Madu

Madu
Episode 61


__ADS_3

Aisyah kabur dari rumah, sejak bertengkar hebat denganku dua hari yang lalu. Aku tidak tahu kemana Aisyah pergi. Bahkan Aisyah tidak membawa apapun. Kamar nya masih sangat rapih, entah kemana perginya. Aku tidak ada keinginan sedikit pun untuk mencari tahu dimana Aisyah. Aku sekarang sudah memiliki istri muda yang saat ini sedang mengandung anakku. Aku tidak ingin fokusku terbagi hanya karena memikirkan keberadaan Aisyah.


Sejujurnya kemarin aku memang sudah sangat keterlaluan kepada Aisyah, aku tahu itu. Tapi itu semua salah nya, salah nya yang berani memfitnah keji Siska. Bagaimana aku tidak marah, istriku yang sedang memperjuangkan anakku di fitnah hamil dengan orang lain?. Sekarang aku harus melanjutkan hidupku dengan Siska dan anakku yang sekarang berada di perut Siska.


"Mas Fatih?,". Siska memanggilku.


"Iya siska sayang, ada apa?, kamu butuh apa?,".


"Mas, kemana perginya Aisyah itu?!, sudah dua hari Siska tidak melihat nya dirumah ini?!,". Bahkan siska masih Sudi menanyakan keberadaan perempuan yang dengan kejam sudah memfitnah nya.


"Mas ngga tau, sudah tidak usah memikirkan perempuan itu lagi Siska. Pikirkan saja kebahagiaan dirimu dan anak kita,". Ooow..., jadi kakak maduku yang sok lugu itu sudah di tendang oleh suaminya sendiri dari rumah.


"Ohh... mas mengusir nya sayang?!,".


"Tidak, dia kabur karena keinginan dia sendiri, sudah tidak usah bertanya tentang Aisyah lagi Siska. Saat ini mas sudah bahagia punya kamu dan calon anak kita,". Laki-laki ini benar-benar sudah mencintaiku. Laki-laki bodoh yang rela mengusir istrinya hanya demi aku.


"Oh... malang sekali nasib kakak maduku itu yah mas, bukannya bersyukur tinggal disini, malah kabur entah kemana. Semoga saja deh istri tua kamu tidak jadi gembel di luar sana,".


"Aku tidak perduli lagi Siska!?, mau dia jadi gembel ke, jadi apa pun!!. Aku sudah tidak ingin perduli padanya lagi. Aku sudah menyesal sudah pernah sangat mencintai Aisyah!,". Rupa-rupa nya mas Fatih sudah benci dengan istri tua nya. Baguslah, jadi aku bisa menjadi ratu dan membesarkan buah cintaku dengan mas Deni dengan mudah dan tercukupi.


"Ohh... yasudah sayang. Kamu jangan sedih ya. Kan sekarang sudah ada Siska dan anak kita,". Ucapku sambil memeluk tubuh laki-laki yang malang ini.


"Iya sayang, jangan pernah tinggalkan mas Fatih ya Siska. Sekarang hanya kamu harta satu-satunya bagi mas,". Aku meminta Siska agar selalu di sampingku.

__ADS_1


"Iya sayang, pasti,". ucap Siska dengan manja.


"Yasudah, kamu jangan sampai kecapean ya, kalo ada apa-apa suruh three Bi saja. Kamu istirahat yah,". Aku menyuruh Siska untuk banyak istirahat, karena hamil muda sangat berbahaya jika terlalu kecapean.


"Iya mas Fatih,". Jawab Siska dengan lembut padaku.


Aku terduduk di kursi gantung favorit Aisyah. Tak terasa air mataku menetes. Aku tidak pernah menyangka hubunganku dengan Aisyah yang dulu sangat indah akan menjadi seperti ini. Dulu aku sangat merasa beruntung memiliki Aisyah dalam hidup, bahkan aku merasakan kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya ketika bersama Aisyah. Tapi ternyata aku terlalu berlebihan menilai Aisyah. Aisyah tidak sebaik yang aku kenal, Aisyah tidak seperti dulu. Aisyah kini berubah menjadi perempuan yang hina dan jahat. Aku sangat menyesal telah menikahi Aisyah.


Kadang aku berfikir, kenapa aku tidak langsung di pertemukan dengan Siska saja. Kenapa harus melalui drama menyakitkan seperti ini. Aku merasa aneh, kenapa kemarin tidak aku cerai kan saja Aisyah. Kenapa aku sama sekali tidak mengucapkan kata-kata talak pada Aisyah, padahal kemarin aku benar-benar sedang dalam puncak emosi.


"Den, silahkan diminum teh manis nya,". Bi Inah membawakan segelas teh manis hangat padaku. Disusul Bi Ijah dan Bi Dar yang membawakan makanan dan beberapa kue untukku.


"Kami permisi den...,". Ucap Bi Ijah.


"Iya den, ada apa yah?,". Tanya Bi Ijah.


"Bi, tolong kalian jawab jujur. Saya percaya kalian bertiga tidak pernah berkata bohong. Saya percaya kalian bertiga bisa saya pegang perkataannya,".


"Ada apa yah den?,". Tanya three Bi dengan mimik wajah yang bingung.


"Tolong salah satu dari kalian saja yang menceritakan bagaimana dan apa yang terjadi di rumah ini, selama tidak ada Fatih di rumah Bi, Fatih mohon tolong kalian menceritakan sejujurnya,". Aku melihat mereka bertiga saling berpandangan satu sama lain, seperti orang bingung dan takut.


"Emm... gimana ya den, kami takut den fatih salah paham dan tidak percaya dengan kami, meskipun kami menceritakan yang sebenarnya den,". Ucap Bi Inah dengan ragu dan cemas.

__ADS_1


"Fatih percaya dengan ucapan orang tua Bi. Bagi Fatih kalian bertiga sudah seperti orang tua sendiri, jadi ceritakan apa adanya tanpa ada yang dikurangi, di tambahkan, atau di tutup-tutupi,".


"Baik den, biar Inah saja yang menceritakan semuanya pada den Fatih,".


"Iyah Bi silahkan,".


"Jadi begini den, banyak hal yang terjadi di rumah ini ketika den Fatih sedang di kantor atau keluar kota. Yang kami lihat dengan mata kepala sendiri, saat itu kedua orang tua non Aisyah dan adik nya sempat datang kerumah dan menginap dua hari, saat non Siska pergi ke villa dan den Fatih pergi ke luar kota karena ada urusan kantor. Dan yang kedua yang memang kami lihat, non Aisyah sempat akan di jahati oleh pacar nya non Siska. Dan saat itu kamu melihat tubuh non Aisyah di pepet kan ke tembok oleh laki-laki itu dan kedua tangan non Aisyah di pegang ke atas mirip seperti orang yang sedang di rantai kedua tangannya, dan kami bertiga melihat dengan mata kepala kami sendiri den, kalau laki-laki yang datang bersama non Siska sedang berusaha untuk mencium non Aisyah, kami mendengar teriakan minta tolong dari non Aisyah den, awalnya kami di suruh untuk membeli sesuatu oleh laki-laki itu, dan ternyata ada yang ketinggalan, sebenarnya kami sangat curiga, kenapa kami bertiga harus berangkat dan membeli di toko yang sangat jauh. Karena ada sesuatu yang tertinggal itulah, akhirnya kami bertiga melihat non Aisyah sedang menangis minta tolong dan meronta-ronta agar bisa lepas dari laki-laki itu, karena kami panik. Akhirnya kami bertiga memukulkan kayu untuk memotong sayuran ke kepala laki-laki itu hingga pingsan dan keluar darah. Non Aisyah terlihat sangat pucat dan ketakutan den,". Aku mendengar Bi Inah menghela nafas dan menangis.


"Lalu kemana Siska saat kejadian itu bi?!,".


"Saat itu non Siska datang dengan keadaan mabuk berat bersama laki-laki itu. Non Siska sangat lama tidak sadarkan diri karena pengaruh alkohol yang terlalu banyak. Bahkan non Aisyah juga membantu memapah non Siska kedalam kamar. Dan tentang kehamilan itu benar adanya den, kami berani bersumpah atas nama Allah, kami mendengar sendiri pertengkaran antara laki-laki itu dengan non Siska, non Siska hamil setelah pergi bersama dengan laki-laki itu ke villa,".


"Apa?!, Siska pergi ke villa bukan sama teman-teman perempuan nya?!, tapi sama laki-laki itu?!,". Aku semakin tidak percaya. Tidak mungkin Siska mengkhianatiku.


"Iya itulah faktanya den. Kami juga sempat shock mendengar semua itu. Dan selama den Fatih tidak ada dirumah, non Aisyah diperlakukan sangat kejam oleh non Siska, dengan ancaman akan di adukan ke den Fatih,". Aku melihat three Bi sudah menangis satu sama lain. Aku bingung apakah harus percaya pada mereka bertiga atau tidak. Karena mereka sangat dekat dengan Aisyah. Aku takut mereka hanya bersekongkol saja dengan Aisyah untuk menghancurkan Siska.


"Baiklah Bi, terimakasih kalian bertiga sudah mau bercerita pada Fatih,".


"Den, non Aisyah adalah perempuan yang sangat baik den, kami tidak pernah sekalipun disakiti oleh non Aisyah, bahkan kami bertiga baru menemukan orang yang baiknya seperti non Aisyah. Jujur den, kami bertiga sangat kehilangan non Aisyah... Hiks... hiks.. hiks.. Tolong bawa kembali non Aisyah kerumah ini ya den, kami tidak tahu kemana perginya non Aisyah. Kami rindu non Aisyah,". Kali ini Bi Dar dan Bi Ijah yang berkata padaku.


"Yasudah Bi, kalian boleh kembali ke kerjaan kalian. Makasih ya,".


Aku tidak bisa berjanji untuk membawa Aisyah kembali lagi kedalam rumah ini. Aku masih belum menemukan bukti yang kuat bahwa Siska telah berkhianat dan mengandung anak dari selingkuhan nya. Sebelum aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa Siska berkhianat dibelakangku, aku tidak akan pernah mencari dimana Aisyah. Dan aku akan tetap mencintai Siska dan calon anak didalam rahimnya seperti saat ini.

__ADS_1


__ADS_2