orang pun yang tidak sakit hati.
"Yasudah, Bunda masuk kedalam dulu yah. Sepertinya sebentar lagi Ilham akan bangun dari tidur siang nya".
" Iyah Bunda".
Jawabku sembari tersenyum dan tetap duduk di posisi yang sama. Tanpa beranjak sedikit pun. Aku masih ingin sendiri, melepaskan sesak yang masih sedikit mengganjal dalam dada. Meluapkan perih dihati.
"Aisyah, kenapa kamu mampu membuat ku porak poranda seperti ini. Membuat diriku merasa akan gila untuk yang kedua kalinya. Aisyah, adakah sedikit celah di hatimu untuk aku mantan suami mu dulu?. Atau seluruh hatimu sudah tertutup penuh hanya untuk Fahmi, yang kini menjadi suami mu?. Apakah Fahmi mu lebih baik dari Fatih mu yang dulu pernah hadir dalam hidupmu?. Jika suatu saat nanti, Fahmi mu pergi. Apakah aku ada kesempatan untuk menjadi pengganti?. Kenapa cinta membuat orang hampir gila, bahkan untuk kedua kalinya?. Bukankah yang namanya cinta, harusnya membuat yang memiliki nya bahagia dan berbunga-bunga di setiap hari-harinya. Masih terekam jelas dalam memori, ketika aku pertama kali melihat wajah cantikmu Aisyah. Wajah ayu bersih tanpa polesan bedak, mampu menghipnotis diriku yang melihat nya. Wajah yang sangat cantik yang pernah aku lihat. Kamu dengan menunduk dan malu-malu membuka cadarmu didepan diriku, yang kala itu belum menjadi siapa-siapa mu. Rasanya saat itu, aku seperti menemukan sebuah mutiara yang berkilau, mutiara yang bahkan tidak pernah terjamah oleh orang-orang yang berusaha memiliki nya. Adakah kesempatan lagi bagiku, untuk terus memandang wajah mu setiap hari lagi?".
Aku berbicara sendiri, menanyakan segala pertanyaan yang mungkin hanya akan terbawa angin lewat, tanpa ada jawaban.
__ADS_1
"Tuhan, jika tidak Engkau ijinkan diriku untuk memilki Aisyah kembali. Kenapa tidak Engkau ciptakan wanita lain yang seperti Aisyah?. Kenapa aku harus di siksa dengan cintaku yang tidak terbalas? ".
Ucapku lirih, di sela-sela gemerisik suara pepohonan yang bergoyang terkena angin.