Madu

Madu
Episode 53


__ADS_3

Ini malam pertama aku, Siska, mas Fatih makan bersama dalam satu meja makan setelah satu bulan usia pernikahan mas Fatih dengan Siska.


"Mas?!,". Ucap Siska.


"Iya ada apa?,".


"Mas kok mereka satu meja dengan kita sih?!,".


"Siapa?, three Bi maksud kamu?,". Tanya mas Fatih.


"Iya mas, masa kita makan satu meja dengan pembantu?!, kan Siska jadi ngga nafsu makan?!, ya maklum Siska kan ngga pernah makan bareng pembantu dalam satu meja?!, mas ngerti kan sayang?!,". Ucap Siska dengan angkuh. Lagi-lagi dia merendahkan three Bi. Siska masih saja belum berubah, selama satu bulan ini, dia semakin menindas dan merendah kan three Bi.


"Mereka sudah biasa makan bersama mas dan Aisyah. Jadi sudah kamu makan saja yah,". Pinta mas Fatih.


"Nggak?!, Siska ga mau makan kalau mereka ikut makan dalam satu meja bersama kita!!,". Ucap Siska sebal.


"Sudah ngga papa den, biar kami bertiga makan di dapur saja. Tidak apa-apa den. Dari pada non Siska tidak mau makan,". Ucap Bi Dar mewakili dua temannya.


"Tapi Bi...,".


"Sudah tidak apa-apa non Aisyah. Kami makan di dapur saja,". Ucap Bi Inah.


"Maaf yah Bi,". Ucapku dengan rasa tidak enak. Entahlah kenapa mulut Siska sejahat itu menghina orang lain, apalagi orang itu lebih tua darinya.


"Ngapain minta maaf si?!, sudah sepantasnya pembantu ya makan di dapur, bukan gabung satu meja dengan majikannya?!,". Ucap Siska dengan sangat angkuh.


"Sudah-sudah, jadi makan tidak?!,". Mas Fatih mulai kesal dengan keadaan yang tidak kondusif di meja makan, sedang three Bi pergi ke dapur membawa piring makan punya mereka.


Hatiku sakit, melihat three Bi dihina seperti itu. Kenapa Siska sejahat itu?, ucapku dalam hati.


"Mas?, nanti setelah makan kita shopping yuk?,". Ucap Siska dengan manja, mungkin maksudnya ingin membuatku cemburu.


"Belanja lagi?, kan baru kemarin kamu belanja banyak,". Ucap mas Fatih heran.


"Kan sedikit sayang belanja nya, ayolah.. Lagi pula Siska jenuh dirumah. Ingin jalan-jalan,".


"Yasudah iya, nanti kita bertiga pergi jalan-jalan,". Mas Fatih mengabulkan permintaan Siska, dan kali ini aku turut di ajak oleh mas Fatih.


"Kok bertiga?, kan Siska maunya berduaan saja denga mas Fatih,". Siska seakan tidak menginginkan aku hadir di tengah-tengah mereka.


"Aisyah ikut dengan kita Siska. Aisyah juga istri mas,". Bantah mas Fatih kepada Siska.


"Tidak usah mas, mas Fatih pergi saja dengan Siska yah. Aisyah dirumah saja tidak apa-apa,". Aku memang tidak ingin pergi bersama Siska. Jadi aku menolak ajakan mas Fatih.


"Tidak Aisyah?!, kamu tetap harus ikut!,". Perintah mas Fatih dengan sedikit memaksaku.


"Baiklah mas,". Jawabku menurut.


Aku melirik ke arah Siska yang wajah nya terlihat sangat kesal, karena mas Fatih bersikukuh untuk mengajakku pergi bersamanya nanti malam.


"Mas mau kemana?!,". Aku melihat Siska bertanya pada mas Fatih. Apa dia tidak bisa melihat?, padahal mas Fatih sudah mengenakan peci dan baju yang rapih, apalagi barusan adzan isya terdengar, jelas mas Fatih mau shalat berjamaah di masjid.


"Mau shalat jamaah di masjid, kenapa sayang?,". Tanya mas Fatih pada Siska yang masih asik nonton TV.


"Ngapain si shalat segala, di masjid pula. Udah mas dirumah aja dong sayang. Temani Siska yah. Kan Siska takut sendirian sayang,". Ucap Siska mulai mempengaruhi mas Fatih.


"Siska, jangan melarang mas Fatih untuk berjamaah di masjid. Laki-laki memang wajib hukumnya untuk shalat di masjid, lagi pula kamu kesepian kenapa?, kan ada aku dan three Bi dirumah?,". Aku yang sudah mengenakan mukenah menghampiri mas Fatih dan Siska di ruang TV. Siska sudah sangat keterlaluan, bahkan dia berusaha menjauhkan mas Fatih dari pencipta Nya.


"Yasudah iya, mas tidak jadi shalat di masjid, mas temani kamu sayang,".


Aku serasa tidak percaya, Mas Fatih lebih memilih menemani Siska dari pada panggilan dari Allah. Ya Allah ya Rabb, ada apa dengan suamiku?, hatiku hancur melihat kenyataan yang ada. Bahkan sekarang aku melihat mas Fatih, malah asyik duduk bermesraan dengan Siska.


Aku tidak kuat melihat semua pemandangan itu. Aku memilih pergi ke kamar dan segera untuk menunaikan shalat isya di kamar.


"Allahuakbar.....,". Aku menunaikan empat rakaat shalat isya, dan berdoa kepada Allah Rabb penggenggam jiwa ini. Aku berdoa agar diberikan kekuatan dan keikhlasan menghadapi ujian ini, dan mendoakan mas Fatih agar kembali seperti dulu. Aku tak mampu menahan tangis di sela munajatku kepada Nya.

__ADS_1


"Non, sudah di tunggu den Fatih dan non Siska di luar,". Ucap Bi Inah dari balik pintu kamarku.


"Iya Bi, tolong sampaikan ke mas Fatih, Aisyah siap-siap dulu sebentar,".


"Baik non,".


Aku segera melipat mukenahku, dan memakai jilbab serta cadarku, dan bergegas menuju ke garasi mobil.


"Lama sekali si, dandan apa an si?!, muka aja di tutup begitu,". Siska menghardikku dan mengejekku. Tapi mas Fatih hanya diam saja. Bahkan tidak membelaku sama sekali.


Aku membuka pintu depan, tapi lagi-lagi Siska menarik tanganku dengan sangat kasar.


"Ehhh... aku yang depan dong. Gimana si?!, kamu kan harus ngalah dengan adik madumu?!,".


"Kalian jangan ribut terus dong?!, pusing aku


?!,". Mas Fatih memarahiku dan Siska.


Aku mengalah pindah dan duduk di jok belakang, sedang Siska di samping mas Fatih. Jujur, aku sangat marah. Tapi aku harus sabar, aku membela diri pun akan tetap salah di depan mas Fatih. Sepanjang jalan, Siska terus menempel dengan mas Fatih, dan sepanjang jalan pula aku membuang pandanganku ke arah samping. Aku lebih baik memandangi pohon, dari pada melihat suamiku bermesraan dengan istri muda nya. Sangat menyakitkan sekali rasanya, andai saja tadi mas Fatih tidak memaksa diriku untuk ikut bersama dengannya. Aku tidak akan tersakiti seperti ini.


"Sayang, nanti aku mau pamit yah,". Ucap Siska dengan suara di manja-manja kan.


"Pamit kemana?,".


"Aku mau pergi ke puncak dengan teman-teman perempuanku dulu,". Aku mendengar Siska meminta ijin kepada mas Fatih.


"Kapan?,".


"Besok mas,".


"Berapa hari disana sayang?,". Lagi-lagi mas Fatih menyakitiku dengan memanggil sayang pada Siska didepanku.


"Sekitar dua sampai tiga hari mas. Bagaimana?, boleh ya?, pliss sayang,". Siska berusaha mendapatkan ijin mas Fatih, dan aku hanya mendengarkan percakapan mereka dari belakang.


"Mas?,". Panggilku kepada mas Fatih.


"Iya dik?, ada apa?,". Kali ini mas Fatih dengan suara yang sangat lembut padaku.


"Mas Fatih mau ke luar kota mas?,". Tanyaku mengkonfirmasi apa yang aku dengar tadi.


"Iya dik sayang,". Kali ini hatiku sedikit tenang mendengar mas Fatih memanggilku sayang. Sedang aku melihat wajah kesal Siska dari kaca.


"Yasudah hati-hati yah mas. Semoga Allah selalu melindungi mas. Dimudahkan segala urusannya,". Aisyah mendokanku, satu hal yang tidak pernah aku dapatkan dari Siska istri mudaku.


"Jazakillahkhoyr dik Aisyah,". Sudah lama aku tidak mendengar kata-kata itu dari mas Fatih. Hingga aku tak sanggup membendung air mata bahagiaku.


Mobil mas Fatih terparkir di salah satu tempat parkir mall yang besar di Jakarta. Aku berjalan bertiga dengan mas Fatih dan Siska. Siska terus saja mendominasi mas Fatih. Dia terus menempel kepada mas Fatih setiap detik. Aku menguatkan diri, dan berusaha untuk biasa saja. Ini tempat umum, aku tidak ingin masalah keluargaku terbuka di tempat umum, jadi aku memilih untuk mengalah.


"Mas... Siska ingin beli itu,". Aku melihat tangan Siska yang menunjuk ke toko perhiasan berlian.


"Untuk apa Siska?, itu sangat mahal,". Ucapku padanya.


"Mas... ayok, Siska ingin itu,". Dia terus merengek tanpa memperdulikan perkataanku.


Dan lagi-lagi mas Fatih menuruti permintaan Siska. Aku sakit melihat suamiku seperti orang yang dalam pengaruh seperti ini. Aku berjalan membuntuti mereka.


Aku melihat Siska memilih banyak sekali perhiasa, dan aku hanya beristighfar melihat perilaku nya yang suka boros seperti itu.


"Dik?, kamu tidak ingin beli?,". Tiba-tiba mas Fatih menanyakan padaku.


"Tidak mas, mas kan tahu, Aisyah tidak suka boros mas. Mending uang nya untuk bantu anak yatim saja,". Ucapku kepada mas Fatih.


Aku terkejut mendengar ucapan istriku Aisyah, dia sangat berbanding terbalik dengan Siska. Tapi entah kenapa, ketika di dekat Siska, aku tidak bisa berkutik, rasanya aku benar-benar sangat mencintai Siska dari pada Aisyah.


"Dik, mas mau ke toilet dulu yah,". Ucapku pada Aisyah.

__ADS_1


"Kemana pergi nya mas Fatih?,". Tiba-tiba Siska bertanya padaku.


"ke toilet,". Jawabku datar.


"Kamu menyuruh nya pergi?!, kamu mau bikin malu aku hah?!, aku sudah pilih banyak perhiasan, dan kau suruh mas Fatih pergi?!, agar aku malu karena tidak mampu membayar nya hah?!,". Siska berteriak-teriak sangat keras, dia memfitnah dan menuduhku dengan sangat keji di depan banyak orang. kini banyak pasang mata yang memperhatikanku dan Siska.


"Aku sudah jujur, mas Fatih pamit mau ke toilet Siska,". Jawabku lagi.


"Hahh... dasar perempuan ngga jelas?!, kamu ngiri kan, karena mas Fatih lebih memanjakan aku istri muda nya!!, dari pada kamu!!, iya kan!,".


"Astaghfirullah!!. Siska, jangan bicarakan masalah ini di depan umum!,". Ucapku padanya. Dia sudah sangat keterlaluan.


"Dasar perempuan kampungan!!, wajah saja di tutupi!!!,". Tiba-tiba Siska merangsang ke arahku. Dan berusaha membuka cadarku.


"Siska!!, hentikan!!, jangan!,". Teriakku. Aku berusaha mempertahankan cadar yang aku kenakan. Dan...


"Sreeettt.....!!,". Cadar yang aku gunakan sobek karena tarikan kencang Siska padaku. Dan kini wajahku terlihat oleh banyak orang. Aku malu, aku menangis sangat kencang dan segera menutupi wajahku dengan jilbabku.


"Haha..., akhirnya, terbuka juga topeng mu ini?!,". Ucap Siska yang masih meledekku. Aku melihat banyak pasang mata yang memperhatikanku dengan tatapan yang mengiba.


"Wah, ternyat lebih cantik istri tua nya yah, dari pada istri muda nya,". Celetuk salah satu pengunjung.


Aku tidak menghiraukan komentar itu, yang jelas aku sangat malu. Aku memutuskan untuk lari dan pergi dari tempat itu. Ya Allah sakit sekali rasanya di permalukan seperti ini. Aku terus menangis sambil berlari dengan tangan terus menutupi wajahku.


Aku merogoh sakuku, dan alhamdulillah aku membawa uang lima puluh ribu, aku memutuskan untuk membeli masker sekedar untuk menutup wajahku sementara.


Dan tanpa sengaja, aku berpapasan dengan mas Fatih.


"Dik?!, Aisyah?!, kamu kenapa?!, kemana cadar mu?!,". Mas Fatih terlihat panik dan marah.


Aku tak menghiraukan nya, dan terus berlalu dan pergi.


"Pak, tadi ada pertengkaran di toko itu, dan mbak yang seksi itu merobek penutup muka mbak yang tadi pakai masker. Hingga semua orang melihat wajah nya yang cantik,". Tiba-tiba ada seorang anak kecil yang dengan polos nya menceritakan kejadian itu. Aku benar-benar sangat marah dengan Siska. Dia sudah keterlaluan pada Aisyah.


Aku menuju ke toko perhiasan dan menarik tangan Siska dengan kencang keluar dari sana.


"Mas Fatih..?!, sakit mas!. Lepaskan tangan Siska?!,". Aku tidak menghiraukan perkataan Siska. Aku benar-benar sudah marah padanya.


"Mas?!, ada apa!!, itu perhiasan nya gimana mas?!, jangan bikin malu mas?!,". Dan Siska masih saja memikirkan perhiasan. Aku benar-benar sudah sangat marah, dia sudah kelewat batas, hingga tanganku menampar nya dengan keras.


Tanganku jatuh di pipi Siska. Aku menampar pipi Siska dengan keras.


"Awwwww....!!,". Aku mendengar teriakan Siska yang merasa kesakitan. Aku melihat di sudut bibir nya membiru.


"Itu sebagai peringatan buat kamu Siska!!!. ka


Kalau kamu berani-berani lagi mempermalukan Aisyah dengan membuka cadar nya di depan umum lagi!!,". Ucapku dengan nafas yang memburu.


"Apa salahku!!!, dia yang jahat!!!, dia menyuruhmu untuk pergi kan!, agar kamu tidak jadi membayar perhiasan dan berlian yang telah aku pilih?!, hah...!. Dasar perempuan jahat?!, dan kau tahu mas, perempuan itu juga membohongiku bahwa kamu sedang pergi ke toilet!!. Aku bukan anak kecil yang bisa dia bohongi mas!!!. Aku tau, istri tua mu itu iri padaku karena tidak kau belikan perhiasan!!!,". Ucap Siska dengan berapi-api menyalahkan Aisyah.


Lagi-lagi aku menampar Siska. Mulutnya sangat jahat. Aku benar-benar sudah emosi.


"Dengar siskaaa!!, apa yang dikatakan Aisyah itu benar!!, aku pamit padanya kalau aku mau ke toilet!!, dia tidak membohongi mu!!, dan dengar, aku juga menawari Aisyah kakak madumu untuk membeli perhiasan, tapi dia menolak!!,".


"Benarkah?!, itu tidak mungkin mas?!,".


"Benar!, sekarang masuk ke mobil!!, masukk....!!,". Aku membentak Siska untuk masuk kedalam mobil.


Aisyah, kasian dia, dia sudah di permalukan di depan banyak orang. Hatinya pasti sangat hancur. Aku heran dengan Siska, padahal aku sudah mementingkan dia dari pada Aisyah. Tapi aku juga menyesal telah menampar dua kali pipi Siska. Ah..., rasanya benar-benar sangat menyulitkan. Dilain sisi aku tidak tega melihat Aisyah istriku di permalukan, di lain sisi aku juga terlalu kasar pada Siska. Rasanya kepala ingin pecah.


"Sayang...,". Ucapku pada Siska yang membuang muka padaku.


"Maafkan aku..., aku terbawa emosi. Tolong jangan ulangi lagi yah, Aisyah itu kakak madu kamu. Tolong hormati dia,".


Masih tidak ada jawaban....

__ADS_1


__ADS_2