
Ini hari pertama Marwah masuk sekolah. Dia terlihat sangat bahagia dan penuh semangat ketika menggunakan baju seragam sekolahnya untuk yang pertama kalinya. Secepat ini waktu berlalu, putriku sudah sekolah saja. Perasaan baru kemarin aku gendong dia, mengajarinya berjalan, dan bahkan masih belum lancar berbicara. Tapi saat ini, putriku telah tumbuh sehat dan sangat cantik. Dia sudah minta untuk sekolah, bahagianya menjadi orang tua, ketika melihat putrinya telah besar, dan sangat aktif. Aku dan Aisyah saling memandang dan kemudian tersenyum bersama, ketika melihat Wawa sedang asyik bertanya pada Oma nya, mengenai baju sekolah yang hari ini dia gunakan. Bahkan mataku dan mata Aisyah tidak kuat membendung air mata bahagia di kelopak kami masing-masing.
"Oma, Wawa sekolah. Wawa cantik ngga Oma pakai seragam ini?,". Marwah kecil berkali-kali menanyakan tentang seragam baru nya pada Oma nya.
"Wawa cantik sekali sayang. Cucu Oma memang sangat cantik. Baju seragam sekolahnya bagus sayang,". Jawab Oma nya sembari membantu merapihkan sedikit baju yang berantakan.
"Yeaayy...., Wawa akan punya banyak teman baru di sekolah. Oma jangan iri yah sama Wawa,". Aisyah dan aku tertawa melihat tingkah Marwah yang meledeki Oma nya.
"Selamat ya cucu Oma. Sekarang udah sekolah. Akan punya banyak teman. Wawa jangan nakal ya disekolah. Belajar yang pinter, sama temen harus baik. Oke?,".
"Kalau ada teman yang nakal sama Wawa gimana Oma?,".
"Wawa jangan balas nakal lagi. Wawa laporin ke Oma, ke Abi atau ke Umi yah,"..
"Oke siap Oma. Abi..., ayok berangkat Abi,". Marwah merengek untuk segera berangkat sekolah. Padahal masih banyak waktu karena memang baru jam enam kurang. Saking semangatnya Marwah siap-siap dari setelah shalat subuh.
"Baru jam enam sayang. Marwah sarapan dulu. Biar sekolahnya semangat,". Ujar Aisyah pada putrinya.
"Tapi nanti Wawa telat sekolah Umi, nanti gimana?. Ibu guru akan marah sama Marwah,".
"Tidak putriku yang solihah. Ibu guru tidak akan marah ke Marwah, dan Wawa ngga akan telat berangkat sekolah,".
"Bener Umi?,".
"Bener sayang, makanya sekarang sarapan dulu yuk, bareng Oma, Abi, dan Umi,".
"Yeeeaayy.... makan, makan, makan,".
Pagi itu, aku, istriku, ibuku, dan putriku Marwah makan siang bersama. Kami begitu sangat bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan di tengah-tengah keluarga ku. Memiliki Ibu yang luar biasa hebat, memiliki istri yang kebaikannya selalu bikin jatuh cinta, serta mempunyai seorang anak seperti Marwah. Mereka membuat rasa syukurku tidak pernah berkurang sedikit pun pada Nya, malah semakin hari semakin tak terbendung rasa syukur yang ada. Allah begitu maha baik padaku, sangat banyak kenikmatan-kenikmatan yang telah Allah berikan padaku dan kepada orang-orang yang ku cintai.
"Ayok Abi, Wawa sudah selesai makan. Berangkat Bi ayo,". Putriku mulai merengek untuk segera berangkat sekolah.
"Iya ayok nak. Ibu, Fahmi pamit berangkat yah,". Iyah nak hati-hati.
"Iya nak, hati-hati. Wawa semangat yah sekolah nya,". Ucap ibu padaku dan pada cucunya.
"Dek, mas dan Wawa berangkat dulu yah. Nitip ibu, kamu jangan lupa istirahat dan makan,".
"Iyah mas Fahmi, hati-hati berangkat nya yah mas. Marwah semangat, ngga boleh nangis yah. Jangan nakal sama temen-temen nya,".
"Siap Umi, Wawa akan jadi anak yang baik dan pintar di sekolah. Assalamualaikum Umi,".
"Waallaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh,".
Aku melambaikan tangan pada istriku yang selalu setia melepas kepergianku untuk mencari nafkah didepan pintu. Berkat doa-doa yang di langitkan oleh istriku, aku selalu diberikan kemudahan oleh Allah. Biar bagaimanapun, doa seorang istri adalah salah satu senjata yang paling ampuh. Aku tidak pernah bosan, minta di doakan oleh istriku, setelah aku minta doa dari ibuku sendiri. Aku bersyukur, aku dan Aisyah bisa saling membantu untuk meraih surga kita masing-masing. Aisyah mendekatkanku dengan wanita yang melahirkan diriku dan membantuku untuk selalu taat dalam kebaikan pada ibuku, sebaliknya aku selalu berusaha untuk membantu istriku agar taat padaku dalam hal kebaikan. Hari ini, aku akan mengantar putriku satu-satunya untuk masuk sekolah di hari pertamanya. Sepanjang perjalanan menuju sekolahnya, Marwah selalu bertanya banyak hal padaku. Putriku sangat bahagia karena akan bertemu dengan teman-teman baru. Kadang, sebagai seorang Abi, aku merasa takut kehilangan Marwah. Meksipun suatu saat, dia akan tetap menjadi milik suaminya ketika menikah. Itu sudah tidak bisa di pungkiri. Maka dari itulah, aku tidak pernah ingin melewatkan masa-masa pertumbuhan putri yang sangat aku cintai.
"Abi...?, kalau ada teman yang nakal. Marwah harus bagaimana?,". Tiba-tiba Wawa menanyakan pertanyaan yang sebenarnya terdengar lucu ditelingaku.
"Seperti yang tadi Oma bilang, Wawa tidak boleh membalasnya ya sayang. Marwah harus sabar, harus tetap baik sama temen-temen Marwah,". Ucapku sembari melirik kearah Marwah.
"Nanti, Abi jemput Wawa yah. Kalau Wawa sudah pulang sekolah. Jangan tinggalin Wawa,".
__ADS_1
"Iyah nak, nanti Abi jemput Wawa disekolah. Ngga dong, masa Abi tinggalin putri Abi yang sangat cantik ini si?,".
"Heheh.... masih lama ngga Bi?,".
"Sabar sayang, bentar lagi kok. Sepertinya putri Abi sudah tidak sabar ingin sekolah yah?,".
"Kan Wawa pengen cepet belajar. Biar pinter kaya Oma, kaya Umi,".
"Kaya Abi engga nih?,".
"Kaya Abi juga dong, hehe,".
Aku memarkirkan mobilku ke pelataran sekolah Marwah. Sudah lumayan ramai, semua anak didampingi oleh orang tuanya masing-masing. Aku turun dan menggandeng tangan putriku menuju ruang kelas Marwah. Sekolah ini memang lumayan besar, maklum saja ini sekolah gabungan dengan sekolah SD. Maksudku masih dalam satu organisasi. Aku melihat banyak macam-macam anak seusia Marwah. Ada yang asyik mainan, ada yang asyik nangis, ada yang tidak mau masuk kelas, ada yang asyik makan jajan, bahkan ada yang tidur. Namanya juga anak-anak, segala tingkah dan polahnya kadang sangat menggemaskan. Putriku Marwah begitu semangat masuk kedalam ruang kelas. Tanganku terus ditariknya masuk dan menuju pintu depan ruang kelasnya.
"Abi, terimakasih yah sudah antar Wawa. Sekarang Wawa tinggal saja Bi. Abi berangkat saja ke kantor,". Marwah dengan polosnya minta segera ditinggal dan menyuruh Abinya untuk segera berangkat ke kantor.
"Loh, itu temen-temen Wawa pada di tungguin. Nanti Wawa sendirian gimana?. Abi temenin dulu saja yah. Lagian Abi masuk kantor nya agak siangan sayang,".
"Abi, Wawa malu. Masa sudah sekolah di tungguin terus. Abi berangkat saja ke kantor. Wawa berani sendirian kok. Janji Wawa ngga akan nangis,".
"Beneran ya sayang, Wawa berani yah. Jangan nakal loh, jangan nangis. Abi tinggal ke kantor yah. Nanti Abi jemput pulang nya,".
"Iya Abi, Abi semangat. Hati-hati kerjanya Abi,".
"Iyah putriku. Assalamualaikum,". Aku mengecup kening putriku, dan kemudian berlalu meninggalkan Marwah di sekolah.
Bulir-bulir air mataku sudah tidak lagi terbendung, begitu aku masuk kedalam mobil. Marwah begitu kuat dan luar biasa. Anak kecil berusia lima tahun bisa seberani dan sedewasa itu. Aku bahkan sampai terharu melihat ucapan-ucapan dari putriku tadi. Dia sangat pemberani persis seperti Uminya. Dia bahkan tidak merengek padaku untuk minta ditemani seperti anak-anak yang lainnya. Dia tidak menangis, Wawa putriku bahkan terlihat paling semangat dari anak-anak yang lainnya.
"Hallo, Assalamualaikum mas. Gimana mas?,". Aisyah terlihat panik dari nada bicaranya. Aku sendiri yang bingung.
"Hallo, gimana apanya yang gimana dek?,".
"Maksudnya Aisyah, gimana putri kita?. Apa dia rewel?, dia nangis yah mas?, atau malah minta pulang mas?. Halloo.... mas?,".
"Hehehe....,".
"Mas kok malah tertawa sih,". Nada Aisyah kesal.
"Satu-satu sayang tanya nya. Mas bingung mau jawab yang mana. Mas habis nangis malah dik,".
"Astaghfirullah, mas nangis kenapa?. Ada apa mas Fahmi?, apa ada yang salah?,".
"Dek, mas menangis bahagia. Anak kita luar biasa hebat dan sangat pemberani. Kamu tahu?, dia hanya minta di antar sampai pintu masuk ruangan kelasnya saja. Selebihnya, Marwah minta ditinggal, dan bahkan menyuruhku untuk segera berangkat ke kantor,".
"Serius mas?, lalu gimana lagi mas?,".
"Awalnya mas nggak tega meninggalkan Wawa sendirian. Karena hampir semua teman-teman nya di dampingi oleh orang tuanya. Bahkan ada yang nangis dan minta pulang juga dik. Mas niatnya ingin menunggu putri kita di sekolahnya apalagi ini hari pertamanya masuk sekolah,".
"Terus Marwah tetep tidak mau ditemani mas?,".
"Putri kita bilang, katanya Wawa sudah besar, Wawa malu sama teman-teman kalau masih di tungguin. Bayangan saja dik, putri kita benar-benar luar biasa. Orang tua mana yang tidak terharu?, melihat anak lima tahun berkata dan berpikiran seperti itu?,".
__ADS_1
"MasyaAlloh, tabarakallah. Aisyah sampe nangis denger nya mas. Semoga Marwah putri kita jadi perempuan yang kuat dan hebat yah mas,".
"Aamiin sayang, terimakasih istriku sudah melahirkan, dan mendidik putri kita dengan sangat baik,".
"Semua itu berkat usaha kita berdua mas Fahmi. Tidak hanya dari Aisyah saja. Terimakasih juga ya suamiku, mas Fahmi sudah jadi sosok suami dan Abi yang baik untukku dan untuk Wawa. Sekarang mas sudah di kantor?,".
"Belum sayang, tadi pas mas mau jalan. Bidadari mas telepon. Jadi mas angkat dulu. Sekarang masih didepan sekolah Marwah,".
"Gombalnya mulai lagi deh. Yasudah mas hati-hati yah ke kantor nya. Semoga Allah mudahkan segala urusan mas hari ini. Jangan lupa, pulangnya jemput Wawa,".
"Loh, mas ngga gombal sayang. Kamu emang bidadari yang Allah kirim buat mas. Oke siap Bu boss,". Aku yakin saat ini istriku wajahnya sangat merah, karena malu.
"Udah-udah sanah berangkat mas. Nanti telat lagi. Yasudah Aisyah matikan yah mas. Assalamualaikum,". Ucap Aisyah dari seberang telepon.
"Waallaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh,". Jawabku sembari mematikan teleponku dengan Aisyah.
Aku melirik ke arah ruang kelas Marwah, dan kemudian menekan gas mobilku, dan berlalu meluncur ke arah kantor yang sebenarnya tidak terlalu jauh jaraknya dengan tempat Marwah sekolah. Hari ini aku semakin semangat menjalankan amanah-amanah yang begitu berat. Dari Marwah kecil aku bisa mengambil banyak pelajaran, tentang bagaimana harus jadi manusia yang kuat, yang pemberani dan tidak selalu melulu mengandalkan orang lain untuk tetap berdiri, bahkan diwaktu yang menurut orang lain sulit sekalipun. Hari ini akan ada rapat besar dikantor, jadi benar-benar lumayan akan menyibukkan. Semoga saja, tidak membutuhkan waktu lama. Karena aku sudah janji pada Marwah akan menjemput nya ketika pulang dari kerja. Aku tidak ingin mengecewakan putriku, apalagi saat dia sudah minta tolong padaku untuk bisa menjemput dihari pertama sekolahnya.
##########
"Bagaimana Wawa nak?, apa dia nangis dan rewel disekolah?. Apa kata Fahmi?,". Ibu mertuaku khawatir tentang Wawa cucunya.
"Alhamdulillah, tadi sudah telepon mas Fahmi Ibu, katanya Wawa bahkan sangat pintar dan berani, Wawa tidak mau di tunggu oleh Abinya,".
"MasyaAlloh, cerdasnya cucuku. Syukurlah kalau Marwah tidak rewel dan bisa ditinggal,".
"Fahmi sudah diingatkan untuk menjemput Marwah kan nak?,".
"Alhamdulillah sudah ibu. Tadi Aisyah sudah mengingatkan mas Fahmi,".
"Syukurlah nak. Nak Aisyah?. Boleh Ibu bertanya sesuatu padamu?,".
"Bertanya apa Bu?,".
"Nak, kalau misal putra ibu, lebih dulu pulang di panggil oleh Nya, apa nak Aisyah akan tetap setia?,".
"Astaghfirullah, Ibu kenapa bertanya hal demikian Bu?, Aisyah nggak mau Bu. Aisyah tidak sanggup jika harus berpisah dengan mas Fahmi,".
"Tapi nak, siapa yang tahu tentang takdir kematian?. Apa kamu akan tetap setia, seperti halnya Ibu yang sampai saat ini setia dengan bapak?,".
"Bu, Aisyah belum siap, dan bahkan tidak mampu membayangkan nya sekarang. Saat ini mas Fahmi dan Aisyah sedang bahagia-bahagianya memiliki Marwah dalam hidup kamu Bu,".
"Ibu mengerti sayang. Siapa orang nya yang ingin berpisah dengan seseorang yang amat kita cintai nak?. Jika ibu bisa memilih, ibu tidak akan pernah mau kehilangan sosok bapak dalam hidup Ibu nak. Tapi ternyata kita hanyalah manusia biasa, Tidaka daya dan upaya jika takdir dari Allah sudah datang. Kita hanya bisa pasrah dan berusaha merelakan meskipun teramat sangat sulit dan menakutkan,".
"A-Aisyah tidak mau Bu, Aisyah dan mas Fahmi ingin menemani Ibu, dan Marwah hingga Marwah tumbuh menjadi seorang gadis yang matang dan menemukan laki-laki yang baik untuk menjaganya, menggantikan Aisyah dan mas Fahmi Bu,". Aku menyeka air mataku, jujur aku sangat kaget mendapatkan pertanyaan demikian dari ibu mertuaku. Aku mana mungkin bisa menjawabnya?, sedangkan saat ini aku tidak ingin merasakan yang namanya kehilangan.
"Yasudah nak, maafkan ibu kalau pertanyaan ibu barusan membuat kamu sedih. Ibu hanya takut, Fahmi kahilangan perempuan seperti kamu, sekalipun Fahmi sudah tidak ada di dunia ini. Maafkan ibu nak,".
"Ti-tidak mengapa ibu. Maafkan Aisyah. Aisyah tidak mampu untuk menjawab itu Bu. Jujur, Aisyah tidak kuat mendengar kata-kata itu Bu. Aisyah mungkin tidak bisa sekuat dan setegar ibu saat kehilangan sosok bapak,".
"Ibu percaya nak, kamu perempuan yang kuat dan hebat. Ibu yakin kamu bahkan bisa mendidik Marwah dengan sangat baik meksipun kelak tanpa Fahmi. Ibu selalu mendoakan semoga kalian selalu bisa bersama sampai Marwah bisa tumbuh dewasa,".
__ADS_1
Ibu memelukku dan kita menangis bersama. Mungkin ibu mertuaku berniat mengajariku tentang bagaimana menjadi perempuan yang kuat, yang ikhlas, dan yang setia. Semoga semua orang yang kucintai diberikan keberkahan, kebehagian, dan kesehatan dari Mu ya Allah.