Madu

Madu
Madu Ep.21 (SEASON 2)


__ADS_3

Rasanya bahagia sekali, mendapatkan dua garis merah. Aku positif hamil, bahagia sekali rasanya. Sudah dua bulan lebih menikah dengan mas Fahmi, akhirnya Allah memberikan aku keturunan yang berada dalam rahimku. Pagi ini, aku sudah mendapatkan hasilnya, dua test pack yang kemarin aku beli menunjukkan hasil yang sama. Dua garis merah, aku menyimpan bekas test pack itu di suatu kotak. Akhirnya penantian panjang aku dan mas Fahmi berbuah manis. Benar kata Ibu mertuaku, jangan pernah putus asa dan usaha. Aku belum memberitahukan hasil test ini pada siapapun termasuk pada Ibu mertuaku. Aku ingin mas Fahmi menjadi orang pertama yang mengetahu kabar baik ini. MasyaAlloh, mataku hampir berkaca-kaca. Membahagiakan sekali akan menjadi seorang ibu.


"Mas sudah siap?,". Tanyaku pada mas Fahmi yang sudah wangi dan rapih.


"Sudah dik, kamu kenapa dari tadi megangin perut terus?, sakit perut ya?,".


"Mas, ucapkan selamat pagi dong,".


"Hah?, maksud kamu gimana dik?. Kan sudah tadi pas bangun tidur?. Lagi?,".


"Bukan untuk Aisyah ih,".


"Lalu untuk siapa sayang?,".


"Untuk dedek bayi yang ada di perut Aisyah mas,".


"A-a-apa dik?, bayi di perut kamu?!,".


"Iya mas, nih loh buktinya,". Aku menunjukkan hasil test kehamilanku pada mas Fahmi.


"Alhamdulillah ya Allah!!!, kamu hamil istriku!?. A-aku akan menjadi seorang Abi?,".


"Iya sayang, mas Fahmi akan menjadi seorang Abi mas,".


Aku melihat mas Fahmi hingga tersungkur melakukan sujud syukur. Bahagia sekali, bahkan suamiku sampai meneteskan air mata. Saking bahagianya, dia terus mengelus-elus perutku. Bersyukur sekali ya Allah, Aisyah bisa memuat bahagia suami Aisyah. Ini yang selama ini mas Fahmi tunggu-tunggu. Calon bayi, yang sangat di nanti-nantikan semua orang. Berhasil, itu kata yang tepat untukku. Aku telah berhasil melawan rasa traumaku.


"Bahagia sekali mas rasanya dik, nanti mas pulang cepat yah. Kita ke dokter kandungan sayang,". Mas Fahmi sangat antusias sekali. Wajahny berbinar-binar. Air mata yang ada di pipinya kuusap lembut. Mas Fahmi mencium dan memelukku sangat lama sambil menangis.


"Iyah mas Fahmi. Aisyah bahagia bisa melihat mas Fahmi seperti ini. Maaf ya mas, Aisyah baru bisa kasih ini sekarang,". Ucapku sembari mengelus lembut perutku.


"Sssst....., jangan minta maaf sayang. Ini sudah takdir Allah. Kita baru diberikan si jabang bayi. Kamu jaga baik-baik yah dik,"..


"In syaaAlloh akan selalu Aisyah jaga mas,".


"Apa ibu sudah tahu?,".


"Baru mas Fahmi yang tahu. Ibu belum Aisyah beri tahu mas,".


"Biar mas Fahmi saja yang kasih tau dik,".


Aku membuntuti mas Fahmi yang dengan girang berjalan menuju dapur. Ibu sedang berada disana. Aku masih diliputi rasa syukur dan bahagia.


"Buuu.... Ibu??!!,". Teriak mas Fahmi. Dia bertingkah seperti anak kecil.


"Ada apa nak?. Aneh sekali kamu,". Ibu yang kebingungan melihat tingkah putranya kemudian meminta penjelasan padaku yang hanya tersenyum.


"Bu... sebentar lagi Fahmi akan menjadi seorang Abi. Aisyah istriku hamil Bu. Aisyah hamil,". Mas Fahmi dengan semangat menceritakan pada Ibunya, bahwa aku hamil.


"Alhamdulillah, Benar Aisyah?. Ibu akan punya cucu dan akan di panggil nenek?,". Ibu mengkonfirmasi apa yang barusan mas Fahmi ucapkan.


"Iyah Ibu. Benar yang dikatakan oleh mas Fahmi. Aisyah sedang mengandung cucu ibu,".


"MasyaAlloh, sini-sini sayang,".


Aku mendekat ke arah Ibu mertuaku. Perutku di elus dengan lembut oleh Ibu. Rasanya sangat membahagiakan. Keluarga di Solo juga belum aku berikan kabar nanti agak sorean saja aku menelepon Umi.


"Yasudah, Fahmi pamit berangkat kerja dulu yah Bu,". Mas Fahmi pamit pada Ibunya. Juga padaku. Seperti biasa, aku mengantar mas Fahmi hingga kedepan pintu, mencium punggung tangannya dan kemudian melepas kepergiannya untuk berjihad mencari nafkah halal untukku dan untuk calon janin yang ada di perutku.


"Nak Aisyah, kamu banyakin istirahat saja. Nanti biar Ibu yang ngurus masalah dapur,".

__ADS_1


"Jangan Bu, kasian ibu. Nanti kecapean. Aisyah kuat kok Bu,". Mana mungkin aku tega membiarkan Ibu mertuaku seorang diri mengurus dapur?.


"Sudah, nurut apa kata Ibu yah nak. Kamu harus banyak istirahat. Sekarang kamu lagi ada janin didalam perut kamu. Tidak apa-apa nak. Sekarang ke kamar yah, dibawa tiduran. Sambil nanti nunggu Fahmi pulang dari kantor untuk cek kehamilan ke dokter obgyn,".


"Tapi Ibu sendirian?. Apa nggak papa Bu?,".


Aku masih kuat, aku sehat. Entah kenapa, kebanyakan orang tua selalu menghendaki agar ibu hamil banyak-banyak istirahat. Sebenarnya aku tipe orang yang paling tidak bisa diam tanpa melakukan apapun. Rasanya sangat jenuh dan tidak enak sekali. Apalagi hanya tidur-tidur saja. Tapi mau bagaimana lagi?, ini perintah dari orang tua. Mengalah dan menurut kurasa itu lebih baik.


"Ngga papa nak. Istirahlah dikamar,".


"Ba-baiklah Bu, Aisyah pamit ke kamar yah Bu. Ibu kalau capek jangan di paksakan. Istirahat juga yah Bu,".


"Iya putriku,".


Aku berjalan dan berlalu meninggalkan ibu mas Fahmi di dapur. Aku merebahkan tubuhku dikasur. Tanganku terus mengelus-elus lembut perutku. Rasanya masih seperti mimpi. Setelah begitu banyak ujian dan cobaan yang menyakitkan dalam hidupku. Aku diberikan kebahagiaan tiada tara dari Allah dengan datangnya calon buah hatiku. Seketika aku jadi teringat, calon anakku yang tidak sempat tertolong karena aku mengalami stress yang berat dan kelelahan fisik yang luar biasa. Mas Fatih?, Bunda?. Bagaimana kabar mereka sekarang?. Tinggal dimana mereka?. Apa mas Fatih sudah menikah lagi?, rasanya mas Fatih memang sudah menikah lagi. Pastilah banyak perempuan yang menginginkan menjadi istri mantan suamiku itu. Secara, mas Fatih memiliki wajah yang lumayan tampan. Mengapa saat ini bagiku hanya lumayan?, karena yang paling tampan saat ini untukku hanyalah suamiku mas Fahmi. Jika memang saat ini mantan suamiku mas Fatih, telah memulai hidup baru. Semoga dia diberikan istri yang baik, cantik, dan solihah. Semoga rumah tangga mereka bahagia dunia dan akhirat. Dan Bunda mantan mertuaku, semoga beliau juga selalu dalam lindungan Allah, diberikan kebahagiaan dan kesehatan. Tidak terasa, air mataku menetes mengingat mereka.


"Assalamualaikum?,". Aku mendengar suara mas Fahmi.


Aku kaget dan langsung bangun dari tempat tidurku. Mas Fahmi pulang?, cepat sekali?. Padahal ini baru jam sepuluh lebih lima belas menit. Ada apa?. Aku bergegas menuju ke pintu depan.


"Mas Fahmi?!. Kok sudah pulang?,". Tanyaku heran.


"Mas tadi ke kantor hanya minta ijin saja dik. Mas ijin mau antar istri mas ke dokter,". Jawabnya dengan tersenyum.


"Kenapa nggak lewat telepon atau pesan saja mas ijinnya?,".


"Sudah ada peraturan baru sayang. Kalau mau minta ijin atau cuti harus tetap datang ke kantornya,".


"Oh yasudah, maaf mas. Aisyah belum nyiapin apa-apa. Sedari tadi Aisyah hanya tiduran saja. Soalnya suruh ibu, Aisyah harus banyak beristirahat. Padahal sebenarnya Aisyah juga kuat dan sehat,".


"Yasudah ngga papa dik. Nanti kita sekalian ajak Ibu ke dokter ya. Nanti hari ini kita makan siang diluar saja,".


"Sudah ibu,". Jawab mas Fahmi sembari mencium tangan Ibunya.


"Bu, nanti habis Dzuhur ibu ikut kami yah. Nanti sekalian makan siang di luar. Gimana?,". Suamiku menawarkan pada Ibunya untuk ikut mengantarku kontrol ke dokter kandungan untuk pertama kalinya.


"Loh?, ibu sudah masak nak,".


"Buat makan nanti malam saja Bu. Nanti kan bisa di hangatkan masakannya,". Jawab suamiku.


"Yasudah, nanti ibu ikut. Kamu istirahat saja dulu nak. Ganti baju,". Perintah Ibu pada putranya.


"Ayok mas, ganti baju dulu,". Ucapku pada suamiku.


"Yasudah,". Jawab mas Fahmi sembari menuju kedalam kamar. Sedang aku menunggu di ruang tv bersama ibu.


"Nak, kalau orang hamil. Harus banyak-banyak makan buah, sayur, dan minum air putih yah,".


"Iyah ibu, in syaaAlloh Aisyah biasakan kok Bu,".


"Hmmmm...., coba kalau bapak masih ada yah nak. Pasti bapak sangat bahagia mendengar menantu nya sedang mengandung calon cucu nya. Padahal dulu bapak sangat ingin menggendong seorang cucu,".


Hatiku hancur, apa semua ini salahku?. Apa salahku karena terlalu lama dan lemah melawan rasa trauma ini?. Aku tidak berdaya saat itu, aku benar-benar ketakutan untuk yang namanya hamil lagi. Setelah semua ujian berat yang aku jalani. Sungguh, aku tidakkah mudah. Mungkin aku salah. Seandainya saja, aku tidak terlalu lama untuk bisa bangkit melawan rasa traumaku. Mungkin saat ini Bapak mertuaku bisa merasakan menggendong dan bermain dengan cucu nya. Aku menyeka air mataku. Sedang ibu dalam posisi melamun menerawang. Aku tahu, kepedihan kehilangan seseorang. Pastilah tidak mudah bagi Ibu.


"Ibu, jangan sedih. Maafkan Aisyah baru bisa kasih ibu cucu sekarang Bu,". Ucapku sembari memegang erat tangan Ibu mertuaku.


"Tidak nak, jangan menyalahkan diri sendiri. Jangan minta maaf. Semua sudah Allah atur sayang. Ibu hanya sedang rindu dengan Bapak,".


"Iyah ibu,". Jawabku pasrah.

__ADS_1


Tiga jam berlalu, Aku, Mas Fahmi, dan ibu mertuaku sudah siap untuk berangkat cek ke dokter kandungan. Jujur, aku sangat deg-degan. Jantungku berdegup tidak beraturan. Begini rasanya ya, menjadi calon ibu. Pertama kalinya kontrol di dokter kandungan. Ah, rasanya benar-benar sangat membahagiakan. Sepanjang jalan, aku terus mengelus lembut perutku. Hamil kali ini, aku tidak merasakan mual parah saat seperti kehamilan pertamaku. Apa memang setiap kehamilan memiliki tanda-tanda yang berbeda?. Bahkan hamil kedua ini, aku cenderung seperti biasa saja. Maksudku tidak ada bedanya ketika sedang tidak hamil.


"Derrrrt.....derrrttt....derrrrt..,". Handphoneku bergetar. Ada panggilan Video Call masuk dari Fatimah adik iparku.


"Hallo Mbak ipar sayang. Mau pada kemana?,".


"Hallo adikku, ini mba mau kontrol ke dokter dek,". Jawabku sembari membalas senyumannya.


"Siapa yang sakit mba?. Ibu dan mas Fahmi sehat kan?. Mba sakit?,". Nada nya cemas.


"Ngga dek. Alhamdulillah, kamu mau punya keponakan. Hehehe...,".


"Aaaaahhh....?!!. Serius mbak?. Mbak Aisyah hamil mbak?,". Tanyanya kaget.


"Alhamdulillah, iya dek. Mbak hamil, tadi pagi sudah di cek pake alat tes kehamilan. Alhamdulillah hasilnya dua garis merah dek. Ini kami mau ke salah satu dokter kandungan,".


"Assikkkk.... sebentar lagi punya mainan baru. Sehat-sehat ya mba bumil dan dedeknya. Oh iya, Ibu mana mbak?,".


"Ada dek,". Aku menyerahkan telepon genggamku pada Ibu mertuaku yang duduk di kursi tengah.


"Ibu apa kabar?. Fatimah rindu. Ibu sehat kan?,".


"Alhamdulillah sehat nak. Kamu gimana kuliah nya disana nak?. Jaga kesehatan ya putriku sayang. Jaga diri baik-baik,".


"Alhamdulillah kuliah lancar ibu. Sehat Bu, Fatimah sehat,".


"Syukurlah nak. Cepat selesai. Biar segera balik ke Indonesia,".


"Aamiin, doakan yah Bu. Oh iya, nanti seminggu lagi akan ada study banding di salah satu negara. Cuman belum jelas sih Bu, negara mana. Yang pasti Fatimah ikut acara itu,".


"Iya kah?, yasudah dimanapun kamu berdiri. Selalu ingat Allah yah nak. Jangan pernah sombong. Jangan lupa pesan almarhum bapak, untuk selalu bersyukur dan bersabar dalam segala hal,".


"Siap Bu Boss. Akan Fatimah laksanakan,".


"Yasudah, ibu lanjut perjalanan dulu yah nak. Gampang nanti di lanjut kalau kami sudah pulang dari dokter,".


"Iyah ibu, hati-hati yah Bu. Love you Ibu,".


"Love you too putriku,".


Aku dan Mas Fahmi yang duduk di depan hanya saling tersenyum mendengar percakapan Fatimah dengan Ibunya. Apalagi kata-kata terakhir. Rasanya sedikit geli mendengarnya. Seperti muda mudi yang sedang jatuh cinta. Ibu menyerahkan telepon genggam milikku. Aku dan mas Fahmi memilih dokter perempuan untuk dijadikan tempat cek dan kontrol selama masa kehamilanku. Beginilah mas Fahmi, dia begitu menjaga istrinya. Jika dokter wanita, aku sendiri jadi lebih leluasa dan nyaman. Apalagi ini konsultasi masalah kehamilan dan kewanitaan. Aku bersyukur sekali, di kota Yogyakarta masih banyak dokter-dokter obgyn perempuan. Jadi aku tidak harus kontrol dengan dokter kandungan laki-laki.


Mobil berbelok ke arah parkiran klinik ibu dan anak Amanda Sejahtera. Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di kliniknya. Rasa-rasanya ingin segera tahu, bagaimana kondisi calon buah hatiku didalam sana. Aku turun dari mobil, dan kemudian di gandeng oleh Ibu mertuaku dan suamiku. Aku disuruh untuk jalan dengan pelan-pelan. Mereka seperti nya protect sekali denganku. Wajar, calon anakku memang sudah di tunggu-tunggu kehadirannya sangat lama. Meskipun sejujurnya agak risih juga di perlakukan seperti demikian. Pasrah, hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang, mau menolak pun tidak enak dengan Ibu mertua. Pikirku, selama untuk kebaikan aku akan tetap berusaha menurut dan mengikuti arahan dari Ibu mertuaku.


"Nyonya Aisyah, silahkan masuk ke dalam ruang pemeriksaan,". Panggil salah satu suster. Akhirnya giliranku tiba juga setelah lumayan lama menunggu.


"Siang dok,". Sapaku begitu masuk dengan didampingi oleh mas Fahmi.


"Siang Bu. Bagaimana kabar?, sehat?,".


"Alhamdulillah sehat,". Dokter yang sangat ramah, Pikirku.


"Silahkan Ibu, berbaring yah. Nanti akan di USG,".


Aku mengikuti perintah dari dokter Chika, dan berbaring di tempat tidur yang sudah di sediakan. Aku dan suamiku bahkan sampai meneteskan air mata, begitu si jabang bayi terlihat di layar monitor. Meskipun masih sangat kecil sekali. Rasanya benar-benar sangat membahagiakan.


"Alhamdulillah janin nya sehat yah Bu. Untuk usia kandungan nya sudah mau memasuki lima Minggu. Yang penting jangan terlalu setress dan kecapean. Nanti silahkan kontrol lagi, dua Minggu dari hari ini yah Bu. Dan selamat atas kehamilannya,".


"Alhamdulillah, terimakasih banyak dokter,". Jawabku dan mas Fahmi.

__ADS_1


Setelah cek dan kontrol kandungan selesai aku, suamiku, dan ibu mertuaku menuju kesalah satu restoran untuk makan siang. Sebelum akhirnya kembali kerumah.


__ADS_2