
Entahlah, hari ini aku sedang sibuk-sibuknya di kantor. Karena memang mendekati akhir tahun membuat semua pegawai kantoran seperti diriku semakin pusing. Bagaimana tidak, pembukuan dan juga arsip-arsip harus segera di selesaikan dalam tenggang waktu yang tidak banyak. Mengeluh?, apa aku sekarang sedang mengeluh?. Tidak, aku hanya sedang menggambarkan sebuah perjuangan laki-laki untuk mencari nafkah yang halal untuk orang-orang yang berada dibawah tanggung jawabku. Apalagi sebentar lagi, aku akan memiliki 2 buah hati. Tentunya, akan membutuhkan banyak biaya kedepannya. Bekerja adalah jihad nya seorang laki-laki sebagai kepala keluarga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Harta yang dikeluarkan sebagai makanan untukmu dinilai sebagai sedekah untukmu. Begitu pula makanan yang engkau beri pada anakmu, itu pun dinilai sedekah. Begitu juga makanan yang engkau beri pada istrimu, itu pun bernilai sedekah untukmu. Juga makanan yang engkau beri pada pembantumu, itu juga termasuk sedekah,” (H.R. Ahmad).
Benar, mencari pundi-pundi rupiah kemudian digunakan untuk memberi nafkah pada keluarga akan di nilai sedekah. Bahkan ada pepatah yang mengatakan bahwa, bekerja adalah harga diri seorang laki-laki. Betapa banyak, laki-laki diluar sana, yang harga dirinya di remehkan dan di injak-injak oleh pihak perempuan karena menganggur dan tidak bekerja. Meskipun itu juga tergantung siapa istrinya. Tapi kasus seperti tadi, amatlah banyak. Peran suami menjadi lumpuh, dan akhirnya istrilah yang kemudian maju menggantikan posisi suami dalam rumah tangga.
Sudah beberapa hari ini, aku selalu pulang kantor hampir mau maghrib. Karena jika pekerjaan yang ada ditunda-tunda, maka akan menumpuk dengan list pekerjaan yang lainnya. Untung saja, baik Aisyah istriku dan Marwah putriku. Mereka mengerti posisiku. Tidak banyak menuntut padaku. Malah mereka sangat mendukungku jika memang itu dalam kebaikan dan kebenaran. Seperti saat ini, jam tanganku menunjukkan pukul setengah enam sore. Biasanya jam enam pas, aku baru keluar dari kantor.
"Nak Fahmi! ".
Seseorang memanggil diriku yang hendak masuk kedalam mobil. Ternyata seorang ibu-ibu yang memanggilku. Entahlah, aku tidak tahu jelas siapa sebenarnya dia. Ibu-ibu yang memanggilku mengenakan kacamata hitam, dengan tas. berwarna senada dengan baju nya, yaitu merah marun. Tapi heran, kenapa dia mengenal namaku?. Aku memperhatikan ibu-ibu itu dengan tergopoh-gopoh menghampiri diriku yang masih berdiri di samping pintu.
"Nak Fahmi?!. Kamu mau pulang?! ".
" I-iyah. Maaf siapa ya? ".
Ibu itu langsung membuka kacamata hitam nya didepan ku. Kini barulah aku tahu, siapa sosok Ibu yang tadi memanggilku.
"Sekarang sudah mengenaliku kan nak? ".
" I-iyah sudah".
"Nak Fahmi, Maaf mengganggu kamu sebentar. Tapi ini sangat penting. Bisakah aku meminta waktu mu sebentar nak?. Ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu".
Jika aku menolak, itu artinya aku tidak menghargai seseorang yang lebih tua dari ku. Apalagi dia tadi sudah setengah berlari untuk menghampiri diriku. Baiklah, ini sekedar untuk menghormati seseorang yang lebih tua dari diriku. Jika tidak, mungkin aku akan menolaknya. Aku sudah ingin sampai rumah, selain letih seharian bekerja. Juga sangat rindu dengan anak istri, serta Ibuku dirumah. Mereka pasti sudah pada menunggu kepulangan diriku.
"Oh, iya silahkan".
" Kita duduk di bangku itu saja yah. Biar enak ngobrol nya".
__ADS_1
Aku hanya menganggukkan kepala dan menurut dengan permintaan wanita ini. Sejujurnya aku sangat kaget, ternyata Ibu dari mantan suami istrikulah yang menghampiri diriku. Entah, ada hal penting apa yang akan dia bicarakan padaku. Padahal aku tidak pernah ada hubungan apapun dengan pihak keluarga mantan suami Aisyah.
"Nak Fahmi, maaf sebelumnya. Bunda mengganggu waktu kamu. Nak, maaf jika apa yang akan bunda sampaikan padamu tidak sopan dan membuat kamu tidak nyaman".
" Maaf Bunda, jika Fahmi boleh tahu. Tentang hal apa ya? ".
"Ini tentang Aisyah, Fahmi".
" A-Aisyah?!. da apa dengan Istriku?".
"Jujur, Bunda juga bingung bagaimana memulai pembicaraan ini denganmu nak. Tapi semua harus Bunda sampaikan padamu".
Aku masih diam dan menunggu, apa yang sebenarnya akan Bunda nya Fatih sampaikan padaku. Terlebih ini tentang istriku Aisyah.
" Nak Fahmi?, jauh sebelum kamu menikah dan mengenal Aisyah. Kamu pasti tahu bukan?, kalau status Aisyah adalah seorang Janda?!. Dan mungkin kamu juga tahu, siapa mantan suami istrimu dulu?. Jelas, kamu melihat kedatangan kami saat acara akad pernikahan dirimu dengan Aisyah. Bunda dan putra Bunda Fatih, datang pada saat itu nak. Entahlah, Aisyah sudah menceritakan segalanya padamu. Atau ada bagian yang sengaja tidak dia ceritakan padamu. Nak Fahmi, mau percaya atau tidak. Bunda akan menceritakan segalanya padamu. Dulu, Aisyah dan Fatih adalah pasangan yang sangat cocok nak. Fatih dan Aisyah saling mencintai satu sama lain. Bahkan, Fatih memperlakukan Aisyah seperti berlian dalam hidupnya. Aisyah sangat mencintai Fatih nak. Fatih lah, laki-laki pertama yang berhasil mencuri hati Aisyah. Singkat cerita, kami bertiga Fatih, Bunda, juga Aisyah. Menjadi korban dari kejahatan mantan suami Bunda. Itu yang menyebabkan hancur nya rumah tangga Fatih dan Aisyah. Padahal, Fatih sama sekali tidak mengatakan talak pada Aisyah. Dan saat itu, Bunda jatuh sakit. Fatih tidak bisa menemui Aisyah di rumah nya. Karena harus menjaga dan mengurus Bunda yang sakit karena siksaan dari mantan suami Bunda, nak. Dan betapa hancur nya Fatih dan Bunda, ketika melihat kamu telah mengambil Aisyah dari hidup kami. Bahkan Bunda sampai pingsan saat itu. Aisyah juga sempat mengandung anak dari pernikahan nya dengan Fatih. Tapi takdir menghendaki lain, Aisyah keguguran. Jelas itu sangat menyakitkan bagi Fatih dan Bunda. Dan Bunda yakin, awal-awal kamu menikah dengan Aisyah pun. Aisyah masih sering teringat dengan Fatih kan?. Mungkin kamu juga sakit hati saat itu, karena faktanya. Wanita yang kamu jadikan istri masih mencintai laki-laki lain yaitu Fatih, mantan suaminya. Nak Fahmi, saat itu. Aisyah dan Fatih masih sangat saling mencintai nak. Tapi karena kamu hadir di tengah-tengah mereka berdua. Akhirnya baik Aisyah dan Fatih dengan terpaksa harus saling merelakan satu sama lain meskipun masih saling sangat cinta"
"Nak, semenjak mengetahui kamu menikahi Aisyah. Fatih sangat terpukul nak. Bahkan, saking cinta nya dan kehilangan Aisyah. Fatih sampai terkena gangguan mental nak Fahmi. Bunda sangat terpukul , dengan kejadian itu. Kamu tahu, Fatih adalah putra Bunda satu-satunya nak. Bunda harus mengurus Fatih yang gila karena kehilangan wanita yang sangat dicintai nya. Setiap hari, Fatih selalu memanggil nama Aisyah. Mendekap foto Aisyah, mengajak foto itu berbicara. Ibu mana yang tidak sakit hati nya melihat putra nya gila karena kehilangan cinta?. Bunda jatuh bangun mencari cara, bagaimana agar Fatih bisa sembuh. Akhirnya Bunda memutuskan untuk membawa Fatih ke luar negeri untuk berobat. Dan Tuhan seperti nya masih menyayangi Bunda juga Fatih. Fatih sembuh dari gangguan jiwa nya nak. Tapi dia masih saja belum sembuh dengan cinta nya pada Aisyah. Kamu tahu, Fatih akan menduda seumur hidup nya, dia tidak mau mencari pengganti Aisyah nak. Bunda sangat terpukul mendapat jawaban itu. Padahal Bunda sudah sangat ingin menimang cucu dari putra kandung Bunda satu-satunya. Hikss... hikks... Bertahun-tahun lamanya nak, Fatih menduda karena demi cinta nya pada Aisyah yang kini jadi istrimu".
Diam, dan menahan rasa sakit yang teramat sakit di hatiku, hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini. Mendengar semua cerita dari Bunda Layla. Aku sangat kaget, mengetahui fakta bahwa Fatih ternyata masih menduda karena tidak ingin ada perempuan lain selain Aisyah di hatinya. Sebegitu cinta nya kah dengan Aisyah?. Apa maksud dari semua ini?. Kenapa tiba-tiba Bunda nya Fatih menceritakan semua masa lalu putranya dengan istriku kepadaku?. Apa yang sebenarnya dia inginkan dariku?. Dan apa saat ini Aisyah masih mencintai Fatih?. Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Apa yang diucapkan oleh Bunda Layla benar. Awal menikah memang aku sering merasakan sakit hati. Karena saat itu, cinta Aisyah masih untuk Fatih. Bahkan Aisyah suka hampir salah memanggil nama, antara Fahmi dan Fatih. Tapi, apa saat ini juga masih ada cinta untuk Fatih mantan suaminya, di lubuk hati wanita yang hampir tujuh tahun menemani diriku?.
"Lalu Ilham? ".
" Ilham adalah anak yang Fatih ambil dari panti. Dia sangat kesepian. Makanya Fatih mengadopsi seorang anak dari panti. Ilham bukan darah daging Fatih. Nak Fahmi, bisakah kamu membiarkan Aisyah, jika memang ternyata masih ada cinta untuk putra Bunda?. Maksud Bunda, menyatukan kembali cinta yang terpaksa dibunuh dari dalam hati Aisyah untuk Fatih?. Nak, Bunda tahu. Bunda jahat berkata demikian pada dirimu. Bunda tidak tahu harus bagaimana lagi, Fatih putra Bunda satu-satunya. Bunda tidak memiliki siapapun lagi selain Fatih. Sedangkan kamu?, kamu bahkan memiliki anggota keluarga yang lain kan nak?. Kemarin, Bunda sudah coba menghubungi istrimu melalui telepon rumah".
"Apa yang dikatakan Aisyah?! ".
Tanyaku pendek.
__ADS_1
" Istrimu bilang, semua keputusan ada pada mu nak Fahmi. Hikks.. hikks.. maka dari itu. Bunda berusaha menemui dirimu. Bunda menunggu dirimu dari pagi sampai saat ini nak. Tolong Bunda, Fahmi. Bantu Bunda menyatukan cinta yang tidak seharusnya terpisah".
Aku kaget, rasanya jantungku seakan berhenti berdegup. Mana mungkin Aisyah akan tega meninggalkan diriku?. Benarkah Aisyah berkata demikian?. Mengatakan pada ibu mertua nya, bahwa dia akan mau kembali dengan Fatih. Jika aku mengambil sebuah keputusan?. Lalu, apa yang sudah dia lewati denganku selama bertahun-tahun. Apa Aisyah hanya berkorban, dan terpaksa membunuh cinta nya yang ada untuk mantan suaminya Fatih?, demi untuk menghormati diriku dan menjalani pernikahan yang terjadi?. Kenapa ujian begitu sangat berat aku rasakan. Detik ini, mantan ibu mertua istriku memohon padaku. Agar aku mau melepas istriku sendiri untuk kembali dengan mantan suaminya. Lalu bagaimana dengan diriku?, jika aku merelakan Aisyah kembali dengan Fatih mantan suaminya?. Bagaimana nasib anak-anakku nanti?. Takdir kenapa tidak selalu berpihak kepadaku. Aku harus menjawab apa pada wanita tua yang kini memohon-mohon padaku?. Pada wanita yang rela berkorban untuk melihat anak yang dilahirkan nya bahagia?.
"Tidak, aku tidak boleh percaya. Aisyah tidak mungkin berkata demikian pada Bunda Layla. Aku harus percaya dengan Aisyah. Tapi kenapa, seperti tidak ada kebohongan dari ucapan Bunda Layla padaku? ".
Ucapku dalam hati.
" Nak Fahmi?. Bagaimana nak?. Kamu mau membantu Bunda kan nak?. Seharusnya kamu bisa bahagia, melihat Aisyah bahagia dengan cinta yang sesungguhnya. Setidaknya, kamu pernah memiliki Aisyah. Biarkan Aisyah kembali pada Fatih, Fahmi".
"Ma-maaf sebelum nya. Fahmi harus segera pulang Bunda. Maaf Fahmi tidak bisa menjanjikan apapun pada Bunda. Dan terimakasih banyak untuk semua cerita Bunda pada Fahmi".
" Nak, Bunda mohon Fahmi. Kasihanilah Bunda nak. Bunda hanya ingin memiliki seorang cucu seperti Ibumu"
Tanganku di tahan oleh Bunda Layla. Aku tidak bisa terus-terusan terjebak di situasi seperti ini. Rasanya hatiku bahkan seperti hutan kering yang dimakan oleh Api. Hatiku sangat panas, sakit dan benar-benar tersiksa. Badanku sudah letih, seharian bekerja. Aku tidak mau, emosiku yang tidak stabil membuat diriku salah mengambil langkah dan keputusan di situasi yang seperti ini. Meskipun sejujurnya, aku paling tidak tega melihat seorang ibu harus menangis dan merasakan penderitaan seperti ini. Tapi ini menyangkut kehidupan rumah tangga ku. Aku harus berpikir matang-matang. Bunda Layla menceritakan masa lalu Aisyah dengan putra nya dulu didepan ku. Bahkan dia tidak mau mengerti bagaimana hancur nya hatiku saat ini. Sedari tadi, aku berusaha menahan air mataku. Aku tidak boleh menangis di depan Ibu dari mantan suami istriku. Sehancur-hancur nya hatiku, air mata ini tidak boleh menetes di depan Ibunda Fatih. Aku harus terlihat tegar, meskipun sebenarnya sudah seperti pohon yang hampir roboh.
"Fahmi tidak tahu harus mengatakan apa. Maaf, Fahmi harus segera pulang. Fahmi sudah sangat lelah seharian bekerja. Lagi pula, sebentar lagi adzah maghrib. Sebaiknya Bunda Layla pulang kerumah yah".
" Nak, tapi tolong. Pertimbangkan lagi nak. Jangan sampai kamu bahagia di atas penderitaan orang lain ya nak. Bunda hanya kasihan padamu, kamu orang baik. Tapi kamu harus menjadi penghalang diantara cinta kedua manusia yang seharusnya bersatu. Fahmi, maaf jika Bunda mengatakan hal yang tidak berkenan untukmu. Terpaksa Bunda melakukan ini, demi kebaikan kita semua Fahmi".
"Fahmi pamit Bunda. Hati-hati dijalan. Assalamu'alaikum".
" Waalaikumsalam ".
Aku berjalan dengan gontai menuju mobil. Aku sudah tidak sanggup menahan tangis. Aku menjerit dan menangis sejadi-jadinya begitu masuk didalam mobil. Rasanya hancur dan sangat menyakitkan. Jika benar, Aisyah terpaksa menikah dan mencintai diriku. Aku harus bagaimana?, apa yang harus aku lakukan?. Kenapa semuanya begitu sulit. Mengorbankan segalanya, demi kebahagiaan orang yang aku cintai.
"Ya Allah. Berikan jalan keluar pada Fahmi. Fahmi tidak mau menjadi penyebab berpisah nya dua insan yang seharusnya bersatu. Jika memang Aisyah akan Engkau satukan lagi dengan mantan suaminya, kenapa Engkau masih memberikan sakinah mawadah dan warahmah dalam rumah tangga ku dengan Aisyah?. Kenapa tidak Engkau pisahkan Aku dan Aisyah sebelum hadirnya calon anak kedua kami?. Kenapa ujian-Mu begitu berat untuk diriku ya Rabb? ".
__ADS_1
Ucapku disela tangis yang tidak lagi terbendung.