
Kalian tahu?, rasanya sebuah ruangan yang kosong dan gelap?. Beginilah rasanya rumahku setelah pindahnya putra satu-satunya milikku ke rumah sakit jiwa. Jika ada ibu yang jahat, mungkin itu adalah aku. Biarlah, dunia merutuki dan mengecam bahwa aku adalah seorang ibu yang jahat. Jahat karena tega memasukkan putranya, apalagi putra satu-satunya kedalam rumah sakit jiwa. Tak apa, kan aku terima segala hinaan dan cacian itu dengan lapang dada. Meksipun, mereka tidak pernah tahu. Bagaimana sejujurnya hancurnya hatiku. Mereka tidak pernah ada diposisi ku saat ini, atau bahkan mereka tidak pernah mengalami ujian berat berturut-turut seperti yang telah Tuhan berikan padaku dan keluargaku. Semua orang hanya bisa melihat dari satu sisi, dan mengabaikan sisi yang lainnya. Mereka hanya bisa mengalahkan, memojokkan, dan mengutuk. Mereka tidak pernah tahu, bagaimana laraku sebagai seorang ibu. Bagaimana perjuanganku untuk seonggok daging yang keluar dari rahimku sendiri. Seandainya mereka tahu, bagaimana yang sebenarnya terjadi, mungkin mereka akan mengerti dan kemudian menangis memohon maaf dariku. Sudah hampir dua Minggu lebih, dirumah sebesar ini. Aku hanya hidup seorang diri tanpa siapapun, sepi melompong. Menangis?, rasanya mataku sudah bosan jika masalah menangis. Sungguh, aku tidak pernah membayangkan sedikitpun rasanya tinggal seorang diri seperti ini. Rindu dengan Fatih putraku?, sudah sangatlah pasti.
Sampai detik ini, aku masih sangat kecewa dengan Aisyah mantan menantuku. Dia bahkan tidak merespon apapun dari semua surat-surat yang aku tulis dan aku kirimkan padanya. Terbuat dari apa hatinya?, sebegitu parahkah sakit hati dan dendam yang mengakar dihatinya?. Bukankah aku dan putraku bahkan sudah meminta maaf padanya dan keluarganya. Kenapa dia tidak memiliki empati sedikitpun padaku dan pada putraku Fatih yang sampai sekarang terkena masalah psikis karena terlalu mencintainya. Begitulah manusia, ketika sudah memiliki sesuatu yang baru. Sangat mudah sekali melupakan orang yang pernah berjuang untuknya. Aku melihat itu dari mantan menantuku sendiri. Aku mengerti, sudah bukan urusan dia lagi segala hal yang berhubungan denganku dan mantan suaminya yang merupakan putraku sendiri. Tapi bukankah manusia adalah makhluk sosial?. Aisyah suatu saat juga akan membutuhkan bantuan dari orang lain juga. Aku hanya bisa berdoa, semoga hatiku tidak berbalik dan membenci Aisyah dengan sebenci-bencinya. Sungguh, aku sudah sangat sakit hati.
Hari ini, aku berencana akan menjenguk putraku pertama kalinya setelah semenjak dia masuk dalam rumah sakit aku belum pernah menjenguknya lagi. Bukan aku kejam, tapi sesungguhnya hatiku tak sanggup melihat putraku yang dulu sangat gagah dan sangat aku cintai, kemudian dengan sangat terpaksa harus aku masukan kedalam rumah sakit jiwa. Hati ibu mana yang tidak merasa hancur hatinya?. Melihat buah hatinya terkurung dalam ruangan dan berkumpul bersama-sama orang-orang yang mungkin gangguan jiwa nya lebih parah dari putraku. Sudah lama aku menahan rindu pada Fatih putraku. Hanya dia yang aku miliki sekarang. Bagaimanapun keadaannya dia tetap darah dagingku. Sebagai ibu kandungnya, cintaku dan sayangku padanya tidak akan pernah berubah. Pun jika putraku dalam kondisi terburuknya, dia akan tetap menjadi putraku yang sangat aku banggakan. Muhammad Fatih, Bunda percaya padamu putraku. Kamu bisa melewati ujian ini. Kamu bisa bangkit dan melanjutkan masa depanmu. Doa Bunda untukmu tidak pernah terhenti.
"Hallo?,".
"Iya hallo, mohon maaf apa benar ini dari agen taksi online?,". Aku mengkonfirmasi nomor yang sedang kuhubngi.
"Iya benar Bu, ada yang bisa saya bantu?,".
"Begini pak, saya mau pesan taksi untuk jam satu siang. Kira-kira bisa tidak yah?,".
"Alamatnya dimana Bu?,".
"Perumahan Griya Permata, jalan Prof.H.Bunyamin No 55 Jakarta,".
"Baik Bu, nanti jam satu siang tepat saya sudah didepan rumah Ibu. Mohon maaf dengan ibu siapa?,".
"Dengan dokter Layla, pak,".
"Oh baik Bu, terimakasih,".
Jam dinding yang terpasang di sudut kamarku baru menunjukkan pukul setengah dua belas. Aku sudah menyiapkan beberapa makanan kesukaan putraku Fatih. Aku menyiapkan sayur sop, ayam goreng, dan sambal. Itu menu kesukaan putraku. Buah dan puding sudah kusiapkan untuk Fatih. Dia pasti sangat rindu dengan masakan Bunda nya. Sejujurnya, detik ini aku sedang menyiapkan hatiku dan mentalku untuk menemui Fatih dirumah sakit jiwa. Rasanya ingin berbagi, tapi dengan siapa?. Aku sudah tidak memiliki seorangpun yang bisa kuajak untuk berbagi suka dukaku. Bulir air mataku sudah tidak mampu kubendung lagi, ketika aku teringat betapa bahagianya aku ketika bisa tertawa bersama dengan putraku dulu. Kapan badai besar ini akan berlalu dari kehidupanku dan kehidupan putraku?.
"Derrrrt.... derrrt.... derrrt... ,". Handphoneku bergetar. Ada panggilan masuk dari dokter Heru. Ada apa tiba-tiba dia meneleponku?.
"Ha-halo dokter Layla,". Suaranya sangat aku kenal.
"Halo dokter Heru. Ada apa dok?,".
"Bagaimana kondisi perkembangan Putramu?,".
"Entahlah dok, aku baru berniat akan menjenguk nya. Aku belum pernah menjenguk putraku di rumah sakit jiwa. Bukan apa-apa dok, sebagai seorang ibu. Hatiku hancur melihat hartaku satu-satunya dalam kondisi seperti itu dok,".
"Iya dokter Layla. Aku mengerti apa yang anda rasakan. Tentu sangat lah wajar, jika anda merasakan tekanan yang lumayan hebat,".
"Iya dokter Heru. Terimakasih dok, ada apa dok?, tumben sekali anda menelepon dijam-jam segini?,".
"Oh iya dokter Layla, aku dapat info dari dokter kenalanku di luar negeri,".
"Lalu?,".
"Jadi disana ada pengobatan go internasional yang bisa menangani kasus putra anda dok,".
"Negara mana itu dokter?,".
"Belanda dok,".
__ADS_1
"Anda sedang tidak bercanda kan dok?. Prosedur nya bagaimana dokter?!,".
"Buat apa aku bercanda masa begini dokter Layla. Prosedur nya seperti biasa dok. Hanya butuh hasil lab terakhir atau pemeriksaan dari rumah sakit yang terakhir merawat putra anda,".
"Berapa lama waktu pengobatannya dok?,".
"Tidak lama dok, hanya butuh waktu paling lama tujuh hari, untuk kasus Fatih putra anda. Karena gangguan psikis yang dialami oleh putra anda tidak terlalu parah, dan tergolong mudah untuk bisa disembuhkan menurut analisa team dokter disana dok,".
"Syukurlah dok, kira-kira kapan putraku bisa segera dibawa ke Belanda dokter?,".
"Waktu tunggu nya memang lumayan lama dok. Karena pengobatan ini tergolong baru dan sudah banyak yang bahkan dari bulan-bulan lalu sudah mengantri,".
"Tidak bisakah putraku didahulukan?,".
"Sepertinya tidak bisa dokter Layla. Aku sudah coba meloby kenalanku itu. Tapi dia bilang, tetap harus mengambil antrian,".
"Baiklah dokter Heru. Terimakasih banyak atas informasinya,".
"Begini saja dok, siapkan dulu saja dokumen dan berkas-berkas nya untuk mendaftarkan putra anda kesana. Jika nanti sudah sampai ke giliran Fatih. Nanti dari pihak rumah sakit akan menghubungi langsung ke rumah sakit yang menjadi tempat terakhir Fatih putra anda diberikan pemeriksaan,".
"Oke, baik dokter Heru. Terimakasih banyak atas segala bantuan anda,".
"Oke, sama-sama dokter Layla,".
Putraku bisa sembuh jika dibawa berobat di Negara kincir angin Belanda?, dalam waktu satu Minggu saja?. Tapi bagaimana dengan giliran nya sangat lama itu. Apa orang-orang dari negara lain juga membawa sanak saudaranya untuk berobat ke Belanda?. Baiklah, aku akan tetap menyiapkan berkas-berkas dan dokumen yang dibutuhkan untuk pemeriksaan Fatih putraku di Belanda. Semoga saja ada keajaiban, sehingga putraku tidak harus menunggu terlalu lama untuk mendapat terapi pengobatan di sana. Aku menarik nafas panjang, beginilah perjuangan seorang ibu. Tidak pernah mati dan lelah untuk memperjuangkan anaknya. Untuk membuat kebahagiaan buah hatinya.
"Permisi.... Tokk... tokk... tokk,". Terdengar ketukan pintu depan.
"Apa kabar?,". Sapaannya sangat memuakkan sekali.
"Mau apa kamu kesini lagi!!,".
"Mau bertemu dengan Fatih, dimana dia?!,".
"Dia tidak ada disini!!, pergi!!,".
"Lalu kemana Fatih?. Aku ingin bertemu dengannya,".
"Sudah kubilang. Fatih tidak ada disini. Dan jangan pernah ganggu kami lagi!,".
"Kamu mau kemana?!,".
"Bukan urusanmu!. Pergi!, atau aku akan berteriak keras!,".
"Silahkan teriak saja!. Aku kesini hanya ingin bertemu Fatih!,".
"Kurasa telingamu tidak tuli!. Fatih tidak ada disini!,".
"Kemana dia!!!, Kemanaaa!!,".
__ADS_1
"Aku tidak tahu!!.
Rasanya jantungku mau copot. Keringat bercucuran di tubuhku. Ternyata bukan bapak sopir online. Sejujurnya aku sangat panik. Aku sangat ketakutan. Untuk apa dia datang kerumah dan mencari-cari putraku. Apa urusannya dia dengan Fatih. Aku tidak akan pernah memberitahu keberadaan putraku. Sekalipun nyawaku taruhannya. Sudah cukup menderita Fatih menerima segala ujian yang ada. Tidak akan pernah. Aku harus menyembunyikan Fatih, apapun kondisinya manusia ini tidak boleh tahu. Fatih putraku satu-satunya, dia hartaku yang saat ini aku punya.
"Toot... toott .... tott ..,". Sopir taksi online menelaksonku. Syukurlah, bapak sopir taksi ini tak datang terlambat.
"Minggir!!,".
"Pak, minta tolong bawakan barang-barang saya pak,". Ucapku pada pak sopir taksi online begitu setelah mengunci pintu rumah.
"Baik Bu,". Jawab sopir online itu.
Aku masuk mobil dan tidak melihat lagi ke manusia jahat itu. Rasanya detak jantungku semakin tidak beraturan. Cobaan apa lagi ini ya Allah. Masalah putraku belum sembuh, kenapa ada lagi ujian dan cobaan yang datang padaku. Tidak bisakah aku sedikit bernafas?. Setidaknya hingga putraku bisa sembuh dan mendapatkan pengobatan dari Belanda?. Air mataku sudah tidak mampu tertahan. Aku sudah tidak memikirkan pak sopir yang terus-menerus melirik kearahku melalui kaca. Mungkin dia bingung, melihatku yang sedari tadi hanya menangis dan menatap kosong kearah jendela mobil. Biarlah, yang penting perasaanku sedikit plong setelah menangis. Dan aku bisa lebih siap bertemu dengan hartaku satu-satunya. Aku sudah sangat rindu pada putraku. Sedang apa dia sekarang, sudah makan?. Atau malah sudah ada kemajuan menjadi lebih baik?. Semoga saja, Bunda selalu mendoakan yang terbaik untukmu anakku.
"Bu, maaf saya lancang bertanya. Kenapa ibu terus menangis?,".
Ah, akhirnya pak sopir kepo juga. Dia memilih bertanya padaku, alasan mengapa aku terus menangis selama perjalan. Mungkin dipikiran nya kasihan melihatku menangis tak henti-hentinya.
"Tidak apa-apa pak. Sedang banyak beban saja,".
"Oh, semoga cepat berlalu segala ujian dan bebannya yah Bu,".
"Aamiin. Terimakasih pak. Oh iya, apa masih lama pak?,".
"Tidak Bu, sebentar lagi sampai. Tidak ada lima belas menit akan sampai dirumah sakitnya,".
"Oh, terimakasih pak,".
"Apa ibu ini dokter yang praktek di rumah sakit jiwa itu Bu?. Sepertinya ibu sering datang kesana?,".
"Oh iya pak, kadang saya ada jam praktek disana,". Jawabku berbohong. Aku tidak mungkin menceritakan kondisi putraku.
Akhirnya, aku sampai juga dirumah sakitnya. Aku bergegas turun, membawa barang-barang yang kubawa kan untuk Fatih, dan membayar uang ongkos kepada bapak taksi online itu. Aku berjalan memasuki loby rumah sakit menuju ruang informasi.
"Permisi mbak, saya dokter Layla. Saya mau jenguk pasien atas nama Muhammad Fatih,".
Ucapku pada staff rumah sakit yang bertugas di ruang informasi.
"Oh iya dokter, silahkan bisa langsung ke ruangannya saja. Perlu saya antar kan dok?,".
"Oh, tidak-tidak, tidak usah mbak. Terimakasih banyak ya,".
"Sama-sama dokter,".
Sudah dua Minggu aku baru datang menjengukmu lagi putraku. Aku berjalan menyusuri koridor rumah sakit, menuju ruangan dimana putraku berada. Aku sudah tidak sabar ingin melihatnya. Beginilah rasanya rindu dengan buah hati. Aku memang sudah terbiasa berjauhan dengan putraku Fatih. Tapi kali ini beda, kondisi Fatih sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja. Tentu hatiku tidak akan pernah tenang. Sekian menit berjalan, akhirnya sampai juga aku diruangan putraku mendapatkan perawatan. Aku melapor ke perawat jaga, dan kemudian meminta ijin untuk bertemu dengan putraku.
"Fa-fatiihh,". Suaraku parau, tubuhku gemetar. Rasanya tidak karuan sekali, melihat putraku terduduk di lantai di pojok ruangan. Tatapannya kosong, dia memang tidak lagi menyebut-nyebut nama Aisyah. Kini dia lebih cenderung diam, kadang menangis, kadang tersenyum. Hanya itu. Aku menguatkan hatiku untuk mendekat pada putraku. Dia tidak menyadari keberadaanku. Masih terus melamun tanpa ada respon apapun.
"Putraku, maafkan Bunda. Bunda baru bisa datang dan menemui kamu nak. Bukan bunda jahat sayang, hanya hati Bunda tidak kuat. Nak, Bunda mohon. Bangkitlah nak, lupakan Aisyah. Dia bahkan sudah tidak perduli sedikit pun dengan kondisi kita nak. Empati pun sudah tidak Aisyah miliki. Sehat nak, bangkitlah, dan cari perempuan yang lebih baik dari Aisyah mantan istrimu. Dia jahat nak, sudah tidak ada sedikitpun rasa kasihan dihatinya untuk kita sayang. Bunda butuh kamu nak, ayok sembuh putraku. Lawan segalanya. Kamu dilahirkan dari rahim perempuan seperti Bunda, kamu harus bisa bangkit nak. Putraku, Bunda saat ini sedang ketakutan. Orang itu nak, orang itu datang menemui Bunda. Orang itu mencari-cari dirimu. Ada apa antara kamu dengannya nak?. Tapi Fatih jangan khawatir ya sayang, Bunda tidak akan pernah memberitahu keberadaan kamu sayang. Fatih berjuang ya nak. Doa Bunda selalu ada untukmu,".
__ADS_1
Air mataku sudah tidak mampu terbendung. Aku menangis, aku sesenggukan. Aku memeluk erat tubuh putraku yang juga tidak bergerak. Tapi Fatih meneteskan air mata. Dia juga ikut menangis. Rasanya haru sekali, apakah kamu mengerti dan merasakan apa yang tadi Bunda ceritakan nak?. Aku menyuapi putraku, alhamdulillah dia mau membuka mulutnya dan mau makan bersamaku. Aku bahagia bisa makan bersama putraku satu-satunya. Meksipun didalam rumah sakit jiwa.