Madu

Madu
Madu Ep.31 (SEASON 2)


__ADS_3

Cuaca hari ini tidak terlalu panas. Mendung memang, tapi tidak menandakan akan turun hujan. Akhir-akhir ini cuaca semakin tidak bisa di tebak. Bahkan aplikasi ramalan cuaca pun kadang kala suka meleset. Tidak sesuai dengan yang terjadi sebenarnya. Mungkin semua ini karena pemanasan global. Gedung-gedung berpuluh-puluh tingkat saling kejar-kejaran untuk di bangun. Pohon-pohon hijau di tebang tanpa ampun. Bagaimana bumi tidak semakin panas?. Jika tanaman dan pohon yang seharusnya memberikan sirkulasi udara yang sejuk kemudian di tebang untuk kemudian di bangun pabrik atau perkantoran. Jika sudah seperti ini, siapa yang harus bertanggung jawab. Sebenarnya tidak salah jika ingin membangun gedung pencakar langit sekalipun. Mereka di bangun juga untuk memberikan lapangan pekerjaan untuk banyak orang yang membutuhkan. Hanya saja, sebaiknya sisakan beberapa pohon agar alam tidak marah. Agar udara juga tetap sejuk. Kota Yogyakarta masih mending jika di bandingkan dengan Jakarta. Yogyakarta masih memiliki banyak pohon-pohon yang subur serta sangat rindang. Panas nya pun relatif lebih mendingan dari pada panas di kota metropolitan layaknya Jakarta. Kendaraan berjejal hebat di jalanan Jakarta. Sana sini semua jalan terjadi kemacetan. Jalanan Yogyakarta relatif aman. Hanya di hari-hari besar saja, jalanan Yogyakarta akan sedikit macet. Itu pun masih dalam kategori mendingan. Tidak separah Jakarta pastinya. Maklum sih, ratusan orang berdatangan ke Jakarta. Mengadu nasib nya di sana. Meksipun mereka tidak tahu, akan seperti apa nasib mereka ketika sudah menginjak Ibu kota Indonesia itu.


"Baru jam sembilan".


Aku melirik ke arah jam tangan ku. Tadi pagi aku sudah berjanji akan menjemput Wawa di sekolah nya. Sekaligus akan bertemu dengan orang tua Ilham. Orang yang sudah menjaga Wawa selama aku sibuk mengurus Aisyah di rumah sakit. Setidaknya aku harus bertemu, serta mengucapkan terimakasih pada nya. Perasaan ku mengatakan bahwa Ayah nya nak Ilham adalah orang yang sangat baik. Yang membuat diriku heran, kenapa putriku sama sekali tidak menyebut tentang Bunda nya Ilham?. Mungkinkah ayah nya nak Ilham adalah seorang duda?. Atau memang Wawa belum sempat bertemu dengan Bunda nya nak Ilham?. Ah, entahlah. Jawabannya adalah akan di dapat, ketika aku sudah bertemu dan berbincang langsung dengan Ayah nya Ilham. Jam setengah sepuluh hari ini Marwah pulang. Masih setengah jam lagi. Perjalanan menuju sekolah putriku hanya memakan waktu kurang lebih lima belas menit. Baiklah, lima belas menit berikutnya akan aku gunakan untuk membeli sesuatu. Setidaknya di pertemuan pertama ku dengan nak Ilham dan Ayah nya, ada bingkisan kecil untuk mereka. Hitung-hitung sebagai tanda ucapan terimakasih karena telah baik kepada Marwah.


"Derrttt..... derrrttt".


Ponselku bergetar cukup lama. Sepertinya ada panggilan masuk. Aku memang sengaja hanya mengaktifkan mode getar saja. Itu relatif lebih aman ketika aku sedang di kantor atau mampir shalat di masjid. Tidak membuat keributan pastinya. Aku punya pengalaman memalukan tentang dering telepon. Waktu itu tidak sengaja, ponselku berbunyi ketika ada panggilan masuk. Posisi nya saat itu, sedang ada acara doa bersama di kantor ku. Aku sangat kaget plus malu, karena nada dering panggilan masuk ku saat itu adalah lagu dangdut. Kebayang bagaimana ekspresi orang-orang yang ada saat itu. Mereka semua memandang kepadaku, seperti ingin memangsa diriku bulat-bulat. Sejujurnya bukan aku yang memasang nada dering dangdut itu, tapi Ibu. Karena aku pribadi tidak terlalu suka mendengarkan musik, apalagi dengan genre dangdut. Meskipun kata orang, dangdut Is the music of my country.


"Hallo.. Assalamu'alaikum".


" Waalaikumsalam. Ada apa sayang? ".


" Abi, apa sudah sampai ke sekolah Marwah?. Lalu bagaimana?. Sudah bertemu dengan Ayah nya nak Ilham?. Dia bersama istrinya atau tidak?. Siapa namanya Abi? ".


" Sabar dek. Mas bahkan masih di jalan. Lagi pula sekolah Wawa kan selesai jam setengah sepuluh. Coba kamu lihat sekarang jam berapa? ".


" Hehehe... baru jam sembilan".


"Nah tuh tau".


" Lalu, Mas Fahmi mau kemana?. Kan masih lama".


"Rencananya sih, Mas mau beli sesuatu untuk dikasih ke nak Ilham dan Ayah nya. Ya, hitung-hitung tanda terimakasih kita".


" Oh iya, bener juga yah. Astaghfirullah, Aisyah malah tidak berpikir sampai sejauh itu".


"Ya jelas lah dek. Secara di pikiran kamu kan hanya ada Mas Fahmi doang".


"Yeee... bisa aja. Yasudah mas hati-hati yah".


" Kok malah yee, jadi bener ngga di pikiran kamu hanya ada Mas? ".


" Ya nggak lah mas. Kan Aisyah mikirin Wawa, Ibu dan lain-lain. Hehehe... ".


" Bukan gitu maksud nya cantik".


"Sudah-sudah. Mas hati-hati yah. Assalamu'alaikum".


" Waalaikumsalam bidadariku".


Istriku, sudah menjadi kebiasaan dia akan menelepon ku saat aku keluar rumah. Dia hanya memastikan aku sudah sampai atau belum, atau hanya sekedar bertanya macet atau tidak?, telat atau tidak. Aku tidak pernah merasa terganggu, bagiku itu adalah bukti perhatian Aisyah untuk ku sebagai suaminya. Dan aku juga seringkali menggoda dan merayu Aisyah. Hal yang bagi pasangan lain menjadi tidak penting. Bagiku itu sangat penting. Di saat banyak pasangan di luar sana yang ketika telepon dengan istri atau suaminya hanya bicara secukupnya dengan nada bicara yang jutek. Berbeda dengan aku dan Aisyah. Bagiku romantisme sepasang suami istri itu tidak hanya ketika akan "melakukan kewajiban saja" melainkan kapanpun selagi bisa maka akan di lakukan, sekalipun itu hanya candaan dan rayuan kecil lewat pesawat telepon. Lagi pula memuji dan merayu istri adalah bagian dari memuliakan seorang istri. Ada hadist yang pernah aku dengar dari Abi mertuaku, Abi mengatakan itu ketika aku dan Aisyah telah resmi menjadi sepasang suami istri.


"Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap istriku" (HR. At-Tirmidzi no 3895, Ibnu Majah no 1977. Disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Sahihah no 285). Bahkan romantis terhadap istri merupakan salah satu bentuk akhlak yang baik. Itu juga tertuang dalam hadist HR. At-Tirmidzi no 1162, Ibnu Majah no 1987. Dan disahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 284 yaitu bahwa "Orang yang imannya paling sempurna diantara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istrinya"


"Bu, tolong buatkan dua parcel buah yah".


"Ukuran besar, sedang, atau kecil pak? ".


" Besar saja Bu".

__ADS_1


"Baik, di tunggu sebentar yah pak".


"Iyah Bu".


Parcel buah, menurutku itu tidak terlalu buruk. Aku memutuskan untuk membeli parcel buah untuk bingkisan orang tua Ilham. Kursi sederhana dari rotan bertengger di samping warung buah yang aku hampiri. Badanku ku dudukan pada kursi tua yang masih kokoh itu. Beberapa pohon memberikan kesejukan padaku. Aku sengaja memilih menunggu di luar dari pada di dalam mobil. Udara alam jauh lebih menyegarkan dibanding AC mobil. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu ilham dan orang tuanya. Soalnya, aku sangat tertegun kagum pada mereka. Zaman sekarang sudah mulai banyak orang yang miskin empati dan simpati pada sesama. Apalagi pada orang yang tidak mereka kenal. Tetapi, semua itu tidak berlaku pada Ilham dan orang tuanya. Mereka bahkan sangat baik pada Wawa, meskipun mereka tidak mengenal siapa orang tua nya atau dimana tempat tinggal nya.


"Permisi pak. Parcel nya sudah selesai di buat".


"Oh iya Bu. Total nya berapa ya semuanya?".


" Tiga ratus ribu Pak".


"Ini Bu".


Aku menyodorkan pecahan uang seratus ribuan sejumlah tiga lembar pada Ibu penjual parcel buah tersebut. Uang segitu bisa mendapatkan tiga ranjang parcel buah ukuran besar. Kurasa itu tidak terlalu mahal. Aku menenteng kresek parcel dan memasukan nya dalam mobil. Jam tangan ku menunjukkan pukul sembilan lebih dua puluh lima menit. Lima menit lagi sangat cukup untuk menuju ke sekolah Wawa. Mobil yang ku kendarai di pacu dengan kecepatan sedang. Jarang sekali aku mengebut di jalan, kecuali dalam keadaan darurat seperti saat membawa Aisyah yang berteriak kesakitan menuju rumah sakit. Sekolah putriku Marwah sebentar lagi terlihat, karena memang aku sudah masuk kedalam gerbang depan menuju sekolah Wawa. Beberapa anak sudah terlihat keluar dari ruang kelas nya. Aku turun setelah memarkirkan mobil. Mataku mencari-cari keberadaan Marwah.


"Hallo putri Abi yang cantik. Assalamu'alaikum".


" Waalaikumsalam Abi".


"Gimana sekolah nya nak?. Ada yang sulit? ".


" Engga Abi. Lancar dong, kan Wawa sudah belajar sama Umi tadi malam".


"Oh iya yah. Nak?, mana teman Wawa yang namanya Ilham?".


"Mana ya?, Oh itu Abi! ".


" Loh, ayok kita samperin nak. Katanya Abi suruh kenalan dengan teman Wawa?".


"Ayok Abi".


" Assalamu'alaikum Ilham. Ilham ini Abi aku. Abi mau kenalan sama kamu". Aisyah mengenalkan aku pada temannya yang bernama Ilham.


Anak laki-laki ini mendongak ke atas dan melihat diriku. Dia tersenyum dan langsung bangun serta menyalami diriku.


"Assalamu'alaikum Abi nya Wawa. Aku Ilham, aku teman nya Wawa".


" Waalaikumsalam nak Ilham. MasyaAllah, anak yang baik yah. Nak Ilham menunggu siapa? ".


" Ilham nunggu Ayah nya Ilham. Tapi belum datang-datang dan belum menelepon ke Bu guru".


Wajah Ilham terlihat murung.


"Ooh, nak Ilham mau tidak?. Gantian ikut dan main ke rumah nya Wawa? ".


" Memangnya, Ilham boleh ikut sama Abi nya Wawa?".


"Boleh dong nak. Nanti yah, Abi nya Wawa pamit ke Ibu guru dulu".


Aku meninggalkan Wawa dan Ilham, lalu menuju ke arah dimana seorang Ibu guru sedang duduk mengurus beberapa berkas.

__ADS_1


" Assalamu'alaikum, Maaf Bu. Saya Abi dari Marwah. Saya mau ijin bawa nak Ilham kerumah kami. Tadi katanya, Ayah nya nak Ilham belum juga datang ".


"Waalaikumsalam, Oh iya Pak. Wali dari nak Ilham juga belum menelepon ke kami. Baik nanti saya sampaikan pada Wali nak Ilham pak".


" Makasih Bu, ini nomor Saya. Nanti berikan saja nomor saya ke Wali nya nak Ilham yah. Terimakasih banyak Bu".


"Baik Pak. Nanti akan kami sampaikan. Sama-sama Pak".


Aku berjalan kembali menuju Ilham dan Wawa. Aku menggandeng mereka berdua menuju Mobil. Dan melaju menuju rumah. Sepanjang perjalanan Wawa dan Ilham sedang asyik membicarakan pelajaran yang baru saja mereka terima hari ini. Dilihat dari wajah nya, nak Ilham adalah seorang anak yang cerdas dan baik. Anak ini juga terlihat dewasa dan soleh. Pastilah orang tua nya mendidik dengan sangat baik. Karena seorang anak itu bagaikan kertas kosong, dan peniru paling hebat. Maka dari itu, ada baiknya sebagai orang tua harus memberi kan contoh yang baik.


"Nak Ilham? ".


" Iya Abi nya Wawa".


Jawab nya dengan sopan.


"Orang tua nak Ilham kerja dimana? ".


" Ayah kerja di kantor. Kalau Bunda... ".


Ilham tidak melanjutkan ucapannya ketika menyebabkan kata Bunda. Entahlah, ada apa dengan Bunda nya?. Apa ibunda dari nak Ilham telah tiada?. Wajah Ilham berubah menjadi sendu. Seperti ada luka yang sangat dalam.


" Bunda kenapa nak?. Kok ngga di lanjutkan?".


"Ilham tidak tahu dimana Bunda nya Ilham, Abi nya Wawa. Ilham cuman kenak Ayah saja".


" Oh begitu. Maaf yah kalo Abi nya Wawa salah bertanya ".


" Tidak apa-apa Abi nya Wawa".


"Kalau Abi nya Wawa boleh tahu, nama Ayah nya nak Ilham siapa? ".


" Nama Ayah nya Ilham, Fatih ".


Jantungku langsung berdegup kencang mendengar nama itu di sebut. Entahlah, ada rasa takut dan sakit bercampur menjadi satu. Kenapa namanya harus sama dengan mantan suami istri ku?. Adakah Fatih yang di maksud nak Ilham Ayah nya itu, adalah orang yang sama dengan Fatih mantan suami Aisyah?. Atau hanya kebetulan saja namanya sama. Aku harap, itu hanya kebetulan saja nama nya sama, tapi orang nya berbeda. Aku sudah berdarah-darah membuat Aisyah untuk bisa bangkit dan melupakan masa lalu nya. Aku tidak ingin, luka lama dan masa lalu istriku dulu terbuka dan terkenang lagi. Lagi pula, Fatih mantan suami Aisyah setahu diriku menetap di Jakarta. Aku yakin ini bukanlah Fatih yang sama seperti mantan suami Aisyah.


"Wawa? ".


Aku langsung memanggil putriku. Aku takut Wawa dengar dan menceritakan pada Umi nya. Kalau nama Ayah nya Ilham adalah Fatih. Meskipun ini belum tentu Fatih mantan suami Aisyah. Tapi aku tidak ingin dia teringat masa lalu nya karena mendengar nama itu lagi.


" Wawa nya tidur, Abi nya Fatih".


Jawab Ilham padaku.


Syukurlah, putri ku Marwah tertidur. Artinya dia tidak mendengar percakapan ku dengan Ilham. Wawa tidak akan menceritakan nama Ayah nya Ilham. Setidaknya aku bisa menyembunyikan ini dari Aisyah, sampai aku benar-benar memastikan kalau Fatih Ayah nya nak Ilham bukanlah orang yang sama dengan orang yang pernah ada di hati dan masa lalu bidadariku Aisyah.


"Oh, yasudah. Nak Ilham kalau ngantuk tidur saja. Nanti kalau sudah sampai ke rumah nya Wawa, di bangunin".


"Ilham tidak mengantuk Abi nya Wawa. Ilham mau liat pemandangan saja".


Aku melirik ke arah belakang. Ilham sedang asyik melihat ke arah jendela. Melihat apapun yang dilewati mobil ini. Aku terus menerus memikirkan mengenai Ayah nya Ilham. Seandainya hari ini aku bisa bertemu dengan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2